
Beberapa pedagang yang berangkat pagi ke pasar naik gerobak atau di dorong. Mereka menatap Mariana dengan heran. Mengapa gadis itu merangkak disaksikan banyak orang ? Mereka tidak mengenali Ratu dan para prajurit karena hari belum terang.
Saat jarak tinggal 100 langkah dari gerbang istana, terdengar seekor ayam jantan berkokok di kejauhan. Mariana mempercepat merangkak. Ia tak perduli lagi apakah ada warga yang melihat atau tidak, matanya tertuju ke arah istana.
Para prajurit memberinya tepuk tangan semangat.
" Ayo nona...... Sedikit lagi sampai "
" Jangan menyerah.... ! "
" Kami bersamamu..... "
Mariana terkekeh meskipun terengah-engah. Ia semakin bersemangat. Ia merangkak sambil memandang gerbang istana penuh harapan. 50 langkah lagi.
Matahari di ufuk timur seolah mengintip Mariana. Nyonya Marco terus menerus berjalan sambil menangis. Ratu terbang memerintahkan pengawal agar membuka gerbang istana. Hukuman Mariana akan terselesaikan dengan sendirinya jika ia sudah masuk ke halaman istana.
Mariana merangkak gembira mendekati Ratu. Ia mengambil nafas panjang-panjang karena sudah selesai. Para prajurit dan orang-orang Marco bersorak gembira.
" Nona berhasil..... "
" Nona hebat..... "
Nyonya Marco menangis memeluk Mariana.
" Ibu.... aku berhasil.... ! "
Ayahnya membelai kepala Mariana.
" Ayah.... aku berhasil, mulutku sudah tidak bau lagi.... ! "
Ratu tersenyum menatap mereka. Ia mendekati Mariana dan mengulurkan tangannya. Mariana menyambutnya. Matanya seketika terpejam ketika ada aliran hangat merasuki tubuhnya. Tak lama ia tertidur. Badannya bersandar pada tuan Marco.
" Tuan Marco, Mariana telah melampaui batas kekuatan tubuhnya sendiri. Aku sudah mengobatinya. Tapi ia perlu beristirahat total selama 3 hari penuh. Bawalah ia pulang. Didiklah dengan baik agar tidak mengulangi kesalahan yang sama "
" Terima kasih Yang Mulia Ratu. Hamba berjanji akan mendidiknya lebih baik lagi " janji tuan Marco.
Karena kondisi Mariana yang kelelahan, maka tuan Marco menyuruh pengawal pulang mengambil kereta. Mereka kembali ke kediaman dengan naik kereta.
Sementara para pedagang di pasar mulai membicarakan tentang seorang gadis yang merangkak di jalan menuju istana pagi-pagi buta.
Wanita-wanita ibukota yang berbelanja adalah beberapa yang menyaksikan kejadian pertandingan di lapangan kota. Mereka kecewa karena tak menyaksikan Mariana menjalani hukuman.
__ADS_1
Perbincangan itu terdengar juga di penginapan Rey. Mereka mendengar para pelayan membicarakannya.
" Nona.... Mariana sudah melaksanakan hukumannya. Katanya Ratu dan para prajurit mendampinginya " kata Zigaz.
" Tidak apa-apa, aku yakin ia sudah menyadari kesalahannya dan akan berubah lebih baik.... "
" Sssh....... sayang sekali aku tidak menontonnya " Asgar mendesis kecewa.
" Aku rasa bukan hanya kau saja yang kecewa, tapi para gadis-gadis yang tidak menyukai Mariana juga " kata Rey.
Di istana para prajurit yang semalam mendampingi Mariana juga menceritakan hal itu saat makan pagi sehingga pelayan juga mendengarnya.
Axel yang mendengar berita itu memutuskan untuk makan pagi bersama ayah dan ibunya.
" Ibu....... Aku dengar ibu bisa menolong menghapus kutukan Mariana ? Mengapa ibu tidak bisa menghapus kutukan yang menimpaku ?! " tanya Axel kesal.
" Ibu tidak menolongnya nak....... Ibu hanya mendampinginya menjalani hukuman sampai ia masuk ke gerbang istana. Lagipula ibu tidak bisa menghapus kutukannya. Mariana benar-benar merangkak dari lapangan kota hingga istana "
" Mustahil.... ! Gadis manja putri bangsawan mana mungkin punya kekuatan seperti itu ! " Axel meradang.
" Tekad kuat Mariana yang membuatnya mampu menyelesaikan hukumannya. Ia mulai dari tengah malam hingga pagi. Berkali-kali istirahat dan minum. Ibu hanya membantu menyembuhkan lecet-lecet di lutut dan tangannya saja " jelas Ratu.
" Lalu bagaimana denganku ? Apa ibu tidak punya cara mengatasinya. Haruskah selamanya aku akan menderita begini ?! " tunjuk Axel pada pipinya yang merah bengkak.
" Kau bisa tanyakan syaratnya pada Putri Rey. Lebih baik temui dia dan meminta maaf..... "
" Tccck..... ! Hhhhhh......... ! "
Axel bangkit meninggalkan meja makan dengan wajah buruk. Ratu melirik Raja tak berdaya. Raja hanya menghela nafasnya sambil membelai punggung Ratu.
Axel melesat keluar dari istana. Hari ini ia harus bertemu Rey. Ia akan memaksa Rey mencabut kutukan yang menempel tamparan sihirnya. Jika perlu, ia akan mengancam dengan menyandera atau melukai salah satu pemuda yang selalu ada di dekatnya.
Rey dan Zigaz berjalan santai menuju lapangan kota. Mereka baru saja makan pagi di restoran Trezzy. Asgar bergelung santai di leher Zigaz. Ia bicara dengan bahasa ular.
" Sssh...... Nona. Bolehkah aku berubah menjadi tupai saja ? "
" Apa alasanmu.... ? " jawab Rey berbisik.
" Aku bisa membantu Zigaz memukul lawan saat bertarung "
" Tidak.... ! Axel terlalu kuat. Kau tidak boleh beradu fisik dengannya, hanya boleh mengacaukan konsentrasinya saja "
__ADS_1
" Ssssshhh.......... " Asgar menjulurkan lidahnya dengan kecewa. Zigaz hanya tersenyum kecil.
" Nona....... aku merasa seseorang sedang mengikuti kita dari belakang. Auranya penyihir putih " bisik Zigaz pada Rey.
Asgar langsung menengok ke belakang. Ia mengintip dari antara kerah jubah Zigaz.
" Itu Pangeran Axel. Ia bersama nona Thalia. Sepertinya mereka sedang bertengkar ? " lapor Asgar.
" Sudah biasa.... Nona Thalia menyukai karakter Axel. Tapi Axel tidak menyukainya " jawab Zigaz.
" Aku kasihan melihat gadis itu membuang-buang waktu mengejar lelaki itu. Mereka tidak berjodoh " Rey menggerutu pelan. Ia seolah merasakan perasaan Thalia yang tidak pernah diperhatikan Pangeran Axel.
Sementara mereka terus melewati beberapa kedai kecil di pinggir lapangan kota, Pangeran Axel masih mengomel dan mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati Thalia. Pandangannya tetap mengarah ke arah Rey di kejauhan.
Rey dan Zigaz mampir di salah satu kedai minuman. Mereka menunggu kedatangan Axel. Benar saja, Axel datang bersama Thalia. Ia langsung duduk dengan wajah jengkel. Sementara Thalia tercengang menatap Rey.
Telunjuk tangannya langsung menuding ke arah Rey, bersiap memaki.
" Kau..... ! "
" Diam.... ! " Axel menepis tangannya dengan kasar. Thalia tertegun.
" Mengapa kamu membelanya. Lihat.... Ia bahkan tidak menganggapmu sebagai kekasih..... Malah duduk bersama pemuda lain...... "
" Diamlah dan tutup mulutmu... ! Aku tidak membutuhkan pendapatmu.... ! " tegur Axel kesal.
" Apa kau buta Axel..... ? " tanya Thalia. Suaranya mulai meninggi.
" Kau lah yang buta nona. Apa yang membuatmu menyukainya.... ? " tanya Zigaz menyindir balik.
" Kau..... ! Bukan urusanmu.... ! Aku menyukainya karena dia Pangeranku, milikku..... ! " Thalia menatap remeh pada Zigaz.
" Kalau begitu bawalah pulang... ! Aku tidak menginginkannya " kata Rey santai.
" Braaakkk..... !! " Axel menggebrak meja dengan marah. Ia menatap Rey dan Thalia bergantian. Dua gadis ini membuatnya pusing.
" Pulanglah.... ! Aku ada perlu dengannya " Axel berusaha mengusir Thalia.
" Bohong..... ! Kau hanya ingin berdua dengannya " Thalia menatap Axel curiga.
" Heiii....... Jangan lupakan akuuu...... " Zigaz melambai-lambaikan tangannya di depan Thalia. Thalia menepisnya dengan kesal. ( Asgar terkekeh diam-diam ).
__ADS_1
" Kau tidak berguna, hanya jadi kupu-kupu saja ( penghias percakapan ) " Thalia mencemooh Zigaz.
" AHa...ha...ha...ha...ha............ Lalu kau apa ? Kambing guling ?! " ejek Zigaz balik.