GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
158. Memulangkan Anak-anak


__ADS_3

Memulangkan anak²


" Cukup.... ! kalian sungguh seperti pelawak saja. Memalukan.... ! " Odex melotot marah.


" He..he..he.... sabar pak tua, kamu kurang bergizi, jadi tidak enak dilihat..... " ejek Rey.


" Sudah tua.... jamuran pula..... " Martin ikut meledek.


" Hi..hi..hi..hi... " 2 penyihir terkekeh.


Odex semakin marah. Ia melempar serangan pisau angin pada 2 penyihir di sebelahnya.


" Wuuuss..... ! "


" Eh....! mengapa kau menyerang kami ? Dasar bodoh ! "


" Kalian yang bodoh ! "


" Enak saja ! "


Akhirnya mereka saling menyerang. Rey dan Martin saling menatap dan tersenyum. Mereka diam-diam melangkah pergi ke balik pohon. Rey memasukkan Martin ke ruang dimensi. Lalu merubah dirinya menjadi burung dan menghilangkan aura sihirnya. Kemudian ia terbang ke arah kota.


( " Asgar, datanglah ke rumah Walikota Malto. Kami pergi ke sana " )


" ...... ? " Asgar berhenti sejenak. Bukankah tadi Nona meminta bantuannya datang ke hutan. Mengapa sekarang ke rumah Walikota Malto ? Meski bingung, Asgar berbelok juga.


Rey turun di depan rumah walikota. Ia menyampaikan maksud kedatangannya. Penjaga memberi hormat sebelum masuk menemui walikota. Tak lama Asgar datang.


" Nona "


Rey menatap Asgar dari atas sampai ke bawah. Penampilan Asgar tampak berantakan. Belum sempat Rey berbicara, walikota sudah datang bersama Gerard.


" Nona... mari silahkan masuk "


Rey dan Asgar melangkah masuk. Walikota membawanya ke ruang kerja.


" Duduklah Nona dan Tuan Asgar "


Rey tersenyum sedih.


" Tuan Pedro, aku minta maaf karena tidak dapat menyelamatkan semua anak. Kami berhadapan dengan 4 penyihir dan 3 iblis. Ada 2 anak yang terbunuh di hutan. Dan satu gadis kecil anak wanita yang bertemu dengan nenek tua (penyihir) di depan restoran. Mayat mereka sudah kami urus dengan layak. Tolong panggil mereka untuk menjemput anak-anaknya. Aku.... tidak sanggup mengatakannya langsung "


Kemudian Rey berdiri dan mengeluarkan anak-anak dari ruang dimensi. Anak-anak itu gembira bertemu dengan walikota Pedro. Tuan Pedro menyuruh pelayannya mendata anak-anak itu dan memanggil orangtua masing-masing. Sedangkan Martin duduk diam di pangkuan Asgar.

__ADS_1


" Mulai sekarang, jangan ijinkan anak-anak bermain tanpa pengawasan, atau terlalu jauh. Masih banyak iblis dan penyihir yang berkeliaran. Jangan lupa selalu nyalakan obor di depan rumah saat malam hari "


" Saya mengerti, Nona. Perintah anda akan saya lakukan. Terima kasih sudah menolong anak-anak kami "


Kemudian Rey, Asgar dan Martin berpamitan kembali ke penginapan untuk beristirahat.


Sementara anak-anak menunggu orangtuanya menjemput, walikota meminta mereka menceritakan apa saja yang mereka alami. Gerard ikut mendengarkan. Sekarang walikota mengerti siapa anak kecil yang tadi dipangku Ksatria Asgar. Ternyata Martin bisa sihir, itu sebabnya Gadis Takdir membawanya pergi. Walikota bahkan tidak tahu kalau Asgar juga bisa sihir sejak ikut Rey.


Tak lama orang tua anak-anak itu berdatangan. Mereka saling memeluk sambil menangis bahagia. Kemudian berpamitan pulang ke rumah masing-masing. Hari sudah mulai gelap.


( Untuk orang-tua yang anaknya tidak kembali, mereka bermaksud akan menemui walikota keesokan paginya ).


Sebelum keluar dari gerbang, Rey merubah dirinya kembali menjadi Roy, sementara Martin dimasukkan ke ruang dimensi. Di sana ia bebas berlatih dengan leluasa.


Saat mereka makan bersama penghuni penginapan yang lain, Odex datang. Wajahnya cemberut dan jubahnya banyak sobek. Semua menoleh namun tidak berani berbicara apapun. Mereka sudah tahu ia seorang penyihir yang pemarah.


Tak lama Odex keluar lagi dan membayar penginapan. Ia mendengus melihat tatapan orang-orang yang sedang makan. Setelah ia pergi, terdengar banyak helaan nafas lega.


" Syukurlah ia pergi dari kota ini. Aku mendengar anak-anak yang hilang sudah ditemukan "


" Mungkin ia pindah ke kota lain ? "


" Mungkin saja. Tapi semoga kota lain lebih waspada "


Roy menyelesaikan makannya dan keluar duduk di teras. Asgar menyusulnya.


" Aku hanya sebentar saja, ingin tahu kemana arah angin pergi " kata Roy mengedip-ngedipkan matanya 2 kali. Asgar mengerti Roy sedang melacak penyihir Odex, jadi ia hanya mengangguk-angguk.


Tak lama Roy menatap Asgar.


( " Ia menuju ke hutan Mazox " )


Asgar menatapnya. Ia tak tahu harus bagaimana....


" Kita akan mengecek kesana besok ? "


Asgar mengangguk setuju.


Mereka kembali masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Ia kembali menjadi Rey. Hari ini Rey sudah cukup lega bisa memulangkan anak-anak yang diculik.


Rey berbaring miring, ia tidak dapat tidur. Pikirannya berkelana kemana-mana. Matanya tak bisa terpejam dengan tenang.


Satu tangan kokoh memeluknya. Ada rasa hangat menempel di punggungnya.

__ADS_1


" Apa yang sedang kau pikirkan ? " Terdengar suara berat pria yang mencintai dan dicintainya. Rey tersenyum.


" Apakah aku harus mengatakan pada Martin tentang ayahnya ? Odex telah membunuhnya entah kapan "


" Aku akan membawanya kembali ke negeri cahaya. Ia akan dilatih oleh Alice. Biarkan waktu yang akan menguak apa yang terjadi pada tetua Outter. Tidak baik baginya untuk terus melihat sisi kejam iblis dan Penyihir "


" Mmmm....... "


" Tidurlah.... "


Kendrick mencium kepala Rey. Mereka tidur berpelukan hingga pagi.


Terdengar suara ayam jantan berkokok bersahutan. Kendrick mendengarnya, namun tidur lagi karena masih mengantuk. Ia baru bangun setelah terdengar suara-suara piring yang sedang disiapkan untuk makan pagi di penginapan.


Kendrick menciumi leher dan telinga Rey. Tangannya juga sedikit jahil. Membuat Rey terusik.


" Ngggg........ Kendriiiick................. "


Rey setengah bergumam. Matanya masih terpejam.


" Bangunlah sayang....... Ini sudah pagi..... "


Kendrick turun dari ranjang dan membersihkan diri. Ketika keluar dari kamar mandi, dilihatnya Rey sudah duduk bersandar di kepala tempat tidur. Ia masih sedikit mengantuk.


Kendrick duduk di depan Rey. Ia tampak segar dan tampan. Mereka saling bertatapan. Rey segera menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia malu karena belum mandi.


Kendrick tersenyum. Ia beringsut mendekat. Tangannya menarik kedua tangan Rey dan menahannya. Lalu menciumi pipinya. Rey semakin malu dan berusaha menghindarinya. Tapi pada akhirnya Kendrick berhasil memagut bibir Rey.


" Mmmmpph................. "


Setelah cukup lama mereka berciuman, Kendrick melepaskan tangannya. Rey segera berlari masuk ke kamar mandi. Ia menekan dadanya yang berdebar keras. Kemudian meraba bibirnya. Akhirnya ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk melupakan itu dan segera mandi.


Setelah mandi, Rey duduk untuk menyisir rambutnya. Seseorang mengetuk pintu.


" No...eh, Brooo..... ini aku " itu suara Asgar.


Kendrick membukakan pintu.


" Oh, My Lord..... " Asgar membungkuk hormat sebelum masuk.


Rey mengeluarkan Martin dari ruang dimensi. Martin tersenyum menatap semua yang ada. Tapi terpaku menatap seorang pria yang duduk di kursi. Penampakannya begitu agung meski tak nampak aura sihirnya.


Kendrick tersenyum melambaikan tangannya. Martin mendekat. Kendrick menyentuh liontin kalungnya. Seketika bintang-bintang biru beterbangan di sekitar.

__ADS_1


" Wooaaaaaah............ "



__ADS_2