GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
112. Akhir Pertarungan


__ADS_3

Zigaz terkejut. Ia melotot memperhatikan Terra di atas. Zigaz segera mengubah dirinya menjadi kerang. Namun tindakannya itu malah membuat Terra mengetahui keberadaannya. Terra berenang mendekatinya. Menatapnya dalam-dalam. Kemudian menyeringai dan menggenggam Zigaz. Lalu berenang kembali ke permukaan.


Terra naik ke perahu dengan hati-hati agar tidak terbalik. Ia duduk sambil memegang kerang itu. Tertawa menyeringai. Zigaz semakin was-was dalam hati. Ia tidak dapat mengetahui isi pikiran Terra.


Terra memutar kerang menghadap wajahnya. Lalu tangannya terulur menarik tubuh kerang... Ya.... Terra berpikir jika menyakiti kerang ini sama dengan menyakiti jiwa Rey.


Zigaz segera meronta. Ia mengembalikan wujudnya menjadi serigala. Dan dengan marah ia menyerang Terra. Terra yang tidak menyangka perubahan itu terjengkang menabrak ujung perahu. Tangannya terasa seperti remuk. Zigaz hampir mengunyahnya saking marahnya.


Serigala itu menatap dengan garang. Gila.... ! Gadis takdir ini begitu hebat sampai punya serigala dalam dunia jiwanya ? Terra tersenyum miring ( tidak ada rasa takut ). Adanya serigala yang galak ini membuktikan bahwa jiwa gadis takdir tidak dapat ia kuasai sepenuhnya. Sungguh jiwa yang kokoh. Ia harus bisa mengalahkan serigala ini.


Terra menggoyang-goyangkan perahu dengan kencang sampai terbalik. Mereka berdua tercebur ke danau. Terra tertawa dalam air. Ia mengira Zigaz akan kembali menjadi kerang. Namun yang ada didepannya tampak mulut menganga seekor buaya besar



( " Aaaaaah " ) Terra menjerit dalam air. Tentu saja bukan suara yang keluar namun air yang masuk ke mulutnya. Ia gelagapan berenang menjauh. Zigaz mengigit kakinya sebentar lalu melepaskannya. Zigaz tidak berniat membunuhnya, hanya melampiaskan kemarahan saja.


Terra berusaha naik lagi ke permukaan. Zigaz menggigit sana sini dengan gemas ( sengaja tidak terlalu parah ). Pada akhirnya Terra berhasil menaiki perahu yang terbalik dengan susah payah.


Gelombang angin berhembus kencang. Terra kedinginan. Ia menyembunyikan muka memeluk kedua kakinya. Tangan kakinya luka-luka, darahnya merembes. Setelah angin reda, Terra mendongak ke atas. Bola cahaya itu masih disana. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mendesah kesal. Tak ada yang bisa dia lakukan. Lebih baik kembali ke daratan. Terra mencari dayungnya.


Oh.... astaga......... !

__ADS_1


Terra menepuk jidatnya. Dayungnya mengambang jauh di sana. Pasti hanyut saat perahunya ia balkkan tadi. Ia begitu fokus pada hewan jiwa hingga mengabaikan dayungnya.


Tccck...... Terra sungguh malas harus berenang kesana mengambil dayung. Tak ingin berurusan dengan hewan jiwa si**an itu. Terra merebahkan diri di atas perahu yang terbalik. Berpikir apakah tetap disini (dunia jiwa) atau keluar saja ? Tinggal satu saja ia meraih bola cahaya. Tapi kenyataannya ia tak mampu menguasai dunia jiwa gadis takdir. Sia-siakah perjuangannya ?


Tunggu.... ( Terra langsung duduk )


Mengapa ia tak melihat seorangpun di dunia ini ? Apakah gadis takdir tak punya keluarga ? Jikapun tak punya, paling tidak siapa yang mengasuhnya saat kecil ? atau bagaimana dengan kekasihnya ? Ia harus bisa merusak dunia jiwa gadis takdir dan merebut bola cahaya.


Tapi apa sekarang.... ? ia terapung tanpa kekuatan dan pertolongan. Padahal ia sangat ingin membuat air danau beracun. Mau berenang ke tepi amatlah jauh. Dan jangan lupa..... ada hewan jiwa galak menyebalkan ! Terra menggerutu dalam hati.


Angin sepoi-sepoi berhembus. Terra makin lama merasa mengantuk. Tak sadar ia memejamkan mata dalam posisi duduk.


Rey membuka matanya. Ia tersenyum miring menatap Terra yang masih terpejam. Ia mengucap mantra dan menampar Terra sampai terpelanting. Mantra itu mengunci jiwa Terra agar tak terpisah dari tubuhnya sendiri saat kematiannya. Dengan kata lain, tak bisa reinkarnasi.


Terra terbangun. Ia agak linglung karena ada di lantai kotor bekas reruntuhan pemujaan. Ia menghela nafasnya agak panjang. Kenapa udara terasa kurang ? Terra melihat kaki dan tangannya yang terasa ngilu. Ia ingat itu disebabkan hewan jiwa si Gadis Takdir. Cepat ia menengadah.


Dilihatnya si Gadis Takdir melipat tangan di dadanya seolah menunggu. Segera ia bangkit menerjang dengan kemarahan. Tubuhnya muncul duri banyak seperti landak. Terra mencakar memukul dan menendang dengan agresif. Rey menangkis, melawan dan balas memukul dengan energi cahaya.


" Dak... Duk..... Sreett..... Aaah..... "


Akibatnya kulit Rey banyak tergores atau tertusuk duri. Dan itu bukan sembarang duri. Darah tubuh Terra beracun, termasuk duri-durinya. Pelan-pelan itu mencemari darah Rey.

__ADS_1


Sementara serangan cahaya Rey juga merusak tubuh dan jiwa Terra secara tak kasat mata. Mengapa Rey tak mau menyerang dengan api ? Tak ada gunanya. Pada dasarnya Terra juga punya elemen api. Dan selama ribuan tahun mempraktekkan minum racun setiap hari hingga kebal. Darah dan nafasnya bau busuk.


Pertarungan itu berlangsung sangat lama. Gaun Rey sudah berwarna merah karena rembesan darah. Jubah peraknya terkoyak dimana-mana. Asgar memandang khawatir akan hal itu. Ia konsentrasi penuh pada pengosongan udara di sekitar Terra sekaligus penguraian . Ini agak sulit karena pergerakan Terra, Asgar harus selalu memindai setiap molekul udara.


Terra sendiri tidak perduli apakah ia bernafas atau tidak. Kemarahannya membuat ia menyerang Rey tanpa henti. Terra berpikir jika kekuatan tak terbatas itu tak bisa dimiliki olehnya, maka hanya ada satu jalan. Pertukaran tubuh. Ia akan membuat Rey sekarat lebih dulu sebelum menarik jiwanya keluar. Ini sangat beresiko. Karena jiwanya sendiri mengalami banyak pukulan dari si Gadis Takdir.


Terra merasa ada yang tidak beres ditubuhnya. Terasa panas ( karena serangan cahaya ) dan seperti mau pecah ? Ia melihat Gadis Takdir yang masih berdiri tegak. Ini sudah lewat 2 ukuran waktu ( 2 jam ) mereka bertarung. Ia harus segera menarik jiwa Rey sebelum tubuhnya hancur lebih dulu.


Ketika Rey memukul dadanya, ia terjengkang sejauh 10 langkah. Ia berpura-pura mati agar Rey lengah. Ia bermaksud akan menyergap jiwa Rey. Diam-diam dibacanya mantra pelepas jiwa.


Namun tak ada apapun yang terjadi. Terra heran mengapa jiwanya tak bisa keluar. Tanpa sadar ia menggoyang-goyangkan badannya. Tentu saja Rey menahan senyum melihat kelakuan Terra. Bukankah ia sedang berpura-pura mati ?


Rey tahu apa yang ingin dilakukan Terra. Itulah sebabnya Rey mengunci jiwa Terra agar tidak lepas dari tubuhnya. Rey sempat membaca ilmu pertukaran tubuh di buku sihir milik Terra.


( " Asgar.... selesaikan " )


Kemudian Rey jatuh berlutut. Ia sudah lelah dan darahnya tercemar racun, banyak-organ dalam tubuhnya yang mengalami kerusakan. Asgar memperkuat serangannya.


Terra yang melihat Rey berlutut bereaksi keras. Tangannya berusaha menggapai. Tapi tubuhnya menegang kuat seperti mau pecah. Ia merasakan ada penyihir lain yang sedang menyerangnya.


" Aaaaaaaaaaaaarrrrggh............... " Terra mengerang kesakitan. Nafasnya tersengal-sengal. Begitu sakitnya sampai ia tak bisa berpikir lagi. Ia menggeliat sambil memegangi kepalanya. .

__ADS_1


__ADS_2