GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Darkie Menantang Axel


__ADS_3

Asgar dan Zigaz terhenti sejenak melihat Rey duduk bersama Carol. Mereka saling pandang dan mendesah.


" Jangan khawatir, kamu sedang menyamar " bisik Zigaz.


Kemudian mereka mendekat dan duduk tenang. Kebetulan makanan dan minuman datang.


" Ehm..... Carol...... ini Zigaz dan Aston ( Asgar ) " Rey memperkenalkan. Carol mengulurkan tangan.


Lalu mereka makan sambil membicarakan sekitarnya. Sepanjang waktu Carol bersikap tenang ( tidak berani mencari perhatian ). Ia hanya bercerita tentang nona Mariana yang dikutuk penyihir.


Sementara diluar, Axel juga mendengar orang-orang membicarakan tentang Mariana. Aah...... dia menyesal telah melewatkan pertandingan. Seandainya dia tahu Rey ada di lapangan kota.....


Axel mengerutkan kening. Mengapa Rey belum keluar juga ? Dengan tak sabar ia masuk ke dalam. Namun ia berhenti saat melihat Rey masih duduk bersama 2 orang pria dan satu gadis. Ia mengenali gadis itu adalah penjaga kantor data penduduk.


Axel segera berbalik keluar. Ia enggan bertemu dengan gadis itu, khawatir gadis itu nanti salah bicara ( Axel lupa bahwa dirinya sedang menyamar jadi orang lain ). Akhirnya ia duduk lagi di luar dengan kesal.


Selesai makan mereka berempat keluar bersama. Rey sengaja menggandeng Carol saat menemui laki-laki tadi.


" Maaf tuan, ada keperluan apa sebenarnya tadi ? " tanya Rey. Aston, Zigaz dan Carol menatapnya ingin tahu, membuat Axel merasa jengah.


" Ah tidak..... lain kali saja " jawabnya kesal dan segera pergi.


Rey berempat saling berpandangan karena bingung. Kemudian Carol berpamitan.


" Nona, aku minta maaf atas sikapku yang tidak sopan kepada anda dan tuan Asgar kemarin " kata Carol meminta maaf.


" Tidak apa, jangan dipikirkan. Pulanglah.... "


Setelah Carol pergi, Zigaz mengajak Rey kembali ke lapangan kota. Ia berniat membagikan uang taruhan untuk anak-anak kecil. Tentu saja Rey setuju.


Sambil berjalan mereka membicarakan tentang pemuda yang tadi menegur Rey. Mereka mengira mungkin ada hubungannya dengan kasus Mariana.


Di lapangan Aston dan Zigaz membagi uangnya masing-masing 2 perak kepada anak-anak. Mereka dengan senang berlari membeli kue atau minuman kemudian lanjut bermain. Ketika langit sudah gelap mereka segera pulang ke rumah masing-masing.


Rey bertiga duduk di tepian lapangan. Beberapa anak muda juga ada yang duduk bersama kekasihnya.


" Nona, lebih baik Asgar diamankan dahulu " kata Zigaz.


" Hmm..... " Rey menyentuh lengan Asgar sambil membaca mantra. Kemudian Asgar melingkar manis di leher Zigaz.


Tak lama seorang pria berbaju hitam mendekat dan duduk di samping Rey. Rey dan Zigaz menatap heran karena tak mengenal. Pria itu hanya terkekeh tanpa suara.

__ADS_1


" Namaku Darkie. Aku hanya sedang menunggu seseorang saja " katanya tenang.


Namun Zigaz merangkul bahu Rey karena merasakan aura gelap dari pria itu. Asgar mendesis waspada.


Seorang pria lain mendekat dan langsung menarik Rey berdiri begitu saja. Matanya menatap marah pada Rey.


" Mengapa kamu duduk di tempat gelap seperti ini ? kamu berkencan dengan 2 pria seolah-olah kamu seperti pelacur ?! " katanya agak keras.


" Plaakk....... ! " tangan Rey melukis di pipi pria itu.


" Apa maksudmu berkata begitu ? Jangan sembarangan bicara. Siapa kamu ? Dan apa kau mengenal aku, dia dan dia ? " tunjuk Rey pada Zigaz dan Darkie.


" Aku Axel..... ! " jawabnya marah. Rey, Zigaz dan Asgar tertegun. Ternyata Axel menyamar jadi orang lain lagi.


" Aha...ha...ha...ha...ha...ha..... " Darkie berdiri sambil tertawa.


" Sepertinya kau cemburu, Pangeran Axel....... ? memangnya kau siapa baginya ? bukankah ia bebas memilih dengan siapa ia suka..... ? " ejek Darkie.


" Ia milikku..... ! Dan selamanya akan bersama denganku...... ! " Axel menarik kerah baju Darkie lalu mendorongnya mundur sedikit.


" Menjauh darinya jika kau tidak ingin kumusnahkan.... ! " Axel menatap tajam Darkie.


" Kau menantangku..... ?! " Axel mulai meradang.


Darkie terkekeh lebar, Lalu berdiri siaga.


Rey diam-diam berpindah ke belakang Zigaz.


" Apa kita akan menontonnya ? " bisik Rey mengintip.


" Tentu saja, ini menarik. Lagipula kita harus tahu seperti apa kekuatan mereka " sahut Zigaz.


" Tapi disini banyak orang ? " tanya Rey cemas.


" Nona pasang perisai pelindung saja untuk orang-orang " usul Asgar dengan suara mendesis seperti ular, tapi dimengerti oleh Rey dan Zigaz.


" Hmm.......... "


" Hahhh........ ! " kabut asap meluncur ke arah Axel. Zigaz cepat berlari mendorong mundur orang-orang. Rey membangun perisai setinggi 10 langkah ke atas.


Axel menggerakkan tangannya menghalau dengan angin. Kabut asap racun itu berbalik ke arah Darkie, tapi....

__ADS_1


" Aaaah...... ! " Satu helai rumput beracun menusuk tangan Axel. Rupanya Darkie menyelipkan satu rumput beracun dalam kabut asapnya. Axel cepat mencabut rumput berwarna ungu itu dan melempar balik ke Darkie. Darkie menangkapnya langsung sambil terkekeh.


Axel mengerutkan alisnya menyadari tangannya terasa panas dan gatal. Juga nyeri di bagian yang tertusuk. Ia segera menekan nadi ditangannya agar racun tidak merambat naik.


Tapi ternyata bukan hanya satu. Ada banyak rumput melesat dengan arah tak tentu ( meliuk kesana kemari terdorong angin yang digerakkan Darkie ).


Dengan marah Axel menghalau semua rumput itu. Namun karena bentuknya lentur, jadi semakin tidak karuan arahnya. Beberapa menancap di dinding perisai yang dibangun Rey. Seketika mata orang-orang melotot. Rey dan Zigaz berada di luar pertarungan.


Axel menggeram merasakan tangan kanannya mulai mati rasa. Dengan tangan kiri ia mengirim petir.


" Zapp..... Blaarr...... ! Aaaah........... "


Petir itu menabrak dinding perisai karena Darkie menghindar. Orang-orang yang ada dibalik dinding tepat, berteriak terkejut. Mereka segera mundur dengan perasaan ngeri.


Seseorang pergi ke istana untuk melaporkan apa yang terjadi di lapangan kota. Hanya saja orang tersebut tidak mengetahui bahwa salah satu yang bertarung adalah Pangeran Axel ( menyamar ). Orang-orang hanya tahu itu penyihir.


Ratu yang sedang makan malam sedikit jengkel dalam hati. Bagaimana pun, masalah penyihir tidak bisa diatasi oleh manusia biasa. Jadi ia sebagai warga asal negeri sihir harus turun tangan sendiri. Ratu segera menggandeng lengan Raja untuk melakukan teleportasi ke lapangan kota.


Mereka muncul diantara penonton yang berdesakan. Raja segera menggandeng Ratu mencari jalan ke depan, hingga Raja menabrak dinding perisai. Ratu mengamati pertarungan itu.


Tampak kondisi tubuh penyihir berbaju putih terkena racun dimana-mana. Sedang penyihir berbaju hitam mengalami banyak luka bakar. Kekuatan mereka tampaknya sebanding.


Ratu menyentuh dinding sambil membaca mantra. Ia masuk tanpa membawa Raja, bermaksud melerai dua penyihir itu.


" Ibu...... jangan disini, pergilah " teriak Axel.


" Kau........ Axel...... ?! " tanya Ratu tak percaya.


" Wuuzz........ ! "


" Awas.... ! " Axel berteriak.


Ratu menatangkan tangan ke arah serangan yang datang dan tangan satunya digunakan untuk memotong miring.


" Plak..... ! Srett...... ! Aaah...... ! "


Tubuh Darkie tersayat dari pinggang kiri hingga bahu kanan. Darah segera mengalir.


Axel tercengang melihat hasil serangan yang dilakukan ibunya. Hanya dengan kuku panjang bisa jadi senjata tajam ?! Hebat...... !


__ADS_1


__ADS_2