
" Blaaaammmm..... ! Arrrrrggghh .............. ! Sengatan petir memantul balik menyerang Destraco. Begitu terus saat Destraco terus menyerang Pelindung tak terlihat itu.
Destraco sangat marah. Ia merasa harga dirinya terhina karena tidak mampu memecahkan pelindung negeri Astraco. Akhirnya Destraco pergi dengan rasa marah yang tak terkira.
Rey tercengang melihat semua itu. Ia pun mengulurkan tangannya ke atas mendapati satu lapisan pelindung yang tak terlihat. Ia menatap Kendrick yang tersenyum.
" Kau yang membuatnya " tanya Rey.
" Aku dan para Tetua. Jadi jika salah satu dari kami mati, kubah pelindung ini masih akan tetap ada "
Rey tersenyum mengangguk-angguk.
Mereka melayang turun ke pelataran istana. Para prajurit menunduk hormat saat mereka sampai. Asgar dan Alice mendekat.
" Bagaimana My Lord ? " Kendrick menatap Asgar sejenak.
" Itu adalah Destraco. Ia menginginkan Rey . Sesuai dengan takdir, suatu saat Rey sendiri yang akan melawannya dan merebut kembali Mahkota Kehidupan dari tangannya.
Takdirku yang sekarang adalah penerus Kerajaan Astraco . Jika Destraco mengetahui aku reinkarnasi dari saudaranya, ia akan melebur dirinya dalam tubuhku, dan itu berarti ia akan menjadi penguasa kegelapan abadi yang artinya kehancuran semesta. Itulah sebabnya para Tetua tidak mengijinkanku "bertemu" dengan Destraco "
Mereka saling berpandangan dan menghela nafas.
__ADS_1
" Bagaimana cara melawannya "
" Destraco adalah sosok licik. Kau harus sama-sama berpikiran licik saat berhadapan dengannya. Dan tubuhnya hanyalah asap. Kau tidak bisa melawannya dengan serangan biasa. Pakailah elemen cahaya, angin dan api . Sumber kekuatannya dari kegelapan. Jadi kau harus selalu "bercahaya" atau berada ditempat terang "
Asgar dan Rey termangu-mangu mendengar keterangan Kendrick.
" Berlatihlah lebih keras lagi. Jika sudah merasa yakin, cobalah melawan salah satu Tetua atau aku, mungkin " Kendrick tersenyum simpul.
" Baik, tunggulah 3 hari lagi " jawab Rey menyeringai.
Asgar menatap Alice , mereka saling membelalakkan mata. Kendrick pun melambaikan tangan sebelum menghilang.
Asgar pun turut berlatih dibawah. Ia mencoba menggerakkan beberapa benda. Keringatnya bercucuran seolah sedang membawa beban berat. Alice membantu mengarahkan tenaga dalam Asgar.
Saat sore Rey turun ke bawah. Ia duduk beristirahat sambil memandang Asgar yang berhasil menggerakkan benda dan mengangkatnya di udara setinggi perut.
Alice mendekati Rey.
" Nona ingin minum ? "
" Boleh, bawakan juga buah-buahan ya "
__ADS_1
" Baik, Nona "
Tak lama Alice datang dengan pelayan lain membawa minuman , buah-buahan dan cemilan. Rey memanggil Asgar. Mereka duduk bersama mengobrol.
" Nona, bagaimana jika kita mencoba melawan salah satu Tetua sebelum melawan My Lord "
" Kau berani ? "
" Ya, kita tidak akan maju jika tak punya keberanian. Kita juga akan kalah jika tak punya semangat "
" Tapi kita juga akan kalah jika kemampuan kalah jauh "
" Tidak masalah dengan kemampuan jika kita punya taktik "
Rey tersenyum , ia mengacungkan jempolnya pada Asgar.
" Jadi bagaimana rencanamu dalam mengalahkan Tetua "
Asgar sebelumnya meminta Alice agar merahasiakan taktik mereka setelah ia menceritakannya. Tentu saja Alice mendukung mereka. Asgar dan Rey saling melengkapi rencana dan taktik mereka agar bisa mengalahkan Tetua Astraco. Mereka terus membahas tindakan dan serangan cadangan jika terjadi kegagalan.
Saat makan malam Rey mengajukan tantangan pada salah satu Tetua untuk bertarung besok pagi. Kendrick hanya tersenyum saja saat Tetua menatapnya kemudian mengangguk setuju.
__ADS_1