
" Kota ini tampak tenang.... Kita akan mencari penginapan dahulu sebelum makan malam " Setelah mengurus kuda, Asgar menunggu Rey di teras sambil mengobrol dengan pengunjung lain. Setelah mandi, Rey berjalan-jalan diikuti Asgar.
" Nona, salah satu pengunjung sedang mencari suaminya yang tidak pulang dari kemarin "
" Eh.... ? apakah suaminya pergi tidak berpamitan ? "
" Sudah, katanya ada urusan dagang "
" Lalu..... Apakah ada hal lain yang terkait dengan suaminya ? "
" Mungkin ini ada hubungannya dengan penyihir "
Seketika Rey berhenti dan menatap Asgar seolah bertanya lagi.
" Mereka membicarakan tentang mayat kering yang ditemukan dekat kandang kuda penginapan. Ada luka tapi tidak ada darah di tubuhnya. Ini sama dengan mayat yang ada di ibukota Higresia, pada malam para penyihir datang " Asgar menjelaskan.
" Jadi ..... kemungkinan ada penyihir yang berkeliaran disini "
" Nona, bolehkah saya pergi sebentar ke tempat penjual senjata setelah makan malam ? Saya ingin membuat senjata api "
" Kita akan pergi bersama kesana "
__ADS_1
Setelah makan malam, mereka mencari toko senjata. Asgar menjelaskan keinginannya. Ia akan membayar berapapun jika bisa membuatkan senjata yang dimaksud. Sementara Rey melihat-lihat berbagai senjata yang dipajang di dinding.
Sesudah terjadi kesepakatan, mereka bergegas kembali ke penginapan. Lamat-lamat terdengar teriakan seseorang. Asgar segera berlari ke arah lorong kanan. Rey juga berlari menyusul. Dan ia menabrak punggung Asgar yang berhenti mendadak.
" Asgar , ada apa ? "
Rey mengintip dari sisi badan Asgar. Mereka melihat sosok hitam berdiri didepan seorang laki-laki yang terluka.
Perlahan sosok itu menoleh ke arah Asgar dan Rey. Matanya bersinar merah. Tak sadar Rey mencengkeram lengan kiri Asgar dan berbisik pelan.
" I..itu.... penyihir ....... "
" Baiklah, aku akan menyerangnya dengan api "
Penyihir itu melangkah gemulai mendekati Asgar. Ia melihat perisai dan pedang Asgar terbuat dari perak. Senyumnya menyeringai.
" Sepertinya kau cukup bernyali melawanku ? "
Ia mengeluarkan bola asap hitam dari tangannya dan melemparkannya pada Asgar. Asgar menatangkan perisainya membuat bola itu terpental ke arah pohon.
" Blaamm.... "
__ADS_1
Seketika pohon itu menjadi kering layu. Asgar tercengang melihatnya. Ia teringat pesan Lord Kendrick untuk membalikkan serangan dengan perisai.
Kali ini Asgar mulai memperhatikan arah serangan. Rey di belakang siaga dengan perasaan cemas. Penyihir itu kembali melemparkan bola asap hitam. Asgar memposisikan perisainya berbanding lurus dengan kedatangan serangan.
" Zzzzttt.... " bola asap itu kembali cepat menabrak si penyihir .
" Aaarrrgghh............... ! "
Penyihir itu terpelanting ke belakang. Mulutnya mengeluarkan darah hitam. Rey segera melemparkan bola api ke arah si penyihir.
" Aaaaaarrrrgghh......................... "
Penyihir itu berguling-guling mencoba memadamkan api, tapi itu sia-sia. Perlahan tubuhnya habis dan menjadi abu. Rey menggerakkan angin untuk menyebarkan abu itu ke udara.
Asgar segera mendekati korban dan memeriksa kondisinya. Tapi Rey cepat-cepat memegang bahu Asgar dan pria tua itu. Mereka berpindah (teleport) ke dalam kamar Rey. Lalu Rey terduduk lemas di lantai.
" Nona..... ! anda tidak apa-apa ? "
Rey menggelengkan kepalanya dan menaruh telunjuk di mulutnya. Diluar terdengar bunyi desau angin dan gonggongan anjing. Mengertilah Asgar, ada penyihir lain yang datang.
Melihat keadaan Rey yang terengah-engah, Asgar melepas kalungnya dan meletakkannya di telapak tangan Rey. Kemudian ia membantu pria itu duduk bersandar . Asgar mencoba membalut luka di robekan di leher pria tersebut.
__ADS_1