GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Darkie Menculik Rey


__ADS_3

Axel cepat-cepat berlari keluar ingin bertanya tentang Cronos ( Putri Rey dari Cronos ). Tapi ia kecewa karena sudah tidak terlihat. Bahkan tidak meninggalkan jejak aura sihir sama sekali.


Seorang pelayan restoran mengejarnya karena ia belum membayar makanannya. Namun ia berhenti di pintu ketika melihat Axel diam menatap hampa ke depan. Tidak ada siapapun di sana. Axel kembali masuk untuk meneruskan makannya, tapi ia sudah tidak berselera lagi. Akhirnya ia meletakkan beberapa perak sebelum pergi.


Axel setengah melayang menuju lapangan kota, berharap bisa bertemu dengan Rey. Biasanya Rey bersantai di kedai pinggiran situ. Sayangnya yang ia temui bukan dambaan hati. Tapi si pengganggu, Darkie.


Darkie menenggak araknya sambil tersenyum mengejek. Ia juga punya tujuan yang sama dengan Axel. Menunggu Rey.


Suasana hati Axel seketika memburuk. Ia tahu Darkie juga menginginkan Rey menjadi miliknya. Ini gara-gara Darkie melihat secara langsung gadis yang diincar Axel ternyata istimewa. Selain keturunan penyihir, juga darahnya bisa meningkatkan kekuatan penyihir lain.


Axel menolak bekerjasama untuk menjadikan Rey sebagai tumbal kekuatan tinggi mereka. Lagipula siapa yang mau percaya pada penyihir hitam ? Mereka semua penipu ! Axel tersenyum miring, ia juga menginginkan Rey untuknya sendiri. Axel malas meladeni Darkie. Lebih baik kembali ke penginapan.


Darkie bertahan hingga agak larut. Karena semakin sepi, ia pun pergi. Ia tak tahu dimana dan asal gadis cantik itu. Tapi ketika melihat bukit yang kembali hidup setelah terbakar, ia punya rencana untuk memancing kemunculan Rey. Tidak malam ini. Rey adalah penyihir putih, keluar saat hari terang. Maka ia akan melaksanakan rencananya esok hari.


Malam ini semua tidur tenang. Bulan bersinar biasa saja. Burung hantu sesekali berbunyi. Tak tahu apa yang akan terjadi besok.


Esok paginya matahari bersinar amat cerah. Rey bangun dengan senyum senang. Entah kenapa ia ingin pergi ke bukit Palaz pagi ini. Mendengarkan kicau burung dan mengumpulkan bunga-bunga.


Zigaz menemuinya di depan pintu kamar.


" Zigaz, kau pergilah beli roti dan kue-kue kecil yang banyak. Aku ingin ke bukit di belakang istana " kata Rey.


" Tunggu Nona, biar Asgar besertamu " kata Zigaz melemparkan Asgar saat Rey sudah hampir terbang.


Rey menyambutnya dan Asgar langsung membelit pergelangan tangan Rey seperti gelang.


Rey melayang santai menuju bukit Palaz. Ketika sampai ia langsung duduk di rerumputan. Terdengar burung-burung berkicau, bersahut-sahutan. Seekor tupai mengintip dari pohon. Ia mendekati Rey sambil membawa biji kenari. Asgar diam saja agar tidak mengejutkan tupai itu.


Rey menadahkan tangannya. Si tupai memberikan kenari itu. Rey menangkupkan kedua tangannya dan mengocok-ngocoknya. Perlahan ia membuka kedua tangannya, menumpahkan banyak kenari yang matang.


" Iiiiiikkk........ ! " tupai kecil itu berteriak terkejut tapi senang. Matanya melotot besar. Ia segera berusaha merangkul semua biji kenari itu untuk dibawa pergi. Tentu saja biji kenari itu jadi bertebaran sepanjang jalan. Rey terkekeh geli melihat hewan lucu itu.



Kemudian Rey bangkit mencari bunga-bunga kecil. Ia memetik beberapa dan merangkainya. Seseorang mengulurkan setangkai bunga berwarna merah padanya.

__ADS_1


Rey menengadah. Itu Darkie....... Ia mundur dua langkah. Darkie maju sambil tetap mengulurkan bunga itu. Bibirnya tersenyum. Rey mengerutkan alisnya. Bagaimana pun baiknya, Darkie tetaplah Penyihir hitam. Dan Rey harus waspada. ( Asgar sedikit bergerak di pergelangan tangannya, tertutup lengan baju Rey ).


" Aku melihatmu sedang mengumpulkan bunga...... " ujarnya masih tersenyum.


Rey ragu-ragu menerimanya. Tapi sebelum bunga itu berpindah tangan, Asgar menyabetkan ekornya secepat kilat sehingga bunga itu jatuh ke tanah.


" Ah..... ! "


( " Ada apa Asgar.... ? " )


( " Bunga itu beracun...... " ) jawab Asgar pelan. Kesadarannya kabur.


Rey merasa lilitan Asgar mengendur seperti akan terlepas. Ia cepat menyentuhnya ( melempar ke danau jiwa ).


Tapi saat itu Darkie juga bergerak cepat. Ia membekap mulut Rey dan mengeluarkan racun penidur. Rey tak sempat menghindar. Ia ambruk di pelukan Darkie. Darkie tersenyum lebar dan perlahan berubah menjadi asap yang menyelimuti tubuh Rey. Melayang pergi....


Zigaz datang ke bukit namun tidak mendapati siapapun. Ia menghubungi lewat telepati.


( " Nona..... ? " )


( " Asgar..... ? " )


Tetap tidak ada jawaban. Zigaz memperhatikan sekeliling. Ia memeriksa gerakan udara, tak ada yang berkaitan dengan Nona Rey.


Zigaz memeriksa rerumputan. Agak jauh ia mendapat tangkai beberapa bunga teronggok di rumput. Ini pasti Nona yang memetiknya. Zigaz tahu Nona Rey menyukai kehidupan alam. Pasti sesuatu terjadi padanya dan Asgar. Tidak mungkin Nona Rey membuang bunga-bunga yang dipetiknya tanpa sebab.


Asgar masuk ke ruang dimensi Rey ( ingat, Zigaz punya akses ke ruang dimensi Rey ). Ia mendapati jejak bau tubuh Asgar mengarah ke danau. Zigaz melompat masuk ke danau, mencari Zigaz.


Ia menyelam ke dasar dan menemukan Asgar tergeletak di bawah. Ia masih berwujud ular kecil. Zigaz mengucap mantra pengembali asal. Lalu memeriksa tubuh Asgar. Tidak ada luka apapun, Asgar tampak seperti tertidur. Zigaz membawanya naik ke tepi danau. Lalu berusaha membangunkannya.


" Asgar......... Asgar................ ! "


Zigaz menggoyang-goyangkan bahu Asgar. Karena tetap tidak bangun, ia menyalurkan energi petir ke telunjuk jarinya dan menekannya di bahu Asgar.


" Zzzt..... ! "

__ADS_1


Seketika Asgar tersadar. Ia melotot karena terkejut. Lalu mulai bangkit dan memandang sekeliling dengan agak linglung. Matanya melihat Zigaz yang menatap seperti menunggu.


" Apa yang terjadi pada Nona ? " tanya Zigaz langsung.


" Nona............ ? Aaaaaah.............. Racun..... ! Bunganya ada racun..... ! " Asgar panik, ia mencengkeram lengan Zigaz.


" Tenanglah.... Ceritakan yang jelas "


" Itu Darkie, so penyihir hitam....... Ia memberi bunga yang beracun pada Nona. Aku menepisnya dengan ekorku. Tapi........ aku tidak berdaya "


" Racun apa ? " tanya Zigaz ingin tahu.


" Aku.............. setelah menepis bunga, aku kehilangan kesadaran, tapi Nona sempat melemparku ke danau jiwa "


" Hmmmm.................. "


" Zigaz........ apa kau tidak bisa menjangkau Nona ? Maksudku, kau bisa masuk keluar masuk dimensi, mungkinkah.......... ? "


" Tidak tahu........ Aku tidak berani. Takut salah atau ........... "


" Jadi bagaimana........ ? Apa kita akan diam saja ? " Asgar mulai khawatir. Ia mengacak-acak rambutnya seperti orang gila. Ia takut Rey mengalami hal buruk ( pelecehan, pemerkosaan ).


Zigaz berpikir keras.


" Zigaz............ cobalah ulurkan tanganmu. Jangan mengambilnya, cukup pegang dulu. Rasakan auranya. Jika benar itu Nona, bawalah..... " Asgar memohon pada Zigaz. Ia benar-benar seperti anak ayam kehilangan induk.


Zigaz memejamkan mata. Namun tiba-tiba matanya terbuka.


" Cermin Pelihat..... ! " tangannya menadah seperti meminta sesuatu.


" Pluk.... "


Asgar dan Zigaz terperangah senang. Zigaz membaca mantra pelihat. Mereka segera berebut melihat keadaan Nona Rey. Cermin tampak gelap. Tapi samar-samar terlihat seseorang berbaring di atas ranjang.


" Itu.... Nona kan..... ?! " kata Asgar setengah berbisik. Zigaz mengangguk. mereka diam mengamati dengan cermat.

__ADS_1


__ADS_2