GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
133. Pertapa Tua


__ADS_3

Sementara Zacko berkeliling mencari Asgar.


(" Xenia... aku tidak menemukan Asgar. Dia disebelah mana ? ") telepati Zacko pada Xenia.


(" Hi..hi..hi.... Dia disini, menyamar sebagai nona cantik, Putri Rey sebagai pelayan jelek ") jawab Xenia.


(" Lah.... ?! apa tidak terbalik ? ") Zacko menatap ke arah gadis-gadis. Ia ingin tahu penampakan Asgar sebagai perempuan. Namun karena semua gadis sedang menghadap ke depan, jadi Zacko tidak tahu.


(" Tidak, Putri Rey sengaja menjadikan Asgar sebagai korban supaya tidak terlalu dicurigai ") Xenia menjelaskan.


(" Oh ")



Pertapa tua itu berdiri dan menatap para gadis. Ia melihat ke arah bulan dan menggambar sebuah lingkaran besar di tanah dan menarik garis-garis menggunakan air yang dituang dari guci kecil. Kemudian mulutnya berkomat-kamit seperti membaca mantra. Lalu meletakkan guci kecil itu di luar lingkaran. Terlihat guci itu bergambar ular besar memakan sesuatu.



Kemudiannya ia berdiri dan menghela nafasnya sebelum berkata-kata.


" Terima kasih pada nona-nona cantik yang hadir malam ini. Kalian semua silahkan berdiri di dalam lingkaran ini. Kita akan menunggu sampai bulan berada tepat di atas kepala. Barangsiapa yang terpilih disinari bulan nanti, ulurkan tangan ke atas sambil mengucapkan permohonannya "


Terdengar gumaman gembira. Masing-masing berharap menjadi yang terpilih. Beberapa gadis segera mulai masuk ke lingkaran besar itu. Meninggalkan para pelayan di luar.


Rey memegang tangan Xenia.


(" Xenia, dia menggunakan mantra pemindah. Ia bermaksud memindahkan semua gadis itu entah kemana. Bisakah kita menahan mereka semua ? Apa kau punya saran ? " ) tanya Rey


(" Putuskan mantra nya atau tahan kaki mereka ") jawab Xibo. Ia bisa mendengar telepati karena terhubung dengan Xenia.

__ADS_1


Rey dan Xenia menatap Xibo.


(" Mantra itu terhubung pada tanah. Kita harus melayang sedikit supaya tidak terpengaruh saat pertapa itu beraksi. Tuan Zacko mempunyai elemen tanah, ia harus mengikat kaki para gadis dengan tanah. Tuan Asgar hapus semua garis dan lingkaran dengan angin. Aku dan Nona Xenia akan membuat lapisan pelindung bersama. Tuan Putri yang menghadapi pertapa itu. Jangan lupa pecahkan gucinya ") kata Xibo.


Rey dan Xenia mengangguk. Mereka mengacungkan jempol pada Xibo.


(" Zacko, mendekatlah. Tugasmu mengikat kaki para gadis dengan tanah supaya tidak bisa dipindahkan oleh pertapa itu. Lakukan pada waktu yang tepat ") kata Xenia.


Zacko bergegas mendekat ke arah depan. Ia harus melihat pergerakan pertapa itu supaya tidak salah. Ia juga menghitung berapa jumlah gadis yang masuk ke dalam lingkaran. Ini penting untuk mengatur kekuatan yang diperlukan.


Rey mendekati Axie dan memberitahukan rencananya. Axie mengangguk. Mereka ikut masuk kedalam lingkaran. Ada sekitar 26 gadis termasuk Rey, Xenia dan Xibo. Tak tahu Axie masuk hitungan sebagai gadis atau bukan.


Pertapa itu berteriak memanggil sesuatu.


" Venha aqui, coloque uma musica "


Tak lama datang 3 orang pria memakai jubah putih juga. Mereka membawa seruling, rebana dan ketipung khas daerah Blazein.


(" Gawat.... pertapa itu menguasai elemen tanah ") ucap Xenia.


(" Zacko....... ? ") Rey khawatir.


(" Saya tahu Putri. Saya percaya Tuan Putri bisa menanganinya. Masih ada Xenia, Xibo dan Asgar yang akan membantu ") jawab Zacko tenang.


(" Hmmmm....... ") Rey merasa tegang. Ia khawatir tidak dapat melindungi banyak orang. Xenia merangkulnya pinggangnya sambil tersenyum. Axie menepuk punggungnya.


(" Kita hadapi bersama ") ucap mereka bertiga. Lalu Xibo menarik Xenia ke tengah. Rey dan Axie bergerak ke sisi kanan.


Terdengar musik berbunyi dengan irama pelan. Pertapa itu bergoyang ke kiri dan ke kanan. Satu-persatu gadis mulai mengikuti.

__ADS_1


Rey merasa ini hanya untuk membuat para gadis lengah. Rey menengadah melihat posisi bulan. Kira-kira masih ada 60 hitungan waktu untuk mencapai puncak. Rey tak yakin para gadis ini sanggup berdiri selama itu. Apalagi jika nanti musik semakin cepat, bukankah mereka secara otomatis harus bergerak menari mengikuti irama ?


Musik mulai agak cepat. Pertapa itu menggoyangkan tangannya ke atas. Rey, Axie dan Xibo terpaksa mengikuti.


" Ayo menari lebih semangat lagi, bulan sudah mulai naik ke atas " teriak pertapa itu. Semua gadis melihat ke atas. Mereka gembira dan menari dengan bersemangat. Kadang-kadang tak sengaja bersenggolan dengan yang lain.


" Bruuukk..... ! " Axie sengaja terjatuh menduduki garis lingkaran. Rey membantunya bangkit. Axie sengaja menggeser badannya saat bangkit sehingga merusak garis itu agar terputus. Pertapa itu hanya melihat Axie tak apa-apa dan bangkit lagi untuk menari. Ia tak memperhatikan garis yang terputus.


Melihat itu Xibo sengaja menabrak gadis lain hingga terjatuh juga mengenai garis lingkaran sebelah kiri.


" Oh, maaf... maafkan aku. Aku terlalu bersemangat menari " kata Xibo sambil menolong gadis itu bangkit dan membersihkan gaunnya dari tanah. Maka Gadis itupun tak sengaja merusak garis lingkaran. Xenia mengedipkan mata menahan senyum. Mereka lanjut menari.


Waktu berlalu 30 hitungan. Beberapa gadis sudah mulai lambat menari tanda kelelahan. Pertapa itu tersenyum, ia masih melambai-lambaikan tangannya dengan riang dan berteriak memberi semangat.


" Ayo menari, menari, menari..... "


Musik semakin keras dan berirama cepat. Namun gadis-gadis yang lelah tak perduli lagi. Mereka hanya bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan santai. Kadang kala melambaikan tangan jika dilihat oleh pertapa itu.


Bulan sudah di atas. Pertapa itu berjongkok memegang guci kecil itu dengan tangan kiri dan tangan kanan menyentuh garis lingkaran. Garis lingkaran itu bercahaya sebentar saja. Seketika para gadis berhenti menari.


" Jangan berhenti menari... ! Teruslah menari... ! Lihat, bulan sudah di atas. Siapa yang terbaik akan terpilih " teriak pertapa itu.


Gadis-gadis bersorak gembira. Mereka kembali bersemangat menari hingga semakin banyak yang bersenggolan dan jatuh. Namun mereka saling meminta maaf dan lanjut menari.


Pertapa itu tersenyum dan menyusuri garis lingkaran. Ia mendesah ketika melihat ada yang terputus. Tangannya kembali menarik garis menyambung yang terputus. Lalu dibukanya tutup guci dan menuangkan air sambil mengucap mantra. Setelah itu ia menyentuh garis itu. Bercahaya, namun padam lagi.


" Hhhhhh.... ! " dengan kesal ia menelusuri lagi. Kembali ditemukan garis yang rusak bekas gesekan kaki dan gaun.


" Jangan menginjak garis lingkaran... ! " katanya menegur gadis-gadis yang berada di sisi itu. Lalu ia memperbaikinya lagi. Tapi karena air dalam guci sudah habis, ia menarik partikel air dari udara. Lalu membaca mantra sebelum menuangkannya pada garis.

__ADS_1


Mulut Rey dan Xenia tercengang melihat itu. Ini adalah penyihir tingkat tinggi. Mereka saling melirik. Pertapa tua itu tidak bisa dianggap remeh.


__ADS_2