GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
111. Dunia Jiwa


__ADS_3

Terra mencoba menyabet Rey dari belakang, tapi Rey berbalik dan langsung menepis dengan tangan kosong.


" Duk.... "


Lalu memukul dada Terra dengan pukulan jiwa.


" Bukk.... ! "


" Aah..... " Terra muntah darah. Ia memandang marah pada Rey. Jiwanya sedikit terguncang.


" Jangan khawatir....... Aku tidak menggunakan racun murahan " ejek Rey.


Terra menggeram. Ia menyiapkan bola racun di tangannya. Rey mengibaskan angin menepis bola asap itu.


" Bzzzz...... "


" Tcckk..... " Terra menyiapkan lagi bola racun.


Namun lagi-lagi Rey mengibaskan angin membuat kumpulan asap itu buyar kemana-mana. ( Sementara Asgar bertugas menetralkan asap racun itu ).


" Kau..... " Terra menatap amat sebal pada Rey. Ia menerjang penuh emosi ke arah Rey. Tangannya yang berkuku hitam terjulur ke depan.


Rey menunduk dan bergeser tepat saat Terra hampir menabraknya. Karena menunduk sambil bergeser, otomatis sebelah kaki Rey ketinggalan dan membuat Terra tersandung.


" Aaaaah....... "


" Bruukk........... " Terra jatuh tertelungkup.


" Uuups...... ma'aaaf...... tidak sengaja "


Rey bangkit sambil nyengir kuda.

__ADS_1


Dalam hal pertarungan fisik, jelas Terra kurang pengalaman walaupun sudah berumur ribuan tahun. Ia selama ini selalu menggunakan pikiran dan jiwa saja. Sementara asap racun hanya dipakai membunuh jarak jauh atau diam-diam.


Terra segera bangkit dan membersihkan jubahnya. Ia memandang tajam pada Rey.


Ouw... ouuuw....... Sepertinya ia memilih bertarung dengan cara lain. Rey tersenyum. Matanya sengaja melirik kesana kemari.


" Tatap mataku, bodoh..... ! " Terra membentak kesal.


" Oh...... ? kenapa ? aku sedang melihat ada ulat di bahumu " kata Rey sambil menunjuk dengan dagunya.


" Apa ?! Aaaaaaaaaahhhhh........... ! " Terra mengibas-ngibaskan bahunya sambil bergidik. ( Asgar dan Zigaz tertawa tanpa suara. Mereka sama-sama menahan perut masing-masing )


" Hhhhhhh...... ! " Terra sangat kesal karena Rey berhasil menipunya. Itu bukan ulat, hanya daun kering yang menempel di bahunya. Si**an !


Secepat kilat tangannya mencekik leher Rey. Wajahnya begitu dekat dan matanya menatap tajam seolah menembus ke dalam.



Ia mencoba terbang, tapi tidak bisa. Dicobanya lagi, tetap tidak bisa. Terra menoleh ke kanan dan ke kiri. Ah... ada perahu kecil di bawah pohon apel. Ia sempat memandang ke arah atas sebelum sampai di perahu.


Waaah........ apelnya ranum merah menggoda. Tapi itu terlalu tinggi. Ia melompat-lompat berusaha meraihnya. Sia-sia...... buah apel itu terlalu tinggi. Terra menelan ludahnya dengan rasa kecewa.


Akhirnya Terra kembali fokus pada perahu di bawah pohon. Ia berusaha mendorongnya ke danau, jaraknya kira-kira 50 langkah. Terra mengeluh, mengapa begitu berat ? padahal perahu ini kecil, hanya muat 1 orang saja. Baru setengah jalan ia beristirahat. Nafasnya tersengal-sengal ( ini juga pengaruh Asgar yang menahan udara disekitar sosok Terra di dunia nyata, membuatnya kekurangan oksigen. Juga tidak dapat terbang. Karena Asgar menguasai elemen udara di dunia nyata. Dan itu berefek dalam kejiwaan Terra secara tidak sadar ).


Terra kembali bangkit dan mendorong lagi. Perahu itu dirasa semakin berat. Setelah 10 langkah, Terra beristirahat lagi. Ia memegangi dadanya yang agak sesak. Ia kemudian tertidur karena kelelahan.


Kesadaran kembali pada Rey. Ia tersenyum dan mengedipkan matanya. Rey masuk ke dunia jiwa Terra. Ia berdiri di tanah bebatuan mengamati sekelilingnya. Tanaman semak belukar dimana-mana sudah kering.


Udara bau busuk.


Rey terus berjalan. Tampak ada genangan luas air kotor kehitaman. Rey menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya menatap kejauhan. Ada sesuatu yang sedang terbakar di udara. Itu adalah bola jiwa Terra. Rey mendesah sedih. Tak ada gunanya lagi. Terra sudah terbakar ambisinya dan sifatnya yang buruk. Rey tak suka disini terlalu lama. Ia mengedipkan matanya.

__ADS_1


Terra tersadar. Ia duduk dan menatap sekelilingnya agak bingung. Suasana agak teduh (sesuai hati Rey yang sedang sedih), apakah akan ada badai ? mendung gelap berarakan di atas langit sekitarnya.


" Duarrr...... ! " petir menggelegar entah dimana.


Dua ekor kuda berlari menjauh. Terra berdiri was-was. Bagaimana bisa ada petir di dunia jiwa gadis takdir ini ? pikir Terra. Sungguh kekuatan yang hebat. Terra menyeringai lebar membayangkan kekuatan tak terbatas.


Ia semakin bersemangat mendorong perahu itu. Seberat apapun perahu itu Terra terus mendorongnya. Hanya tinggal beberapa langkah lagi akan mencapai danau. Akhirnya perahu itu masuk danau.


Terra segera melompat dan mulai mengayuh. Ia tak perduli apapun meskipun nafasnya terputus-putus. Inilah yang membuat bola jiwanya terbakar oleh ambisi dan keinginannya. Ia tidak mengukur keadaan dirinya sendiri. Ia juga tidak punya " cinta kasih " sehingga jiwanya gersang.


Butuh waktu yang teramat lama untuk mencapai tengah-tengah danau jiwa Rey yang begitu luas. Danau ini terbentuk karena perbuatan baik yang dilandasi cinta kasih. Terra mendongak ke atas memandang bola jiwa Rey. Itu terlalu tinggi. Dan ia tidak dapat terbang.


Terra tak mengerti mengapa ia tidak dapat menggunakan kekuatannya sama sekali. Tentu saja, Rey bukan manusia biasa yang bisa disabotase jiwanya begitu saja. Ia menahan 50% kesadarannya. Namun Terra benar-benar penyihir jiwa ahli . Rey tidak bisa menyerangnya secara langsung seperti yang ia lakukan pada Destraco. Untunglah ia memasukkan Zigaz ke dalam danau jiwa. Zigaz akan diperlukan untuk mengantisipasi keadaan yang diluar kendali.


Terra melompat-lompat berusaha meraih ke atas. Ia menjulurkan dayungnya, tetap masih jauh.


" Aaaaaaarrrrggh....... ! " Terra berteriak kesal.


Hanya tinggal satu langkah untuk mendapatkan kekuatan itu namun tak ada cara untuk meraihnya.


Ia duduk dan memandang sekeliling danau. Begitu tenang dan sunyi ? Apakah ada ikan berenang di dalam sana ? Jika ada, ia akan menangkapnya beberapa untuk dilemparkannya ke bola cahaya, berharap bola cahaya itu bergeser jatuh kebawah.


Hi..hi..hi..hi......


Sepertinya otak Terra sudah terbakar habis hingga tak bisa berpikir jernih. Terra mencoba melihat ke dalam air danau. Tak satupun ikan yang terlihat berkeliaran. Ia mendengus kesal.


Tunggu.....


Bukankah ini dunia jiwa gadis takdir ? Seharusnya segalanya tersedia disini. Ia memang tak memperhatikan semuanya dari awal. Tadi ia sempat melihat 2 kuda di rerumputan dan pohon apel. Jadi pasti ada ikan dibawah sana.


Terra nekat melompat ke air. Ya, ia bisa berenang ( dalam hal ini, ia sudah biasa menguasai jiwa orang lain ).

__ADS_1


__ADS_2