
Rey keluar mencari Asgar. Ternyata ia berada di halaman depan penginapan.
" Woaaah Asgar ........ kau terlihat gagah sekali " ujar Rey sambil berjalan memutari Asgar. Asgar tersenyum kecil dan bergaya sedikit.
Orang-orang yang berada di teras mendekat. Mereka mengamati kep Asgar ( cape : jubah setengah panjang, hanya sebatas punggung / dada ) .
" Lapisan ini terbuat dari perak ? " tanya seseorang sambil membelai hiasan bagian bahu Asgar.
" Hei .... dimana kau kau membelinya, beritahu padaku " tanya yang lainnya. Asgar gelapapan. Ia tak tahu harus bagaimana menjelaskannya.
" Aku yang memesannya pada penjahit. Ia bekerjasama dengan pengrajin perak " ujar Rey agak keras agar mereka bisa mendengarnya.
" Siapa penjahit itu, dimana tempatnya " tanya mereka.
" Emm.... aku tidak tahu namanya, tapi ada banyak sekali penjahit di kota ini. Soal penjahit itu terserah kalian yang mana yang cocok dan bisa bekerjasama dengan pengrajin peraknya. Karena pembuatannya agak lama " Rey menjelaskan.
Segera terdengar gumaman dari antara mereka. Akhirnya mereka pergi satu-satu mencari penjahit yang sesuai pilihan. Asgar dan Rey bernafas lega.
Lalu Rey dan Asgar berjalan bersama masuk ke restoran besar. Pada saat itu di restoran ada segerombolan orang-orang asing. Sebenarnya mereka adalah perampok dari kerajaan lain. Ada berapa orang yang berbadan lebih besar dari Asgar dan membawa senjata di punggung atau di pinggang. Mereka bertanya tentang keadaan istana. Mereka berniat menguasai istana. Para pelayan berusaha mencegahnya dengan menceritakan tentang penguasa kegelapan dan Gadis Takdir. Namun mereka tertawa karena tak percaya tentang itu semua.
Asgar dan Rey hanya melirik tak perduli. Sambil makan, Rey menceritakan tentang pertarungan dua penyihir yang mengerikan. Asgar terkejut mendengar tindakan akhir para penyihir itu. Ia ingin melihat bekas tempat pertarungan mereka. Setelah makan, Rey dan Asgar bangkit hendak pergi. Namun salah satu dari mereka datang menghadang. Ia mengacungkan pedang pada Asgar.
" Tinggalkan dia disini, pemimpin kami menginginkannya " katanya sambil menunjukkan dagunya ke arah Rey. Rey tersenyum, ia memukul pelan pedang itu dengan kipas peraknya. Seketika pedang itu terlepas dari tangan orang itu.
" Klontang ....! "
Semua pengunjung restoran menoleh ingin tahu. Sementara orang itu memegangi tangannya yang terasa seperti tersengat. Ia terbelalak pada Rey.
" Jangan bermain senjata di dalam restoran. Jika ada kerusakan, siapa yang akan menggantinya ? " tanya Rey lembut.
Asgar segera mendorong orang itu ke tepi agar Rey bisa lewat. Semua yang melihat itu tercengang. Beberapa dari gerombolan itu berdiri dari tempat duduknya. Mereka melihat kejadian itu tapi tak percaya. Sementara Rey dan Asgar sudah berlalu.
" Bruukkk....! "
__ADS_1
Orang yang tadi menghadang Asgar jatuh pingsan dengan tangan membiru. Yang lain segera memeriksanya, masih hidup.
" Greg, bangun Greg..... apa yang terjadi padamu ? " tanyanya sambil berusaha mendudukkan Greg. Pelayan-pelayan berdiri menepi. Mereka berbisik-bisik.
" Aaah....... aku tersengat. Gadis itu yang melakukannya " jawabnya lemah.
" Apa .....?! maksudmu.... ia punya elemen petir ? " tanya temannya tidak percaya. Greg mengangguk.
Beberapa pengunjung saling berbisik, membicarakan tentang Gadis Takdir. Tapi mereka hanya menduga-duga saja karena belum pernah melihat wajah Gadis Takdir yang sebenarnya. Ketua gerombolan yang mendengar itu segera berdiri dan mengejar keluar. Namun Rey dan Asgar sudah tak ada lagi. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan dengan bingung. Bagaimana mungkin mereka hilang secepat itu ? Anak buahnya keluar menyusul dia.
" Ada apa ketua ? " tanya mereka bersamaan.
" Bawa kemari seorang pelayan restoran ! " perintahnya. Cepat-cepat salah satu anak buahnya ke dalam dan keluar menarik seorang pelayan.
" T... tuan..... apa salah saya " ujar pelayan itu ketakutan.
" Katakan padaku siapa gadis tadi ? " tanya ketua gerombolan.
" S...saya tidak tahu, tuan " pelayan itu menunduk.
" B...bukan begitu.... kami hanya menduganya.... tapi tidak tahu wajahnya selama ini " ujarnya.
" Hhhhh........bodoh....! " ketua gerombolan sangat kesal.
" Ketua... bagaimana jika kita mencarinya di istana, siapa tahu dia di sana " kata seseorang.
" Benar ketua... Lagipula laki-laki yang bersamanya tadi seperti seorang prajurit. Mungkin saja dia adalah pengawalnya " kata yang lain lagi.
" Baik, siapkan kuda. Kita kesana sekarang " ujar ketua mantap.
Akhirnya gerombolan perampok itu bergerak menuju ke istana. Mereka sampai di pelataran istana. Kuda-kuda mereka ikatkan di tiang-tiang yang memang tadinya untuk kuda tamu istana. Namun mereka tak mendapati seorangpun prajurit penjaga. Mereka masuk dengan perasaan heran. Melewati pelataran yang luas barulah mereka melihat dua sosok berjubah hitam yang berdiri di pintu istana. Tangan mereka memegang senjata seperti sabit bergagang panjang.
Serentak gerombolan perampok itu memegang senjatanya masing-masing. Mereka mendekat dengan berani. Dua penyihir itu melayang turun ke pelataran mendekati mereka.
__ADS_1
" Mau apa kalian ? " tanya salah satu dari penyihir itu.
" Kami mencari Gadis Takdir " sahut ketua perampok.
" Apa ....? Ha..ha..ha..ha...... kalian siapa ? " tanya seorang penyihir.
" Kami ksatria dari kerajaan TREXODIA " jawab ketua dengan bangga. TREXODIA adalah salah satu kerajaan besar di benua barat. Kaisarnya seorang yang kejam dan ahli perang. Ia mengalahkan kerajaan-kerajaan kecil disekelilingnya. Gerombolan perampok ini sebenarnya lari dari negaranya.
" Ksatria dari kerajaan TREXODIA ? Ha..ha..ha..ha.... Apa kerajaan TREXODIA sebegitu bodohnya sampai kalian mencari mati disini ? " ejek penyihir itu.
" Kurang ajar ..... " ketua perampok menggeram marah.
Ia meminum araknya sebelum melompat ke arah salah satu penyihir sambil menebaskan pedangnya. Penyihir itu menghindar lalu menerjang dengan tangan terulur hendak mencengkeram leher ketua. Ketika sudah sangat dekat, tiba-tiba ketua perampok menyemburkan arak.
" Byurrr.....! "
" Czzzzz....... "
Seketika penyihir itu berubah menjadi asap hitam yang lama-kelamaan menghilang tertiup angin. Penyihir satunya tercengang.
" Bagaimana mungkin ? bukankah itu hanya air arak ? "
Ia begitu terpaku melihat apa yang menimpa temannya hingga tak memperhatikan salah satu perampok lain yang juga melakukan hal yang sama. Perampok lain itu mendekat diam-diam saat ketuanya mengejek musuh.
" Itu adalah air kematian.... yang akan mengantarkanmu ke neraka "
" Byurrr .....! " penyihir itu tak sempat menghindar saat perampok yang lain menyemprotkan air arak dari samping.
Ia berteriak tapi bahkan suaranya sudah hilang lenyap. Para perampok tertawa bersama. Mereka senang karena begitu mudahnya mengalahkan penyihir-penyihir itu. Ketua perampok memberi isyarat mengajak anak buahnya bergerak maju.
Mereka menaiki tangga masuk dan menendang pintu besar itu. Mendorong pintu beramai-ramai sambil tertawa. Namun kemudian mereka terdiam setelah pintu terbuka lebar. Mereka terkejut melihat keadaan di balik pintu
" Apa ini ? "
Keadaan ruang balairung kosong dan gelap. Di tepi ruangan ada beberapa tulang-tulang berserakan. Lantai banyak bekas darah yang sudah kering menghitam.
__ADS_1
Tiba-tiba angin keras menderu....