GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
99. Serigala Hutan


__ADS_3

Tak lama muncul seekor tupai yang sama persis dengan Zigaz. Zigaz dan Asgar melongo. Rey memberikannya pada gadis itu dan mengambil Zigaz.


" Aaaah...... terima kasih Nona, ini lucu sekali. Aku namai dia.... FURRY " katanya sambil memeluk erat si tupai kloningan.


" Ziiiiiish....... " Zigaz meringis sebelum merambat naik ke bahu Asgar.



" Baiklah.... kami akan segera berangkat. Sampai jumpa lagi " Rey dan Asgar berpamitan. Mereka tidak mencampuri urusan pemilihan pemimpin desa yang baru.


Setelah keluar dari desa itu, Rey segera terbang bersama Asgar. Zigaz berubah menjadi burung. Di tengah hutan Rey merasa lapar.


" Zigaaaaz....... aku lapaaaarr......... Apakah hidungmu tak mencium bau rusa ? " Rey merengek.


" Aku sedang menjadi burung, Nona..... " jawab Zigaz.


" Memangnya hidungmu bengkok ?! " Ketus Rey.


" Hi..hi..hi...hi.... " Asgar menahan ketawanya.


Zigaz dengan kesal menepis kepala Asgar menggunakan sayapnya lalu turun ke bawah dan berubah jadi serigala. Ia membaui udara lalu melesat mencari buruan.


Rey turun. Asgar mengumpulkan beberapa cabang pohon yang kering membuat kayu panggangan. Rey menjejakkan tanah dan membuat beberapa tempat duduk rendah (lesehan) disekitar api unggun. Tak lama Zigaz datang bawa rusa besar.


" Astaga Zigaz...... besar sekali.... ! " Rey melotot.


" Nona bisa menyimpan sisanya untuk perjalanan nanti " usul Asgar sambil memotong-motong rusa menjadi beberapa bagian.


Zigaz menusuknya berderet di cabang pohon yang disiapkan untuk panggangan. Rey membuat api unggun menyala.


Bau daging panggang menyebar ke sekeliling. Mereka makan dengan tenang. Namun Zigaz sempat duduk tegak dan menajamkan telinganya. Kemudian kembali meneruskan makannya.


Pada jarak 500 langkah ada gerombolan serigala mencium bau rusa panggang dan manusia. Namun juga ada bau serigala yang lain. Pemimpin serigala merasakan itu bukan serigala biasa. Entah mengapa ia enggan untuk mendekat. Namun 5 serigala lainnya tetap bergerak maju.


Ia melolong memperingatkan mereka, namun tidak dipedulikan. Sisa serigala lainnya berhenti di belakangnya. Mereka diam waspada pada bahaya di depan.


Rey mendengar lolongan serigala. Ia tersenyum miring.


" Sepertinya ada yang akan menggangu makan siang kita..... " kata Rey.


" Biar saya yang menegur mereka, Nona..... " ujar Zigaz tetap makan.


Asgar menatap ke arah belakang Rey. Tampak beberapa serigala hitam mendekat. Ia hanya mengangkat alisnya sebentar.

__ADS_1


Tak lama 5 serigala itu muncul sambil menggeram. Mereka mencium bau serigala lain. Posisi Zigaz sedikit tertutup Rey sehingga pandangan mereka terhalang. Asgar hanya memandangi mereka sambil makan.


Mereka mendekat pelan-pelan. Zigaz bangkit dan melangkah perlahan ke arah mereka. Matanya memancarkan cahaya putih ( sama dengan cahaya di dahi Rey, tanda anggota Kerajaan CRONOS ).


Para serigala itu terkejut. Mereka adalah serigala muda yang tidak pernah kemana-mana, jadi tidak mengetahui tentang Kerajaan CRONOS. Namun entah mengapa mereka sedikit gentar melihat mata dan liontin kalung Zigaz.


Zigaz duduk diam memandang mereka dengan tenang. Satu-persatu serigala itu mulai gemetar. Ada aura kematian yang dipancarkan Zigaz.


( " Zigaz, bisakah kau mengalahkan tapi tidak membunuhnya ? " ) telepati Rey.


( " Baik, Nona " )


Satu serigala nekat menerjang Zigaz. Namun dalam hitungan ke 5 Zigaz berhasil menggigit bagian lehernya, membuat serigala itu meringkik kesakitan.


Empat serigala lainnya merasa ragu, mereka saling menoleh kemudian menerjang bersama. Zigaz melemparkan serigala pertama ke samping. Cepat ia mengelak dan balas menerjang ke 4 serigala itu.


Satu persatu ke 4 serigala itu tumbang dengan tangan atau kaki yang patah. Tentu saja itu hal mudah bagi Zigaz. Mereka hanyalah serigala hutan yang pandai berburu, bukan petarung sepertinya.


Zigaz melolong bangga. Suaranya terdengar oleh 4 serigala yang tersisa di jarak 500 langkah. Tentu saja mereka tahu maksud lolongan itu. Mereka berjajar diam sambil menunduk .


Rey segera membereskan daging rusa yang tersisa. Asgar membereskan bekas api unggun. Lalu bangkit menyusul Zigaz. Rey menyembuhkan satu persatu serigala itu dengan hanya menyentuhnya.


Serigala-serigala itu bangun dan menunduk hormat.


Melewati sarang tawon, Rey dengan usil menepuk sarangnya, membuat para tawon keluar dan mengejar mereka.


" Nguuuuuuung.................... "


Zigaz dan Asgar berhenti sebentar dan menoleh ke belakang ingin tahu. Mereka tercengang melihat ratusan tawon sedang mengejar.


" Astaga....... ! TAWOOOONNN................ " teriak Asgar.


Zigaz mempercepat larinya. Asgar sedikit kesulitan terbang dengan cepat diantara pepohonan. Sementara Rey sudah jauh didepan tertawa lepas.


" Ha..ha..ha..ha............ "


Pada akhirnya tawon-tawon itu berhenti karena terlalu jauh dan kembali ke sarangnya. Rey menunggu Asgar dan Zigaz di pinggir jalan sebelum masuk desa berikutnya. Ia menarik partikel-partikel air dari udara untuk minum. Juga disiapkannya untuk Asgar dan Zigaz. Keduanya datang langsung minum.


" Ah Nona..... Kenapa anda jahil sekali..... ? " Asgar menggerutu.


" He..he..he..he.... " Rey hanya tertawa kecil.


Selesai minum Zigaz berubah jadi burung. Ia bertengger di bahu Asgar.

__ADS_1


" Lah..... kakek ! enak benar kau bertengger dibahuku. Aku juga capek tahu.... " Asgar mengomel.


" Hei cucu...... berbaik hatilah sedikit..... nanti aku belikan manisan " Zigaz merayu.


" Tidak mau.... ! nanti aku sakit gigi " tolak Asgar.


" Bagaimana kalau kue manis ? " usul Rey


" Sama saja, manis-manis bikin sakit gigi "


" Baiklah, baiklah.... kalau ikan asin ? " tanya Zigaz


" Tidak mau.... ! aku bukan kucing " Asgar menjawab ketus.


" Haiiish........ kau ini rewel sekali. Makan salad buah saja ! " Zigaz mencibir.


" Aaaah....... aku mau, aku mau " kata Rey berteriak di depannya. Zigaz terjengkang ke belakang karena kaget.


Hi..hi..hi..hi....



Mereka masuk ke desa yang tampak ramai. Orang-orang duduk bergerombol di depan rumah. Rey sedikit merasa tidak nyaman dengan tatapan mereka, seolah ada yang diinginkan. Padahal Rey dan Asgar tidak membawa barang apapun selain burung di bahu Asgar.


Pandangan mereka seolah meremehkan penampilan Rey dan Asgar yang sederhana. Tiba-tiba seorang wanita berbadan besar mendekat dan menarik tangan Rey.


" Berikan gelangmu padaku " katanya sambil mengambil paksa gelang giok Rey.


Rey membiarkannya. Ia menahan lengan Asgar agar diam saja.


Wanita itu menyeringai dan memasangnya ditangan kiri. Ia menggoyang-goyangkan tangannya sambil tersenyum mengejek Rey dan Asgar. Rey hanya tersenyum dan berlalu.


Belum ada 20 langkah terdengar keluhan dari wanita itu.


" Aaaah....... gelang ini panas, tanganku sakit " ujarnya berusaha melepaskan gelang itu.


Namun sepertinya gelang itu terlalu kecil untuk melewati pergelangan tangannya.


" Aaaah........tolong bantu aku, ini menyakitkan ! " ia mengulurkan tangannya pada seorang laki-laki.


Laki-laki itu bermaksud menarik gelangnya.


" Ouwh..... astaga ! gelangnya panas " laki-laki itu melepaskan tangannya dan menatap heran pada gelang itu. Tampak sekarang gelang itu sedikit berpendar.

__ADS_1


__ADS_2