
Sementara Roy (wujud laki-laki Rey) dan Asgar terus berjalan melewati pasar sambil makan jeruk. Kemudian Roy berhenti melihat seorang tua duduk mengemis. Asgar diam menunggu perintah.
Roy mendekati orang tua itu. Orang tua itu menadahkan tangan padanya. Roy tersenyum. Ia meletakkan tangannya di telapak tangan orang tua itu.
Orang tua itu terkejut merasakan suatu aliran energi masuk ke dalam tubuhnya. Ia tercengang menatap Roy yang masih tersenyum.
Lima hitungan kemudian Roy melepaskan tangannya. Orang tua itu memeriksa tubuh, kaki dan tangannya yang terasa ringan dan sehat. Ia mencoba menggerakkan pergelangan kakinya, lalu menapak dan berdiri pelan-pelan. Asgar segera membantunya. Matanya mulai berkaca-kaca saat berjalan tertatih.
Tiga langkah kemudian ia kembali sambil menangis. Kemudian berlutut perlahan di hadapan Roy. Ia sadar pemuda ini bukan manusia biasa.
" Terima kasih Tuan sudah menyembuhkan saya. Saya berjanji akan bekerja seumur hidup untuk Tuan "
" Pak tua..... Aku adalah seorang pengelana, tidak punya rumah. Tapi jika kau ingin bekerja untukku : lakukan saja hal baik untuk menolong siapapun. Aku akan membayarmu 50 keping perak setiap hari. Itu untuk membeli makananmu setiap hari dan menolong siapapun yang membutuhkan "
Roy merobek sedikit kain alas duduk orang tua itu. Ia mengucap mantra dan kain itu berubah bentuk menjadi kantong koin sederhana ( dompet orang-orang jaman dulu ). Ia memberikannya pada orang tua itu.
" Kantong koin ini hanya bisa dilihat olehmu. Jika kau melakukan kebaikan atau menolong orang lain, ia akan terus terisi. Uang yang berlebih, bisa kau pakai untuk membeli pakaian atau tinggal di penginapan "
" Saya mengerti Tuan. Saya akan lakukan pesan Tuan "
Roy merobek lagi kain alas duduk dan merubahnya jadi mantel dengan bulu hangat di bagian dalamnya ( Sebenarnya itu adalah mantel penyembuh. Ini untuk berjaga-jaga jika orang tua itu sakit atau terluka karena suatu hal ).
" Ini akan menghangatkanmu saat udara dingin "
" Terima kasih Tuan "
" Sampai jumpa lagi "
Roy berlalu bersama Asgar. Orang tua itu membungkuk hormat. Lalu menatap kepergian Roy dan Asgar sambil menyusut air matanya. Ia tak menyangka hari ini akan bertemu Dewa Penolong.
Ia membuka kantong koinya untuk melihat isinya. Sungguh..... ada banyak koin perak di dalamnya. Ia ingat Dewa Penolong itu menjanjikan 50 koin perak setiap hari jika ia berbuat kebaikan atau menolong orang.
" Aaaaaaaah.......... ! "
__ADS_1
Ia berteriak dan melompat kegirangan. Segera ia berlari ke kedai roti untuk makan roti dan minum. Ia juga membeli lagi 3 roti untuk dibawa.
Kemudian ia masuk ke toko pakaian dan membeli sepasang baju bersih dan sederhana. Lalu mulai berkeliling untuk menolong siapapun yang memerlukan. Di wajahnya tersungging senyuman bahagia.
Ia membagikan roti yang dibelinya untuk sesama pengemis lain. Ia juga berusaha menyemangati seorang anak muda yang sedang putus asa. Atau membelikan mainan murah untuk seorang anak dari keluarga miskin. Ia sisakan 10 perakuntuk besok.
Roy sendiri berjalan sambil terus tersenyum. Ia senang bertambah lagi satu orang yang akan membantunya mengerjakan hal baik dan menolong orang.
" Bro.... Apa kita akan ke hutan Mazox lagi ? "
" Ya, aku ingin tahu apa yang sedang dilakukan Odex sekarang. Bukankah kemarin ia menawan salah satu penyihir ? "
" Ya, kita akan menyamar jadi penyihir saja "
Roy hampir menggerakkan tangannya untuk merubah penampilan mereka.
" Tunggu Bro.... ! Kita masih di kota, banyak yang curiga pada kita nanti "
" Ah ya, aku lupa "
Kemunculan mereka mengagetkan seorang wanita yang sedang berdiri menatap ke dalam hutan. Wanita itu menatap tajam ke arah Roy dan Asgar namun diam saja.
Roy mengerutkan alisnya. Ia merasa ada yang ingin dilakukan wanita ini di dalam hutan.
" Maaf Bu, anda hendak ke hutan ? " tanya Roy hati-hati .
Wanita itu kembali menatap ke hutan sambil mengangguk. Ia melangkah pelan.
" Eh... Bu.... Jangan ke hutan ! Di sana ada penyihir jahat dan iblis pemangsa " Asgar setengah berteriak untuk mencegahnya.
Wanita itu berhenti sebentar dan menghela nafasnya.
" Aku harus mencari anakku. Ia dibawa oleh seorang penyihir "
__ADS_1
" Bukankah Gadis Takdir sudah membawa pulang anak-anak yang hidup ? Apakah anda sudah menemui Pak Walikota ? " tanya Asgar .
" Anakku tidak ada diantara mereka "
Seketika Roy dan Asgar terdiam. Itu berarti anak wanita itu adalah salah satu anak-anak yang tewas.
Wanita itu kembali melangkah ke dalam hutan. Rey tak tahu harus bagaimana. Ia tahu perasaan wanita itu. Ibu mana yang bisa menerima kematian anaknya ? Nafas Rey tersendat menahan kesedihan.
Mereka mengikuti langkah kaki wanita itu dalam diam. Namun 100 langkah kemudian terasa ada pergerakan udara dan aura gelap. Rey menengok pada Asgar. Asgar mengerti.
Asgar menyusul cepat wanita itu dan memukul tengkuknya hingga pingsan. Roy mendekat.
" Ibu ini sedang bersedih atas kematian anaknya. Jika ia bertemu dengan iblis, pasti akan gampang dirasuki. Kita tidak bisa membiarkannya celaka atau mencelakai siapapun. Lebih baik sementara dimasukkan ke ruang dimensi saja sampai jiwanya tenang menerima kenyataan yang ada "
Asgar mengangguk setuju. Roy memasukkan wanita itu ke dalam ruang dimensinya.
Kemudian Rey melihat ke sekitar dan mengulurkan tangannya. Tak lama seekor tupai melompat dari atas pohon ke arah tangan Roy. Roy menempelkan jarinya di dahi tupai itu.
" Temani dan hibur seorang ibu didalam sana. Ia telah kehilangan anaknya yang mati "
" Baik Tuan "
Lalu Roy memasukkan tupai itu ke dalam dimensinya. Asgar sempat melongo melihat tupai itu bisa bicara. Ia menatap Roy yang tersenyum mengangguk seolah meng-iya-kan apa yang ada di pikiran Asgar.
Mereka kembali berjalan masuk hutan. Roy menghilangkan aura sihir mereka berdua. Mereka sama-sama memeriksa udara di sekitar hutan.
Ada beberapa pergerakan di tempat yang berbeda-beda. Juga aura gelap. Mereka melayang menuju pergerakan yang terdekat.
Di depan tampak seorang penyihir menyiksa penyihir lainnya. Namun ada iblis tingkat rendah yang juga hadir disitu. Roy menebak iblis itu mencium bau darah.
" Bro.... sepertinya itu Odex " kata Asgar setengah berbisik.
" Hah..... ?! " Roy menajamkan penglihatannya. Ya, itu benar si Odex.
__ADS_1
Mereka berdua berhenti dan menonton dari jauh. Asgar mengusulkan agar berubah jadi hewan saja agar bisa mendekat. Roy setuju.
---* Para pembaca, saya MOHON MAAF belakangan ini sering telat upload. Karena ada banyak keponakan yang sedang liburan di rumah, jadi sedikit terganggu waktu dan konsentrasinya *---