GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Mariana Menolak Hukuman


__ADS_3

Pelayan segera menyiapkan dua suling. suling untuk Mariana berhiaskan beberapa permata. Sedang suling untuk Rey hanyalah suling biasa. Rey memeriksanya dengan meniup sangat pelan memainkan beberapa nada untuk mengetahui apakah ada yang tidak benar. Lalu ia tersenyum kecil menandakan tidak ada masalah.


" Baik..... silahkan Nona Mariana terlebih dulu " orang tua itu mempersilahkan Mariana ke tengah lapangan. Mariana berdiri dan mulai memainkan sebuah lagu sendu.


Suara suling mengalun lembut, naik turun meresap dalam hati, seakan membawa pikiran semua orang ke dalam ingatan masa lalu. Bahkan ketika sudah selesai, orang masih terhanyut. Pengawal segera menyadarkan si orang tua.


" Oh............ Ya.... ! Itulah permainan suling persembahan Nona Mariana. Berikutnya nona, silahkaaan.......... "


Rey tersenyum mengangguk dan maju ke tengah. Awalnya ia memainkan nada-nada lembut mengiringi sisa ingatan orang-orang yang masih terhanyut. Namun lama-lama nadanya menjadi lebih cepat dan ceria, seiring dengan badannya yang melenggak-lenggok.


Anak-anak kecil maju mendekatinya dan mulai menari. Orang-orang juga bergoyang sambil bertepuk-tangan. Bahkan si orang tua menari dengan tersenyum lebar. Zigaz dan orang-orang yang bertaruh pun tergerak ikut menari bersama.



Aaah..... sungguh senang rasa hati mendengar musiknya. Hingga alunan suling terdengar melambat dan berhenti. Semua orang dan anak kecil bertepuk tangan sambil memuji Rey. Wajah mereka memancarkan kegembiraan.


" Kami menyukai musik nona cantik ini. Ia sangat menyenangkan hati kami " kata anak-anak.


" Yaaa........ " jawab semuanya.


Itu memang benar, Mariana tadi terpaksa memelototi beberapa pelayannya yang ikut menari saat Rey bermain suling.


" Hidup ini sudah sulit, tapi musik nona ini membuat kami melupakan kesulitan itu dan membangkitkan semangat kami " ucap seorang pria paruh baya.


" Ya..... Musik nona Mariana terdengar sendu dan merdu, tapi membuat kami jadi teringat masa lalu yang tidak bisa terulang lagi " kata seseorang nenek tua.


" Jadi bagaimana........ ? siapa mendukung nona Mariana ? " tanya si orang tua memandang sekeliling.


Hanya sekitar 20 orang yang mengacungkan tangan, itupun orang-orang tua ditambah orang-orangnya Mariana sendiri.


" Lalu siapa mendukung nona ini ? " tunjuk orang tua pada Rey.


Ada terlalu banyak yang mengacungkan tangan mendukung Rey, mungkin lebih dari 100 orang termasuk anak-anak ( tangannya tak terlihat karena pendek ).


" Berarti nona Mariana ; KALAH.... ! Dan sesuai kesepakatan masing-masing dengan kita semua sebagai saksinya, maka NONA MARIANA, HARUS MERANGKAK DARI SINI SAMPAI KE ISTANA...... ! " orang tua itu sengaja berkata begitu keras agar semua orang mendengarnya.

__ADS_1


Segera terdengar gemuruh suara orang-orang. Wajah Mariana merah menahan marah dan malu. Ia menatap Rey dengan kebencian yang tak terkira.


" AKU MENOLAK... ! " seketika suasana hening. Mereka tak yakin atau salah dengar.


" AKU MENOLAK karena aku tidak mengatakan setuju untuk melakukan itu ! " kata Mariana dengan sinis. Inilah yang sudah ditebak orang-orang sedari awal.


" Jadi anda mengingkari hukuman yang sudah disepakati ? " tanya orang tua itu.


" Huuuuu.......... ingkar janjiiii............ " teriak seseorang diikuti yang lain. Mereka merasa kesal karena Mariana tidak mau dihukum.


Rey mengacungkan tangannya ke atas, membuat orang-orang diam menunggu perkataannya. Kemudian menuding Mariana sambil mengucap mantra.


" Karena kamu mengingkari kesepakatan hukuman, maka mulutmu akan berbau busuk selamanya, sampai kamu menggenapi hukuman itu "


Seketika suasana terasa hening. Namun karena tidak terjadi apapun pada Mariana, ia tersenyum mengejek.


" Hhhh.... Lihat.......... ! kamu berkata seolah-olah kamu seorang penyihir "


Seketika bau busuk menyebar di udara. Orang-orang segera menutup hidungnya dan mundur. Bahkan dua pengawal Marco menatap Mariana sambil mengernyitkan hidungnya.


" Ada apa.... ? " Mariana bingung. Tapi dua pengawal itu seketika menjauh begitu bau busuk seiring dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Mariana. Bahkan salah satu pengawal muntah di pinggir lapangan.


Wajah Mariana memerah karena marah dan malu. Dadanya naik turun menahan kekesalannya.


" Kau penyihir.... !!!


Tangkap diaaa........ ! " teriak Mariana keras.


Namun tak satupun pengawal atau pelayannya melakukan perintah Mariana. Bahkan beberapa pria segera berdiri melindungi Rey. Sementara para wanita menarik mundur Rey.


" Pengawaaaalll.......... ?! " Mariana berteriak.


" Uuuh.... ! bau sekali ! "


Para warga bergerak menjauh dari Mariana. Pengawal dan pelayan Mariana diam-diam sudah pergi lebih dulu kembali ke kediaman untuk memberitahu bangsawan Marco.

__ADS_1


Zigaz juga menarik Rey pergi dari sana. Ia membawa Rey masuk ke sebuah restoran di dekat pasar. Zigaz tahu Nonanya tadi belum sempat makan kue. Tentang hadiah uang taruhan untuk anak-anak lain waktu saja. Sebentar lagi di lapangan kota pasti akan kedatangan orang-orangnya Marco.


Benar saja....


Tak lama, orang-orangnya Marco datang mencari Mariana. Mereka terpaksa menutup hidung saat Mariana berbicara. Sedang orang-orang yang tadi menonton sudah bubar 10 hitungan yang lalu. Karena Mariana tak menemukan Rey, ia akhirnya pulang ke kediaman.


Di kediaman, bangsawan Marco terpaksa menggunakan saputangan untuk menutup hidungnya saat Mariana bercerita. Ibu Mariana tak sanggup dan muntah di kamar mandi. Pelayan-pelayan juga enggan mendekat. Akhirnya tuan Marco menyuruh Mariana membersihkan diri. Ia berjanji akan menyelesaikan masalah Mariana.


Mariana terpaksa mengusir para pelayan karena mereka terang-terangan muntah saat membantunya mandi.


Di tempat lain, Zigaz dan Rey tak menyadari keberadaan Pangeran Axel yang duduk di bangku seberang restoran. Melihat Zigaz masuk restoran sambil menggandeng lengan Rey, membuatnya seketika menggertakkan gigi karena cemburu dan marah.


Axel cepat-cepat menyeberang jalan untuk menyusul masuk ke restoran. Ia langsung menarik Rey yang hampir saja duduk.


" Eh...... ! Kamu siapa.... ? " tanya Zigaz dan Rey terkejut. ( Mereka tak dapat mengetahui penyamaran dua lapis ).


Axel tertegun. Ia baru menyadari bahwa dirinya sedang menyamar.


" Kau tak perlu tahu, ayo ikut " Axel menarik paksa Rey. Tapi sejenak kemudian ia melepaskan Rey karena merasa seprti tersengat petir. Rey segera berpindah ke belakang Zigaz.


" Aku tak mengenalmu. Jika kau ada keperluan, tunggulah sampai aku selesai makan " kata Rey menghindari keributan di dalam restoran.


" Baik... aku menunggumu di luar " jawab Axel mendengus.


Rey dan Zigaz menatap Axel keluar restoran. Lalu Zigaz pamit ke kamar kecil untuk mengembalikan Asgar ke wujud aslinya. Rey menitipkan 2 bola cahaya kecil berisi mantra untuk Asgar. Yang satu mantra pemulihan, yang satu lagi mantra penyamaran baru.


Kemudian Rey memesan makanan dan minuman untuk 3 orang. Seseorang datang menyapa Rey.


" Nona, sendirian..... ? "


" Oh........... kamu.... Carol ? " Rey menatap gadis itu.


" Benar...... "


" Apa kau mau makan juga disini ? Atau mau bergabung dengan kami ? " tanya Rey.

__ADS_1


" K... Kami ? nona bersama siapa ? "


" Teman-temanku. Duduklah..... " Rey menarikkan kursi untuk Carol dan memanggil pelayan untuk menambah pesanan.


__ADS_2