GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Kesusahan Alegro


__ADS_3

Alegro dibawa pulang ke kediaman walikota. Ibunya seketika geger melihatnya pingsan. Para pengawal menceritakan apa yang terjadi di lapangan kota.


Walikota memanggil tabib pribadi. Tabib mengatakan bahwa Alegro tidak ada luka sedikitpun. Tapi kemungkinan syaraf geraknya akan lumpuh sementara. Hanya ia tidak bisa mengatakan berapa lama waktu penyembuhan karena tidak tahu seberapa kuat petir yang menyambar Alegro.


Yang jelas, Alegro harus berjemur setiap pagi untuk menghangatkan syarafnya. Walikota memberi koin lebih banyak untuk meminta tabib agar tutup mulut. Ia tidak ingin kondisi Alegro diketahui orang lain. Ini akan mengancam kedudukannya sebagai walikota.


Lalu memanggil penasehatnya untuk berbicara. Penasehat mengambil nafas panjang.


" Berurusan dengan penyihir kuat itu berbahaya. Sebenarnya apa yang diinginkan Tuan Alegro ? "


" Ia ingin menikahi seorang penyihir cantik "


" Cantik..... ? tidakkah anda curiga itu seorang nenek sihir yang menyamar ? "


" Alegro keturunan penyihir. Ia tentu tahu kebenarannya. Pengawal bilang malah gadis itu yang menyamar jadi nenek-nenek "


Penasehat tercengang. Kebanyakan para wanita ingin dianggap awet muda. Ini malah sebaliknya ? Ia menggosok hidungnya.


Mereka terus berbicara tentang pengaruh Alegro terhadap kedudukan walikota hingga tengah malam.


Sementara Rey begitu menikmati kegembiraan hingga tengah malam, kemudian kembali ke penginapan. Asgar dan Zigaz masuk ke ruang dimensi.


Lewat tengah malam, Alegro tersadar. Ia tahu sekarang ada dikamarnya. Tapi mengapa ia berada di sini ? Dicobanya mengingat-ingat hal sebelumnya. Kakek tua itu..... Dia bisa terbang dan menyerang menggunakan petir.


Alegro meringis jelek. Ia sudah hampir mendapatkan gadis itu jika kakek itu tidak menghalanginya. Gadis itu pasti tinggal sementara di penginapan. Sebab dia bukan warga kota ini. Alegro akan menculiknya diam-diam.


Ia berusaha menyibakkan selimutnya, namun tidak bisa..... ? Alegro mengerutkan alisnya. Tangannya tidak bisa digerakkan ! Ia menggoyang-goyangkan kakinya, sama saja. Dengan marah ia berteriak memanggil ayahnya. Namun suaranya juga tidak keluar. Mulutnya seperti agak kaku digerakkan. Ada apa ini. Apakah ia sedang mimpi buruk ?


Ia mencoba menepuk pipinya. Tapi.... tak berguna. Bukankah tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan ? Mata Alegro melotot kian kemari.


Kemana para pelayan, apa mereka sama sekali tidak memeriksa keadaannya setiap jam ? Beginikah pelayanan mereka terhadap orang sakit ? Nafas Alegro naik turun karena kemarahannya tidak bisa tersalurkan, bahkan tak bisa bicara lagi.


" Hhhhhhhhhh............ ! " suaranya seperti hewan menggeram.


Alegro sangat kesal karena tidak bisa apapun. Sepanjang malam ini sangat menyiksa baginya. Nafasnya berulang kali tersengal karena rasa marah. Dapat dipastikan besok ia akan kesukaran berkomunikasi dengan siapapun. Sungguh hukuman yang berat telah diberikan oleh Asgar.


Esoknya Rey berkemas meninggalkan kota Porton. Ia ingat janjinya mencarikan beberapa teman untuk si tupai kecil. Di tepi hutan Porton Rey mengeluarkan Asgar dan Zigaz.


Tampak Asgar masih tertidur pulas. Ya, ia lelah karena berlatih tarung dengan Zigaz. Zigaz bermaksud membangunkannya, tapi Rey melarangnya. Ia menyangkutkan Asgar begitu saja di dahan pohon yang rendah.

__ADS_1



" He...he...he...he...... " Zigaz menutupi mulutnya agar suara tertawanya tidak terdengar. Ia pun mengikuti Rey mencari hewan-hewan untuk teman tupai.


Rey mendapat tupai betina, sepasang kelinci, Kupu-kupu dan burung-burung pengicau. Zigaz membawakan sarang lebah madu beserta tawonnya.


" Astaga Zigaaaazzz......... Apa yang kau lakukan ? "


" Madu baik untuk kita Nona. Aku yakin lebah-lebah ini takkan pelit berbagi dengan kita semua "


Rey menatap para tawon yang beterbangan mengelilingi Zigaz.


" Baiklah, aku harap mereka tidak menyengat siapapun yang membutuhkan madunya "


Zigazpun masuk ke ruang dimensi menaruh sarang lebah itu dipohon apel dekat danau.


Tupai kecil senang mendapatkan banyak teman. Ia berteriak dan melompat-lompat senang.


Rey dan Zigaz keluar berburu rusa. Mereka memanggang rusa muda itu d pinggir hutan. Baunya yang sedap menggoda hidung Asgar. Tanpa sadar hidungnya mengendus-endus meskipun matanya masih terpejam.


Akhirnya Asgar membuka matanya. Namun ia terbelalak bingung menatap sekitarnya yang seperti......... dunia terbalik ? Apakah dunia sudah terbalik ? Apa yang terjadi ? Asgar ingin berlari memeriksa keadaan, tapi malah terjatuh dari dahan pohon.


" Bruuukk...... !


" Ha...ha...ha...ha.......... " terdengar tawa dua orang yang dikenalnya.


Asgar duduk dan menoleh ke belakang sambil memegang kepalanya. Tampak Rey dan Zigaz sedang memanggang rusa muda. Mereka menertawakannya.


" Mimpi apa kau..... ? " tanya Zigaz mengejek.


Asgar hanya bisa meringis. Ia mendekat dan duduk di samping Rey. Rey memberikan sepotong daging rusa padanya.


Tiba-tiba datanglah seekor burung Nasar ( burung pemakan bangkai ). Ia turun ke tanah dan perlahan mendekati Rey. Asgar dan Zigaz menjadi waspada, masing-masing bersiap untuk menangani burung ini jika menyerang Rey.


Burung itu menunduk sebentar sebelum mengeluarkan suara-suara aneh. Rey mengerti bahasa binatang. Sejenak ia mengerutkan alisnya. Lalu Rey memberinya sepotong daging rusa yang setengah matang.


Karena burung itu tidak membahayakan, Asgar dan Zigaz kembali tenang dan melanjutkan makannya. Asgar bahkan pindah duduk disebelah burung itu dan menepuk-nepuk punggungnya. Lalu membelai sayapnya. Ia takjub dengan badannya yang keras.


__ADS_1


" Nona, ada apa dengan burung ini, apa dia membutuhkan pertolongan ? " tanya Asgar.


" Tidak, ia hanya mengeluh. Tadi melihat Zigaz membantai rusa. Namun ternyata tidak menyisakan bekas untuknya. Jadi ia kesini memintanya langsung "


" Oh........ " Asgar dan Zigaz tercengang.


" Maafkan saya nona, saya hanya membawa bagian yang berdaging. Yang tidak terpakai telah saya uraikan " kata Zigaz.


Burung itu menatap dan membuka-tutup paruhnya seolah mengatakan sesuatu. Tapi Zigaz tidak mengerti. Rey tertawa. Ia mengeluarkan bola cahaya kecil dan menyentuhkannya ke paruh burung Nasar.


" Kaaaakk... ! kamu jahat ? Kaaaakk... ! "


Asgar dan Zigaz terbelalak dan berteriak.


" Dia bicara.... ! "


" Kaaaakk... ! Kamu pelit... ! serigala tua... ! " kata burung nasar.


" Haahh..... ! Bagaimana kau tahu dia serigala jadi-jadian ?! " sahut Asgar heran.


" Plaaakkk.... ! sembarangan..... ! " Zigaz sewot.


" Kaaaakk... kak..kak..kak...kak..... " burung itu menertawakan Asgar.


" Hi..hi..hi..hi..... " Rey juga tertawa geli.


Zigaz menjitaki kepala Asgar dengan gemas, sementara Asgar hanya tertawa sambil berusaha menutupi kepalanya. Rey dan burung nasar meneruskan makan rusa.


" Dimana kamu tinggal ? " tanya Rey


" Kaaaakk... saya tinggal di puncak tebing, tapi kebetulan hari ini melintasi hutan ini. Dewi dan tuan-tuan hendak kemana ? "


" Kami berburu penyihir jahat " sahut Asgar.


" Kaaaakk... " Burung itu mengangguk-angguk. Ia mengulurkan cakarnya pada Rey. Rey menyambutnya.


" Kaaaakk...... Terima kasih atas makanannya. Aku akan pergi "


" Ini, bawalah..... Kami sudah cukup " kata Zigaz menawarkan daging potongan terbesar.

__ADS_1


" Kaaaakk...... terima kasih " burung nasar itu menjepit daging itu dengan paruhnya. Lalu berjalan agak jauh sebelum mengepakkan sayapnya. Debu sedikit beterbangan. Ia berputar sekali diatas mereka.


Serentak Rey , Asgar dan Zigaz melambaikan tangannya.


__ADS_2