
" Ya sudah..... Pergi sana, hush..... ! " nenek Wilma mengusir dua gadis itu.
Dua gadis itu saling pandang lalu pergi. Nenek Wilma mengambil nafas lega. Ia pergi ke perapian, menyalakan api kecil, memilah-milah tanaman obat untuk gatal.
Rey dan Asgar duduk bersandar di pinggir gubuk. Mereka memejamkan mata namun sesekali berkomunikasi lewat telepati. Dua gadis tadi masih mengamati dari jauh.
( " Nona, apa yang akan kita lakukan ? " ) tanya Asgar.
( " Bersantai, kita amati dahulu sifat dan tingkah laku mereka. Dua gadis itu kekuatannya setara denganmu, sedang wanita patung itu lebih tinggi sedikit dari Zigaz. Tapi kemungkinan mereka masing-masing bekerjasama dengan iblis " ) jawab Rey.
( " Uuuh...... itu seram dan menantang " ) Asgar mengerucutkan bibirnya.
( " Jika seluruh warga desa ini penganut ritual gelap, aku terpaksa akan memusnahkannya " ) kata Rey.
Asgar mengangguk-angguk. Rey menoleh ke arah Zigaz.
( " Zigaz..... Kau sedang membuat apa ? " ) tanya Rey.
( " Aku tidak tahu yang di kuali itu ramuan apa sebelumnya. Tolong Nona tanyakan pada nenek Wilma " )
( " Tidak mungkin..... nenek Wilma bukan penyihir, tidak bisa telepati " ) jawab Rey.
( " Oh...... apakah aku harus membuangnya ? " ) tanya Zigaz ragu.
( " Coba ambilkan secawan, aku ingin tahu apa itu " ) pinta Rey.
Zigaz menuangkan sedikit ramuan pada cawan kecil dan memberikannya pada Rey. Ia juga memberikan cawan tapi kosong pada Asgar. Asgar berpura-pura meminumnya dan menampakkan reaksi seolah rasanya amat pahit. Dua gadis penyihir itu masih mengamati mereka. Mereka mengira nenek Wilma sedang mengobati kedua orang itu.
Rey mencelupkan jarinya dalam cawan lalu mengamati jarinya. Ada kilau keunguan ketika ia mengusapkan ke telapak tangannya. Rey menatap Zigaz penuh arti. Lalu Rey membekukan ramuan itu sebelum berpura-pura meminumnya. Ia menunjukkan reaksi yang sama seperti Asgar. Kemudian mengembalikan cawan-cawan itu pada Zigaz.
( " Matikan apinya. Tempatkan dalam botol kaca dan berikan pada siapapun yang mengeluh sakit " ) perintah Rey.
Zigaz menerima cawan-cawan itu dan membawanya ke meja dekat perapian.
( " Ramuan apa itu Nona ? " ) tanya Asgar dan Zigaz berbarengan.
( " Itu ramuan penghilang rasa sakit yang dicampur dengan ramuan halusinasi dan perusak tenggorokan. Nenek Wilma sengaja mengobati sambil meracun " ) jelas Rey.
( " Hebat. Sepertinya nenek Wilma tidak suka mendengar mereka berteriak-teriak padanya " ) Zigaz tak sengaja menyeringai.
__ADS_1
( " Kemungkinan ketua itu minum berlebihan sehingga suaranya amat jelek.... " ) kata Asgar mengejek.
( " He...he...he... nyatanya ia sudah banyak melamun seperti patung " ) sahut Rey.
( " Bagaimana jika kita tambahkan ramuan lain ? " ) tanya Zigaz.
( " Ya, Nona. Tambahkan saja tanaman penidur " ) usul Asgar.
( " Usul yang bagus, tapi sedikit saja agar tidak langsung ketahuan " ) jawab Rey.
Waktu terus berlalu. Sebentar lagi langit gelap. Nenek Wilma menyalakan obor. Orang-orang yang lewat melirik sekilas. Rey hanya melirik malas. Ia bersandar pada tiang depan gubuk nenek Wilma. Asgar pun meringkuk di sampingnya seperti layaknya orang sakit yang kedinginan.
Dua gadis itu pergi ke arah patung wanita tadi. Entah apa yang mereka bicarakan, mereka bertiga pergi masuk ke sebuah gubuk besar. Namun tak lama banyak warga berkumpul di halaman depan gubuk besar.
Beberapa pria membawa alat musik pukul dan seruling. Mereka membunyikan pelan-pelan sambil bergumam. Gadis yang berpipi lukisan keluar.
" Dengar.... ! Tidak ada ritual minum darah kali ini. Mereka kena penyakit kotor, kulit busuk ! "
" ........... !!! " serentak mereka semua menoleh ke arah gubuk nenek Wilma. Lalu banyak suara-suara kecewa atau jijik.
" Wilma akan mengobati mereka sampai sembuh. Jangan ada yang mendekat atau menyentuhnya "
" Ya, bagaimana juga kami berani minta obat ke sana jika kami sakit ? "
Cretta memandang ke arah Rey dan Asgar. Ia sedang berpikir akan memindahkan mereka ke mana ?
" Jangan dekat gubukku, aku tak sudi ketularan ! "
Cretta mendengus saat menatap orang itu. Ia masuk ke gubuk ketua. Tak lama Cretta keluar bersama gadis satunya.
" Kalian pulanglah...... ! Biar kami yang urus mereka "
Terdengar banyak gumaman dan dengusan kesal. Mereka segera masuk ke gubuk masing-masing.
" Tiffa.... bagaimana ? " tanya Cretta pada gadis satunya.
" Suruh taruh di belakang gubuk Wilma saja " jawab Tiffa. Ia tahu halaman belakang gubuk Wilma terkurung pagar, karena ada beberapa tanaman sayur yang biasa dimakan Wilma. Wilma tak makan daging atau minum darah. Ia bukan keturunan penyihir campuran seperti mereka.
Mereka berdua menuju gubuk Wilma.
__ADS_1
" Wilma...... ! Bawa mereka ke halaman belakangmu. Ikat di sana saja "
" Hiissss....... " Wilma mencibir sebal. Ia segera bangkit dan mengajak Rey dan Asgar mengikutinya ke belakang gubuk.
Setelah nenek Wilma menutup pintu belakang, Cretta dan Tiffa kembali ke gubuk besar milik ketua. Nenek Wilma memasukkan tanaman penidur dan menunggu hingga ramuan itu mendidih lalu mematikan apinya.
Kemudian ia berbaring di tempat tidur kayu. Di halaman belakang Rey membuat kubah pelindung angin agar tidak terkena angin malam. Rey dan Asgar memakan apel dari ruang dimensi untuk makan malam mereka.
Rey hampir saja tersedak ketika tiba-tiba satu sosok iblis muncul di pojok halaman. Asgar menatap waspada. Rey segera membaca mantra dan melapisi kubah dengan sedikit petir, ia tak berani membunuh secara langsung karena khawatir akan membuat keributan.
Iblis itu mendekat dan mengulurkan tangannya ke depan.
" Zzzzt...... ! "
Seketika ia melompat mundur dan melotot. Rey dan Asgar diam mengamati. Iblis itu pun pergi.
" Fuuuhhh.......... ! " Asgar menghembuskan nafasnya. Rey kembali meneruskan makan apel.
Menjelang tengah malam datang dua ekor kelelawar besar hinggap di pohon sebelah luar pagar. Kelelawar itu terlihat agresif.
Asgar menatap tanpa rasa. Rey diam-diam menebarkan bau asam dan busuk ke udara di sekitar kelelawar itu. Salah satu kelelawar mendesis terbang pergi. Kelelawar satunya segera mengikuti.
( " Apakah mereka dua gadis tadi, Nona ? " ) tanya Asgar agak ragu.
( " Ya.... mereka hanya memastikan kita tidak kabur " )
( " Hmmm....... " )
Rey menatap ke atas. Malam ini bulan agak terang.
( " Asgar...... duduklah miring bersandar seperti mengantuk. Jangan tegang. Hadapkan punggungmu padaku, aku akan memberimu sedikit kekuatan cahaya suci. Semoga itu bisa membantumu lebih kuat saat bertarung nanti " ) Asgar patuh.
Rey menadahkan tangan kanannya ( menghadap bulan ) di atas paha dan tangan kirinya menempel ke punggung Asgar. Samar terlihat berkas cahaya bulan terserap ke telapak tangan Rey. Ia membaca mantra dan mulai menyalurkan kekuatannya.
Asgar merasa ada rasa hangat mengalir cepat merasuki punggungnya.
( " Uuh.... " ) ia merasa segar, bersemangat dan seperti ingin terbang ke atas. Ia harus berkali-kali menarik nafas panjang untuk meredakan rasa itu. Aliran kekuatan itu terus mengalir dan berputar-putar ke seluruh bagian tubuhnya, dari tangan, kepala hingga kaki. Tak sadar kepala dan jari-jari tangannya bergerak-gerak kecil.
__ADS_1