GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
106. Buah Basil


__ADS_3

Rey menatapnya agak lama sambil berpikir. Kemudian ia menggigit sedikit jari kelingkingnya sehingga keluar darah. Mulutnya menggumamkan mantra dan meneteskan darahnya di cermin. Cermin itu mengeluarkan cahaya sebentar. Lalu bagian pigura berubah menjadi bentuk peri penjaga sehingga tulisan mantra tak terlihat lagi. Rey memantrainya agar hanya yang berhati bersih yang bisa menggunakan sisi cermin pembakar.



Kemudian Rey kembali ke pembaringan. Ia duduk menatap cermin itu dan mengucapkan mantra pelihat. Pada awalnya Rey mengira mantranya salah karena terlihat gelap. Namun kemudian Rey menyadari bahwa saat ini sedang malam sehingga reruntuhan yang ingin dilihatnya terlihat remang-remang. Akhirnya Rey mengusap cermin itu. Diputuskannya untuk melihat esok pagi dan segera beristirahat.


Esok paginya Rey bangun dan segera mengambil cermin pelihat. Ia menggumamkan mantra dan menyebut reruntuhan kuno. Segera cermin menampakkan bayangan yang semakin jelas terlihat.


Tampak beberapa balok bangunan yang roboh berserakan. Di tengahnya ada altar persegi berukuran 3 x 7 kaki ( 1 kaki \= 30,5 cm ). Altar itu nampak retak melintang dengan ujung remuk bekas dipukul sesuatu. Ada celah dibawahnya. Rey menggumamkan mantra dan cermin memperlihatkan bagian dalam celah. Terlihat tangga menurun. Selebihnya gelap karena kurang cahaya.


Rey kembali meneliti bagian luar altar. Di atas Altar ada beberapa lekukan garis kecil panjang membentuk pola. Warnanya kehitaman. Di keempat pojok ada cekungan agak dalam, juga berwarna kehitaman. Rey menduga itu untuk menampung darah yang mengalir.


Dilihatnya bagian sisi altar, ada gambar bercampur tulisan kuno tentang ritual persembahan. Rey mengelilingi altar itu dan menemukan tonjolan batu di bawah altar sisi belakang. Rey menduga itu adalah jalan masuk tangga di dalam altar. Ia tidak dapat menekannya kecuali sudah di tempat.


Rey menyudahi penglihatannya. Ia mengusap cermin lalu menyimpannya di ruang cincin. Lalu segera membersihkan diri. Asgar belum bangun. Tapi Zigaz segera keluar dan menunggu di samping pintu kamar Rey ( Zigaz nggak perlu mandi karena ia aslinya serigala, pastilah menolak dengan seribu alasan menyedihkan. He..he..he... )


Rey mengajak Zigaz ke pasar. Ia membeli tali panjang dan 3 lonceng dengan pegangan. Lalu kembali ke penginapan. Setelah sarapan bersama ( penginapan menyediakan makan pagi ), mereka melanjutkan perjalanan ke desa TROWE.


Masuk ke desa ini Zigaz seketika menggeram halus ( padahal ia sedang berwujud kakek tua ). Rey dan Asgar meliriknya.


( " Kita akan mencari tahu tentang keadaan desa ini dulu " ) kata Rey dalam telepati.


Zigaz dan Asgar saling mengangguk.


Mereka melihat banyak orang berkerumun di salah satu rumah. Mereka segera ikut berbaur namun berpencar untuk mendengar keterangan warga .


" Apa yang terjadi ? "


" Anak Quidro sekarat, katanya dia diserang kelelawar saat menimba air "


" Kelelawar ? "


" Iya.... kelelawar itu menggigit lehernya dan mengisap darahnya begitu lama. Ia tidak bisa dilepas. Hingga akhirnya Quidro menusuk punggung kelelawar itu "


" Oh astaga...... "


" Bagaimana keadaannya sekarang ? "

__ADS_1


" Mengerikan, darahnya kering tapi jantungnya masih berdetak. Ia seperti mayat hidup "


" Istrinya di dalam mengunci pintu kamar anaknya. Ia tak rela jika Quidro akan membunuh anaknya untuk mengakhiri penderitaannya "


Mereka mendesah sedih.


" Ini adalah pilihan yang sulit. Siapa yang rela anaknya dibunuh. Tapi siapa juga yang tega membiarkannya sekarat. Keputusan Quidro ada benarnya "


Rey yang mendengar itu mencoba menyeruak maju. Asgar segera membantunya. Zigaz juga maju.


" Tolong panggilkan Tuan Quidro , aku ingin berbicara dengannya " kata Rey pada seseorang di pintu rumah itu. Orang itu menatap Rey sebentar lalu masuk ke dalam.


Tak lama Quidro keluar menemui Rey. Wajahnya amat sedih namun berusaha untuk tegar. Asgar dan Zigaz berdiri di belakang Rey.


" Anda siapa Nona ? "


" Aku tabib Rey. Aku kebetulan lewat dan mendengar pembicaraan orang-orang. Ijinkan aku melihat keadaan putrimu sebelum kau mengambil keputusan. Aku tak akan menghalangimu jika memang aku tidak bisa menolongnya " Rey memandang penuh harap.


Quidro memandangnya cukup lama sampai akhirnya ia mengangguk tanpa kata. Tangannya mempersilahkan Rey masuk.


Quidro mengetuk pintu kamar anaknya.


" Tidak..... ! aku tidak rela kau membunuhnya "


" Aku tidak akan membunuhnya. Ini ada tabib datang menolong. Bukalah........ "


" Kau bohong..... ! "


" Lihatlah sendiri..... Aku akan menjauh " kata Quidro sambil pergi ke depan.


Sarah yang mendengar langkahnya pergi membuka sedikit pintu untuk mengintip keluar. Ia melihat seorang gadis cantik berwajah lembut berdiri tersenyum. Agak ragu akhirnya Sarah membuka lebar pintu kamar anaknya. Ia kembali menutup pintu kamar anaknya, takut suaminya kembali lagi.


Rey memeriksa gadis itu. Denyut nadinya sudah lambat. Kulitnya mengeriput karena tidak banyak darah yang tersisa.


( " Zigaz, kemarilah " )


Zigaz mengetuk pintu. Sarah menatap pintu dengan tegang.

__ADS_1


" Jangan khawatir, ia orangku, tolong buka pintunya " kata Rey lembut.


Sarah membuka pintu dan menatap curiga pada Zigaz namun Zigaz tak perduli. Ia mendekati Rey.


" Apa yang bisa hamba lakukan, Nona... "


Rey melepas cincin ruangnya dan memberikannya pada Zigaz.


" Carilah buah basil (mistletoe) sebanyak mungkin kira-kira dalam 10 hitungan di semak-semak sekitar desa ini. Jangan sekali-kali masuk hutan "


" Baik Nona "


Zigaz membuka jendela dan melompat keluar. Ia berubah menjadi burung lalu terbang secepatnya. Sarah tercengang melihatnya.


" Siapa nama gadis ini ? "


" Eh.... Mirza, tabib "


" Tolong siapkan ember untuk mencuci buah, baskom, kain penyaring, gelas dan sendok "


Sarah segera ke dapur untuk menyiapkan yang diperlukan. Ia bertemu dengan suaminya di lorong. Quidro mundur agar istrinya percaya bahwa ia tak berbuat apapun yang tidak diinginkan. Sarah melewatinya dalam diam.



Ketika Sarah kembali ke kamar Mirza, Zigaz sudah ada di dalam. Zigaz mengeluarkan buah basil dan mencucinya di ember. Lalu meletakkan yang bersih di baskom. Rey membaca mantra lalu menyuruh Sarah *******-***** beberapa rumpun basil itu sampai keluar airnya. Kemudian Rey menuang airnya kedalam gelas dengan disaring kain.


( " Asgar, tolong suruh Quidro masuk " ) perintah Rey.


Ketika Sarah melihat Quidro masuk kamar, ia langsung berdiri bermaksud mengusirnya.


" Kau ...... ! "


" Tuan Quidro, tolong putrimu dibantu duduk " perintah Rey membuat Sarah menahan diri. Zigaz menegur Sarah agar membuang ampasnya dan meneruskan meremas basil lagi.


Quidro menata posisi Mirza untuk duduk. Ia terpaksa memeluk Sarah agar tidak terguling. Rey duduk disamping Mirza. Rey menyentuh mulut Mirza agar ada kekuatan.


" Mirza, bukalah mulutmu dan minumlah ini sampai habis. Ini akan menggantikan darahmu yang hilang "

__ADS_1


Mirza mengedipkan matanya tanda mengerti perintah Rey. Lalu ia membuka mulutnya. Rey menyuapinya sampai habis. Lalu Rey menyaring lagi air buah basil dan kembali menyuapi Mirza. Begitu terus sampai gelas kelima. Hasilnya Mirza mulai terlihat berseri, kulit yang tadinya mengeriput mulai mengembang .Sarah sangat senang karena anaknya tertolong.


__ADS_2