
Teana kesal saat melihat Ramos mendekati 2 gadis cantik yang sedang memilih baju. Ia mendekati mereka dan pura-pura tersandung.
" Aih...... ! " Teana jatuh ke arah Axie. Ia memang bermaksud akan menarik gaun Axie agar robek. Tapi Axie cepat-cepat mundur sambil mendorong Rey juga sehingga Teana benar-benar jatuh terjerembab.
" Aaaaaah..... ! "
" Astaga nona.... " Ramos membantunya berdiri. Teana memejamkan mata dan memegang kepalanya berpura-pura pusing. Lalu ambruk di pelukan Ramos.
" Eh... nona, apa kau sakit ? " tanya Ramos.
" Kepalaku pusing, tolong.... " Ramos segera menggendongnya keluar toko. Ia terpaksa mengantarnya pulang.
Rey dan Axie saling mengangkat bahu dan menahan senyum. Mereka tahu Teana hanya berpura-pura. Rey dan Axie melanjutkan memilih gaun.
Axie mengambil 5 gaun berbeda warna dan model.
" Astaga Axie.... Untuk apa banyak-banyak gaun ? Kita hanya akan menghadiri pesta malam purnama ! " Kata Rey.
" Aku hanya butuh satu, Nona. Yang lain untuk Alice " jawab Axie.
" Oooooo...... " Rey memonyongkan bibirnya tampak lucu.
" Ehm.... Nona-nona cantik sudah selesai memilih gaun ? " tanya seorang pria dewasa. Kelihatannya seorang bangsawan
" Eh.... ? kenapa ? " Rey bingung.
" Biar saya yang membayarnya. Asalkan nona-nona menemani saya makan siang di kota ini "
" Ooo.... " Axie melirik Rey.
" Baiklah, kami juga lapar " jawab Rey memberi isyarat pada Axie.
Mereka segera ke kasir dan membayar gaun-gaun yang dibawa kedua gadis itu. Lalu naik kereta menuju restoran besar.
Pelayan menyambut dengan senang hati. Mereka menyediakan semua makanan terbaik dan arak manis. Tak ada percakapan berarti selama makan. Pria itu bernama Xander, pedagang permata.
Tak lama Rey menyenggol kaki Axie. Matanya tertuju pada gadis bergaun merah yang baru saja masuk. Itu Teana bersama pelayannya.
Teana yang sedang mencari tempat duduk, tertegun melihat Rey dan Axie sedang makan bersama seorang pria yang kelihatannya kaya. Hatinya terasa panas melihat kedua gadis itu tersenyum mengejeknya.
" Nona, itu ada meja kosong " pelayan Teana menunjuk ke arah pojok kiri. Sebenarnya Teana tidak suka, namun karena tidak ada lagi meja kosong, akhirnya dia menurut dengan muka cemberut. Bahkan ketika ia memakan makanannya terasa tidak enak. Dengan kesal ia meletakkan sendoknya dan menyuruh pelayannya menghabiskan sisanya.
Sementara Rey ingin lepas dari pria ini. Ia menyenggol lagi kaki Axie.
" Maaf Tuan, aku akan ke kamar kecil " ujar Rey.
" Eh tunggu, aku ikut " sahut Axie cepat-cepat berdiri.
Pria itu tersenyum dan memanggil pelayan untuk membayar makanannya.
__ADS_1
Teana yang melihat kedua gadis itu ke kamar kecil segera pergi mendekati pria itu. ( " Ini kesempatanku, aku harus bisa merayunya " ). Teana langsung duduk di kursi depan pria itu.
" Tuan, maaf mengganggu. Namaku Teana. Aku... aku hanya ingin memperingatkan tuan agar berhati-hati pada dua gadis itu. Mereka bukan gadis baik-baik " kata Teana.
" Oh... Kamu mengenalnya ? " tanya pria itu.
" Percayalah padaku tuan, seluruh kota ini tahu siapa mereka. Mereka selalu merayu dan menipu para pria dimana saja " jawab Teana.
Pria itu mengangguk-angguk. Ia berpikir sedikit.
" Bagaimana denganmu, maukah kamu menemaniku pergi ke tempat hiburan ? "
" Eh.....? Aku....... "
" Aku akan membelikanmu apa saja nanti. Hanya satu malam saja "
" T... tidak. Maaf tuan. Aku harus pergi "
Teana cepat-cepat keluar diikuti pelayannya. Ia tidak mungkin pergi ke tempat hiburan. Pelayannya pasti akan melapor pada ayahnya.
Sementara Rey merubah dirinya menjadi laki-laki dan mengembalikan Axie menjadi Asgar. Kantong berisi gaun baru mereka simpan diruang dimensi masing-masing. Lalu segera keluar restoran tanpa disadari siapapun.
Pria itu mulai gelisah. Ia heran mengapa 2 gadis tadi belum kembali dari kamar kecil. Dipanggilnya seorang pelayan.
" Apakah kamu tahu dimana gadis-gadis tadi ke kamar kecil ? "
" Maaf tuan, saya tidak tahu karena sedang sibuk melayani pelanggan "
Diluar Rey dan Asgar berjalan-jalan. Tentu saja membuat para gadis heboh ingin berkenalan. Termasuk Teana. Rey melirik malas pada Teana. Ia mendorongnya minggir, tidak ingin meladeninya.
" Maaf para nona-nona, saya ada keperluan saat ini. Kita akan bertemu lagi di pesta nanti malam " katanya mencoba mengusir dengan pura-pura tersenyum manis.
Seketika para gadis menepi sambil memegang pipinya yang memerah.
Rey dan Asgar segera berlalu.
" Hhhhhh..... mereka sungguh terlalu genit, tak tahu malu. Lebih baik menghadapi 100 orang penyihir daripada mereka " Rey menggerutu.
Asgar hanya terkekeh melirik Nonanya yang menggerutu terus-menerus...
" Kita menyamar jadi orang jelek saja Nona.... " saran Asgar.
" Tidak mau. Orang-orang akan memandang jijik dan mengusir kita dari mana pun " jawab Rey.
" Bagaimana dengan orang tua ? " tanya Asgar.
Rey tertegun. " Sebenarnya Zigaz lebih cocok jadi orang tua ya.... ? "
" He..he..he..he... Nona baru sadar ? "
__ADS_1
" Haisshh..... Kita akan cari keterangan di kedai teh yang ramai " kata Rey.
Mereka berjalan menuju kedai teh. Rey sengaja bergabung di kursi panjang mendengarkan obrolan orang-orang. Pelayan menyuguhkan cemilan dan arak manis.
" Hei anak muda... sepertinya kau bukan dari sini ya ? " sapa pria paruh baya pada Asgar.
" Betul pak tua, kami hanya lewat. Tujuan kami sebenarnya ke kota Malto. Tapi kami dengar akan ada pesta nanti malam " jawab Asgar.
" Ya, itu benar. Beberapa hari lalu ada seorang pertapa turun gunung. Dia bilang bulan purnama kali ini membawa keberuntungan. Siapapun gadis yang terpilih langit akan dikabulkan apapun permintaannya "
" Kalian menginaplah semalam saja. Akan banyak para gadis cantik malam ini. Siapa tahu kalian berjodoh dengan salah satu gadis-gadis itu. Putriku juga ikut "
Rey dan Asgar tersenyum.
" Darimana asal pertapa itu ? " tanya Rey.
" Kami lupa menanyakannya. Tapi ia sungguh hebat. Seorang warga yang sakit kena racun dapat disembuhkannya. Juga waktu seorang ibu membawa anaknya yang sakit panas. Ia cuma menempelkan tangannya di dahi selama 10 hitungan saja langsung dingin "
" Apa dia tidak menyebutkan namanya ? " tanya Asgar.
" Tidak... "
" Mmmm, pak tua.... Gadis yang dimaksud pertapa itu gadis yang seperti apa ? " tanya Rey.
" Mungkin yang paling cantik atau pintar "
" Atau yang bahenol... ? " celutuk seorang pemuda bermata genit.
" He..he..he..he... "
" Aku harap bukan yang paling cantik, karena aku ingin kekasih yang cantik " kata yang lain.
" Katanya gadis yang punya keistimewaan seperti pertapa itu "
Rey dan Asgar saling menatap.
" Apakah maksudnya ia akan membawa gadis itu pergi dan menjadikannya pertapa juga ? "
" Tidak mungkin. Gadis-gadis disini rata-rata tidak punya keahlian, hanya pandai berdandan "
" Dan pandai bergoyang "
" Haiiissh, kau ini.... kenapa dari tadi pikiranmu mesum saja ? Sana pergilah ke rumah hiburan "
" Braakkk.... ! "
Semua terkejut menatap kepada pemuda mesum itu.
" Jangan-jangan gadis-gadis penghibur itu pergi juga ke pesta, aku jadi kesepian.... " ratapnya.
__ADS_1
" Huuussh..... jangan bilang begitu. Pertapa itu pasti tak mau gadis yang ternoda. Lagipula gadis-gadis lainnya pasti juga tak terima jika mereka ikut pemilihan "
" Ya, betul "