
" Aku mengutuk 'itu'-mu tidak akan bisa dipakai lagi. Kau akan terkencing-kencing setiap menginginkan wanita manapun "
Terlihat sekilas berkas cahaya dari jari Zigaz yang mengarah ke antara paha pria itu.
Pria itu bangkit duduk memegang pipinya yang terasa perih.
" Perempuan gila ! Aku bahkan belum menidurimu, bagaimana mungkin sumpahmu terwujud ? " ejek pria itu.
" Hhhhhh.... ! Lihat saja nanti. Kau akan menangis mencariku hanya untuk meminta maaf ! " Zigaz menghentakkan kakinya dengan kesal sebelum pergi.
( " Lain kali aku tidak mau jadi wanita lagi, sebal, hiiii.... ! " ) Zigaz terbayang tadi diciumi pria mesum itu. Ia mengibas-ngibaskan tangannya di sekitar leher, seolah ingin menghilangkan bekasnya.
Sementara Kendrick berusaha melepaskan tangan Rey yang menariknya untuk menari bersama.
" Ayolah tuaaaan..... sekaliiiii saja " Rey setengah menyeret Kendrick ke lapangan.
" Hei.... Kau tak pantas menari dengannya. Minggir..... ! " seorang gadis bangsawan bergaun mewah mendorong bahu Rey dengan keras.
Tentu saja Rey terhuyung ke belakang hampir jatuh, namun tangannya yang saling berpegangan dengan Kendrick menyelamatkannya. Kendrick tak sengaja menarik tubuhnya sebelum terhempas dan memeluknya. Poni di dahi Rey sedikit tersingkap, membuat Kendrick menyadari sesuatu dan tersenyum.
" Eeeeh... lepas ! dasar perempuan murahan... ! " gadis bangsawan itu menjambak rambut Rey kuat-kuat.
" Aaaaaah, sakit..... ! " mata Rey sedikit berair. Kendrick yang melihat itu segera memukul tangan si gadis bangsawan.
" Apa yang kau lakukan.... ?! mengapa kau menyakitinya ? memangnya kau siapa ? " tanya Kendrick menahan marah.
" Aku... namaku Delisa. Aku putri Baron Carxen. Dia hanya pelacur murahan. Tuan tak pantas bersama dengannya. Itu akan merusak nama baik tuan " jawab Delisa pura-pura malu kucing.
" Bukankah ayahmu sering berada di tempat pelacuran ? Apakah kelakuannya tidak merusak nama baikmu sendiri ? " jawab seorang gadis bertubuh gemuk dibelakangnya.
" Huuh..... ! Tuan Carxen bahkan pernah tidur di kamar salah satu pelayannya dengan alasan tidak sadar karena mabuk... " celetuk keras seorang wanita tua.
" Jangan-jangan kamu juga suka tidur di kamar lelaki ? " tanya seorang pria.
Muka Delisa seketika memerah karena malu. Tangannya diam-diam mengepal. Ia segera membalikkan diri untuk pergi.
Delisa berjalan dengan marah dan tak sengaja menabrak Asgar sehingga hampir terjengkang. Untung saja Asgar meraihnya ( memeluk ).
" Maaf nona, kamu tidak apa-apa ? " tanya Asgar khawatir.
Delisa terpesona dengan semua perlakuan Asgar padanya. Matanya menitikkan air mata karena senang, tapi Asgar mengira gadis itu kesakitan karena terbentur padanya ( badan Asgar tinggi tegap, maklum... ia mantan Ksatria HIGRESIA ).
" Iya... badanku agak sakit, kamu terlalu kuat " tangan Delisa terulur meraba dada bidang Asgar.
" Duduklah dahulu. Aku akan mengambil minum untukmu " Asgar merasa risih dan menghindar.
Ia pergi mencari minuman. Kebetulan Asgar berpapasan dengan wanita yang mengaku bernama Zigaz.
" Asgar..... "
" Kau..... kau benar Zigaz ? " tanya Asgar tak percaya. Ia masih ragu.
Zigaz memperlihatkan kalung Cronos pada Asgar. Asgar mengangguk. Namun kemudian ia berjongkok sambil menutup mulutnya menahan tawa.
__ADS_1
( Hi..hi..hi..hi.... )
Zigaz dengan sebal menjewer telinganya kuat-kuat.
" Aaaaaah..... maafkan aku kek....
eh, nona....... " Asgar mengerang.
Zigaz menyeretnya ke meja makanan. Kemudian menceritakan apa saja yang dialami di ruang dimensi. Mereka duduk sambil makan-minum melupakan seseorang.
Sementara Kendrick membawa Rey menepi. Ia mengusap kepala Rey dengan lembut, meredakan sakit akibat dijambak.
Kemudian menatap Rey begitu lekat dan dekat hingga Rey memundurkan kepalanya.
" Sejak kapan sayangku berani menggoda laki-laki ? " tanya Kendrick pelan, bibirnya tersenyum miring.
" A... apa maksudmu ? Jangan salah sangka ! Aku hanya mengajakmu menari kan ? " jawab Rey gugup.
" Lalu mengapa mau dipeluk olehku ? "
" Eh... Itu kan tidak sengaja "
" REYNA WISHLEY.......... "
" Eh..... K...Kendrick..... kau tahu ? "
" Kau ingin dihukum apa ? "
" Tidak, aku.... mmmph..... " Kendrick mencium bibir Rey sedikit gemas. Rey memukul bahu Kendrick pelan.
" Sadar.... ? "
" Asgar bilang kamu terkena racun darah Terra. Portal dimensi tertutup. Aku yakin kamu sekarat karena terkena Racun Seribu kan ? "
" Ng... iya. Ada roh racun di dalam darah Terra. Zigaz membantu menjagaku "
" Hmmm.... Kekuatanmu sudah bertambah banyak. Masih ingin berjalan-jalan ( berpetualang ) ? "
" Tugasku belum selesai. Masih ada seseorang lagi yang terkait dengan Terra. Bagaimana situasi di Astraco ? "
" Rumit.... aku tidak bisa menyamar. Banyak hal membuatku tidak bisa meninggalkan meja terlalu lama. Selalu ada tetua atau siapapun yang perlu bicara denganku "
" Mmmm...... Bagaimana jika Zigaz ikut denganmu ? Ia bisa berubah jadi apapun untuk menyamar "
" Aku harus bicara dengan Zigaz "
Mereka keliling mencari Zigaz.
Delisa sudah menunggu cukup lama. Ia bangkit mencari calon kekasihnya. Dilihatnya Asgar sedang duduk mengobrol dengan seorang gadis berbaju hijau. Ia mengepalkan tangannya. Tadi ia sudah gagal berebut pria tampan, sekarang ada lagi gadis lain yang akan merebut calon kekasihnya lagi ? Enak saja ! Ia tidak akan melepaskannya kali ini.
Delisa bergegas menuju ke deretan kursi tempat Asgar dan Zigaz. Ia mengangkat sedikit gaunnya agar tidak tersandung. Delisa berhenti tepat didepan Zigaz dan menamparnya.
" Plaaakkk...... ! " Zigaz dan Asgar terkejut.
" Oh, nona. Maaf aku lupa mengambilkan minum untukmu " Asgar langsung bangkit menuju meja sebelah untuk mengambilkan minum.
__ADS_1
Tinggal Delisa yang memandang sengit pada Zigaz.
" Dasar perempuan ******. Kamu berani sekali merebut kekasihku ? " tanya Delisa berapi-api.
" Siapa yang kau bilang kekasih ? " Zigaz bingung.
" Jangan pura-pura bodoh ! Kau pasti sengaja menggodanya kan ?! "
" Ziiiiisssh..... aku bukan gadis genit "
" Ini minumanmu nona " Asgar datang mengulurkan limun padanya.
" Byuuurr..... ! " Delisa menyiram Zigaz.
" Aiiihh..... ! " Zigaz berdiri mengibas-ngibaskan gaunnya yang terkena air limun.
Asgar tercengang melihat Delisa.
" Apa yang kau lakukan padanya ? Kau bilang ingin minum, tapi malah membuangnya ? " Asgar menegurnya.
" Aku memberi pelajaran padanya supaya tidak merebut milik orang " jawab Delisa.
" Apa maksudmu ? Ia temanku ! " Asgar tak mengerti.
" Ya... Kami menjalin hubungan sudah lama, apa kau cemburu ? " Kata Zigaz merangkul pinggang Asgar sambil tersenyum manis.
" Kau.... ! Lepaskan tanganmu darinya, ia milikku " Delisa maju mencakar muka dan menjambak rambut Zigaz.
" Aowch, Aaaaaah..... ! " Zigaz menjerit.
Asgar segera menjauhkan Delisa.
" Kamu gadis kasar ! pergilah.... ! " Asgar mendorong pelan Delisa. Lalu kembali ke Zigaz.
" Kau tak apa-apa ? " tanya Asgar melihat pipi Zigaz berdarah.
" Hmmm...... " Zigaz mengusap pipinya yang terasa perih.
" Kau... membelanya ? Apa hubunganmu dengannya ? " tanya Delisa emosi.
" Sudah ku bilang : dia temanku. Mengapa kau meributkannya ? " Asgar menjawab gusar.
" Aku.... menyukaimu.... " jawab Delisa malu-malu.
" Maaf.... Aku sudah punya kekasih " jawab Asgar tegas.
" Ya, kekasihnya manis, baik, dan pandai memasak. Tidak sepertimu yang kasar ! " Zigaz mencela.
" Tapi aku lebih cantik ! " sahut Delisa marah. Hatinya panas mendengar pujian untuk orang lain.
" Tapi kamu jahat ! " cibir Zigaz.
" Kau..... ! " Delisa bersiap menyerang Zigaz lagi.
" Sudah.... ! pergilah..... ! " usir Asgar menahan Delisa.
__ADS_1
" Ada apa ini ? " suara lembut seorang pria.