GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
90. Berbalik Arah


__ADS_3

" iiiiiiiih...... Kemana sih dia.... ? masak cuma cari minuman saja kok lama banget.... ! " mulutnya menggerutu pelan.


Ia takut suaranya terdengar dari kamar sebelah. Lalu ia turun dari pembaringan dan mengintip keluar pintu. Tapi diluar terlihat begitu lengang.


" Dia kemana ya.... ? "


Swansen menjulurkan kepalanya melihat lorong, kosong. Semua pintu kamar tertutup. Pelan-pelan ia berjalan di lorong menuju ruang tamu. Tapi disana hanya ada petugas penginapan yang tidur dibangku panjang. Ia berbalik ke arah dapur. Tapi ia segera lari ketakutan begitu mendengar suara-suara aneh dan benda jatuh di dapur. Padahal itu kucing...


" Braakk ..... ! "


Ditutupnya pintu agak keras dan ia merosot di belakang pintu. Lalu ia mendengar ada suara orang berlari di luar penginapan dan sebuah jeritan. Dengan gemetar ia merangkak menuju pembaringan dan menutupi dirinya dengan selimut. Mulutnya komat-kamit berdoa.


Suara jeritan membuat Asgar dan petugas penginapan jadi terbangun. Tapi petugas penginapan langsung bersembunyi dibalik selimut. Asgar mengintip dari kaca penginapan yang tertutup korden. Dilihatnya seorang gelandangan sedang digigit serigala.


Asgar membuka pintu dan berlari keluar untuk menolong gelandangan itu. Ia mengeluarkan pedangnya dan menebaskan pada serigala itu. Namun serigala itu menghindar dan kebingungan melihat sebuah pedang bergerak-gerak sendiri. Asgar lupa bahwa ia masih dalam keadaan tak terlihat karena mantra Rey.


Gelandangan itu juga terheran dan takut melihat keanehan itu. Ia berlari dan melihat pintu penginapan yang terbuka. Ia segera masuk dan menutup pintunya agak keras, lalu menguncinya.


Mulutnya tak henti bergumam.


" Ada hantu... Itu hantu.... hantu....... "


Tak lama pintu penginapan digedor-gedor.


" Hei..... buka pintunya...... ini aku, Asgar.............. "


Gelandangan itu merayap cepat ke bawah meja penerima tamu. Ia menutupi mukanya.


Asgar diluar bingung karena tidak dibukakan pintu. Ia ingin memberi tahu Rey, tapi khawatir jika Rey sudah tidur. Akhirnya Asgar duduk di kursi teras. Untunglah tidak ada apapun yang terjadi. Ia tertidur nyenyak dengan posisi yang tak nyaman.


Ketika pagi datang petugas penginapan mengusir gelandangan yang tidur dibawah meja. Ia akan membersihkan ruang tamu seperti biasanya.


Rey keluar mencari Asgar di ruang tamu, tapi tidak ada. Ia melihat petugas mengusir gelandangan yang tangannya terluka. Diikutinya keluar halaman dan dipanggilnya. Diusapnya tangan orang itu, seketika sembuh.


" Nona, tadi malam ia diserang serigala " satu suara mengagetkan gelandangan itu. Ia menoleh ke kanan-kiri, namun tak seorangpun selain ia dan nona itu. Tentu saja ia lari pontang-panting menjauhi mereka. Rey tertawa.


Tiba-tiba terdengar suara halus dalam nada marah.


" Kau ..... ! dimana dia ?! Semalam ia pergi meninggalkanku. Pasti tadi malam kau menahannya kan ? " Swansen menuding pada Rey. Ia memandang Rey dari atas ke bawah. Sejujurnya ia merasa iri melihat wajah Rey yang cantik walau tidak berdandan.

__ADS_1


" Kau siapa ..... ? " tanya Rey tenang.


" Aku..... aku Stella " jawab Swansen ketus.


" Oooh..... aku kira kau Swansen. Bekas tunangan Raja Higo yang terbuang dan menjadi penghuni rumah bordil ? " Rey tersenyum simpul.


Swansen tercengang. Ia tak menyangka gadis didepannya mengenal dirinya. Wajahnya segera memerah karena malu dan langsung pergi tanpa kata.


Rey menghela nafas dan melambaikan tangannya ke seluruh tubuh Asgar. Asgar jadi terlihat lagi.


" Kita akan ke kota berikutnya. Disini tidak ada yang perlu dikhawatirkan " ujar Rey sambil mengeluarkan kuda-kuda.


Mereka melaju dengan santai.


Seorang pria tua menghadang mereka di ujung jalan. Ia menatap Rey begitu tajam. Asgar segera melompat turun dari kudanya.


" Maaf pak tua, mengapa anda berada di tengah jalan ? " Asgar bertanya sopan.


Namun pak tua itu menuding ke arah Rey.


" Kau pergi ke arah yang salah. Kembalilah... ia berada di hutan perbatasan. Kau harus mengalahkannya sebelum gerhana matahari tiba " katanya sebelum ia menghilang.


" Hutan perbatasan yang mana Asgar ? " tanya Rey bingung.


Asgar berpikir sebentar sebelum menjawab " Jika pak tua itu bilang kita di arah yang salah , itu berarti yang dimaksudkan olehnya adalah kita harus kembali ke arah barat. Hutan perbatasan yang berada di barat adalah hutan BLACKBURN ... "


Asgar tercekat sampai disitu, ia tidak berani menceritakan semua hal kelam yang pernah terjadi di hutan itu.


Rey melihat pandangan Asgar yang tampak rumit. Ia tahu ada hal yang tak bisa diceritakan Asgar saat ini. Ia menghela nafasnya.


" Berapa lama sampai sana ? " tanya Rey.


" Mungkin 2 hari .... " jawab Asgar agak ragu.


Rey melihat langit.


" Aku tidak tahu kapan hari gerhana matahari terjadi " kata Rey menatap Asgar.


" Kapanpun itu, saya akan tetap berdiri disamping Nona " jawab Asgar mantap.

__ADS_1


Rey tersenyum sedih.


" Tapi aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu karenaku Asgar.... "


Asgar tersenyum.


" Saya juga tidak ingin membiarkan hal buruk terjadi pada junjungan hamba. Jika anda tidak selamat, saya juga pasti takkan selamat "


Rey terharu. Ia tersenyum lega.


" Mari berangkat.... "


Mereka kembali melewati kota Zebbel. Sebelum mencapai Highnos ( ibukota Higresia ) ada persimpangan. Mereka berbelok ke kiri memutari bukit untuk sampai di desa Ogara. Sampai disana hari sudah sore. Desa ini kecil dan tidak ada restoran atau penginapan. Rey bertanya pada seorang perempuan tua yang sedang menyapu halaman.


" Selamat sore nek.... saya mau bertanya apakah di desa ini ada tempat makan dan penginapan ? " tanya Rey.


Nenek itu menatap Rey dan Asgar yang membawa kuda.


" Di sini hanya desa kecil nak, jika kamu lapar, masuklah ke rumahku. Aku masih punya 2 loyang pie untuk kalian " jawabnya sambil membuka pintu pagar.


Ia menarik tangan Rey. Asgar menuntun kudanya masuk halaman. Mereka masuk kerumahnya.


Nenek itu menjamu mereka makan kue pie dan minum coklat hangat.


" Sebentar lagi gelap, kalian menginap saja di rumahku. Tapi hanya ada 2 kamar di sini. Jika tidak keberatan, nona tidurlah bersamaku. Dan tuan muda dikamar sebelah " ujarnya sambil menunjukkan kamar.


" Terima kasih nek... maaf menyusahkanmu " jawab Rey.


" Eh...he..he... Kalian sama sekali tidak menyusahkanku. Rumahku sepi selama ini. Jadi tentu saja aku senang malam ini agak ramai " ia tertawa pelan.


" Apakah nenek tinggal sendirian " tanya Asgar.


" Ya.... anakku bekerja di dapur istana. Biasanya ia pulang setiap akhir bulan. Tapi ini sudah lewat 2 bulan tidak ada kabar " nenek *******-***** tangannya.


" Ehmmm....... apakah nenek belum tahu apa yang terjadi di ibukota ? " tanya Rey.


Nenek itu memandang Rey agak lama. Hatinya bertanya-tanya. Namun lidahnya terasa kelu.


Lama nenek itu tertunduk. Lalu menatap Asgar.

__ADS_1


" Apakah benar di istana ada iblis ? "


__ADS_2