GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
115. Roh Racun


__ADS_3

Di ruang dimensi Zigaz masih terus menyiram tanaman yang rusak dengan air danau jiwa. Hati Zigaz senang karena tanaman-tanaman jiwa Rey kembali segar. Itu berarti tuannya juga akan segera sehat karena terobati.


" Dasar bodoh... ! " Terdengar suara wanita di belakangnya.


Zigaz terkejut. Ia membalikkan badan dan mendapati seorang perempuan berwajah culas bergaun ungu transparan. Seluruh tubuhnya juga agak transparan.



" Siapa kamu.... ? " Zigaz heran, tak menyangka tuannya mempunyai seseorang lagi yang berada di ruang dimensi.


" Aku..... ? Aku adalah Roh Racun. Aku ada karena banyaknya racun yang bergabung denganku. Selama bertahun-tahun aku makan darah orang yang memeliharaku. Namun dia sudah memindahkanku kesini sebelum kematiannya. Jadi dunia ini milikku " kata wanita itu.


Zigaz tersenyum miring. Roh Racun ini harus dilawan dengan hati-hati. Jika tidak, ia sendiri akan terkena racun darinya. Dan itu membahayakan Rey yang masih belum sadar. Zigaz tidak tahu seberapa kuat Roh Racun ini. Tapi ia akan berusaha mengatasi atau mengulur waktu.


" Apa yang akan kau lakukan disini ? " tanya Zigaz.


" Aku akan menanam tanaman racun disini. Bukan rumput tak berguna dan apel murahan " jawabnya sinis.


" Tapi disini tidak ada tanaman racun.... " kata Zigaz tenang.


" Kalo begitu aku yang akan menciptakanya " katanya dengan yakin.


" Mmm.... cobalah. Aku ingin melihatnya " Zigaz menunggu.


Roh racun berjalan menuju pohon apel. Ia menempelkan tangannya yang berwarna keunguan ke batang pohon. Mulutnya berkomat-kamit. Lima hitungan sudah berlalu. Zigaz mendekati dan mengamati pohon apel itu, tidak ada perubahan. Roh Racun meliriknya. Ia mengerahkan racun lebih banyak pada batang pohon. Dahinya mulai berkeringat. Batang pohon itu agak keunguan, namun daunnya masih segar bugar ( setelah disiram air danau ).


Roh Racun memukul batang pohon apel dengan kesal. Zigaz mundur sedikit. Ia tak ingin jadi sasaran kemarahan Roh Racun. Wanita itu berbalik menatap Zigaz.


" Mengapa kamu menyiram tanaman dengan air ? " tanyanya sedikit kesal.


" Beberapa tanaman layu dan menguning. Jika tanaman-tanaman ini mati, aku akan kehabisan sumber makanan dan ikut mati " jawab Zigaz.


Roh Racun mengangguk paham. Ia melangkah pergi. Zigaz mengikutinya dengan jarak 5 langkah.


Roh Racun itu berjalan sambil menyentuh beberapa tanaman. Tanaman segera layu. Zigaz melirik gemas ingin mencakar Roh Racun namun ditahannya. Ia harus tahu dulu tentang kekuatan mahkluk ini sebelum membantainya.


" Dimana sumur tempatmu mengambil air ? " tanya Roh Racun.

__ADS_1


" Mmm.... di arah barat, 500 langkah dari sini " jawab Zigaz menunjuk dengan belalainya.


Wanita itu membelokkan kakinya ke arah yang ditunjuk Zigaz. Mereka berjalan terus sampai terlihat danau di kejauhan.


" Kamu bilang 500 langkah.... ini masih belum sampai juga ? " Roh Racun bersungut-sungut.


" Itu benar, aku menghitungnya dengan langkahku, 500. Tidak tahu berapa langkahmu " jawab Zigaz ( diam-diam tersenyum mengejek dalam hati )


" Huuh.... ! "


Setelah 200 langkah lagi, barulah mereka sampai di tepi danau. Airnya terlihat menyegarkan. Tapi Roh Racun memandang tidak suka.


Ia mengulurkan kedua tangannya sambil berkomat-kamit. Perlahan sinar keunguan muncul di telapak tangannya. Kemudian mencelupkan kedua tangannya ke dalam air. Segera air disekitar tangannya berwarna keunguan.


Zigaz memandang ke air dengan cemas. Ia khawatir racun itu akan menyebar ke seluruh danau. Namun sudah berlalu 10 hitungan, sebaran racun hanya seluas topi wanita dewasa. Zigaz diam menunggu.


Sementara Roh Racun menatap air danau dengan geram. Racunnya dari tadi tidak bisa berkembang dengan cepat. Setiap kali melebar sedikit air danau kembali menetralkannya.


" Sia**n.... ! " Roh racun mengibaskan tangannya dari air. Wajahnya merah padam menahan marah. Zigaz tersenyum menarik satu kesimpulan. Namun senyumnya tersembunyi dibawah belalainya. Hatinya sedikit tenang.


" Eh.... ? Ya.... ? " Zigaz menjawab.


" Berapa umurmu ?! " tanya Roh Racun.


" Waduuh.... aku tak tahu.... Di sini tidak tahu waktu " Zigaz menggerak-gerakkan kupingnya.


" Bukankah ada matahari disana ? " Roh Racun menunjuk bola cahaya yang melayang di atas danau.


Zigaz tertawa sebentar.


" Itu pusat kehidupan dunia ini, jika cahayanya redup atau mati, maka semua yang ada disini juga mati, termasuk kita " kata Zigaz


" Tidak... ! aku tidak akan mati ! " Roh Racun mencibirkan bibirnya.


" Bukankah tadi kau ingin meracuni semua tanamannya disini. Jika tanaman itu semua mati lalu kau makan apa ? " tanya Zigaz.


Roh Racun tertegun. Ia menatap ke arah danau.

__ADS_1


" Masih ada ikan disana " tunjuknya ke arah danau.


" Selama aku ada di dunia ini tidak pernah melihat ada ikan disana " kata Zigaz.


" Tentu saja, kau tak bisa menyelam ke danau " ejek Roh Racun.


" Memangnya kau bisa ? Danau itu sangat dalam dan luas. Lagipula kau akan mati jika nekat menyelam kesana. Bukankah kau roh racun yang berasal dari tanaman ? " Zigaz menatap Roh Racun.


" Kau...... " Roh Racun berpikir sebentar.


" Aku memang berasal dari tanaman racun. Tapi umurku sudah ribuan tahun. Tentu saja aku lebih pengalaman darimu, gajah bodoh ! Lihat saja, aku akan menyelam dan mendapatkan ikan " katanya sambil melepas sepatu bersiap-siap untuk menyelam.


" Bagaimana jika kamu tenggelam, apa kamu bisa berenang ? " tanya Zigaz lagi.


" Aku adalah sebuah roh kan ? jadi aku tidak dapat mati " sahut Roh Racun.


( " Gawat... ! ini bahaya jika ia menemukan Nona dibawah sana " pikir Zigaz )


" Byuurr..... ! " Roh Racun meliuk dalam danau. Tak sadar racun yang keluar dari tubuhnya larut dalam air dan dinetralkan.


Zigaz agak panik melihat kenekatan Roh Racun. Ia mengepalkan tangannya dan memejamkan mata sebentar untuk berpikir. Jika ia menjadi ikan hiu, Roh Racun akan meracuninya. Tapi bagaimana jika ia menjadi belut listrik ? Bibirnya menyeringai miring. Zigaz akan menyengatnya untuk membela diri atau melindungi tuannya.


Segera Zigaz melompat ke air dan berubah menjadi belut listrik. Ia mencari Roh Racun. Zigaz melihat ada jejak keunguan di air. Dilihatnya Roh Racun berenang kian kemari. Hati Zigaz berdegup was-was. Roh Racun bisa bernafas dalam air. Untunglah dia tidak bisa berubah menjadi yang lain.


Roh Racun terus berenang tak tentu arah. Ia heran karena tak ada satupun ikan dijumpainya. Matanya menangkap sesuatu di tengah danau. Karena terlalu jauh ia tidak dapat melihat dengan jelas. Ia berenang ke sana.


Zigaz melesat menyengat kaki wanita itu.


Zzzzt..... !


( " Aaah.... ! " ) Roh Racun membalikkan badan, dilihatnya seekor belut listrik berlalu tanpa rasa bersalah. Ia mendesis kesal. Roh Racun kembali berenang ke arah tengah danau.


Namun lagi-lagi belut listrik itu menyengatnya.


( " Aaah..... ! " )


Roh Racun melotot dan menggeram kesal. Ia berbalik dan mengejar belut listrik itu. Mulutnya meludahkan racun sejauh 5 langkah. Untunglah tidak mengenai Zigaz. Racun yang menyebar di air segera terhilang ( dinetralkan ).

__ADS_1


__ADS_2