GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
153. Rencana Pembebasan


__ADS_3

Kemudian Rey duduk bersantai makan apel. Asgar juga makan apel sambil menonton Martin. Kedua alis Martin berkerut dalam. Ketika masuk hitungan ke 20, mulai tampak sedikit perubahan pada apel. Rey meliriknya karena tampak aneh, menggelembung disana atau berpindah di sisi lain. Itu berlangsung selama 5 hitungan.


Tiba-tiba Rey menelungkup diatas rumput. Tepat sesaat kemudian apel Martin meledak berhamburan mengenai Asgar dan Martin sendiri.


" Aiiihh.... ! "


" Oh.... ! "


" Ha..ha..ha..ha..... " Rey tertawa keras melihat mereka belepotan apel. Ia menjulurkan kedua tangannya pada mereka. Mereka berdua terangkat menuju danau.


" Pergi mandi, sana.... ! " teriak Rey meledeknya sebelum mereka tercebur.


" Byuurrr..... ! "


Asgar dan Martin malah senang, mereka bermain air dengan gembira. Saling menyiram. Mereka berdua tidak akan tenggelam karena Rey yang berkuasa atas danau jiwanya.


Rey merubah dirinya menjadi Roy dan keluar dari ruang dimensi. Ia ingin tahu keadaan di hutan Mazox. Yang ia ketahui terakhir, penyihir Odex bertarung dengan nenek tua itu.


Roy diam merasakan pergerakan udara disekelilingnya. Masih ada seseorang di tengah hutan bagian dalam. Namun Roy tidak tahu itu siapa. Auranya terasa gelap dan lemah.


Roy menekan aura sihirnya serendah mungkin. Ia berjalan cepat menuju seseorang itu. Tak lama Roy sampai di tempat ia berada. Ternyata dia adalah nenek yang membunuh si gadis kecil. Tampaknya ia kalah bertarung dengan penyihir Odex. Roy membuat dirinya tak terlihat.


Perlahan ia mendekati nenek tua itu. Ia tersenyum sinis menatap nenek tua itu sedang berusaha mengobati luka-lukanya. Duduk bersimpuh membalurkan tanaman obat. Roy melihat ada yang tak biasa dalam tubuh nenek itu. Roy teringat kematian gadis kecil yang kehilangan jantungnya. Ia diam-diam membungkusnya dengan bola kaca ( dari angin ). Lalu menambahkan dengan api sehingga lama-lama terasa panas.


Nenek tua itu menggedor-gedor bola kaca sambil berteriak. Namun ia tidak dapat melihat keluar karena bola kaca itu terbungkus sepenuhnya oleh api.


Roy masuk kembali ke dalam ruang dimensi. Ia mengamati nenek tua itu melalui cermin pelihat. Ternyata benar dugaannya. Dalam tubuh nenek itu terdapat iblis pemangsa. Ia akhirnya keluar dari kepala nenek tua itu. Nenek tua itu adalah seorang penyihir yang menginginkan kekuatan lebih. Jadi ia melakukan perjanjian dan membiarkan iblis itu masuk ke dalam Tubuhnya.


Roy menyimpan lagi cermin pelihatnya. Ia duduk berpikir. Asgar dan Martin mendekat.


" Apa yang sedang Dewi pikirkan ? " tanya Martin. Wajahnya begitu segar dan ceria. Roy agak ragu mengatakannya.


" Bagaimana kami harus memanggil Nona saat menjadi laki-laki ? "


" Hmmmm..... ? panggil saja namaku " jawab Roy santai.


" Itu tidak mungkiiiin........ " sahut Asgar dan Martin bersamaan.

__ADS_1


" Lalu.... apa kalian punya panggilan untukku ? " tanya Roy.


" Aku sering mendengar Zacko memanggil siapapun yang ia lupa namanya dengan panggilan " BRO " kata Asgar.


" Oh, itu artinya saudara laki-laki " jelas Roy.


" Baiklah, kami akan memanggilmu " BRO " jawab Asgar dan Martin.


" Ehm.... Martin..... Sebelumnya aku minta maaf jika ini tidak berkenan dihatimu. Aku ingin memohon bantuanmu membebaskan anak-anak yang ditawan penyihir Odex " kata Roy. Martin mengangguk mantap. " Aku akan lakukan yang terbaik untukmu Dewi, eh... Bro "


Asgar dan Roy tertawa. Tentu saja masih terdengar canggung saat pertama memanggil " BRO "


" Apa rencana Nona, eh.... " Asgar menutup mulutnya dengan tangannya. Sekarang ganti Martin yang mentertawakannya. Ternyata Asgar pun bisa salah...


Roy menatap kalung Asgar. Ia terinspirasi Dicabutnya beberapa helai rumput dan menjalinnya menjadi kalung dengan liontin. Lalu membaca mantra dan meniupkannya ke arah karyanya menjadi sebuah kalung indah. Martin ternganga takjub.



" Kalung ini akan menjadi sumber energi untukmu. Ia akan menyerap energi dari tanaman apapun di sekitarnya. Kamu juga bisa menyembuhkan atau berpindah tempat. Tapi itu tergantung pada kekuatanmu sendiri. Semakin besar kekuatanmu, maka semakin mudah menyembuhkan siapapun dan semakin jauh berpindah tempat " kata Roy sambil memakaikannya pada Martin.


Tiba-tiba Roy mencakar tangan Martin.


" Lihat..... " kata Roy menunjuk bekas cakaran yang mulai samar.


" Oooo...... " Martin melongo.


" Itu hanya luka kecil. Semakin besar luka, berarti butuh waktu agak lama untuk menyembuhkan " jelas Roy.


" Saya mengerti Dewi "


" Broooo....... " Asgar mengingatkan.


" Oh iya, Brooooo......... "


" He..he..he..he... "


" Jadi.... bagaimana rencananya ? " tanya Asgar.

__ADS_1


" Besok pagi kau dan Martin pergi ke hutan Mazox. Kau akan berpura-pura menjadi kakek pencari kayu bakar. Biarkan Odex menculik Martin. Semoga dia memasukkan Martin ke guci yang sama dengan tempat anak-anak itu ditawan "


" Tapi Bro, bagaimana jika ia menghisap darah Martin lebih dulu ? " sergah Asgar.


Roy menepuk jidatnya. Ia lupa Martin seorang penyihir putih. Tentu saja beresiko besar. Roy menatap Martin lama. Martin tak sengaja memperhatikan cincin airnya.


" Aaah... ! berikan cincinmu sebentar " kata Roy.


Roy mengucap mantra. Dari tangan kanannya keluar bola cahaya kecil yang bercampur kilatan petir. Asgar dan Martin mundur sedikit. Mereka tidak mau tersengat. Roy menyatukan bola petir dengan cincin Martin. Terlihat petir menyambar-nyambar mengenai tangan Roy lalu menghilang. Cincin itu tampak bercahaya sebentar.


" Ini..... dalam cincin ini ada petir yang akan menyengat siapapun yang menggigitmu. Itu cukup untuk mencegahnya menghisap darahmu " Martin mengangguk-angguk senang mendengar penjelasan Roy.


" Apakah ada lagi yang kau butuhkan ? " tanya Roy.


Martin menggeleng.


" Jadi apa tugasku ? " tanya Martin.


" Tugasmu adalah membawa mereka keluar dari guci itu ke tempat aman. Aku dan Asgar akan menangani penyihir Odex. Sepertinya ia mempunyai beberapa bawahan berwujud seram "


" Bukankah Martin bisa memindahkan anak-anak itu ke ruang cincinnya ? " tanya Asgar.


" Tidak bisa. Kekuatan Martin masih belum sempurna. Baru dapat dipakai untuk melindungi diri sendiri. Begitupun dengan ruang cincinnya. Akan berbahaya jika ia memasukkan anak-anak itu ke ruang cincinnya yang tidak ada udara bebas (oksigen), bisa mati semua "


" Oooo...... "


" Martin, jika bisa kau harus berlindung dalam bola kaca bersama anak-anak itu saat kami melawan Odex. Tetapi jika tidak, lakukan apapun sebisamu " pesan Roy sambil menepuk kedua tangan Martin. Martin mengangguk.


Rey mengambil beberapa buah apel dan memberikannya pada Martin.


" Simpan dalam cincinmu untuk anak-anak itu. Mereka pasti kelaparan " kata Rey sambil terus memungut dan memberikan pada Martin. Asgar segera membantunya.


" Masih ada waktu untuk berlatih. Sekarang cobalah membuat bola pelindung yang besar dari udara " perintah Roy. Martin dengan senang berlari agak jauh untuk berlatih sendiri.


Roy berdiri menatap tapi pikirannya entah kemana.


" Jangan khawatir nn... eh, Bro. Apapun yang terjadi diluar perkiraan, kita akan saling bekerjasama " kata Asgar. Ia tahu Roy gelisah.

__ADS_1


" Aku takut anak-anak itu ada yang terluka atau terbunuh "


" Bisa jadi begitu. Tapi kita akan menyelamatkan yang masih hidup "


__ADS_2