
Tentu saja Asgar dan Rey menjadi heran. Tapi Rey segera menyadari sesuatu.
( " Ada penyihir Odex, si pertapa tua " ) katanya pada Asgar lewat telepati.
Asgar membungkuk untuk menggendong Martin. Martin benar-benar menyembunyikan wajahnya di leher Asgar. Tubuhnya terasa gemetar. Rey memberi isyarat pada Asgar agar segera masuk ke toko baju.
Rey memilih beberapa baju untuk Martin. Asgar menggendong erat Martin sambil menatap keluar kaca toko. Tampak penyihir Odex seperti kehilangan sesuatu. Tentu saja, Rey sudah menghilangkan aura sihir mereka bertiga sejak mereka makan bersama. Penyihir Odex pasti merasakan pergerakan sihir saat Rey menguji Martin tadi. Hanya saja Rey juga tidak dapat merasakan aura penyihir Odex jika dia juga menghilangkan auranya.
Setelah selesai memilih dan membayar baju untuk Martin, Rey mengajak Asgar kembali ke penginapan. Sepanjang jalan mereka memperhatikan sekeliling dengan waspada. Martin sendiri tertidur di pelukan Asgar. Sesampai di penginapan, Asgar membawanya ke kamarnya. Rey berpesan agar Asgar menungguinya hingga terbangun nanti.
Rey menyamar jadi Roy dan duduk bersantai bersama yang lain di ruang tamu penginapan. Ia sengaja ingin mendengar pembicaraan orang-orang.
" Aku dengar walikota gagal menemukan anak-anak yang hilang "
" Ya, malah orang kepercayaannya hampir tewas diserang beruang "
" Bukankah mereka membawa anjing-anjing pemburu ? "
" Benar.... tapi yang mereka lawan adalah beruang iblis "
" Lalu bagaimana nasibnya ?
" Mereka ditolong oleh Gadis Takdir "
" Apa..... !? "
Mereka semua menoleh ke arah seseorang yang baru datang. Itu Penyihir Odex.
" Kau bilang mereka ditolong oleh gadis takdir ?! seperti apa dia ? Wajahnya ? penampilannya ? " tanyanya bertubi-tubi pada seseorang yang terakhir bicara. Ia mengguncang-guncangkan bahu orang tersebut.
" Hei pak tua..... tenanglah...... ! " orang lain mencoba menahan tangannya.
" Uuuuuhhh....... aku tak tahu dia seperti apa. Aku hanya mendengar pembicaraan orang di kedai tadi siang " katanya.
" Hhh...... sial.... ! " umpat Odex.
" Kenapa ? Apa kau menginginkannya ? Sadarlah.... Kau sudah tua.... " seseorang mengejek.
" Bukan... ! Aku.... ingin meminta bantuannya... untuk... menolong seseorang "
" Panggil saja... siapa tahu muncul "
" Mana mungkiiiin..... Gadis Takdir tidak akan mau menemuinya. He..he..he..... "
" Tutup mulutmu... ! atau aku akan memyihirmu jadi katak ! "
" Uiiih.... "
" Kamu berani ?! "
Mulut Odex berkomat-kamit membaca mantra. Namun Roy tiba-tiba berdiri menutup mulutnya dengan tangannya.
" Hmmmph....? "
" Bloph... ! "
" Kwoook..... "
Satu katak besar keluar dari mulut Odex ke atas meja.
__ADS_1
" Astaga.... ! "
Mereka semua berdiri terkejut.
" Bloph... ! "
" Kwoook..... "
" Eh... ? "
Satu lagi katak keluar dari mulut Odex. Odex segera menutup mulutnya. Namun tak lama ia terpaksa membuka mulutnya untuk mengeluarkan katak lagi.
" Astaga..... ! dia penyihir katak ?! " tanya seseorang.
Odex segera berlari keluar entah kemana. Sesekali ia membuka mulutnya untuk mengeluarkan katak.
Semua orang yang tadi di ruang tamu saling pandang dan mendesah.
" Gila.... "
" Kwoook..... "
" Eh...... "
" Huuss..... ! huuss.... ! keluar sana. Ikut tuanmu ! "
Mereka bekerjasama mengusir katak-katak itu. Roy kemudian kembali ke kamarnya untuk mandi.
Sementara Odex berlari ke arah lorong sepi dengan masih mengeluarkan kataknya.
" Sialan... ! "
" Bloph... ! "
" Kwoook..... "
Odex mencoba mengingat-ingat. Namun saat itu ia hanya fokus membaca mantra sehingga tak memperhatikan yang lain.
" Bloph... ! "
" Kwoook..... "
Dengan kesal Odex menendang katak itu. Ia tak bisa kembali ke penginapan sebelum kekuatan mantranya habis. Mungkin tengah malam baru hilang.
" Aaaaarrrggh... ! "
Di tempat lain, di kamar Asgar. Martin sudah bangun. Asgar membiarkannya dahulu.
( " Nona, Martin sudah bangun " )
Tak lama Rey mengetuk pintu Asgar. Asgar mempersilahkannya masuk. Rey langsung duduk di tepi ranjang. Martin bangkit dan memeluknya sebentar.
" Kapan Nona membawaku ke negri cahaya "
" Apa kau sudah tidak sabar ? " tanya Rey tersenyum.
" Iya... aku takut bertemu pak tua itu "
" Memangnya apa yang sudah dia lakukan padamu ? " Rey mengerutkan alisnya. Asgar menegakkan duduknya ingin tahu ( ia duduk di kursi dekat jendela menyimak percakapan itu ) .
" Ia pernah menggigit tanganku lama. Aku jadi pusing " Martin menunjukkan jarinya.
__ADS_1
Rey mengamati baik-baik. Ada bekas luka amat kecil yang sudah menutup. Ia menyentuhnya dan memejamkan mata untuk mengetahui kejadian yang sudah lewat. Tanpa sadar mulutnya tercengang dan menatap pada Asgar.
Asgar berdiri mendekat.
" Ada apa Nona.... ? "
" Ia mengenali darah Martin sebagai keturunan penyihir. Jika saat itu tidak ada ibu-ibu yang memukulnya dengan sapu, sudah pasti ia menghabiskan darah Martin untuk menaikkan kekuatannya "
Asgar pun tercengang. Mereka berdua menatap Martin dengan perasaan kacau.
" Berapa kali kamu bertemu dengan pak tua itu ? "
" 3 kali, Pak tua itu pertama memasukkan aku ke tempat gelap. Tapi aku bisa keluar. Yang kedua saat aku mencari makan di pasar. Ia menangkapku bersama temanku "
" Dan kamu bisa keluar lagi... ? bagaimana caranya ? "
" Aku... aku mengoleskan darahku ke mata, jadi bisa melihat keluar " kata Martin mengoleskan tangannya ke kelopak matanya.
Rey saling menatap dengan Asgar.
" Asgar, coba masukkan aku dan Martin ke cincin ruangmu " kata Rey sambil memeluk Martin.
Asgar memasukkan Martin dan Rey ke cincinnya. Ruangan penyimpanan itu memang gelap karena bukan ruang dimensi penyihir. Rey mencoba melakukan seperti yang Martin lakukan. Benar saja, ia bisa melihat keluar. Posisinya seperti berada diatas tangan Asgar karena mereka berada di dalam cincin ruang. Ia melompat turun dan tiba-tiba sudah berdiri di depan Asgar.
" Woaah.... ! "
Asgar terkejut mundur. Kemudian muncul Martin di samping Rey. Pandangan mata Rey berbinar. Senyumnya sedikit miring.
" Sekarang cobalah kau dan Martin di ruang dimensiku " kata Rey sambil menepuk bahu Martin dan Asgar.
" Waaah..... indah sekali..... " seru Martin saat berada di dalam ruang dimensi Rey. Asgar kemudian muncul di sampingnya.
Mereka saling mengangguk dan melukai jari sedikit untuk dioleskan ke kelopak mata. Tampak alis keduanya berkerut tanda sesuatu yang tidak diharapkan. Mereka membuka mata dan saling bertanya.
" Aku tidak bisa melihat apapun ? "
Sementara Rey heran karena mereka tak kunjung keluar dari ruang dimensinya. Ia kemudian ikut masuk dan melihat mereka sedang kebingungan.
" Mengapa kalian tidak keluar ? "
Martin memejamkan sebelah matanya dan menunjukkan kelopak matanya yang sudah diolesi darah. Rey melihat mata Asgar juga. Ia mengerutkan alisnya.
" Berarti itu hanya berlaku untuk ruang penyimpanan, bukan ruang dimensi pribadi... " gumam Rey.
" Nona, bolehkah aku meminta apel itu ? " tunjuk Martin pada beberapa apel merah di bawah pohon.
" Ambilah.... "
Martin berlari pergi memungut satu apel dan duduk memakannya. Sementara Rey dan Asgar membahas masalah anak-anak.
" Bagaimana jika kita menggunakan Martin untuk membebaskan anak-anak itu ? "
" Aku tidak bisa menjamin keselamatannya. Ia mengincar darah Martin "
" Bagaimana jika Nona menyihir saya jadi anak kecil ? "
Rey menatapnya sambil berpikir. Lalu menggelengkan kepalanya.
" Resikonya besar jika ia melakukan hal yang sama, meminum darahmu sampai habis "
Asgar bergidik.
__ADS_1