GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
93. Destraco X Gadis Takdir


__ADS_3

Destraco merasa tubuhnya menegang. Ada sesuatu pada gadis itu yang membuatnya tertarik. Namun ia ingat tujuan awalnya untuk merebut kekuatan tak terbatas. Jadi ia harus bisa masuk ke tubuh gadis itu dan menguasai dari dalam.


Tapi....


Dilihatnya mata gadis itu tertutup. Destraco bingung. Gadis ini sedang apa ? Apakah dia sedang ketakutan ? Dicobanya mengirim serangan kecil. Namun tidak ada reaksi. Serangan itu seolah hilang begitu saja. Padahal Rey menangkapnya dengan kekuatan udara.


Destraco mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia menggerakkan tangannya yang berwujud seperti asap. Kali ini sedikit lebih bertenaga.


" Blaaarrr..... "


Rey mengembalikan serangan Destraco yang ditangkapnya tadi, bertabrakan dengan serangan Destraco yang kedua.


Tentu saja Destraco terkejut. Ia mengenali serangan itu seperti miliknya. Bagaimana bisa gadis ini punya serangan yang sama ? Ia mencobanya sekali lagi mengirim sebuah serangan. Kali ini serangan jiwa. Serangan jiwa ini bisa menembus baju atau tubuh seseorang, merusak tubuh. Wujudnya tidak bisa dilihat oleh mata biasa, namun Cahaya di dahi Rey membantu Rey melihatnya. Auranya kemerahan tanda berbahaya. Zigaz dapat melihatnya karena berasal dari Kerajaan Cronos. Asgar mengandalkan telinganya untuk melacak pergerakan angin.


Rey menggerakkan angin berputar langsung mengembalikan ke arah Destraco dengan cepat. Ia tak akan menangkis serangan jiwa secara langsung.


" Wuuusss....... ! "


Destraco menghindar. Ia melotot karena terkejut. Gadis ini ternyata tak bisa disepelekan. Kekuatannya tak terduga. Hal ini malah membuat Destraco semakin menginginkannya. Ia membayangkan dirinya menjadi sosok abadi yang tak terkalahkan selamanya.


" Aaaaarrrggghhh..... ! "


Destraco mengerang keras karena terkena serangan jiwa dari Rey. Itu dari belakang punggungnya. Ia menyesali kebodohannya karena melamun. Beruntung karena tubuhnya dari asap. Tapi rasanya menyakitkan karena jiwanya seperti tertusuk banyak pisau.


" Makanya jangan melamuuuun...... " bibir Rey mengerucut lucu.


Destraco menatap Rey dengan marah. Gadis ini benar-benar menyebalkan. ia juga punya serangan yang sama. Rey tersenyum simpul. Destraco melayang atas. Ia bermaksud memikirkan serangan apa berikutnya. Tapi......


" Aaaaarrrggghhh..... ! "


Ia menabrak sesuatu yang tak terlihat dan terasa menyengat. Destraco menyentuhnya namun secepatnya kembali menarik tangannya.

__ADS_1


" Kurang ajar..... ! "


Itu perisai cahaya. Namun Rey menambahkan elemen petir di dalamnya sehingga terasa menyengat. Ia menatap Rey semakin geram. Tiba-tiba melesat ke bawah seperti cahaya.


" Zzzzzt........ ! "


Tangan Rey menahan kumpulan asap tepat diatas kepalanya ( Rey sedari tadi masih di posisi duduk di atas balok kayu ). Asgar dan Zigaz terperangah tak percaya. Mereka bahkan tak bisa mengikuti kecepatan Destraco.


" Aaaaarrrggghhh..... ! "


Destraco kembali berteriak merasakan sengatan dari tangan Rey. Ia mundur. Rey bangkit berdiri. Disingkirkannya balok-balok bekas duduk ke tepian. Matanya masih terpejam. Mulutnya bergerak-gerak sebentar ( Rey membuat bola cahaya tak terlihat mengurung Asgar dan Zigaz ). Ia tidak ingin mereka terkena imbas serangan.


Destraco mengamati Rey. Sudah berapa kali serangannya gagal. Malah serangan yang sama didapatnya dari gadis itu. Ia menyeringai. Tangannya mengembang di udara. Asap tipis keluar dari telapak tangannya. Menyebar ke semua arah. Ia yakin Rey akan menghirup udara beracun ini jika tak segera membuka perisai cahaya di sekitar mereka.


Rey mengerutkan alisnya. Percuma baginya membalikkan udara beracun pada Destraco. Perbuatan yang sia-sia karena tubuh Destraco adalah asap, tak kan terpengaruh. Rey berpikir.


Tiba-tiba kedua tangannya bergerak ke segala arah. Ia membekukan semua asap racun dan menghempaskannya kearah Destraco. Pecahan racun beku itu menembus tubuh Destraco hingga menabrak dinding perisai.


" Praaaanngg..... ! "


Ha..ha..ha..ha........


Sebenarnya siapa yang bodoh ? Destraco tidak menyadari kebodohannya. Selama ribuan tahun ia selalu membunuh dan menyerap kekuatan musuhnya, tapi tidak pernah bertarung. Tentu saja, penampakannya yang mengerikan cukup membuat penyihir dan iblis di bawah levelnya menyerah tanpa syarat. Dan dalam hal perampasan kekuatan, Destraco mengandalkan kelicikannya. Tidak perlu bertarung.


Berbeda dengan Rey yang sejak awal dibiarkan Kendrick untuk bertarung bebas diluar Astraco. Kecepatan, kekuatan, ketahanan dan kecerdikan meningkat terus. Asgar juga sama meningkat walaupun memiliki keterbatasan.


Destraco tidak tahu harus menyerang dengan cara apa. Dia diam melayang di atas. Rey mendongak karena sudah lewat 5 hitungan. Rey perlahan melayang sejajar dengan Destraco. Ia sudah membuka matanya. Mata itu berwarna biru cantik, secantik pemiliknya. Destraco terpesona.


" Kenapa Nona membuka matanya, bukankah itu berbahaya ? " Zigaz mengeluh pelan.


" Jangan khawatir, Nona pasti punya rencana yang busuk " bisik Asgar menyeringai. Ia mendengar telepati Rey ( " Asgar, bersiaplah " )

__ADS_1


Rey tersenyum misterius. Ia tahu Destraco terpana padanya. Matanya menatap mata merah Destraco.


( " Sekarang Asgar " )


Lalu Rey mengedipkan matanya ( ini teknik yang sama dengan yang ia terapkan pada nyamuk, bab 70, bab 84 ).


Namun Rey bukan bermaksud memakai mata Destraco. Yang Rey lakukan adalah masuk dan menguasai pikirannya.


Sementara di dalam pikiran Destraco, matanya seolah melihat danau biru yang luas dan tenang. Dan ia berada di atas perahu kecil. Destraco duduk manis di tengah-tengah perahu.



Tiba-tiba satu tangan meraih tepian perahu sehingga terbalik.


"Aaaah..... ! "


Destraco terguling ke danau. Ia panik. Ia tidak bisa berenang. Tangannya menggapai tidak karuan. Matanya tak sengaja menatap seseorang yang tadi menggulingkan perahunya. Jaraknya sekitar 15 langkah.


" Gadis Takdir...... !? "


" Ya, ini aku. Apa kau bisa berenang ? " jawab Rey tersenyum.


Seketika sadarlah Destraco bahwa ia sedang tercebur di danau itu. Ia kembali menggapai-gapai. Berulang kali meminum air danau.


" Jika kau tidak bisa berenang, mengapa kau mencoba masuk ke danau kehidupanku ? " tanya Rey.


Destraco tertegun sejenak, tapi karena tubuhnya tenggelam akhirnya ia kembali mencoba menggapai-gapai. Ia berharap si Gadis Takdir menolongnya.


Rey tersenyum lebar. Ia hanya menatapnya sambil tersenyum. Hatinya tidak selembut Kendrick. Ingat waktu ia langsung membunuh si peramal yang menyakiti nenek Flo ? Padahal waktu itu ia masih penyihir pemula, tapi kekuatannya saat kondisi marah begitu mengerikan. Apalagi sekarang ? seorang musuh yang pernah membunuhnya dan kekasihnya di masa ribuan tahun lalu.


Ciiiiiiizzz........enak saja !

__ADS_1


Rey mendorong perahu yang terbalik ke arah Destraco. Cepat-cepat Destraco memeluknya dan berusaha naik ke atas perahu dari sisinya. Tentu saja perahunya berputar terbalik lagi. Lagi dan lagi Destraco mencoba naik, namun selalu gagal. Akhirnya Destraco hanya bisa memeluk perahu itu saja dengan kelelahan.


" He..he..he..he.... "


__ADS_2