GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
155. Perebutan Iblis dan Anak-anak


__ADS_3

Iblis itu mencakar si nenek tua. Nenek tua itu belum sepenuhnya pulih dan tenaganya banyak berkurang karena harus melayang terus di dalam bola kaca selama semalam agar tidak melepuh.


Lengannya seketika sobek tergores kuku iblis yang beracun. Tapi karena dia kebal racun, itu tak masalah. Yang jadi masalah, darahnya berbau sangat amis. Ini bisa memancing kedatangan iblis atau penyihir lain.


Bahkan penyihir Odex terpaksa menahan diri untuk tidak terpancing bau darah itu. Ia lebih menginginkan iblis pemangsa yang berguna untuk meningkatkan kekuatannya.


Nenek itu berteriak marah dan merapal mantra. Angin berhembus dingin. Tampak tubuh iblis seperti pasir. Tapi iblis itu kembali menyerang si nenek tua. Ia mencakar dan menggigit dimanapun.


" Aaaaaah...... " nenek itu memukul si iblis hingga terhempas ke tanah. Lalu mengirim beberapa jarum jiwa ke arah iblis.


" Graaauuuhh......... "


Iblis itu meraung keras. Ia bangkit melesat dan merangkul nenek tua lalu menusuk-nusukkan cakarnya ke semua tubuh nenek tua.


" Aaaaaaarrrgh........ " nenek tua menjerit nyaring.


Odex hanya menipiskan bibirnya menyaksikan pertarungan nenek tua dan iblis. Ia tak menyadari hal lain.


Martin di dalam ruang penyimpanan segera menghapus air matanya. Anak-anak yang tadi menangis juga terdiam. Mereka semua menatap ke arah kalung Martin yang bercahaya terang. Ruangan tidak lagi gelap.


Satu persatu mereka mendekati Martin.


" Kamu siapa ? "


" Aku Martin "


" Apakah kamu juga diculik ? "


" Iya, tapi aku bisa keluar lagi "


" Kok bisa , bagaimana caranya ? "


" Itu rahasia. Nanti aku akan mengajak kalian keluar. Tapi harus hati-hati, karena kalau ketahuan penyihir itu, kita nanti dibunuh. Jadi harus diam-diam "


" Aku mau.... tapi..... aku pasti tertangkap lagi karena tidak bisa lari jauh. Tubuhku lemas..... aku lapar..... "


" Aku tahu, ini aku bawa apel banyak. Makanlah dulu, baru kita kabur "


Martin mengeluarkan semua apel yang dibawanya. Mereka berebut mengambilnya, masing-masing 2. Lalu duduk menikmati. Masing-masing anak merasa segar lagi. Mereka kembali bersemangat.

__ADS_1


Secara diam-diam.... Rey (tupai) mendekati posisi Odex. Asgar melirik dari atas pohon. Rey hanya berjaga-jaga jika Martin tiba-tiba keluar dari ruang penyimpanan Odex.


( " Martin, ini aku, Rey. Jawablah melalui pikiranmu. Bagaimana keadaan anak-anak ? " ) tanya Rey pelan.


Martin terkejut saat mendengar suara Dewi di pikirannya. Tangannya menutup mulutnya sehingga pikirannya bisa menjawab.


( " Mereka baik-baik saja Dewi. Tapi bagaimana saya mengeluarkan mereka ? Apakah harus mengoles darah saya di mata mereka satu-satu ? " ) tanya Martin.


Rey mengerutkan alisnya.


( " Cobalah oleskan darah di matamu dan lemparkan apel. Jika itu berhasil, kau bisa mengeluarkan anak-anak satu-satu. Aku akan menunggu di belakang pohon " ) kata Rey.


Martin mengambil apel yang tidak habis di lantai. Ia diam-diam menggigit jarinya dan mengoles kedua kelopak matanya. Sekarang ia dapat melihat keluar.


Martin melihat si nenek tua bertarung dengan iblis. Ia memperhatikan posisi guci sepertinya tergantung di bagian pinggang kiri.


( " Dewi, kami tergantung di pinggang sebelah kiri. Saya akan mencoba melempar bekas apel keluar " ) Lalu apel sisa gigitan itu meluncur keluar, jatuh ke tanah.


Itu menarik perhatian Odex. Ia heran darimana apel bekas gigitan itu ? Seekor tupai kecil berlari pelan ke arah pohon di dekatnya. Oh.... Odex berpikir tupai itu yang telah memakan apel.


( " Tunggu Martin, jangan diteruskan. Odex sedang waspada. Aku akan mencari cara untuk membuat ia lengah " )


( " Baik Dewi " )


( " Asgar, Odex selalu waspada. Bagaimana caranya membuat dia lengah atau tidur ? " ) tanya Rey


( " ............. Dengan asap beracun atau penidur. Mungkin nona punya tanamannya di ruang dimensi ? " ) tanya Asgar balik.


( " Aku tidak punya tanaman beracun atau penidur. Kalo petir ? " )


( " Ah.... ! itu seribu kali lebih baik. Sambar saja, buat dia gosong separuh..... " ) Asgar sangat bersemangat. Ia mengepak-ngepakkan sayapnya.


( " Tapi kita tidak bisa melakukannya sekarang, masih ada nenek tua dan iblis pemangsa " )


( " Ah ya , aku lupa..... " )


Mereka diam kembali berpikir. Tak lama datang 3 penyihir dan 2 iblis. Mereka saling menatap curiga. Nenek tua dan iblis pemangsa juga berhenti dan menatap sekeliling. Ia merasa waspada. Ia yakin mereka yang datang punya niat tidak baik, entah kepadanya atau iblis pemangsa.


Rey dan Asgar menatap mereka semua dengan tegang. Keadaan semakin rumit. Akan lebih sulit mengambil alih anak-anak itu.

__ADS_1


" Wuuuss........ ! " salah satu iblis menabrak nenek tua dan mengigit lehernya. Ia cepat-cepat menghisap darahnya. Iblis satunya ikut menerkam si nenek tua itu.


" Aaaaaaarrrgh............ " nenek itu tak berdaya menahan dua iblis yang menghisap darahnya. Ia segera merasa lemah.


Odex melirik ke arah iblis pemangsa. Namun 3 penyihir lainnya juga punya niat yang sama. Mereka tak perduli pada si nenek tua. Mereka dan Odex bergerak mengelilingi iblis pemangsa.


Iblis pemangsa menggeram pelan. Ia merasa tak bisa melarikan diri sekarang. Empat penyihir ini menginginkan bekerjasama dengannya. Padahal ia sudah muak dengan si nenek tua. Sekarang nasibnya menjadi rebutan 4 penyihir lain. Kelihatannya mereka lebih kuat dari si nenek tua.


( " Asgar, kau gantikan aku membantu Martin. Masukkan anak-anak ke dalam bola pelindung. Aku akan menangani Odex " )


( " Baik Nona " ) Asgar berpindah hinggap ke pohon yang dekat dengan Odex. Matanya menatap tajam.


( " Martin, bersiaplah.... Asgar akan membantu mengamankan anak-anak itu " ) kata Rey.


( " Baik Dewi " )


Martin segera membangunkan anak-anak dan memberitahu mereka agar bersiap-siap. Ia meminta mereka agar secepatnya berlari ke balik pohon terdekat.


Rey menatap ke langit. Ia membaca mantra lalu tangan kecilnya menunjuk pada Odex.


" Jedaarrr...... ! " satu petir menyambar kepala Odex. Seketika Odex jatuh setengah sadar.


Tiga penyihir lain hanya menyeringai. Mereka tetap berebut menyerang iblis pemangsa untuk menjadikan miliknya.


( " Sekarang Martin... ! " )


Martin segera mendorong 5 anak keluar. Asgar segera membungkus mereka dengan bola pelindung.


Martin kembali mengeluarkan 5 anak-anak. Asgar kembali membuat bola pelindung. Namun .....


" Braaakkk.... ! "


Asgar melihat satu iblis memukul bola pelindung pertama dengan batu besar. Bola pelindung itu retak. Asgar segera menguatkan bola pelindung pertama. Ia lupa bola kedua belum terbentuk sempurna.


" Wuuuss....... Aaaaah........ ! " satu anak perempuan berhasil diambil iblis kedua.


" Tidaaaak....... ! " Asgar terbang mengejarnya. Ia lupa 4 anak lain belum terlindung. Iblis pertama cepat menyambar 2 anak dan hampir pergi. Tapi...


" Jedaarrr...... ! " Rey melemparkan petir padanya. Ia terpaksa kembali ke wujudnya sendiri. 2 anak yang terlepas berhasil direbut Rey dan dimasukkan ke ruang dimensinya. Begitupun 2 anak yang tersisa kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2