GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
95. Zigaz........ Zigaz


__ADS_3


Zigaz....... Zigaz



" Nona.... " Asgar tak jadi bicara saat melihat isyarat diam dari Rey. Tampak alis Rey berkerut memikirkan sesuatu.


( " Apa yang sedang anda pikirkan, Nona ? " ) tanya Asgar dalam telepati. Ia memegang kalungnya untuk bicara telepati. Kalung itu pernah dimantrai Kendrick.


( " Asgar....... aku masih merasa tidak puas dengan kematian Destraco. Aku merasa masih ada seseorang iblis lain yang lebih berbahaya dari Destraco " ) kata Rey menatap hutan.


( Apakah Nona sudah tau orangnya ? " ) Asgar bangkit berdiri.


( " Belum, tapi ia bukan orang biasa. Ia iblis yang sudah berumur ribuan tahun sebelum Destraco. Aku tadi sempat menyelami pikiran Destraco " ) Rey mengambil beberapa potongan kayu dan turun menyiapkan api unggun.


Tak lama Zigaz datang membawa rusa. Asgar segera mengurus dan memotong-motong rusa itu. Lalu memanggangnya. Rey menyuruh Zigaz menjejak tanah membentuk lubang sedalam setengah kaki. Lalu ia menyedot air dari sungai terdekat mengaliri lubang itu.


Kemudian ia membuat beberapa mangkok besar dan gelas kaca ( dari air ) dan memantrainya agar tidak kembali jadi air saat bersentuhan dengan air.


Uuuh....... kayaknya enak banget kalau punya semua elemen kekuatan seperti Rey ya. Apapun pasti gampang laaah....


Itulah sebabnya dia jadi rebutan. Siapapun menginginkan kekuatannya untuk menjadi penguasa tertinggi. Terutama iblis dan penyihir.


Tapi.... bukan gak mungkin pembaca juga ada yang pingin loh. He..he..he..he....


Rey menempatkan daging rusa panggang ke 3 mangkok besar dan Zigaz mengisi 3 gelas air. Mereka bertiga membawa semuanya ke saung dan makan bersama.


Setelah kenyang makan Rey dan Asgar beristirahat. Sedang Zigaz tidur sambil berjaga selayaknya serigala malam.


Menjelang pagi, sosok berjubah hitam terbang melayang di sekitar hutan perbatasan. Ia seperti mencari sesuatu. Tangannya menatang di udara seolah meraba sesuatu. Seketika ia berhenti melayang sambil mengerutkan alis. Kemudian menghilang.


Rey bangun dengan terkejut. Zigaz melolong panjang. Ia beringsut mundur menabrak Asgar yang masih tidur. Asgar akhirnya bangun dengan sedikit bingung. Ia melihat Rey sedang duduk memandang ke arah barat. Dikuceknya matanya untuk melihat lebih jelas, tapi memang tidak ada apapun di sana. Asgar menatap penuh tanya pada Zigaz. Sedang Zigaz sendiri terlihat gemetar.


Setelah lewat 5 hitungan, Rey mengambil nafas panjang dan bangun. Ia membereskan mangkok dan gelas bekas makan mereka semalam. Asgar tidur lagi sambil merangkul Zigaz.


Rey menyalakan api unggun dan menghangatkan diri. Ia masih memikirkan sesuatu yang ia ketahui dari Destraco.


Ketika matahari sudah muncul, Asgar turun dari saung bersama Zigaz. Setelah mencuci muka, mereka berjalan bersama kembali ke Ogara. Sampai di tepi hutan Rey meminta Zigaz berubah lebih kecil. Zigaz meregangkan kaki tangan dan menyusut jadi rubah.

__ADS_1


Tentu saja nenek senang sekali mereka kembali dengan selamat. Ia segera memasak makan pagi untuk mereka. Rey memberikan sisa daging rusa dari ruang cincin pada Zigaz.


Setelah selesai sarapan Rey membantu nenek membereskan dapur. Ia melihat sebuah guci kecil bergambar bunga. Lalu ia memantrainya


" Nek, guci ini akan menyediakan apapun 'hal baik' yang nenek butuhkan. Bersihkan dahulu sebelumnya, kemudian tutuplah matamu dan mintalah sesuatu dengan izin 'Gadis Takdir' . Cobalah.... "


Nenek sedikit bingung menatap guci kecil itu. Ia mengambil lap untuk membersihkannya lalu dengan sedikit gugup meminta sesuatu sambil menutup matanya rapat-rapat.


" A.... atas nama Gadis Takdir..... aku me...meminta tepung gandum " katanya lalu membuka matanya menatap guci itu.


" Waaaaaaaahhh........ "


Nenek terbelalak melihat guci itu penuh tepung gandum. Ia dengan gembira mencari wadah dan menuangkannya.


" Aku akan membuat kue, aku akan membuat kue pie manis untuk kalian ..... " nenek segera sibuk menyiapkannya. Rey tersenyum senang.


Kemudian Rey pergi ke kebun belakang melihat berbagai tanaman sayuran. Zigaz mendekatinya.


" Zigaz... bisakah aku meminta tolong padamu ? " tanya Rey.


" Apapun permintaan Tuan Putri akan kulakukan " jawab Zigaz menekuk sebelah kakinya.


" Panggillah salah satu Serigala Cronos betina untuk mendampingi nenek. Ia juga harus mau berubah menjadi rubah agar tidak menimbulkan ketakutan padanya " kata Rey.


" Panggil aku Nona, Zigaz..... saat ini aku hanya seorang biasa "


" Eh.... ya, maaf Nona "


Zigaz lalu memejamkan matanya, bertelepati memanggil salah satu Serigala Cronos yang belum mempunyai tuan.


" Nona, saya akan menunggu kedatangannya di pinggir hutan perbatasan " Zigas meminta izin. Rey mengangguk.


Kemudian Rey menepuk pohon apel yang ada di situ. Seketika pohon itu mulai berbunga, menjadi buah dan membesar.


" Asgaaaar....... " Rey berteriak memanggil.


Asgar baru saja selesai memperbaiki kursi nenek yang rusak. Ia segera datang ke belakang. Ia melihat Rey sedang makan memunguti beberapa apel yang jatuh. Matanya memandang pohon yang tinggi itu berbuah banyak dan ada keranjang kosong dibawahnya. Ia tentu saja mengerti apa sebabnya Nona memanggil. Segera ia memanjat dan melemparkannya ke arah Rey yang menadah dengan menggunakan gaunnya. Nenek datang mengambil beberapa apel untuk hiasan pie yang sedang dibuatnya.


Setelah selesai memanen buah apel, Rey dan Asgar duduk di teras depan menunggu Zigaz. Zigaz datang bersama rubah lain sambil menyeret rusa kecil.

__ADS_1


Asgar segera membawanya ke dapur. Nenek membuat bumbu untuk memasak daging rusa. Rey mengelap mulut kedua rubah itu karena berlumuran darah. Zigaz menjelaskan siapa dia.


" Nona, dia namanya Zoya "


" Terima kasih Tuan Putri telah memberi kehormatan pada saya ? "


" Aku memintamu menemani dan menjaganya sampai pada waktunya. Sesekali pergilah ke hutan untuk berburu. Jika ada apa-apa kamu bisa menghubungi Zigaz "


" Perintah anda akan saya lakukan, Tuan Putri "


Rey menepuk-nepuk kepala Zoya. Ia memeluknya dan menggendongnya ke dapur.


Setelah makan siang, Rey dan Asgar bersiap kembali ke ibukota. Nenek


" Nek.... kami akan kembali ke ibukota. Rubah putih ini akan tinggal menemani nenek. Namanya Zoya " kata Rey.


" Terima kasih Nona, aku sangat menyukainya "


Nenek memeluk rubah itu. Zigaz mencium kepala rubah itu lalu mengikuti Rey.


Ketika sudah diluar desa, Rey menyentuh Zigaz. Seketika Zigaz Melayang di udara. Ia berputar-putar jumpalitan berusaha menyeimbangkan dirinya. Asgar tertawa, namun membantu menahannya dan mengarahkannya untuk terbang bersama ke arah ibukota.


Dalam perjalanan Zigaz senang sekali dan meliuk kesana-kemari. Terkadang melolong pelan.


" Hei kakek...... Jangan mencari perhatian...... Lihat itu, burung-burung ketakutan karenamu..... " Asgar meledek.


Zigaz hanya meleletkan lidahnya ke arah Asgar. Ia tetap meliuk dan berputar sesuka hati. Rey tersenyum. Ia merasa terhibur.


Setelah mencapai pinggir ibukota mereka segera turun. Rey kembali menyentuh Zigaz. Kali ini Zigaz berubah menjadi burung kecil Rey meletakkan di bahu Asgar.



" Aku akan memanggangmu jika kau membuang kotoran dibajuku " ancam Asgar.


" He..he..he..he.... " Rey dan Zigaz tertawa bersama.


" Jangan sampai kau kelepasan bicara didepan orang-orang, Zigaz.... " ujar Rey.


" Dia sudah tua Nona, pastilah pikun. Lebih baik taruh tar (getah pohon) di paruhnya " kata Asgar.

__ADS_1


Zigaz menggaruk-garukkan kakinya di bahu Asgar dengan gemas.


Untunglah Rey mengubahnya jadi burung kecil, jika elang pasti akan mengukir nama di bahu Asgar. Rey menyeringai membayangkan itu...


__ADS_2