GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Carol Mengincar Asgar.


__ADS_3

Wanita itu segera menutup kantor dan pergi ke penginapan Rozanda. Itu adalah penginapan terbagus pelayanannya di sini.


Ia menemui petugas penginapan dan menanyakan tentang tamu yang datang hari ini. Ternyata ada banyak pengunjung hari ini. Dan ia tidak tahu nama pria yang dimaksud.


Wanita itu memutuskan menunggu saja di ruang tamu. Dengan begitu ia tidak akan terlewatkan. Sementara Rey dan Asgar sedang bersantai di kamar karena hari panas terik. Mereka akan keluar saat sore saja.


Sementara wanita itu duduk gelisah menunggu. Ia memperhatikan setiap orang yang keluar masuk penginapan. Hingga akhirnya Asgar keluar karena bosan di kamar.


" Ah.... ! tuan , akhirnya aku menemukan anda " katanya langsung menarik lengan Asgar untuk duduk.


Asgar yang tak mengerti menurut saja.


" Ada apa Nona ? "


" Aku..... Ehm...... Aku punya informasi. Tapi tidak gratis " kata wanita itu bermain mata.


" Informasi apa ? Bukankah tadi nona sudah memberitahu semuanya ? " Asgar sedikit tidak suka.


" Oh tidak..... Ini berbeda. Tapi aku yakin tuan akan bersyukur nanti mengetahuinya. Ini sangat penting " wanita itu tersenyum misterius.


" Soal apa ? " tanya Asgar ingin tahu tapi sebenarnya dia enggan mengikuti wanita ini.


" Maaf aku tidak bisa memberitahukannya sekarang. Tapi saya akan memberitahukannya jika anda mau menemani saya makan malam nanti di restoran Trezzy "


Asgar diam mengerutkan keningnya.


" Baiklah, kita bertemu nanti malam di restoran Trezzy "


" Aaah...... tentu tuan tampan. Ehm...... maaf, nama anda siapa tuan ? "


" Asgar "


" Oh..... Saya Carol. Senang berkenalan denganmu tuan Asgar "


Lalu Carol berlalu dengan riang. Ia segera menemui teman-temannya dan membanggakan Asgar, seolah Asgar adalah kekasihnya sungguhan. Tentu saja teman-temannya ingin melihat langsung. Mereka akan datang juga ke restoran Trezzy.


Tak lama Rey keluar. Asgar segera menyongsongnya.

__ADS_1


" Nona, bisakah nanti Nona menemani saya makan malam di restoran Trezzy ? " tanya Asgar berharap.


" Ehhh....... ? " Rey menatapnya heran.


" Wanita penjaga kantor data penduduk tadi menemui saya. Dia bilang punya informasi penting tentang keluarga penyihir "


" Oh..... Tapi kenapa aku harus ikut ? " tanya Rey tak mengerti.


" Sepertinya dia menyukai saya Nona. Saya tidak ingin berurusan dengannya " Asgar menggaruk kepalanya sambil nyengir.


" Ooooo............... " Rey membulatkan mulutnya, ia tahu maksud Asgar.


" Kau ingin aku menyamar sebagai apa ? Wanita, atau laki-laki ? "


Asgar menatap Rey. Jika menjadi wanita, nanti khawatir Carol cemburu atau batal memberitahu informasinya. Jika menjadi pria, Carol nanti pasti tambah genit. Jika menjadi kakek atau nenek, Carol juga tetap akan membuatnya risih. Iiiiissh....... Asgar memegang kepalanya karena bingung. Rey tersenyum.


" Begini saja, aku akan muncul setelah dia memberikan informasinya. " kata Rey mengusulkan.


Asgar mengqngguk setuju.


" Baiklah..... Ayo kita jalan-jalan dulu. Hari masih sore " ajak Rey. Saat ini Rey masih menyamar sebagai nenek tua.


Rey tiba-tiba merangkul lengan Asgar. Asgar menoleh sebentar lalu bertanya lewat telepati.


( " Ada apa, Nona ? " )


( " Di seberang jalan sebelah kiri ada Pangeran Axel. Sepertinya ia sedang mencari seseorang " )


Asgar segera membayar perhiasan yang dipilihnya dan menyimpannya dalam cincin ruang. Kemudian ia berjalan sambil melirik ke arah yang dimaksud Rey.


Mereka berhenti lagi untuk membeli kue-kue kecil. Sementara Rey sibuk memilih kue, Asgar bersandar di dinding. Dengan begitu ia tidak terlalu menyolok mata sedang mengamati Pangeran Axel. Memang benar kata Nona Rey, wajah Pangeran Axel mirip dengan Xenia.


Sebenarnya Pangeran Axel juga sedang mengamati nenek tua ( Rey ) di seberang jalan. Ia merasa nenek tua itu adalah seorang penyihir. Hanya saja ia tidak dapat melihat wajah asli nenek itu. Selalu tertutup kabut putih saat Axel melihat dengan sebelah mata. Tetapi pria yang bersama nenek itu penyihir muda biasa. Mungkinkah nenek itu sudah berumur ratusan tahun ?


Setelah membeli kue, Rey dan Asgar terus berjalan seolah tak tahu keberadaan Pangeran Axel. Namun Pangeran Axel terus mengikuti mereka dari jauh. Rey mengajak Asgar masuk toko pakaian.


Tak disangka mereka bertemu Carol. Muka Asgar tampak jelek.

__ADS_1


" Oh.... Tuan Asgar.......... " Carol tersenyum manis.


" Hmmm...... " Asgar tersenyum hambar.


" Anda bersama siapa ? " tanya Carol ingin tahu.


" Ini nenekku.... " jawab Asgar singkat.


" Oh, selamat sore nek.... " Carol memberi salam.


" Selamat sore nak..... maaf aku harus buru-buru mencari gaun untuk cucu-cucuku " kata Rey.


" Oh, silahkan nek. Apa perlu saya bantu pilihkan ? " Carol menawarkan diri.


" Tidak perlu, aku tahu selera cucu-cucuku " Rey berlalu. Asgar segera mengikuti.


Carol hanya bisa memandang kecewa. Namun segera ia berputar mencari gaun yang akan dipakai nanti malam. Dipilihnya gaun yang sedikit menggoda. Asgar membeli beberapa gaun untuk Alice. Ia tidak mau jauh-jauh dari Rey karena ada Carol di toko yang sama.


Carol menghela nafas karena menunggu Asgar di depan toko. Ia ingin berjalan-jalan sore bersama mereka. Diintipnya mereka, masih memilih gaun. Padahal ditangan Asgar sudah ada beberapa gaun. Carol tersenyum berpikir nenek Asgar adalah orang kaya. Ia akan berusaha keras mendapatkan Asgar, pasti hidupnya akan mewah jika bisa menjadi bagian dari keluarga mereka.


Ketika Rey membayar belanjaan, Asgar melihat Carol menunggu di depan toko.


" Nona...... nona Carol masih di depan toko. Sepertinya ia sengaja menunggu kita " bisik Asgar.


Rey melirik keluar...... ya, ternyata Carol menunggu mereka. Rey menghela nafas.


" Apa kau punya usul ? "


" Bagaimana jika kita menghilang di kamar ganti ? Saya malas meladeninya " Asgar menampakkan wajah memelas pada Rey, membuat Rey terkekeh geli.


Asgar segera menarik tangan Rey ke kamar ganti dan mereka hilang di sana. Muncul di dekat taman kota.


Sementara Carol terpaksa masuk mencari Asgar dan neneknya. Ia heran mereka tidak ada di toko itu. Apakah tadi ia yang tidak melihat mereka keluar ? Atau mereka keluar berbarengan dengan pengunjung lain ? Akhirnya Carol pulang.


Axel yang mengamati dari jauh juga heran karena nenek tua dan pemuda itu tak kunjung keluar dari toko pakaian. Ia bukan ingin mencari masalah. Ia hanya ingin tahu saja. Siapa tahu mereka mengenal gadis yang sedang dicarinya.


Sementara Rey dan Asgar pergi ke taman Kota. Rey dan Asgar berubah menjadi anak kecil untuk ikut bermain bersama anak-anak. Mereka sengaja bermain untuk menghabiskan waktu menunggu saat makan malam. Setelah capek, Rey dan Asgar duduk sambil makan kue-kue yang tadi dibeli Rey. Mereka menertawakan Carol yang lewat dengan muka kesal.

__ADS_1


Sebenarnya Carol tidak salah menyukai Asgar. Hanya saja Asgar sudah mempunyai belahan jiwa, Alice. Dan Asgar adalah seorang ksatria sejati. Hanya punya satu cinta dalam hidupnya. Sifat setianya tidak akan goyah, kecuali kematian. Dan seharusnya dulu ia sudah mati karena melawan Penguasa Abadi. Ia beruntung karena diampuni. Sekarang ia mengabdi pada pasangan Kerajaan Astraco.


__ADS_2