
Zacko, Xenia dan Xibo berkumpul.
" Sayang.... Kau tak menghubungi Tuan Putri ? " tanya Zacko.
" Jangan... ! dia sedang di dalam ruang dimensi milik pertapa itu. Jika pertapa itu tahu siapa Putri, maka akan berakibat di kurung selamanya. Kita tunggu sampai Putri Rey dikeluarkan " jawab Xenia.
" Nona, aku bisa merasakan dimana mereka sekarang " kata Xibo.
" Hah, benarkah... ? Dimana... ? " tanya Zacko dan Xenia berbarengan.
" Mereka berada seribu langkah dari sini. Ada 14 penyihir termasuk pertapa itu " kata Xibo
" Kita kesana sekarang ! " kata Zacko.
" Jangan.... ! Jika Xibo bisa merasakan mereka, bukan tak mungkin mereka juga merasakan kita. Kedatangan kita akan membahayakan Putri dan gadis-gadis yang masih terkurung dalam guci " jelas Xenia.
" Berarti guci itu harus dipecahkan ? " tanya Zacko.
" Aku tak tahu resiko apa yang terjadi pada orang-orang yang terkurung jika guci itu dipecahkan dari luar. Lebih baik kita tunggu perintah Putri Rey. Kita akan muncul langsung disana nanti. Xibo tahu tempatnya kan ? " tanya Xenia. Xibo mengangguk yakin.
" Hilangkan dahulu aura sihir kita. Kita akan menunggu " kata Xenia pelan.
Di hutan, pertapa itu marah-marah di hadapan para penyihir hitam. Ia marah karena hanya mendapatkan 8 gadis saja.
" Kalian kembali ke sana. Cari tahu siapa yang berani menculik gadis-gadis itu ! " pertapa tua menuding ke arah 3 penyihir yang tadi menyamar sebagai pemain musik.
3 penyihir itu segera pergi ke lapangan. Namun lapangan sudah sepi. Hanya beberapa pria yang segera waspada melihat kedatangan para penyihir itu. Para penyihir itu mencoba mencari jejak aura penyihir, namun tidak merasakannya saat ini.
" Bagaimana ini, tidak ada penyihir lain disekitar sini "
" Apa kita harus kembali dengan tangan kosong ? "
" Uhh... ! Ketua akan menyiksa kita jika gagal. Lebih baik kita periksa seluruh kota dulu "
" Nona, ada 3 penyihir yang datang mencari kita " bisik Xibo.
Xenia cepat memasukkan Xibo dan Zacko ke dalam dimensinya. Ia sendiri juga menyusul masuk. Mereka duduk diam merasakan pergerakan 3 penyihir itu.
Cukup lama penyihir itu berada di sekitar mereka. Penyihir itu sempat mencium jejak pergerakan sebelum Xenia masuk ke ruang dimensi. Mereka terus berkeliling mencari di sekitar.
Sementara di hutan, pertapa tua itu membuat bola kaca (dari elemen angin padat) untuk mengurung para gadis agar tidak melarikan diri. Lalu ia mengeluarkan gucinya. Ia mulai memindahkan satu-persatu gadis yang ada dari ruang dimensi ke dalam bola kaca.
__ADS_1
Ada beberapa gadis segera mencoba lari. Akibatnya mereka terjengkang karena menabrak dinding yang tak terlihat, akhirnya hanya bisa menggedor-gedor kaca atau duduk menangis.
Ketika Rey dan Axie dikeluarkan terakhir. Rey segera memecahkan guci itu dengan tekanan udara. Pertapa tua itu terkejut. Ia juga heran karena melihat mereka berdua memakai topeng.
( " Xenia, kemarilah " ) kata Rey sambil cepat-cepat menyentuh para gadis satu-persatu. Ya, Rey ganti memasukkan mereka semua ke ruang dimensinya. Dengan begitu para gadis itu aman selama ia menghadapi para penyihir ini. Sudah jelas ruang dimensinya lebih indah dan nyaman.
Pertapa itu terbelalak melihat apa yang dilakukan Rey. Sekarang hanya ada dua gadis cantik memakai topeng tersenyum miring padanya.
" Sialan.... ! " serunya kesal sambil meluncurkan serangan.
" Duaaarrr..... ! " serangan itu menabrak dinding pelindung yang dibuatnya sendiri. Membalikkan serangan kembali padanya.
" Aaachhk..... uhuk.... uhuuukkk....... " ia memuntahkan darah segar.
" Ha..ha..ha..ha.... " Axie tertawa melihatnya.
Pertapa itu membaca mantra dan menuding ke bola kaca. Diam-diam Rey membuat bola kaca juga di bagian dalam.
" Praang..... ! " bola kaca buatan pertapa tua itu pecah kemana-mana. Namun Rey dan Axie terlindung dalam bola kacanya sendiri.
Dengan kesal pertapa tua kembali mengirimkan serangan ( seribu pisau angin ).
" Tuing... Tuing... Tuing... ..... ..... " seribu pisau angin itu terpental balik, ada beberapa yang menembus jubah pertapa tua itu. Ia menggeram marah.
" Hhhhhh..... ! Siapa kau sebenarnya ?! " teriaknya.
" Aku.... ? Apakah begini caramu ingin berkenalan denganku. Kau kan sudah tua ? Jelas bukan seleraku lah yaooow..... " Rey mengejek dengan nada genit. Axie tertawa lagi.
" Kalian mengapa diam saja ?! serang dia ! " teriaknya pada para penyihir berjubah hitam.
" Nona, izinkan aku melawan penyihir yang lain " bisik Axie.
Rey mengangguk dan membuka bola kacanya " hati-hatilah "
Para penyihir itu melemparkan bola asap hitam ke arah mereka. Axie langsung membuat dinding perisai.
" Blaaarrr........ praangg..... ! " dinding perisai Axie runtuh setelah terkena serangan.
(" Axie.... bawalah mereka agak jauh sedikit. Aku ingin bermain dengan pertapa tua ini ") kata Rey.
(" Baik Nona ") Axie meliuk pergi dikejar para penyihir, mereka ada 10 orang. Yang 3 masih mengelilingi kota Blazein. Mereka tak berani kembali sebelum menemukan Xenia dan teman-temannya.
__ADS_1
Axie hampir menabrak Zacko, Xenia dan Xibo yang muncul tiba-tiba.
" Aiiiyayayaya.......... " Axie melompat ke atas menghindar. Xibo segera meraihnya agar tidak hilang keseimbangan.
" Ah.... terima kasih rubah kecil " kata Axie.
" Namaku Xibo tuan eh, Nona Axie " Xibo dan Axie sama-sama tertawa kecil.
Para penyihir berhenti di depan mereka berempat dan melayang berjajar.
" Yo.... kalian para penyihir genit ! Menculik wanita buat apa ? " tanya Zacko santai.
" Bukan urusanmu ! "
" Hooo...... tentu saja itu jadi urusanku. Karena salah satu gadis yang kalian culik adalah kekasihku ! " jawab Zacko.
" Persetan denganmu ! "
" Hiiissh.... ! aku ini seorang Ksatria.... ! bukan setan..... " Zacko pura-pura menggerutu.
" Hi..hi..hi..hi.... " Axie dan Xenia tertawa.
" Hhhhhh..... seraaang ! " teriaknya marah.
Mereka mulai adu serangan. Meskipun tidak seimbang jumlahnya, namun Zacko, Axie, Xenia dan Xibo semangat melawan. Menganggapnya sebagai tantangan.
(" Tuan dan Nona jangan sampai menyentuh tubuh mereka. Biasanya tubuh penyihir hitam mengandung racun atau menyimpan roh-roh gelap ") Xibo memperingatkan.
Sementara ketiga penyihir yang ditugaskan mencari pengacau mulai menggerutu. Mereka tak menemukan siapapun yang dicurigai punya kekuatan sihir.
" Bagaimana ini, kita tidak dapat menemukan yang dimaksud ketua. Proses persembahan darah gadis-gadis akan segera dilaksanakan. Lihatlah, bulan sudah mulai bergeser sedikit. Apa kita kembali saja ? "
" Jangan.... Ketua pasti akan menghukum kita "
" Bilang saja kita terpaksa membunuhnya karena melawan "
Mereka saling berpandangan. Ragu-ragu meneruskan pencarian atau kembali ke hutan. Mereka tak ingin ketinggalan proses persembahan gadis-gadis itu. Darah mereka akan dikorbankan untuk menambah kekuatan para penyihir. Jika mereka bertiga tidak segera kembali, itu berarti mereka akan melewatkan bagian mereka bukan ? Tapi.... mereka juga was-was jika ketua marah dan menghukum mereka. Bisa jadi mereka tidak diijinkan minum darah persembahan para gadis. Artinya kekuatan mereka dibawah kekuatan penyihir lainnya. Sama saja sia-sia kan ? Status mereka akan direndahkan, menjadi penyihir pelayan.
" Bagaimana jika kita pergi saja ? Kita akan melakukannya sendiri "
" Itu tidak mungkin "
__ADS_1