
Mereka duduk diam sama-sama berpikir keras memikirkan cara untuk menyelamatkan anak-anak yang hilang.
Martin datang membawakan beberapa apel untuk mereka. Rey tersenyum. Asgar mengucapkan terima kasih dan memakannya satu.
Selesai makan apel mereka keluar ruang dimensi, muncul di kamar Asgar. Rey mengajak mereka makan malam di restoran. Asgar menyuruh Martin membersihkan diri lebih dulu. Sementara Rey menunggu di ruang tamu. ( Ia menyamar jadi Roy )
Tak lama Asgar dan Martin datang.
" Aih, pria kecil... Kau tampan sekali " puji Roy. Martin terkekeh senang. Ia tahu Roy adalah Rey. Martin memakai baju dan celana yang dibelikan Rey.
Mereka menuju restoran besar. Roy memesan makanannya. Asgar menanyakan makanan apa yang diinginkan Martin. Kemudian mereka makan dengan tenang.
" Uhuk-uhuk..... " Martin tersedak. Asgar menepuk-nepuk punggungnya.
Martin memegang tangan Asgar dan matanya menatap ke arah luar restoran. Asgar segera melihat keluar. Terlihat seorang wanita sedang menggandeng anak kecil di depan restoran. Ibu itu tampak berbicara dengan seorang nenek tua.
" Ada apa Martin ? " tanya Rey bingung.
Martin berdiri dan berbisik. Seketika Rey terbelalak lebar. Ia mengamati nenek tua di luar. Asgar masih bingung tidak mengerti.
" Asgar, bayar makanannya "
Rey beranjak keluar cepat-cepat. Asgar segera pergi membayar ke kasir. Martin kebingungan mau menyusul Rey atau Asgar.
Rey melemparkan kipas peraknya kearah nenek tua.
" Wuuuss.... "
Nenek tua itu menghindar. Tapi tangannya menarik gadis kecil dan membawanya pergi.
" Anakkuuuu...... " wanita itu berteriak memanggil dan mengejar.
Roy kembali meluncurkan kipasnya. Tapi nenek tua itu menggunakan gadis kecil sebagai tameng.
" Sreett..... ! "
" Aaah.... huaaaaaa...... "
Segera tangisnya terdengar karena kipas Roy mengoyak dadanya.
Roy sangat kesal melihat kelakuan nenek itu. Dia adalah seorang penyihir hitam yang menyamar jadi nenek-nenek. Roy menyimpan kipasnya.
__ADS_1
Nenek itu terbang menjauh. Roy terus mengejarnya agar tak kehilangan jejak. Ia tak berani menyerang sembarangan takut melukai si gadis kecil. Asgar menyusul sambil menggendong Martin.
Pergerakan sihir itu memancing kedatangan penyihir Odex. Ia ikut mengikuti diam-diam. Ia tersenyum miring melihat 3 penyihir dengan 2 anak di gendongan. Dia pikir mereka sama sepertinya. Ia ingin menonton perebutan itu. Namun matanya melihat sesuatu di lorong antara rumah. Segera ia berbelok menuju sasarannya.
Sementara Roy masih mengejar nenek itu hingga mendekati hutan Mazox . Ia mengucap mantra dan membuat bola petir. Bola petir itu melesat menabrak punggung si nenek.
" Aaarrgh......... ! "
Tubuh nenek itu bergetar seperti tersengat petir. Gadis kecil itu terlepas jatuh. Roy menadahkan tangannya berusaha menangkap. Ia sedikit heran mengapa gadis kecil itu tidak berteriak atau menangis lagi. Roy membiarkan nenek itu pergi.
Ketika gadis kecil itu berhasil ditangkapnya, barulah terlihat lobang besar di bagian dadanya. Nenek tua itu ternyata sudah mencabut jantungnya.
" Penyihir keparaaattt............ ! " Roy berteriak penuh kesedihan. Ia memeluk gadis kecil itu sambil menangis.
Tak lama Asgar datang bersama Martin. Mereka terdiam melihat Roy menangis keras sambil memeluk gadis kecil itu. Tahulah mereka bahwa gadis kecil itu tidak selamat.
Asgar membelai punggung Roy agar tenang. Martin ikut memeluknya. Cukup lama Roy menangis sedih. Tiba-tiba Rey mendongak waspada. Ia memasukkan Martin, Asgar dan gadis kecil itu ke ruang dimensi. Kemudian menyusul masuk.
Asgar terpaksa membalikkan badan Martin agar tidak melihat kondisi gadis kecil itu. Asgar sendiri merasa ngeri melihat lobang menganga di dada gadis kecil itu. Ia menduga nenek tua itu memakan jantungnya.
Rey datang dan membawa mayat gadis kecil ke atas danau. Ia membakarnya habis. Air matanya tak kunjung berhenti. Ia turun perlahan masuk ke dalam danau untuk menenangkan diri.
Sementara Rey sudah kembali menjadi dirinya. Ia menangis meski di dalam danau. Hatinya sedih, kecewa tidak bisa melindungi anak-anak. Anak-anak.... ? Rey membuka matanya. Ia teringat anak-anak yang ditawan penyihir Odex. Ia harus menolong mereka. Tapi bagaimana caranya ?
Ia segera melesat keluar dari danau mencari Martin dan Asgar. Mereka berada di hutan sebelah barat. Rey turun.
Martin turun dan berlari memeluknya.
" Apa Nona baik-baik saja ? "
" Aku baik-baik saja. Apakah kau hanya bisa mengendalikan tanah saja ? "
" Kadang-kadang aku bermain air "
" Kau bisa mengendalikan air ? Ayo ke danau "
Rey membawa Martin terbang. Asgar mengikuti. Mereka turun di pinggir danau. Rey menunjuk ke danau.
" Cobalah berbuat sesuatu dengan air danau "
Martin berdiri menghadap danau. Ia mengambil nafas panjang. Tangannya bergerak-gerak. Sebuah bola air naik ke udara. Martin memecahkannya menjadi 5 bola besar dan kecil . Lalu membentuk seperti kereta.
__ADS_1
Ia menoleh pada Rey.
" Bisakah kamu membekukannya ? " tanya Rey
Martin seperti meniup angin ke arah kereta air. Tampak kereta air berubah cepat menjadi kereta es. Rey mengangguk-angguk. Diulurkannya tangannya untuk mengambil kereta es. Bibir Rey bergerak. Kereta itu berubah lagi menjadi kereta kaca yang disempurnakan dan lebih indah.
Rey memberikannya pada Martin. Martin senang sekali. Rey menuding ke arah danau. Sebuah bola air kecil datang ke tangannya. Ia memantrainya dan membentuk cincin kecil. Lalu dipasangkannya pada salah satu jari Martin.
" Simpanlah barang-barangmu di dalam cincin ini "
Lalu Martin menyimpan kereta kaca itu.
" Sekarang, cobalah buat senjata dari air "
Martin membuat pedang es.
" Pegang dan jangan sampai leleh di tanganmu " Rey memegang bahu Martin untuk memberi kekuatan sedikit.
Martin memegang pedang es sambil menggerak-gerakkannya seolah bertarung.
" Pertahankan pedang itu dan buat perisai dari air " perintah Rey.
Martin memegang pedang dengan tangan kanannya. Lalu tangan kirinya terulur ke arah air mengambil bola air dan membentuknya menjadi perisai.
" Buat perisai kaca yang kuat sebesar badanmu "
Martin melihat pedang esnya. Lalu memperbesar perisai kaca. Terlihat Martin mengambil nafas panjang-panjang.
Rey membentuk bola tanah. Ia berdiri di depan perisai kaca Martin sambil tersenyum. Martin mengangguk tanda mengerti apa yang akan dilakukan Rey. Ia merenggangkan kakinya untuk memperkokoh posisinya.
Rey memukul perisai Martin agak keras.
" Duarr...... ! "
perisai itu tidak pecah. Martin merasa senang. Namun ia lupa pedangnya jadi membengkok karena meleleh.
" Ha..ha..ha..ha.... " Rey tertawa sambil menuding pedang Martin.
" Ha..ha..ha..ha.... " Martin dan Asgar ikut tertawa.
Hilang sudah konsentrasi Martin. Pedang dan perisainya kembali jadi air. Rey mengajak Martin duduk dekat Asgar. Rey membuat apel-apel datang ke dekatnya. Setelah membersihkannya, ia memberikannya satu-satu pada Martin dan Asgar.
__ADS_1