
Mereka semua menoleh padanya. Itu Kendrick sedang menggandeng seorang gadis cantik bergaun putih biru ( Rey sudah menjadi dirinya sendiri ). Delisa tersenyum masam melihat kehadiran mereka. Asgar dan Zigaz memberi hormat.
" My Lord, Nona..... "
" Apa kau mengompol, Zigaz ? " tanya Rey menatap gaun Zigaz.
" Ini karena perempuan itu menyiram dengan limun, Nona " Zigaz menunjuk Delisa dengan dagunya.
Kendrick dan Rey melihat Delisa. Mereka menarik nafas.
" Kali ini apalagi yang dia lakukan ? " tanya Kendrick.
" Dia menampar, menyiram, mencakar dan menjambak rambut Zigaz " sahut Asgar.
Rey menggeleng-geleng.
" Sepertinya ada yang salah dengan tanganmu, nona. Kau terlalu mudah menyakiti orang lain " tegur Kendrick.
" Biar aku yang menghukumnya. Selamanya tanganmu akan lumpuh jika ingin menyakiti atau menghina orang lain " Rey meniup ucapannya ke arah tangan Delisa. Berkas cahaya mengelilingi kedua tangan Delisa. Delisa terbelalak menyadari itu adalah sebuah kutukan. Ia mengibas-ngibaskan tangannya seolah ingin membuang kutukan itu dan cepat-cepat berlalu dari situ.
" Nona.... bagaimana keadaan Nona ? " tanya Asgar.
" Aku sudah baik-baik saja Asgar " jawab Rey.
" Syukurlah, maafkan saya tidak dapat menolong Nona setelah pertarungan itu " Asgar menunduk bersalah.
" Tak apa.... Ada Zigaz di ruang dimensi " jawab Rey.
" Ah ya, aku bahkan tak tahu berapa lama disana, tidak ada perubahan waktu disana " sahut Zigaz.
" 7 hari... " jawab Asgar.
" Sayang.... Makanlah dulu. Aku akan bicara dengan Zigaz disini. Asgar, tolong jaga Rey " kata Kendrick pada Rey dan Asgar. Rey menuju meja makanan diikuti Asgar.
" Tuan Putri.... " seseorang menyapa Rey.
Rey menoleh dan melihat sepasang kekasih, Xenia dan Zacko.
" Oh Xenia, Zacko.... Apa kabar ? " tanya Rey.
" Baik... " jawab Zacko.
" Tidak baik... " jawab Xenia.
" .... ? " Rey memandang mereka berdua. Tampak wajah Xenia yang sedikit masam sementara Zacko meringis sambil menggaruk tengkuknya. Pasti ada masalah nih...
Rey menatap lekat pada Zacko " Katakan masalah apa yang kau buat ? "
" A... aku tidak membuat masalah Nona. Tapi.... gadis-gadis itu tak mau pergi dariku sampai Xenia mengamuk. Aku tidak berani mengusir mereka terang-terangan karena mereka semua anak bangsawan dan para menteri " Zacko menjelaskan.
" Bohong.... Kau menikmati waktu bersama mereka hingga melupakanku " Xenia merajuk.
__ADS_1
" Aiiihh..... Asgar, ajari Zacko. Biar Xenia bersamaku "
Rey memberikan kue untuk Xenia lalu menggandeng tangannya. Mereka berjalan-jalan sambil berbincang.
" Jangan berpura-pura manis dihadapan wanita pengganggu. Kamu keturunan penyihir. Gunakan sedikit untuk menegur mereka " Rey memberi saran.
" Tapi ini bukan daerah asalku. Bagaimana jika mereka mengusirku ? " tanya Xenia.
" Jangan khawatir, Greg dan Zacko pasti akan membelamu " sahut Rey menyeringai.
" Bruuukk " seseorang menabrak bahu Rey.
" Aiiihh.... " Rey terhuyung-huyung. Xenia segera menahannya.
" Oh... Eh... maaf nona cantik. Aku tak sengaja " ujar pria itu mengedipkan matanya. Ia menatap penuh minat pada Rey.
Xenia mendengus pelan. Ia menarik Rey pergi.
" Tunggu nona, boleh aku tahu namamu ? Namaku Androz " tangannya menahan lengan Rey.
Rey hanya tersenyum dan melepaskan lengannya dari pria itu. Ia kembali berjalan bersama Xenia. Namun Pria itu mengejarnya.
" Nona..... Jangan pergi dulu. Bisa kita minum bersama ? " pria itu kembali menahan lengan Rey. Rey mendecak kesal.
Xenia mencekal tangan pria itu dari lengan Rey.
" Aku akan patahkan tanganmu jika terus menahannya " kata Xenia.
" Jangan dipatahin, Xenia ! lempar saja.... " Kata Rey.
Satu hitungan kemudian tubuh pria itu melayang melewati beberapa orang.
" Aaaaaah........... ! "
Orang-orang segera menyingkir untuk memberi tempat mendarat. He..he..he..he... Rey dan Xenia tertawa tanpa suara dan segera berlalu.
" Bagaimana jika kita menggoda gadis-gadis yang membuatmu cemburu ? " tanya Rey sambil menaik-turunkan alisnya.
Xenia menatapnya bingung. Rey menariknya ke tempat sepi dan merubah dirinya dan Xenia menjadi pria tampan ( Perubahan fisik secara sihir tak beda jauh dengan aslinya, kecuali Zigaz karena asalnya adalah binatang )
Xenia tercengang menatap Rey yang tampan. Rey menepuk pelan pipi Xenia " Hei.... sadarlah. Apa kau terpesona padaku, sayangku.... ? "
" iiisshh...... kau benar-benar tampan " Xenia meringis geli.
" Mari kita mencari mangsa ! " ajak Rey.
Mereka berjalan dengan menahan senyum. Geli pada diri sendiri dan reaksi sekelilingnya. Banyak gadis menutup mulutnya agar tidak berteriak kegatelan. Sementara wanita yang sudah menikah menyesali diri karena terlalu buru-buru.
" Ya ampun..... tampan sekali..... "
__ADS_1
" Aku menyesal menikah dengan Ricko, ternyata ada yang lebih tampan darinya "
" Jangan gatal, kau sendiri tidak cantik "
" Tapi aku pandai merayu, lihat nanti pasti dia akan takluk padaku "
" Tidak jika suamimu datang menebas lehermu lebih dulu "
" Hmmmph.... ! "
Xenia dan Rey terus berjalan hingga sampai di kumpulan orang-orang elite. Tampak para gadis bergaun mewah dengan warna-warna mencolok. Xenia dan Rey duduk dekat mereka.
Segera saja gadis-gadis itu datang mendekat ingin berkenalan. Masing-masing membanggakan dirinya sendiri.
Namun Rey dan Xenia mengabaikan mereka.
Tiba-tiba Elena mendekati mereka berdua. Ia mengenali aura Xenia dan Rey. Xenia berdiri merangkul pinggang Elena dan berbisik.
" Ibu, ini aku Xenia dan Putri Rey. Kami sedang menyamar "
" Aku mengira kau adalah Axel "
" Benarkah ? "
" Hmmm... "
Tingkah Xenia begitu mesra membuat para gadis menjadi panas hati. Apalagi Xenia juga mencium pipi Ratu Elena. Salah satu yang bernama Sheila menuding Elena.
" Ratu Elena... anda sungguh tak tahu malu. Sudah tua tapi masih bermain api, menggoda lelaki muda. Apakah Raja tidak dapat memberimu kepuasan ? Kelakuan Ratu sungguh tidak pantas di hadapan kami semua ? "
" Eh....? "
Semua yang ada disitu memandang Ratu Elena. Namun orang-orang Zacko tetap duduk tenang karena kebetulan Xenia menyamar jadi laki-laki, wajahnya menyerupai AXEL ( kakaknya, Hakim Agung TREXODIA ).
" Mengapa kamu mengatakan begitu. Apa salah kalau aku menciumnya. Aku memang mencintainya. Kamu anak siapa berani menegur seorang Ratu ? " jawab AXEL ( Xenia ) sinis.
" Aku Sheila, putri Baron Carlos " jawabnya meninggikan dagu.
" Oh... baru menjadi putri Baron saja sudah berani mencela Ratu. Apa kau tak takut dihukum mati ? " tanya Rio ( Rey ).
" Siapa yang takut, Ratu sendiri yang mencari kematian karena berciuman dengan seorang pemuda " kata Sheila ketus.
" Apa mungkin kau cemburu pada Ratu ? " tanya seseorang.
" Hah.... ? Cemburu...... ? Dia tidak pantas menjadi Ratu. Aku akan mengadu pada Raja Trexodia "
"Ada apa ini ? "
Semua menoleh dan segera bangkit memberi hormat saat melihat kedatangan Raja Greg dan Raja Alexander.
" Oh... Raja Alexander yang terhormat, Lihatlah istrimu telah berlaku tidak setia. Ia berani menggoda seorang laki-laki muda, bahkan membiarkan pemuda itu menciumnya " Sheila menuding ke arah Ratu Elena dan Axel.
__ADS_1
Raja Alexander mendekati mereka dan menepuk bahu Axel sebelum memeluknya. Sheila yang mengira Raja Alexander akan menindak pemuda itu tercengang.