GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
179. Alegro Lumpuh


__ADS_3

" Ssshhh........... " Alegro merasa jari-jarinya sakit membentur dada Asgar yang seperti batu.


( " Dia keturunan penyihir putih yang menginginkan Nona Rey menjadi miliknya. Belum pengalaman sebagai petarung. Ayahnya walikota Porton " ) kata Zigaz memberitahu Asgar. Asgar menyeringai mendengar keterangan itu.


Rey sendiri tidak perduli dan tetap makan. Ia sungguh lapar dan kesal karena Alegro terus mengganggunya sedari sore hingga ia kurang menikmati acara ini. Ia yakin Asgar akan menghukum pemuda ambisius itu.


Orang-orang di sekitar tertarik menonton, bahkan ada yang membuang undian ( bertaruh ). Mereka tahu siapa Alegro. Putra angkat walikota yang sombong karena bisa sihir. Selama ini tak ada yang berani melawan bisnis atau keputusan walikota karena campur tangan Alegro.


Alegro meminta pedang pada pengawalnya. Ia menatap remeh pada kakek di depannya ini. Asgar mengamati pemuda dihadapannya. Mengapa mengenakan jubah tudung hitam seperti penyihir jahat ?


Pemuda itu menyabetkan pedangnya ke dada Asgar.


" Braaakkk....... " tampak perisai angin Asgar retak. Dalam hati Alegro heran itu apa.


Asgar mengibaskan tangannya mengusir Alegro. Angin keras menerpa Alegro hingga tudung jubahnya terbuka. Asgar melihat sebenarnya pemuda itu tampan.... tapi rambutnya terlihat jelek, seperti......... terbakar ?


( " Apa Nona yang membakar rambutnya ? " ) tanya Asgar.


( " Yeah..... " ) Rey mencibir.


Asgar tersenyum miring. Alegro bangkit dengan marah dan melemparkan bola api. Asgar menghindar, ia menggerakkan tanah berpasir menyerbu Alegro.


" Aaah...... ! " Baju dan jubah Alegro kotor berpasir. Ia melemparkan pedang layaknya tombak.


Tapi Asgar menahan dengan perisai kecil tebal di ujung jarinya, sehingga tampak hebat. Sebelum pedang itu jatuh ke tanah.


" Klang.... !


" Wooaaah............ " Orang-orang berdecak kagum.


Rey dan Zigaz menahan senyum. Alegro semakin dongkol. Ia memerintahkan pengawalnya maju.


" Seraaaang...... ! "


Serentak para pengawal itu maju sambil menghunus pedang. Asgar melayang ke atas. Tangannya teracung menunjuk Alegro. Tubuh Alegro terangkat tinggi ke udara. Alegro panik sehingga tidak bisa berdiri tegak.


" Aaaaaah........... ! "


" Ha..ha..ha..ha..... " semua orang tertawa melihat hal lucu itu. Alegro jungkir balik tak karuan di udara.


" Tu...turunkan aku.... ! Turunkan........ ! "


Asgar menurunkan tangannya. Seketika Alegro jatuh menimpa para pengawal yang dibawahnya.


" Aah.... ! "

__ADS_1


" Aduh.... ! "


" Uuhk.... ! "


" Anak muda....., anak muda......... Kamu adalah contoh penyihir bodoh yang sombong. Mengira dirimu di atas segalanya. Tapi menjadi keturunan penyihir putih saja kamu tak pantas menyandangnya " kata Asgar dari udara


Alegro mengambil pedang di tanah. Tapi Asgar mengirim satu petir menyambarnya.


" Blaaarr...... ! "


" Aaah..... ! " Alegro terjengkang dengan beberapa kilatan petir ditubuhnya.


Para pengawal segera bangkit menghindar. Mereka lupa bahwa seharusnya mereka melindungi tuan mereka.... Petir itu cukup mengejutkan semua orang.


Rey dan Zigaz mengerucutkan bibirnya tak tahu harus senang ataukah kasihan melihat nasib Alegro. Mereka tahu, petir itu akan melumpuhkan Alegro setidaknya 5 bulan lamanya. Asgar turun dan melangkah ke arah meja makan. Lalu duduk melanjutkan makanannya. Rey tertawa tanpa suara. Zigaz mengacungkan jempolnya.


Mereka tak perduli Alegro yang pingsan di tanah. Biarkan para pengawalnya yang mengurus itu. Asgar yakin untuk sementara mereka akan segan mengganggunya. Orang-orang yang menang bertaruh segera meraup koin dan cepat-cepat pergi.


Seorang anak kecil menarik wanita buta mendekat pada Asgar.


" Kakek penyihir....... Bolehkah aku meminta tolong sembuhkan ibuku ? "


Asgar terpana menatap seorang wanita buta yang digandeng anak itu. Ia tak tahu harus berkata apa.


" Apakah ini buta sejak lahir ? "


" Tidak nek, wanita jahat itu menyiram sesuatu kepada ibuku "


Rey saling menatap dengan Asgar dan Zigaz. Asgar dan Zigaz segera berdiri memberikan kursinya pada wanita itu dan anak kecil itu.


" Silahkan duduk "


Rey menatap lekat pada mata wanita itu untuk memeriksa seberapa parah kerusakannya. Lalu menggosok-gosok tangannya sambil mengucap mantra. Kedua telapak tangan Rey bercahaya. Kemudian Rey menangkupkan kedua tangannya ke mata wanita itu selama 10 hitungan.


Setelah Rey melepaskan kedua tangannya, wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Pandangan matanya beradu dengan mata seorang nenek.


" Ibu..... ? " wanita itu menoleh mendengar panggilan anaknya. Ia menatap anaknya yang sedang tersenyum.


" Ibu sudah bisa melihatku ? " tanya anak kecil itu lagi.


Seketika ibu itu menarik dan memeluknya erat. Ia menangis tersedu-sedu karena bisa melihat lagi. Rey membelai punggung wanita itu.


" Ceritakan pada kami, kenapa itu bisa terjadi padamu "


" Beberapa bulan lalu suamiku menolong seorang wanita. Ia mempekerjakan wanita itu di rumah kami. Tapi lama-lama ia dekat dengan suamiku dan mulai berlaku buruk pada anakku. Aku hanya melindungi anakku saat beberapa waktu kemarin ia mencoba menyiksanya. Tidak tahu apa yang ia siramkan padaku. Ia memfitnahku di depan suamiku sehingga kami diusir "

__ADS_1


" Jadi kalian tinggal dimana ? "


" Kami..... tinggal bersama yang lain di.... bekas gudang "


" Siapa namamu.... ? " tanya Asgar pada anak itu.


" Jansen "


" Bawa kami kesana "


Mereka berjalan ke arah perumahan. Lalu berhenti di depan seorang laki-laki yang sedang tidur meringkuk di depan gudang. Jansen membangunkannya.


" Tuan... Tuan.... Bangunlah..... Mengapa tidak tidur di dalam ? "


Laki-laki itu duduk. Ia menatap mereka semua yang berdiri di hadapannya.


" Pemilik gudang mengusir kita semua dan memaku pintunya "


Rey menghela nafas. Ia melihat sekeliling dan melihat sebuah rumah di pojok lorong yang separuh roboh.


" Siapa yang punya rumah itu ? "


" Saya Nona, tapi tidak ada yang mau membelinya karena sempit "


Rey mengeluarkan 20 koin emas dan memberikannya pada laki-laki itu.


" Aku membelinya untuk mereka " kata Rey menunjuk Jansen dan ibunya. Lalu tangannya mengeluarkan cahaya sebesar bola sepak. Rey mengucap mantra dan bola cahaya itu meluncur ke arah rumah yang hampir roboh. Cahaya itu menerpa rumah dan sekelilingnya selama 10 hitungan. Kemudian meredup.


Semua yang melihat sebuah rumah sederhana tapi bagus telah berdiri di sana. Rey memberikan kantong koin kecil pada ibu Jansen.


" Tinggallah di sana dan cukupilah kebutuhan kalian. Jangan pernah kembali atau menolong suamimu. Tetapi tolonglah mereka yang pantas ditolong "


" Dan kamu, sementara tinggal bersama mereka. Besok carilah rumah makan yang bangkrut lalu bangun kembali lebih bagus. Biarkan ibu Jansen menjadi juru masaknya. Jangan lupa, cari mereka yang pernah tinggal bersamamu dan pekerjakan mereka di rumah makanmu yang baru " kata Rey memberi sekantong koin emas pada laki-laki itu.


Seketika laki-laki itu menangis bersujud di hadapan Rey. Jansen dan ibunya juga berlutut di sampingnya. Zigaz menenangkannya.


" Jangan menangis..... Jadilah penolong bagi siapapun yang membutuhkan. Saling menjaga dan melindungi "


" Suatu saat kami akan kembali menengok kalian. Usahakan mempekerjakan seorang yang kuat untuk menghindari orang-orang jahat " pesan Asgar.


Mereka mengangguk-angguk sambil menyusut air matanya. Rey memeluk Jansen sebelum pergi.


" Jaga baik-baik ibumu "


Lalu 3 orang itu teleportasi kembali ke lapangan kota. Jansen, ibunya dan laki-laki itu tercengang sesaat.

__ADS_1


__ADS_2