GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
94. Kematian Destraco


__ADS_3

" He..he..he..he.... "


Rey tertawa geli melihatnya.


" Kenapa kau tidak menolongku ?! " Destraco melotot pada Rey.


" Eh.... ? Bagaimana mungkin aku menolong musuhku. Apa kau lupa tujuanmu padaku ? Bukankah kau ingin menguasai kekuatanku. Inilah wujud kekuatanku di dalam pikiran. Dan aku adalah penguasanya. Apa kau ingin lihat caraku menguasainya ? " tanya Rey menyeringai lebar.


Tangannya terbentang ke atas dan berayun dari belakang ke depan memutari kepalanya. Air danau bergulung seperti ombak. Destraco terbelalak ngeri.



Belum sempat berteriak, ombak besar itu menggulung Destraco ke dalam danau.


" Ouuwwffhh...... ! "


Mulutnya kemasukan air. Ia tak bisa bernafas. Tak bisa berenang. Ia berusaha menggapai ke atas. Tapi tubuhnya semakin tenggelam ke bawah....


( " Tidak..... tolong aku..... tolong..... " )


Cukup lama Destraco " melayang " dalam air sampai Rey menarik tangannya dan melemparkannya ke atas perahu yang terbalik. Destraco bahkan tak mampu berteriak saat dilempar. Ia jatuh tak bergerak. Badannya serasa menghantam batu.


Rey tersenyum sinis. Ia sengaja menahan jiwa Destraco dalam pikirannya. Sebab wujud asap Destraco sedang diuraikan Asgar. Rey harus mengulur waktu sampai proses itu selesai. Dengan begitu Destraco tidak punya wujud lagi.


Pelan-pelan Destraco beranjak duduk. Rey menggerakkan angin, sengaja membuat Destraco menggigil kedinginan. Mengapa Destraco tidak punya kekuatan ? Ini karena Destraco kalah cepat dengan Rey. Pikiran dan jiwanya sudah dikuasai lebih dulu oleh Rey pada saat terpana melihat matanya. Jadi dia tidak punya kekuatan apapun di dunia jiwa Rey.


Bagaimana dengan Asgar ? Setelah Rey memberinya perintah, ia langsung menempelkan kedua tangannya di bola pelindung. Zigaz diam memperhatikannya. Sebenarnya Zigaz juga punya kekuatan sihir yang besar. Namun Rey tidak mengaktifkannya ( kontrak darah ). Ia ingin tahu seperti apa Zigaz saat dalam kondisi kekuatan terbatas.


Asgar memejamkan mata merasakan pergerakan udara diruang arena. Ia merasakan wujud Destraco secara keseluruhan. Dan mulai menguasai setiap partikel asapnya membungkusnya dengan bola udara kecil-kecil. Karena tidak bisa membakar, maka Asgar menggiringnya ke arah perisai pelindung. Tadi ia melihat Destraco kesakitan saat terbentur ke dinding perisai. Ia membuka setiap bola udara dan melemparkan partikel-partikel wujud Destraco menabrak dinding perisai.


" Czzzzzzzz............... "


Benar saja, semua partikel-partikel kecil itu seketika menguap saat menabrak dinding perisai. Zigaz melebarkan matanya. Ia menyaksikan semuanya sampai habis tak bersisa. Asgar juga memastikan melalui pergerakan udara.

__ADS_1


" Mengapa Destraco tidak berteriak kesakitan seperti tadi ? Apa dia tidak merasakannya ? " tanya Zigaz pada Asgar.


" Nona menawan jiwanya didalam pikiran Nona " jawab Asgar.


" Apa..... ?! tidakkah itu beresiko ? Destraco bisa saja membalikkan posisinya menguasai pikiran Tuan Putri..., eh.... Nona " Zigaz sangat khawatir.


" Ya...... itu bisa saja terjadi. Tapi kita harus percaya Nona akan mengatasi apapun itu " sahut Asgar sambil menghela nafas.


Zigaz menatapnya sendu. Sulit baginya membiarkan junjungannya berada di posisi yang berbahaya sementara ia yang ditugaskan melindungi malah dilindungi. Zigaz menundukkan kepalanya. Berubah kembali menjadi serigala.


Asgar tetap menatap ke arah sosok Rey yang diam di udara dengan mata terpejam. Dibuatnya alas dari padatan angin tepat dibawah kaki Rey agar tidak terjatuh saat sadar nanti.


Sementara di dunia jiwa Rey terus menekan Destraco. Dimatanya Destraco seperti kalajengking. Selalu menyerang dari belakang. Mengandalkan kelicikannya dalam setiap hal.



Rey membentuk seseorang perempuan dari air ( Aquana). Ia mengirim Aquana mendekati Destraco. Aquana muncul disamping perahu yang terbalik. Destraco melihatnya. Itu bukan Gadis Takdir. Destraco melihat sekeliling namun tak melihatnya.


Ia mengamati Aquana. Aquana menyentuh perahu itu, bermaksud naik. Tapi Destraco dengan kasar menyingkirkan tangannya.


Aquana diam sejenak, lalu menyelam.


Tiba-tiba perahu itu tersundul sesuatu dari dalam air, membuatnya terombang-ambing. Destraco kehilangan keseimbangan dan kembali terjatuh ke danau. Ia buru-buru meraih perahu dan memeluknya, kemudian merambat naik.


Aquana kembali muncul disamping perahu. Segera Destraco berteriak marah-marah.


" Pergi kau mahkluk bodoh.... ! "


Destraco meraup air danau untuk disiramkan pada Aquana. Aquana kembali menyelam dan melakukan hal yang sama seperti tadi.


Destraco kembali tercebur dan naik lagi ke atas perahu. Hatinya sudah sangat marah. Wajahnya tidak sedap dipandang. Ia berniat membunuh wanita air itu jika muncul lagi.


Benar saja, Aquana muncul lagi disamping perahunya. Kali ini lebih dekat. Dengan geram Destraco menjambak rambut Aquana. Tapi akibatnya perahunya jadi oleng dan Destraco tercebur lagi. Dalam air Destraco bergulat dengan Aquana. Rasa marah membuatnya lupa bahwa ia di dalam danau. Kedua tangannya mencekik leher Aquana. Aquana tidak mati, tapi ia berubah kembali menjadi air.

__ADS_1


Melihat itu Rey kecewa. Nyata sekali sifat Destraco benar-benar buruk. Ia hanya mengujinya dan ternyata Destraco membunuh Aguana ( hanya air yang digerakkan Rey ). Nyata sekali bahwa Destraco tidak pantas berada di kehidupan manapun. Di dunia nyata ia membunuh, di dunia jiwa juga tetap membunuh.


Sementara Destraco baru menyadari posisinya yang sedang tenggelam. Ia melihat ke atas permukaan yang sudah terlalu jauh dari jangkauannya. Kakinya mencoba menjejak air , tangannya bergerak-gerak. Semakin lama semakin lemah. Rey memperhatikan dengan hati sedih. Dibiarkannya Destraco tenggelam ke bawah.


Pada hitungan ke sepuluh, tubuh ( jiwa ) Destraco berubah menjadi cahaya kecil. Cahaya itu naik menuju permukaan danau. Terus melayang ke atas.


Rey membuka matanya , satu cahaya kecil keluar dari titik di dahinya. Menyatu dengan alam. Rey melayang ke atas untuk membuka perisai pelindung. Lalu turun dan membuka pelindung Asgar dan Zigaz.


" Nona, apa anda baik-baik saja ? " tanya Asgar.


" Tuan Putri....." Zigaz langsung menutup mulutnya. Kemudian menunduk " Maaf.......Nona "


" Dimana Destraco, Nona ? Apakah dia melarikan diri ? "


" Tidak, jiwanya sudah mati dan kembali menjadi asalnya ( cahaya, walaupun kecil karena tergerus sifat buruknya ) " jawab Rey menatap ke langit.


Asgar menahan diri untuk tidak menanyakan sesuatu yang lain saat ini.


" Kita akan mengunjungi nenek itu lebih dulu sebelum kembali ke Astraco " kata Rey.


" Tunggu Nona. Ijinkan aku membangun satu rumah disini untuk siapapun yang akan berteduh saat darurat " Asgar menunjuk tumpukan pohon.


Rey tersenyum mengangguk.


" Aku akan membantumu "


" Tidak Tuan Pu..... eh, Nona. Biar saya saja " Zigaz meregangkan tangan dan kakinya, perlahan berubah jadi manusia berjubah putih.


" Ooooh....... tidak perlu kek ! Aku khawatir tulangmu akan banyak patah jika mengangkat kayu " Asgar meledek.


Zigaz menggeram kecil. Rey tertawa. Mereka saling bantu membangun sejenis saung (rumah panggung untuk beristirahat, tanpa pintu.


Menjelang sore saung selesai. Asgar mengumpulkan sisa-sisa kayu dan menaruhnya di sisi saung. Untuk persediaan api unggun.

__ADS_1


" Aku lapar...... " Rey mengeluh di dalam saung.


" Saya akan berburu binatang, Nona " ujar Zigaz segera melesat pergi.


__ADS_2