
Roy berubah jadi tupai dan Asgar menjadi burung hantu. Asgar segera terbang dan hinggap di dahan pohon besar. Sementara Rey berlari dan melompat dari cabang-cabang panjang pepohonan. Ini mereka lakukan agar tampak seperti hewan biasa. Mereka berada di pohon yang berbeda.
" Aaargghh....... ! Kau penyihir biadab. Aku akan membalasmu nanti "
" Ha..ha..ha..ha.... Si Besar Mulut ! Kamu hanyalah penyihir rendahan. Sekarang saja kau sudah sekarat, masih membual ! "
Penyihir itu menatap Odex. Ia melirik iblis rendahan yang berdiri di dekat pohon. Ia tahu iblis itu mengincar tubuh dan darahnya. Akhirnya ia mengambil nafas panjang dan menutup mata ( berpura-pura mati ). Kepalanya menunduk.
Namun iblis itu masih berdiri diam di samping pohon (Odex tak merasakannya karena fokus menyiksa) . Ia tahu penyihir yang disiksa Odex belum mati.
Odex mendengus dan mencibir.
" Huh....... hanya sebegitu saja ? "
Odex tak puas. Ia menunjuk sebuah batu besar dan mengarahkannya ke kepala penyihir itu.
" Tidaaakk........ ! " penyihir yang disiksa itu berteriak walau tak bisa menghindarinya.
" Duukkk..... ! "
Kepala penyihir itu seketika retak. Darah segera merembes mengalir ke wajahnya. Lehernya terkulai ke samping dengan mata melotot. Kali ini ia benar-benar tak berdaya.
Iblis itu segera melesat masuk lewat retakan di kepalanya. Darah langsung berhenti karena terhisap untuk kekuatan iblis. Namun karena otak penyihir itu masih bisa berpikir, iblis tidak bisa sepenuhnya menguasainya. Jadilah penyihir itu setengah iblis.
Dengan menggabungkan tubuh manusia dan kekuatan iblis ditambah dendam, penyihir itu tampak menakutkan. Hawa kemarahannya membuat Odex melangkah mundur perlahan.
" Sialan...... ! "
Odex tahu ia tak akan bisa lari begitu saja. Ia mempersiapkan tenaganya untuk bertarung. Ia membuat bola asap besar mengelilingi tubuhnya.
Penyihir itu menerjang maju, namun tak menemukan Odex disana. Malahan terkurung bola asap sehingga tak bisa melihat keluar .
Odex mengirimkan puluhan pisau angin menembus bola asap. Namun penyihir di dalam mengaktifkan mata iblis ( karena tubuhnya sudah bergabung dengan iblis ) sehingga mengetahui datangnya serangan pisau. Ia mengeluarkan tenaga menghempaskan semua pisau angin itu.
__ADS_1
Dua diantaranya menembus lengan jubah Odex dan satunya menancap di batang pohon tempat Asgar bertengger. Odex yang sedang terkejut melihat lengan bajunya tiba-tiba ditabrak penyihir itu.
" Aaah....... Aaah....... Aaaaah........... ! "
Penyihir itu berkali-kali menusukkan cakarnya yang beracun ke dada dan bahu Odex. Odex memhempaskannya sekuat tenaga. Penyihir itu terpental menabrak pohon tempat Rey berada.
" Braakk..... ! "
" Cerit cit cit cit ..... "
Rey menggerutu sambil memeluk erat cabang dimana ia berada agar tidak terjatuh. Burung hantu ( Asgar ) di seberang tertawa.
" Bu..hu..huuuw.......... "
" Grrrr........ " Penyihir itu bangkit berdiri dan kembali menerjang Odex.
Odex menghindar. Terlihat salah satu telapak tangannya bercahaya dan ditempelkan ke dadanya. Penyihir itu terus mengejar dan berhasil mencakar punggung Odex.
" Bettt.... ! "
" Pluk...... "
" Aaah, tanganku.... ! penyihir itu melotot melihat tangannya terputus. Ia menyerang dengan tangan satunya secara ngawur. Kemarahannya tak seimbang dengan tangannya.
Odex menghujaninya dengan batu-batu seukuran kepalan tangan. Ia tak melihat bahaya dibelakangnya. Potongan tangan penyihir itu digerakkan oleh iblis menerkam punggungnya, lebih tepatnya mencengkeram di tulang tengah punggung.
" Aaaah , iblis keparat ! "
Odex kesulitan melepaskan tangan iblis itu. Perhatiannya jadi terpecah antara mencabut tangan dan menahan serangan penyihir. Penyihir itu dengan kejam merobek perut Odex.
" Aaaarrrgh..... ! "
__ADS_1
darah segera mengalir dari lukanya. Odex menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak bisa meneruskan pertarungan ini. Ia harus mengobati lukanya lebih dulu.
Rey melihat gelagat Odex yang akan melarikan diri. Ia hanya menyeringai kecil.
" Braakk..... ! "
Odex mundur terhuyung-huyung setelah menabrak sesuatu yang tak terlihat. Penyihir setengah iblis itu juga mengerutkan alisnya melihat itu.
" Bu..hu..hu...huuuw.......... " Asgar tertawa menyadari apa yang terjadi. Ia bisa menduga pasti Nonanya telah membangun kubah perisai diam-diam.
Ya.... Rey memang membangun kubah itu diam-diam setelah serangan pisau angin Odex dihempaskan penyihir itu. Ia memadatkan angin secara perlahan agar tidak menghabiskan energinya. Lagipula mereka sedang fokus bertarung sehingga tidak menyadarinya.
Ia melompat ke cabang pohon di sebelahnya setelah penyihir itu menabrak pohonnya. Kubah yang ia bangun kira-kira berdiameter 25 langkah ( 1 langkah \= 0,5 meter ). Jadi Rey dan Asgar berada hanya 2 langkah diluar kubah perisai.
Kubah itu hanya bertahan satu putaran jam pasir saja jika dibiarkan. Itu berarti dia harus terus membantu mengontrol kepadatan lapisan kubah perisai selama pertarungan jika masih dibutuhkan. Rey sengaja melakukan itu hanya sebagai hiburan. Setidaknya ia jadi mengetahui cara bertarung Odex ( serangan, elemen dan lain-lain ).
" Sialan....... ! Penyihir rendahan ini ternyata menyembunyikan kekuatannya ? " Odex mengira penyihir itulah yang membuat kubah perisai. Ia meraba dinding perisai untuk menilai seberapa tebal. Tapi segera menghindar ke kanan saat merasa ada serangan datang.
" Blaaarr.... ! "
Hempasan batu-batu kecil dan pasir itu berasal dari sepakan kaki si penyihir setengah iblis. Ya, ia semakin ingin membunuh Odex. Adanya dinding perisai itu membuat ia bersemangat lagi untuk membantai Odex.
Sekalipun tangannya sudah terpotong, namun ternyata potongan tangannya bisa dipergunakan iblis untuk menyerang punggung Odex. Jadi ia menggunakan kakinya juga untuk bertarung habis-habisan. Sebab nyawanya hanya bergantung pada kekuatan iblis di dalam tubuhnya. ( Akhirnya ia terpaksa menerima kerjasama dengan si iblis. Itu berarti ia harus memperpanjang hidupnya dengan menghisap darah mausia atau binatang )
Bau darah busuk yang berasal dari luka-luka Odex menyebar dalam kubah perisai. Odex tak bisa konsentrasi memulihkan lukanya karena harus menghindari serangan penyihir itu. Cincin penyembuh ditangannya butuh waktu untuk menyembuhkan semua lukanya. Apalagi sekarang ia terkurung dalam kubah perisai. Membuat ia tak bisa melakukan teleportasi. Terpaksa ia harus melawan dengan segenap kekuatan yang ada.
Ia menatap penyihir itu sambil berpikir. Tiba-tiba ia ingat bahwa iblis tak bisa melawan api. Ia adalah penyihir dari Cronos. Tentu punya elemen api walau tak sehebat yang lain.
Ia melirik ke kiri dan ke kanan mencari sumber api sambil terus menghindari serangan penyihir itu. Saat melompat ke atas, Odex tak sengaja menyentuh dinding perisai yang terasa panas karena sinar matahari.
Odex mendarat sambil tersenyum. Benar.... iblis itu kuat karena ia bersembunyi dalam tubuh si penyihir. Iblis tak mungkin berlama-lama dibawah sinar matahari jika tidak ingin terbakar musnah.
__ADS_1
Odex terus menghindari serangan penyihir itu. Ia mengucap mantra sambil mengusap cincinnya. Lalu mengulurkan kepalan tangannya ke atas menghadap matahari. Cincin itu segera menyerap sinar matahari sebanyak-banyaknya. Mata cincin itu berubah jingga terang.