
Axel meditasi kira-kira selama 3 putaran waktu. Jadi ia telah melewatkan waktu makan siang. Pikirannya kembali teringat pada Rey. Ia segera keluar menuju pasar ibukota. Tapi ia sempat berbelok ke satu lorong dan keluar menjadi orang lain ( menyamar ).
Tujuannya adalah menangkap pengawal Rey yang lemah ( Asgar ) untuk digunakan menekan Rey. Ia berjalan kesana kemari sambil melirik ke dalam kedai atau restoran mencari mereka bertiga. Sayangnya hingga sore ia tak mendapati keberadaan mereka. Perutnya terasa sangat lapar. Akhirnya Axel masuk ke restoran dan memesan makanan. Ia duduk sambil memandang ke luar, kalau-kalau Rey bertiga lewat.
Sementara Rey bertiga masih duduk bersantai di ruang dimensi.
" Nona, Asgar tak sebanding dengan Axel. Sangat berbahaya membiarkan dia berhadapan dengan Axel secara langsung..... " kata Zigaz.
" Hmmm........ " Rey mengangguk-angguk.
" Aku tidak takut... ! " sergah Asgar berani.
" Tapi kami yang takut " jawab Rey dan Zigaz berbarengan. Asgar melongo.
" Jangan lupa masih ada Alice. Kalian berdua harus terus mendampingi keluargaku di masa depan " lanjut Rey.
" Axel orangnya licik, suka main belakang. Kemungkinan ia akan menggunakanmu untuk menekan Nona Rey " kata Zigaz.
Asgar seketika lemas. Ia tahu maksud kata-kata Zigaz. Tupai segera naik ke bahu Zigaz dan seperti berusaha menghiburnya.
" Itu dia.... ! Kau menyamar jadi tupai saja. Dengan begitu kau bisa membantu kami diam-diam saat bertarung ? " Rey setengah berteriak.
" Yeah..... licik dibalas dengan licik...... " Zigaz menyeringai lebar.
" E......he...he...he...he....... apa tidak ada pilihan hewan lain yang lebih keren ? " tanya Asgar memelas.
" Burung ? " usul Zigaz
" Jangan, dia pasti curiga..... " sahut Rey
" Ehmm..... ular..... ? " tanya Asgar tak yakin.
Rey dan Zigaz berpandangan.
" Ya.... Kau bisa menyembunyikannya di kantong jubahmu " kata Rey pada Zigaz
" Tidak mau..... ! aku juga ingin melihat pertarungannya. Lagipula kantong Zigaz bau..... "
__ADS_1
" Tukk..... ! Aoww.... ! " Zigaz menjitak dahi Asgar. Asgar meringis.
" Hi...hi...hi...hi..... " Rey tertawa geli.
Mereka bertiga segera keluar dan bersantai di kedai terbuka di sekitar lapangan kota. Asgar menjadi ular biasa yang melingkar di leher Zigaz. Membuat gadis-gadis dan wanita penghibur tak berani mendekat. Rey dan Zigaz bersantai menikmati minuman sambil melihat lapangan yang berisi anak-anak atau anak muda.
Tak lama kedamaian terusik. Seorang anak kecil tak sengaja menabrak seorang gadis yang lewat bersama pelayannya. Gadis itu dengan marah menempeleng anak kecil itu hingga terpelanting dan menangis keras. Orang-orang disekitarnya terkejut. Beberapa wanita terpekik.
" Astagaaa............. "
" Nona..... mengapa kamu begitu kejam memukulnya. Bukankah ia hanya seorang anak kecil ?! Lagipula ia juga tak sengaja menabrakmu........ " seorang wanita penjual roti menegurnya.
" Huh...... kau tahu apa ? Ia sudah mengotori gaunku. Apa kau mau mencucinya ? " jawabnya sengit lalu pergi. Kebetulan ia akan melewati jalan di depan kedai tempat Rey duduk.
Rey diam-diam mengacungkan jarinya ke bawah gaun gadis itu. Tentu saja gadis itu langsung menginjak bagian depannya dan tersungkur ke depan Zigaz. Tapi tangannya sempat bertumpu di meja bundar sehingga mejanya terguling. Sehingga piring kue dan minuman jatuh menimpanya.
" Aah...... ! Bruuukk........ ! praangg........ ! "
" Nonaaa........ ! "
" Aiiih.... minuman kesukaankuuu............ " Rey nampak kecewa hingga tak memperdulikan keadaan gadis itu. Gadis itu sendiri tercengang dan marah melihat ketidak-perdulian Rey.
" Kau..... kenapa kau tidak menolongku.... ? Apa kau begitu menyayangkan minumanmu yang murah itu ? " bentak gadis itu.
" Eh....... ? mengapa kau marah padaku ? Bukankah seharusnya aku yang marah padamu karena menumpahkan makanan dan minuman kami ? " tanya Rey tak suka.
" Nona...... kau tersandung dan menumpahkan semua yang ada dimeja kami, tapi malah kau menyalahkan dia. Apa kau buta ? Atau memang watakmu sebegitu buruknya ? " tegur Zigaz.
Gadis itu menoleh dan melihat pemuda tampan sekali. Ia langsung terpesona.
" Eh...... aku....... ehm....... kau siapa ? Boleh aku tahu namamu ? " tanyanya dengan tersenyum manja.
" Ia saudaraku. Aku tak ijinkan kau mengenalnya, kau gadis jahat, tak tahu malu, tak tahu tata krama " Rey menegurnya.
" A.... apa maksudmu berkata begitu ?! Aku adalah Mariana, putri bangsawan Marco "
__ADS_1
" Ya, kau adalah gadis yang kejam. Berani memukul anak kecil. Berani menyalahkan orang lain atas kesialanmu. Tapi tak berani meminta maaf atas kesalahanmu sendiri. Sepatutnyalah kau dihukum "
" Huhh...... siapa berani menghukumku ? Bahkan Yang Mulia Raja selalu mendukung ayahku " Mariana mengejek Rey.
" Ayahmu punya kemampuan. Tapi kau bisa apa ? " tanya Rey ingin tahu.
" Ciiih...... kau hanya perempuan rendahan yang tak pantas menanyakan kemampuanku ! " Mariana meludah ke tanah.
" Baik...... mari kita bertanding ! " tantang Rey.
" Kalo begitu, ayo ke rumahku " jawab Mariana berjalan sambil mengangkat dagu.
" Tidak. Bawa saja perlengkapan yang ingin kau adu denganku ke lapangan kota. Aku tidak ingin ada kecurangan tersembunyi " kata Rey. Mariana berbalik menuding Rey.
" Kau..... ! .......... Pelayan, suruh orang bawa kuda, busur, pedang dan suling ke lapangan kota " perintah Mariana pada pelayannya. Ia menatap Rey dengan angkuh dan kesal.
" Pelayan, hitung semua kerugian ini. Minta nona bangsawan ini membayarnya " tunjuk Rey pada piring, gelas, makanan dan minuman yang masih belum dibereskan.
Mariana mendengus kesal sambil mengeluarkan dompetnya. Ia melemparkan 10 keping perak ke bawah. Zigaz berdiri dan menarik tangan Mariana untuk mengambil koin-koin perak itu.
" Ambil...... ! kau benar-benar gadis tidak tahu tata krama ! " bentaknya.
Mariana meringis kesakitan karena Zigaz meremas pergelangan tangannya sambil menuntun ke arah koin-koin perak itu. Ia terpaksa mengambilnya satu persatu dan memberikan kepada pelayan kedai dengan wajah jelek. Orang-orang yang menonton keributan itu tersenyum mengejeknya.
Mariana bergegas pergi ke tengah lapangan kota diikuti Rey dan Zigaz. Ia berkali-kali mendengus kesal menunggu kedatangan orang-orangnya. Orang-orang mulai berdatangan di sekeliling lapangan kota. Mereka mendengar keributan itu dari mulut ke mulut.
Tak lama beberapa pelayan kediaman bangsawan Marco datang. Seorang menuntun kuda, yang lainnya membawa pedang kecil, busur, dan suling sesuai permintaan Mariana. Dua pria berbadan tegap mendekati Mariana dan menanyakan apa yang terjadi.
Mariana menceritakan dengan suara pelan sambil menunjuk Rey. Tentu saja ia menutupi kesalahannya. Rey dan Zigaz hanya tersenyum miring. Lalu Mariana mendekati Rey didampingi dua pengawal Marco.
" Apa kau sudah siap ? " tanya Mariana sombong.
" Tentu....... " jawab Rey maju mengikuti Mariana.
Orang-orang dibelakang mulai bertaruh.
" Zigaz........ ikutlah bertaruh. Lumayan dapat koin banyak untuk dibagikan pada anak-anak kecil tadi. Jangan khawatirkan Nona " bisik Asgar di leher Zigaz.
__ADS_1
Zigaz melihat sebentar ke arah Rey dan mengangguk-angguk. Lalu ia bergabung dengan para petaruh.