
Tiffa pergi kembali mengembalikan cawan milik Wilma. Ia sekalian memeriksa tawanan di halaman belakang nenek Wilma. Namun Tiffa cepat-cepat pergi karena tak tahan dengan baunya.
Ia melaporkan tentang keadaan tawanan yang bau. Izabel dan Cretta hanya bergidik.
" Sudah lama kita tak minum darah. Berapa lama Wilma akan mengobati dua orang itu ? " tanya Cretta.
" Jika pun sembuh....... Aku tak ingin ikut minum darahnya. Hiiihhh........ " Tiffa bergidik ngeri.
Izabel diam saja, ia merasa sangat mengantuk, padahal ini masih pagi. Ia bangkit diikuti Cretta dan Tiffa. Mereka menuju tempat yang biasa dilakukan ritual.
Izabel duduk setengah bersila.
" Jika para lelaki datang berburu, mintalah darah buruan ! " perintah Izabel sebelum menjadi patung jadi-jadian. Sinar matahari Sebenarnya cukup menghangatkan tubuhnya, namun Izabel pada akhirnya terlelap karena pengaruh obat dari nenek Wilma.
Rey masuk ke gubuk besar itu setelah penghuninya keluar semua. Ia mengamati dan memeriksa semua hal disitu. Ketika masuk ke dapur, Rey hampir berteriak karena kaget. Ada tiga mayat bayi kering digantung disana. Terlihat darahnya sudah habis hingga tinggal tulang terbungkus kulit. Rey mendekati masing-masing mayat itu. Tampaknya mayat bayi itu diawetkan entah untuk maksud apa. Rey keluar dan memeriksa gubuk-gubuk lainnya.
Ketika hari sudah siang, rombongan lelaki pulang membawa hewan buruan. Cretta dan Tiffa menghadang mereka untuk meminta satu hewan buruan. Salah satu lelaki menyerahkan rusa dengan muka masam.
Cretta dan Tiffa menyeret rusa itu ke tempat Izabel. Mereka mengambil darah rusa itu untuk Izabel.
" Ketua....... ketua......... ! " Cretta memanggil-manggil Izabel. Karena tak kunjung bangun, Cretta menepuk-nepuk lengannya.
" Mungkin ketua terpengaruh ramuan nenek Wilma " kata Tiffa.
" Ramuan apa ?! " Cretta curiga.
" Ramuan yang biasanya ketua minum, tapi tadi pagi ketua minta agak banyak. Wilma bilang kalau kebanyakan nanti mengantuk "
" Tccck...... ! Jadi bagaimana ini, nanti mengental tidak enak " kata Cretta mengacungkan cawan ketua.
Akhirnya Tiffa membantu membangunkan Izabel. Cretta terpaksa meminumkannya meski Izabel setengah tertidur. Tiffa menahan rahang Izabel agar tetap terbuka saat darah dituangkan.
Salah satu lelaki pemburu memberikan bubuk racun akar putih pada Broma.
" Ini dioleskan pada bagian dalam cawan mereka atau campurkan ke guci air. Jangan lupa basuh tanganmu setelah itu " katanya berbisik.
Broma segera menemui istrinya dan mengatakan rencananya. Istrinya akan masuk lewat belakang, sedang Broma akan berjaga di depan. Ia akan berpura-pura mengajak bicara jika salah satu dari mereka datang. Istrinya mengangguk mengerti.
__ADS_1
Rey terus berkeliling ke setiap gubuk hingga sore. Ia menemui Zigaz dan mengatakan apa saja yang diketahuinya.
( " Tak ada anak-anak dan orang tua di sini. Mereka jadi korban minum darah warga ini sendiri " ) kata Rey.
( " Sungguh kejam. Untung mereka tidak keluar dari desa ini ke desa lain " )
( " Zigaz, pecahkan botol obat itu ke dekat perapian. Warga berniat meracuni Ketua. Katakan pada siapapun yang meminta obat, botolnya jatuh pecah dan harus membuat yang baru. Jadi jika mereka menuduhmu meracuni ketua, tidak ada bukti " )
Zigaz segera memecahkan botol itu di samping perapian dekat dinding.
( " Tolong ambilkan buah labu 2 " ) perintah Rey. Mereka ke halaman belakang dan membuat tiruan Asgar. Rey menyimpan labu satunya ke dalam cincinnya. Lalu ia mengubah Asgar jadi tawon kayu juga.
( " Asgar.... tetaplah bersama Zigaz, aku ada perlu sebentar " )
Asgar terbang mengikuti Zigaz kembali ke dalam gubuk. Sedang Rey masuk ke ruang dimensi menemui nenek Wilma.
" Nek, bantu aku mencari daun yang bisa membuat mereka agresif dan saling menyerang "
Nenek Wilma mengangguk dan mengeluarkan cermin pelihat. Ia memelototi cermin itu agak lama. Lalu menunjukkan Rey tanaman yang dimaksud. Rey membaca mantra dan mengulurkan tangannya mencabut semua tanaman itu lewat cermin. Nenek Wilma terkekeh melihat cara Rey yang ajaib.
" Panggang saja tanaman itu diatas lempengan masak. Baunya akan menyebar dan memancing kemarahan setiap orang. Tapi segera menjauhlah jika tidak ingin terpengaruh juga "
( " Zigaz, tolong siapkan lempengan pemanggang kue dan taruh tanaman ini diatasnya. Aku khawatir malam ini terjadi sesuatu di luar perkiraan. Jika ketiga orang itu terkena racun dari warga, kemungkinan tidak akan langsung mati. Karena dalam tubuh mereka ada iblis pemangsa. Jadi pasti akan ada keributan dan saling menuduh.
Besok pagi kau nyalakan perapian. Asapnya akan membangkitkan kemarahan seluruh penghuni desa ini sehingga mereka saling serang. Tengah malam nanti kita akan membangun kubah besar agar jangan ada yang keluar dari desa ini " )
( " Baik Nona " ) sahut Asgar dan Zigaz.
Cretta dan Tiffa sudah selesai membakar daging rusa. Mereka membereskan api unggun dan membawa pulang Izabel. Efek ramuan itu sudah habis sehingga Izabel sadar sepenuhnya meski agak linglung.
Cretta dan Tiffa menyiapkan makan malam bersama. Cretta menuang air ke cawan dan minum lebih dulu. Lalu mulai makan daging rusa. Lima hitungan kemudian ia mengerutkan alisnya. Lalu mulai menggumam.
" Ngggg........... " ( dalam mulutnya masih ada daging rusa sehingga suaranya teredam "
" Ada apa Cretta ? " Tiffa menatapnya heran.
Cretta menggumam dan merintih jadi satu. Izabel menatapnya sebal.
__ADS_1
" Buang makananmu dan katakan, ada apa ?! "
" Ffuuhhh..... ! " daging rusa itu Cretta semburkan ke bawah meja. Lalu ia memejamkan mata seperti menahan sakit. " Ada apa ? " Tiffa menepuk bahu Cretta, tapi Cretta malah terguling ke samping.
" Bruuukk..... ! "
" Cretta..... !! "
Izabel dan Tiffa segera mengangkatnya ke balai bambu. Cretta hanya diam memejamkan mata. Izabel memeriksa suhu tubuh Cretta, tidak ada yang salah ?
" Cretta...... Cretta......... ! " Ia menepuk-nepuk pipi Cretta.
" Tiffa.... pergi minta obat pada Wilma. Cepat.... ! "
Tiffa berlari ke rumah Wilma. Masuk ke dapur.
" Wilma.... ! minta obat, Cretta sakit ! "
Nenek Wilma terkejut. Lalu menggeleng kepala sambil menunjuk pecahan botol di samping perapian.
Tiffa melihat genangan ramuan yang terserap tanah.
" Tccck....... ! kamu ceroboh ! cepat buat lagi..... ! " bentaknya kemudian berbalik pergi.
" Ketua..... tidak ada obat. Wilma memecahkan botol penyimpanan.
" Suruh buat lagi.... ! "
" Saya sudah suruh " sahut Tiffa.
" Ngggg............ " terdengar suara Cretta menggumam dan menggigil.
Izabel memijit-mijit urat diantara jempol dan jari telunjuk Cretta. SedangTiffa mencari kain dan mengompres dahi Cretta. Sepanjang malam mereka menjaga Cretta hingga kurang waspada dengan sekeliling.
Tampak bayangan seseorang mengintip gubuk besar itu. Ia kecewa karena yang terkena racun bukan ketua, tapi Cretta. Pelan-pelan ia mundur tanpa suara. Pergi ke gubuk Broma.
Broma menariknya masuk dan cepat-cepat menutup pintu.
__ADS_1
" Broma, gawat..... ! Yang kena racun si Cretta, bukan ketua ! "
Broma tertegun. Ini akan jadi masalah besok.