
" Selamat pagi semuanya.
Saya Tetua Oldden akan mewakili Yang Mulia Lord Kendrick untuk bertarung dengan Tuan Putri Rey dan Tuan Asgar. Beliau tidak bisa hadir saat ini karena ada urusan Kerajaan. Pertarungan ini dimaksudkan untuk melihat kemampuan Tuan Putri Rey dan Tuan Asgar yang masih pemula. Apakah ada yang keberatan dari siapapun yang hadir disini ? "
Segera saja terdengar kebisingan pendapat diantara yang hadir di pelataran. Namun karena tak ada yang mengajukan keberatan, Tetua Oldden melanjutkan.
" Jika tidak ada keberatan dari semua yang hadir, maka diputuskan pertarungan akan segera dilaksanakan "
Tetua Oldden membuat lapisan pembatas agar tidak ada serangan yang meleset mengenai penonton. Kemudian ia berdiri berseberangan dengan Rey dan Asgar. Mereka saling mengangguk dan bersiap memulai pertarungan.
__ADS_1
Rey berbisik pada Asgar, Asgar mengangguk. Asgar menggerakkan tangannya. Ia membentuk banyak pisau angin. Rey juga membentuk banyak lempengan angin di sekitarnya. Diam-diam menempelkan cahaya pada setiap lempengan yang terbentuk. Lalu mereka diam menunggu serangan.
Tetua Oldden tersenyum, ia mengerti bahwa
ia harus membuka serangan lebih dulu. Ia melayang di udara dan menggerakkan tangannya. Segera terbentuk debu halus di udara seperti kabut hitam yang bergerak maju ke arah mereka.
Rey menghadang kabut hitam itu dengan lempengan anginnya yang berputar masing-masing memecah kabut hitam. Saat itulah Asgar menyerang dengan pisau angin beruntun.
Rey kemudian melesat bermaksud mendorong Tetua Oldden mendekati batas garis arena. Tiba-tiba kabut hitam pekat mengurung keduanya. Saat itulah Tetua Oldden menangkap kedua tangan Rey dan menariknya ke pelukannya, lalu mencium sekilas bibir Rey. Rey tertegun sesaat, tapi Tetua Oldden sudah berpindah tempat.
__ADS_1
Asgar mengirim angin mengusir kabut hitam. Rey segera membentuk air seperti banyak ular menyerang Tetua Oldden. Ia gemas karena Kendrick berani menciumnya saat bertarung.
Asgar bersiap dengan banyak bola-bola tanah kecil. Tetua Oldden menyebar pisau angin untuk memotong cacing-cacing air. Namun ia segera menghindar saat bola-bola kecil menyerangnya beruntun.
Satu selendang putih melecut tubuhnya. " Ah...... " ia menangkap sambil menariknya. Namun cepat-cepat dilepaskannya ketika tak sengaja melihat baju Rey dibagian dada. Tetua Oldden tercengang. Badannya seketika terhuyung ke samping karena Asgar mendorong dengan angin kuat.
Rey membelit kaki Tetua Oldden dan menariknya. Tapi Tetua Oldden menyentakkan kakinya membuat Rey ganti terhuyung-huyung. Asgar melempar bola tanah besar sehingga Tetua Oldden terpaksa mengabaikan Rey.
Rey melepaskan sihir cahaya menyilaukan pandangan Tetua Oldden. Bola tanah Asgar berhasil menabrak Tetua Olden. Ia terdorong 2 langkah ke belakang. Bola tanah berhamburan kemana-mana.
__ADS_1
Rey membuat badai angin bercampur dengan tanah yang berhamburan. Asgar menyeringai menambah pisau-pisau angin. Rey segera membuat perisai kaca karena tahu Tetua Oldden pasti akan menghempaskan serangan mereka. Benar saja , Tetua Oldden menghempaskan serangan itu. Asgar berjongkok di tutupi perisai peraknya. Pasir dan tanah yang terhempas menempel di perisai Rey.
Kali ini Tetua Oldden menggerakkan tanah membentuk burung-burung di sekeliling Rey dan Asgar. Asgar kewalahan menebas dengan pedangnya. Rey menghalau dengan badai angin yang berputar disekelilingnya.