
" Mungkin ayah diserang kelelawar Bu, seperti nona Mirza kemarin.... " sahut putranya yang berumur 7 tahun.
" Praaaanngg........ !! " wanita itu terpaku. Hatinya terasa hilang mendengar ucapan anaknya. Segera ia berlari lewat pintu belakang menyusul suaminya ke kebun. Dilihatnya ada seseorang tergeletak di jalan setapak.
" Tidak, Xenjoooo.......... ! "
Wanita itu menubruk laki-laki yang tergeletak di tanah. Ia menangis mengguncangkan bahu Xenjo.
" Xenjoo....... Xenjoooo....... ! buka matamu Xenjo, jangan mati..... jangan tinggalkan aku...... Xenjooooooo............. "
Teriakan dan tangisan istri Xenjo terdengar beberapa orang. Mereka datang melihat apa yang terjadi.
" Astaga..... Xenjo diserang "
" Apa ? apa dia mati ? "
" Tidak tahu, mari kita bawa ke rumah "
Mereka menggotong Xenjo ke dalam rumahnya. Istri Xenjo terus menangis dan meraung. Seseorang pergi ke rumah Quidro untuk memberitahu.
" Quidro..... Xenjo diserang. Aku tidak tahu ia masih hidup atau sudah mati "
" Apa.....?! ayo kesana. Sarah.... jaga Mirza, jangan pergi kemanapun ! "
Quidro berlari menuju rumah Xenjo.
Disana sudah banyak orang berkerumun. Quidro masuk dan melihat keadaan Xenjo. Dilihatnya kulitnya sudah mengeriput tanpa darah. Dilehernya ada bekas darah dan berlubang. Mata Xenjo sudah tertutup rapat. Tubuhnya juga dingin. Quidro mencoba memeriksa nadi dipergelangan tangan Xenjo, tapi bagaimana mungkin ada denyutan jika darahnya saja sudah habis ? Quidro menghela nafas dan menggelengkan kepala.
" Tidak..... Tidaaaaaak......... !! tolong dia, tolonglah....... Bukankah Mirza bisa selamat meski digigit iblis itu. Xenjo juga pasti selamat " istri Xenjo berteriak.
" Mirza tidak sampai habis darahnya saat diserang. Ia juga masih sadar saat ditolong oleh tabib " kata Quidro.
Istri Xenjo terduduk lemas. Ia memeluk Xenjo. dan mulai menangis. Putranya yang masih kecil segera ditangani keluarganya yang lain. Para warga mulai datang berkabung di rumah Xenjo.
* * * * *
Dalam ruang dimensi, Rey sudah bangun dan duduk menatap danau jiwa. Ia berpikir apakah harus melawan Terra sendirian atau bersama Asgar dan Zigaz ?
" Nona.... jangan pernah berpikir untuk meninggalkan kami disini dan melawan Terra sendirian. Jika sesuatu terjadi pada Nona, lalu untuk apa kami hidup ? " terdengar lembut suara Asgar dari belakang.
Rey memutar badannya. Ia tersenyum aneh ( antara sedih dan senang ) menatap Asgar dan Zigaz.
" Bagaimana kau tahu aku berniat begitu " tanya Rey.
" Nona terlihat agak linglung. Pasti memikirkan hal itu "
" Aku hanya tidak ingin terjadi hal buruk pada kalian. Terra terlalu licik meskipun sedang lemah " Rey menunduk sedih.
__ADS_1
Zigaz mendekat padanya.
" Berikan darahmu untukku, Nona. Saya adalah binatang penjaga Nona. Setidaknya jiwaku akan menjadi penolong saat Terra melakukan sesuatu pada jiwa Nona "
" Justru itulah yang tidak ingin aku lakukan padamu Zigaz. Kau berhak atas hidupmu sendiri "
" Ku mohon Nona. Kami adalah serigala CRONOS. Takdir kami adalah mengabdi pada seluruh keturunan Kerajaan CRONOS, apapun keadaan dan resikonya " Zigaz berlutut di hadapan Rey.
Rey menatapnya sendu. Ikatan pengabdian adalah ikatan yang mengharuskan kematian bersama. Jika pemilik hewan mati, hewan penjaga itu juga akan mati. Rey tidak ingin begitu.
Rey menghela nafas. Dipejamkannya matanya sebentar sambil mengucap mantra, lalu digigitnya sedikit ujung kelingking kanan. Dan diteteskannya darahnya pada kening serigala CRONOS.
Seketika darah di kening Zigaz bercahaya. Lalu cahaya itu membesar melingkupi tubuh Zigaz seluruhnya. Tubuhnya berubah lebih besar. Zigaz menggeliat dan menggeram keras.
" Grrraaaaoooohhh........... " Tampak kobaran cahaya menyembur keluar dari mulutnya.
Asgar jumpalitan menghindar dan menggerutu.
" Yoo..... ! Hati-hati dengan mulutmu, Kakek Tua... "
" He..he..he..he.... Aku hanya ingin menghangatkanmu sedikit "
Rey tertawa. Ia mengeluarkan sisa daging rusa panggang kemarin. Mereka duduk sarapan bersama sambil membahas tentang Terra.
" Terra ini licik dan tidak terduga. Kalian harus menyamakan pikiran dengannya agar terhindar dari celaka. Dan ingat..... ia pandai menguasai pikiran dan jiwa. Jangan berpikir tentang keluarga atau siapapun yang berarti bagi hatimu jika ingin selamat. Juga jangan pikirkan aku. Pikirkan saja dia "
" Terra laaaaahhh...... " Rey mencibir.
" Jiiiiiihhh........ tak sudi...! " Asgar dan Zigaz berekspresi seperti mau muntah.
" He..he..he..he..... Hanya itu caranya agar dia terjebak dirinya sendiri. apa kalian punya cara lain ? " kata Rey santai.
Asgar dan Zigaz berpandangan lagi. Kali ini mereka diam memikirkan usul Rey.
Rey bangkit mengacungkan jarinya ke danau jiwa. Dua gumpal air tertuju ke arah Asgar dan Zigaz.
" Buka mulut kalian " perintah Rey.
Asgar dan Zigaz menelan air itu. Rasanya sejuk.
Ia juga memberikan masing-masing tali dan lonceng bergagang.
" Gunakan ini jika diperlukan " pesan Rey.
" Apakah kita akan melawannya hari ini ? " tanya mereka berdua.
" Tapi aku tidak punya rencana apapun " kata Rey.
__ADS_1
" Kita akan pikirkan itu nanti. Bukankah Nona bilang kita harus menyamakan pikiran dengannya. Itu berarti tujuan kita adalah jiwa atau pikiran Terra " kata Asgar.
" Ya...... kau benar " Rey dan Zigaz menyeringai membayangkannya. Lalu mereka bertiga terkekeh bersama.
" Baiklah.... mari keluar "
Rey, Asgar dan Zigaz muncul diposisi berbeda. Ini karena pikiran mereka saat akan keluar dari ruang dimensi sudah tahu ingin dimana. Asgar duduk di salah satu tiang yang roboh. Zigaz berbaring santai di rerumputan. Sementara Rey sendiri berubah menjadi seorang laki-laki yang tampan.
Asgar dan Zigaz terkejut melihat seorang laki-laki berjubah putih di depan altar. Mereka menoleh ke kanan-kiri mencari Rey. Ketika pria itu mengangguk, mengertilah mereka bahwa itu Rey yang sedang menyamar. Rey membaca mantra halusinasi dan meniupkannya ke udara.
Lalu ia mengetuk altar yang bau amis itu 3 kali, kemudian mundur 5 langkah. Tak lama terdengar pergeseran altar. Sosok penyihir berjubah hitam muncul dari tangga. Namun Terra berhenti di tangga kedua. Ia terpaku menatap laki-laki di depannya.
" James.... ? "
James menatapnya sendu.
" Terra.... ? Mengapa darahmu ada di altar ? Apa yang kau lakukan ? "
" Tidak..... aku.... aku terluka " jawab Terra gugup.
James maju selangkah.
" Jangan.... ! Jangan mendekat. Tetaplah disitu... " Terra tidak ingin James melihat wajahnya. Saat ini ia dalam kondisi yang tidak sempurna.
" Tapi kau terluka..... "
" Tidak apa, sudah kuatasi. Bagaimana dengannya. Apakah dia baik-baik saja "
" Dia sudah lama pergi "
" Tentu saja, hanya darahku yang bisa menetralkan racunnya. Seharusnya dari dulu kau datang padaku "
" Jadi benar kau yang meracuninya ? Mengapa ? "
" Karena aku mencintaimu James. Dan ia merebutmu dariku ! "
Hening cukup lama.
James mengulurkan tangannya.
" Kemarilah...... "
Terra menatap penuh rindu. Ia menggigit bibirnya dan menggeleng.
" Ada apa denganmu, kau tak menginginkanku ? " tanya James. Raut wajahnya kecewa.
" Tidak.... bukan.... maksudku... aku..... " Terra menunduk, tak tahu harus bagaimana. Ia tidak bisa datang kepada James dalam keadaan begini. wajahnya rusak. Kulitnya keriput.... Ia harus cepat-cepat mendapatkan darah gadis muda.
__ADS_1