GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Ternyata Tiffa Belum Mati ?!


__ADS_3

Zigaz menghilangkan perisai kedua. Lalu mendekati Asgar. Dilihatnya wajah Asgar pucat menahan sakit.


" Bagaimana keadaanmu ? "


" Aku baik-baik saja kek...... kalung ini pasti akan menyembuhkanku. Jangan khawatir " jawab Zigaz menunjukkan kalung penyembuhnya. Lalu ia menata kakinya untuk bersila.


" Hmmmph...... ! "


Zigaz menahan diri untuk tidak menepis kepala Asgar karena meledeknya dengan memanggil ' kakek ' . Ia berbalik pergi untuk membereskan mayat-mayat warga kampung penyihir.


Hari sudah hampir gelap. Zigaz melayang ke arah halaman depan gubuk Izabel. Satu-persatu mayat penduduk dimusnahkannya. Abu halus berterbangan di udara. Tapi Zigaz heran melihat ada beberapa bercak darah hitam yang mengarah ke utara. ( Apakah ada yang masih hidup ? ) pikir Zigaz curiga.


Zigaz terbang mengikuti bercak darah itu hingga ke ujung jalan. Ia segera memeriksa keadaan udara di sekitarnya. Alisnya berkerut karena tidak ada pergerakan sesuatu. Tapi ia mendapati sisa aura sihir gelap yang samar-samar tertiup angin.


" Aaarrgh..... ! "


Zigaz menoleh mendengar teriakan Asgar di kejauhan. Cepat ia berpindah ( teleportasi ) ke tempat Asgar tadi berada. Dilihatnya Asgar sedang bergelut dengan seseorang berambut panjang. Sepertinya itu wanita desa ini. Ia memegang belati dan ditusuk-tusukkannya ke badan Asgar. Tak sengaja wajahnya terlihat Zigaz.


" Tiffa......... ?! "


Zigaz tercengang melihat bahwa wanita itu ternyata Tiffa..... ?! Jadi Tiffa belum mati..... ?! Cepat-cepat Zigaz menendang Tiffa hingga terjengkang. Lalu menolong Asgar untuk bangkit. Namun Tiffa cepat datang dan menusuk punggung Zigaz lalu menariknya ke bawah, membuat lukanya memanjang.


" Aaaaaaarrgh............... !! " Zigaz tersungkur ke samping. Tiffa kembali hendak menusuk Zigaz.


" Craakk...... ! "


Belati Tiffa menancap di perisai angin Asgar. Asgar menghentakkan perisainya menjadi puluhan pisau angin menusuk Tiffa.


" Jeb...jeb...jeb...jeb...jeb........ "


Tiffa tertegun melihat tubuhnya yang seperti landak, penuh dengan tancapan pisau angin. Ia memang tidak merasakan sakit, karena tubuhnya dikuasai iblis. Asgar dan Zigaz segera bangkit. Zigaz membuka mulutnya mengeluarkan api besar.


" Buuuzzzz........ ! "


Tiffa menghindar. Api Zigaz menguap di udara kosong. Tiffa mencabuti setiap pecahan perisai Asgar dan langsung melemparkannya secara cepat pada mereka berdua.


" Wuuuss... wuuuss... wuuuss... "

__ADS_1


" Aih...... ! "


Asgar dan Zigaz berlompatan menghindar. Mereka tak menyangka pecahan perisai itu akan menjadi senjata makan tuan. Zigaz terpaksa membangun perisai lagi.


" Prang.... prang.... prang.... prang...... ! "


" Uuh...... ! Tiffa sungguh cerdik " puji Asgar dalam hati.


Tiffa meluncurkan kabut racun. Ia membuatnya tersebar ke arah Asgar dan Zigaz. Asgar mengibaskan tangannya. Kibasan tangan Asgar menghalau kabut racun itu ke lain arah.


Zigaz mengacungkan jarinya ke arah Tiffa.


" Zaapp..... ! " satu kilatan petir menyambar.


" Uughh.... ! " tubuh Tiffa bergetar sejenak. Lalu melesat pergi.


" Sial.... ! dia kabur.... ! " Zigaz memaki. Ia bermaksud mengejarnya.


" Tunggu.... ! jangan dikejar. Kau bisa mengendalikan darahnya kan ? " tanya Asgar.


" Ah, kau benar. Tapi lindungi aku ya... " Zigaz duduk bersila memejamkan mata. Ia harus mengetahui posisi Tiffa terlebih dahulu sebelum mengendalikannya. Tiga hitungan berlalu...


" Bawa lagi kesini..... ! " sahut Asgar dengan senang.


Sepuluh hitungan kemudian tampak Tiffa berjalan tersendat-sendat ke arah Asgar dan Zigaz. Ia mencoba melawan. Asgar dan Zigaz tersenyum miring. Terdengar suara Tiffa yang terus menggeram.


Ketika jarak tinggal 15 langkah, Zigaz mengunci pergerakan Tiffa seperti patung. Tiffa menggeram keras, namun hanya bola matanya saja yang bergerak liar.


" Asgar, musnahkan.... ! " kata Zigaz sambil menoleh ke arah Asgar.


Asgar mengarahkan kedua tangannya dan berkonsentrasi sepenuhnya. Satu, dua, tiga, empat, li........


" Byaarrr.................. ! "


Tubuh Tiffa sudah musnah. Tapi ada seperti kabut hitam di situ, siluetnya seperti iblis. Ia melesat pergi. Zigaz kembali membuka mulutnya. Bola api kebiruan keluar mengejar kabut iblis itu.


" Gila...... ! ternyata Tiffa punya dua iblis ?! " Asgar bergumam tak percaya. Ia berpegangan pada lengan Zigaz karena sedikit limbung. Kekuatannya banyak berkurang. Tubuhnya bersimbah darah, sama seperti Zigaz.

__ADS_1


" Biar dia bermain dengan bola apiku.... Aku sudah lelah...... "


Zigaz menyeringai menatap arah iblis itu menghilang.


" Sebaiknya kalian berendam di ruang dimensi. Tenaga kalian hampir habis. Luka kalian juga terlalu banyak dan beracun " terdengar suara wanita.


Zigaz dan Asgar menoleh ke belakang. Rey berdiri tersenyum.


" Nona, masih ada satu iblis yang kabur " kata Zigaz.


" Jangan khawatir. Ia tidak bisa keluar dari sini. Terima kasih sudah membantuku. Kalian hebat....... Sekarang tugasku tinggal memusnahkan seluruh desa ini "


" Baik Nona " Asgar dan Zigaz mengangguk bersamaan. Zigaz memegang bahu Asgar untuk membawanya masuk ke ruang dimensi Rey. Mereka muncul dekat danau jiwa. Kebetulan nenek Wilma sedang duduk dekat gubuknya.


" Aaaastagaaaaa............... !! nak Asgar, nak Zigaz ? apa yang terjadi ? " nenek Wilma berlari panik melihat mereka berdua bersimbah darah.


" Jangan khawatir nek, kami akan berobat di dalam sana sebentar. Tolong sisakan pie apel untuk kami " teriak Asgar sambil melompat bersama Zigaz ke dalam danau. Tampak genangan darah mengikuti mereka.


" Haiyaaahh.......... " nenek Wilma mengambil nafas panjang.


Rey mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kobaran api ada dimana-mana. Alisnya berkerut ketika ada satu roh iblis yang masih terbang kesana sini dikejar bola api. Sepertinya Zigaz sengaja mempermainkan iblis itu. Rey tersenyum kecil tak perduli.


Rey keluar dari desa itu, ia pindah di luar sisi kubah perisai. Kedua tangannya menempel di dinding perisai. Rey mengambil nafas panjang.... dan menggumamkan mantra panjang.


Perlahan setiap partikel tanaman atau benda terurai dan bertebaran di dalam kubah seperti terkena angin badai. Benda-benda lain juga habis terbakar oleh apinya Zigaz. Semua bercampur aduk di dalam kubah selama satu putaran waktu. Kemudian mengendap jadi satu dengan tanah. Sekarang bekas desa penyihir itu tidak ada lagi. Rey membaca mantra pelebur dinding perisai. Kubah tembus pandang itu kemudian lenyap. Hanya menyisakan padang gersang yang sunyi.



Rey mengambil nafas lega. Dipandangnya bulan yang mulai naik ke atas. Ia memejamkan mata dan kembali ke ruang dimensi. Rey mendatangi nenek Wilma yang berdiri di tepi danau.


" Nenek sedang apa ? " tanya Rey.


Nenek Wilma menoleh. Ia meraih tangan Rey.


" Oh.... Nona........ nak Asgar dan Zigaz terluka parah. Tapi mereka malah masuk ke dalam danau dan tenggelam. Bagaimana ini ? "


" Jangan khawatir nek...... Air danau itu sanggup mengobati siapapun dengan luka berat atau penyakit yang parah. Tunggu saja. Mereka nanti akan keluar dalam keadaan sehat " Rey membelai tangan nenek Wilma.

__ADS_1


" Oh....... Lalu bagaimana keadaan diluar sana ? Siapa yang melukai nak Asgar dan nak Zigaz ? Apakah ketua Izabel ? " tanya nenek Wilma ingin tahu.


" Desa penyihir sekarang sudah tidak ada lagi. Aku tidak tahu siapa yang menyerang Asgar dan Zigaz. Tapi Izabel sudah mati sebelum iblis mata tiga memakan seseorang tadi..... Kita akan mendengar semuanya setelah mereka sembuh " jawab Rey menenangkan.


__ADS_2