GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Axel Ditolak Istana


__ADS_3

Ratu tidak jadi beristirahat. Ia tergopoh-gopoh pergi ke bukit untuk memadamkan api bersama Raja. Mereka berdua menggerakkan sejumlah besar air dari sungai di sekitar bukit untuk disiramkan ke pohon-pohon yang terbakar. Sementara prajurit membantu dengan cara biasa.


Setelah satu putaran waktu api padam sepenuhnya. Ratu memandang sedih keadaan bukit yang sudah tidak indah lagi. Ia tidak menyadari satu sosok cantik berjongkok di sampingnya.


Menyentuhkan tangannya ke rumput, menyalurkan kekuatan kehidupan ke arah bekas-bekas kebakaran. Menumbuhkan tunas baru, sulur baru dan menghijaukan dedaunan.


Tak lama pohon-pohon besar itu bercahaya seperti kabut putih selama 5 hitungan waktu. Setelah menghilang, tampak pohon-pohon yang kembali menghijau, semak-semak berbunga. Kelinci dan tupai datang mengendus-endus.


Raja dan prajurit tercengang melihat keajaiban itu. Bahkan Ratu melangkah maju tanpa sadar, memastikan kebenaran yang terlihat di depan.


Rey yang kelelahan duduk bersimpuh, bersandar di pelukan Zigaz ( pelukan longgar, bukan seperti kekasih ). Zigaz menyalurkan sedikit kekuatannya untuk mengembalikan kesegaran Nona Rey.


" Nona, lebih baik Nona berendam di danau jiwa untuk memulihkan kekuatan Nona " saran Zigaz.


Raja melihat sekeliling dan mendapati seorang gadis cantik di pelukan seorang pria. Ia mendekat untuk memastikan.


" Y..... Yang Mulia Putri Rey...... ? " tanya Raja berlutut di depannya.


Rey hanya tersenyum. Nafasnya masih sedikit tersengal.


" Elena..... ! " Raja berteriak memanggil Ratu Elena. Ratu Elena menoleh. Ia tercengang melihat Raja berlutut di depan seorang gadis yang juga bersimpuh. Ia segera mendekat.


" Aah........ Putri Rey....... ! " Ratu pun ikut berlutut di samping Raja. Para prajurit yang melihat Raja dan Ratu berlutut di depan seorang gadis, segera ikut berlutut meskipun bingung. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan gadis cantik bergaun sederhana itu hingga Raja dan Ratu harus berlutut.


" Jangan sungkan, aku hanya mengurus tanaman " tunjuk Rey pada pohon-pohon yang sudah menghijau. Raja dan Ratu mengerti sekarang mengapa ada keajaiban pada tanaman yang tadi terbakar.


" Terima kasih atas kehidupan yang Putri berikan pada tanaman. Hamba memohon ampun atas kesalahan yang dilakukan Putra hamba " kata Ratu Elena sedih dan malu.


" Aku mengerti "


Rey berdiri dipapah Zigaz. Lalu mereka menghilang ( masuk ke dimensi ).


Raja dan Ratu bangkit berdiri. Lalu kembali ke istana diiringi para prajurit.

__ADS_1


Setelah semua pergi, seseorang berjubah hitam menatap dari kejauhan.


" Ia seorang penyihir putih yang hebat. Aku harus bisa mendapatkan darahnya walau hanya setetes. Jika bisa, ia jadi milikku selamanya " gumamnya sedikit menyeringai sebelum berasap ( menghilang dengan menjadi kabut hitam ) .


Sementara Axel kembali ke pasar dengan menyamar. Ia masih ingin mendapatkan Rey. Setiap halangan dan kegagalan semakin membuat ia menginginkan Rey. Sedangkan orang yang dicarinya sedang berbaring tenang di danau jiwa. Tentu saja Rey kelelahan karena " memberi kehidupan " pada tanaman dan pohon yang sudah mati terbakar, bukan mengobati.


Karena hari sudah hampir gelap, Axel kembali ke istana dengan rasa kesal. Namun tubuhnya terpental seperti menabrak perisai lembut ketika akan melewati tembok istana.



Ia mengerutkan alisnya tidak suka. Lalu mencoba bergeser sejauh 10 langkah dan melompat lagi.


" Twuuum....... ! "


" Sialan..... ! "


Pasti ibunya memasang perisai sehubungan dengan hukumannya tadi siang. Axel menoleh ke arah gerbang istana. Ia mencoba menempel prajurit yang masuk lewat gerbang.


" Twuuum....... ! "


Ia " hanya " membawa beberapa keping emas di sakunya. Kebetulan ia satu penginapan dengan Rey, namun ia tidak tahu. Ia membaringkan tubuhnya yang sedikit lelah. Tadi siang ia menggunakan banyak kekuatan untuk melampiaskan kemarahannya, membakar bukit.


Matanya menatap langit-langit kamar penginapan. Pikirannya kemana-mana. Mengingat pertarungannya dengan Darkie, ia banyak keracunan. Dada Axel kembali dongkol. Ia duduk, antara ingin pergi mencari Darkie atau tidur saja.


Axel kembali berbaring. Alisnya dan mulutnya sama-sama berkerut seperti jeruk purut. Hatinya mulai diselimuti dendam. Nafasnya memburu.


" Hhhhhh........ ! "


Axel bangkit dan membuka jendelanya.


" Aaaaaah.......... ! " Axel terjengkang saking terkejutnya. Tampak wajah mengerikan iblis setengah kabut.


" Ha...ha...ha...ha...ha...ha...ha................ " perlahan kabut hitam itu menghilang. Itu adalah Darkie. Ia sengaja mengejek Axel.

__ADS_1


" Tok...tok...tok........... Tuaaan....... ? buka pintunya ! apakah anda baik-baik saja ? Tuaaan ? " petugas penginapan memanggilnya. Ia tadi mendengar teriakan Axel sehingga khawatir terjadi sesuatu.


" Ya.... ! Aku baik-baik saja. Pergilah.... ! "


Axel malas membuka pintu. Sudah pasti petugas penginapan akan banyak tanya dan ingin tahu. Ia tidak takut dengan iblis atau penyihir hitam. Ia hanya terkejut saja karena tak menyangka akan melihatnya saat membuka jendela. Dengan kesal Axel menutup jendela dengan keras. Hilang sudah keinginannya untuk pergi.


Sementara Darkie merasa gembira berhasil mengejek Axel. Ia sudah hampir melesat ketika samar-samar mencium bau harum seseorang yang dikenalnya. Gadis itu........... ia menginap disini ?


Darkie melayang mendekati salah satu jendela kamar. Tapi ia tidak dapat masuk ataupun mengintip ke dalam. Lagipula bau tadi hanya sekilas, mungkin karena terbawa angin ?


Darkie menunggu hingga 30 hitungan. Namun karena tak ada lagi tanda-tanda gadis itu, iapun berlalu. Menuju bukit tempat biasa ia bersembunyi.


Sedang Rey mengangguk pada Zigaz agar keluar dari kamar penginapannya. Hidung Darkie tidak salah. Sebenarnya tadi Rey baru saja keluar dari dimensi ruangnya. Kehadirannya memancing kedatangan penyihir hitam. Itu sebabnya Rey langsung menahan Zigaz dan menghapus jejak aura mereka berdua.


Mereka diam tak bersuara saja saat Darkie mendekati kamarnya. Rey sudah melapisi kamarnya dengan perisai penghalang mata sejak pertama menginap. Jadi ia yakin penyihir diluar tidak dapat melihat ke dalam. Rey hanya memberi isyarat mata pada Zigaz.


Pada akhirnya penyihir itu pergi setelah 30 hitungan. Barulah Rey mengangguk pada Zigaz. Zigaz segera kembali ke kamarnya. Rey baru saja duduk di kursi ketika perutnya bernyanyi.


" Ah....... " Rey membelai perutnya.


( " Zigaaaz......... perutku lapaaaar........ " ) kata Rey lewat telepati.


( " Aku akan keluar membelinya, Nona ingin makan apa ? " ) tanya Zigaz.


( " Apa saja, juga kue kecil. Minumnya coklat hangat ya..... " )


( " Baik, tunggulah di kamar. Jangan keluar " ) pesan Zigaz.


( " Jangan lupa hilangkan jejak aura " )


( " Tentu...... " )


Zigaz segera keluar. Ia keluar sebagai kakek-kakek karena malas mencari perkara dengan gadis-gadis.

__ADS_1


Kebetulan Axel juga sedang makan malam di restoran Trezzy. Ia masih dalam keadaaan menyamar karena tidak ingin dikenali siapapun. Zigaz bertemu Axel di restoran Trezzy. Namun karena sama-sama tak mengenali, mereka tak bertegur sapa.


Ketika Zigaz sudah keluar, barulah Axel menyadari bahwa orang tua itu adalah salah satu penyihir dari Cronos yang pernah melayang di atas istana.


__ADS_2