
Kepala pelayan dan para pengawal mendekati Kendrick.
" Terima kasih atas penjagaan kalian terhadap Astraco "
" Itu sudah tugas kami Yang Mulia. Kami permisi "
Mereka kembali ke tempat masing-masing dan
Sidrag kembali melingkar di pergelangan tangan Kendrick. Lalu Kendrick menghilang.
Bagaimana kabar si penyihir muda ? Ia masih di hutan Mazox. Duduk bersila dibalik semak-semak untuk mengembalikan kekuatannya. Ia mengalami luka dalam akibat terkena ledakan kekuatan cahaya suci. Saat ini ia tidak bisa teleportasi atau mengerahkan tenaga dalam untuk melakukan perbuatan sihir yang berat ( menyerang ).
Ia menghela nafas untuk meredakan kemarahannya. Ia kesal karena kalah cepat mendapatkan kekuatan cahaya suci. Gadis Takdir itu ternyata sudah mempersiapkan segalanya sebelum puncak bulan purnama. Awan buatan itu terbukti mampu menutupi keberadaan Gadis Takdir dan aura sucinya. ( penyihir muda ini tak tahu bahwa Kendrick lah yang melakukan semuanya itu agar proses penerimaan kekuatan cahaya suci tidak terganggu ).
Sekarang tidak ada jalan lain selain membunuhnya. Kekuatan cahaya suci itu tidak bisa direbut. Tapi bisa diwariskan dengan sukarela. Atau ia harus menunggu gerhana matahari yang tidak bisa diketahui kapan dan dimana posisinya. Penyihir muda itu bangkit dan terbang rendah ke sisi tebing. Akhirnya ia memutuskan kembali ke tempat asalnya.
Sementara Rey dan Zigaz melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya. Mereka sampai di Kota Porton. Mereka berjalan-jalan melihat keadaan. Tidak terlihat ada anak-anak bermain. Mungkin para orangtua mereka mendengar kejadian di kota Malto sehingga melarang anak-anaknya bermain.
Rey dan Zigaz masuk ke restoran. Seperti biasa, Rey memilih meja di dekat jendela ( jika ada ). Ia duduk santai melepaskan pikiran tentang penyihir muda yang akan menjadi lawannya.
Zigaz memesankan makanan dan minuman coklat untuk Rey. Sedang mereka menikmati sajian itu. Datanglah kereta kuda di depan restoran. Pelayan laki-laki segera menyongsong.
" Silahkan masuk Tuan-tuan dan nyonya "
Mereka duduk agak dekat dengan meja Rey. Salah satu dari pengunjung itu memakai cadar, padahal ia adalah laki-laki. Rey melirik heran.
Wanita itu memanggil pelayan dan berbisik sesuatu. Kemudian pelayan itu pergi dan kembali bersama pemilik restoran.
" Apa yang anda perlukan sehingga harus memanggil saya, nyonya.... ? "
" Apakah di kota ini ada seorang keturunan penyihir putih ? " ( berasal dari kerajaan cahaya : Cronos atau Astraco )
Pemilik restoran berpikir sejenak, lalu menjawab
" Saya kurang tahu tentang keturunan penyihir di kota ini. Tapi beberapa hari kemarin, Gadis Takdir muncul di kota Malto untuk menyelamatkan anak-anak yang hilang. Kemungkinan ia sudah berpindah ke kota lain. Apakah anda mengalami kesulitan yang berkaitan dengan sihir, nyonya ? "
Wanita itu diam melirik laki-laki muda yang duduk disampingnya. Ia menghela nafas dan mengusir pemilik restoran. Pelayan datang membawa makanan dan minuman.
__ADS_1
Zigaz bertanya-tanya mengapa Nona Rey. tersenyum mengejek saat melirik mereka. Tentu saja Rey dapat melihat wajah laki-laki itu meski ia menggunakan cadar. Laki-laki muda itu pernah terkena tamparan sihirnya dahulu. Sedang Zigaz sama sekali tidak tahu kejadian sihir apa yang menimpa laki-laki muda itu. Karena pada waktu itu yang mendampingi Rey adalah Asgar.
Seorang tua yang mendengar percakapan itu mendekat.
" Nyonya..... apa anda sedang kesusahan karena penyihir jahat ? "
Wanita itu menatap orang tua itu dari atas ke bawah.
" Apa kau seorang penyihir putih ? " tanyanya penuh harap.
Orang tua itu hanya tersenyum. Ia pun duduk bergabung.
" Ceritakan padaku apa yang anda alami, nyonya "
" Oh, bukan aku, tapi anakku " kata nyonya itu sambil menyodorkan makanan ke arah orang tua itu.
Tentu saja orang tua itu senang mendapatkan makanan enak. Ia segera makan dengan lahap. Sementara si anak menceritakan kejadian yang tidak sebenarnya ( berbohong ). Orang tua itu makan sambil sesekali mengangguk. Setelah selesai makan, ia bertanya.
" Apakah Tuan dan Nyonya akan menginap di kota ini ? "
" Benar pak tua "
" Aah.... tentu "
" Kalau begitu saya permisi dulu untuk melanjutkan pekerjaan saya yang tertunda "
" Silahkan Pak Tua "
Keluarga itu begitu senang karena ada pertolongan untuk anaknya.
Rey hanya tersenyum misterius.
( " Zigaz , tolong ikuti dan cari tahu pak tua itu " )
( " Baik Nona " )
Zigas menghilang dan mengikuti pak tua itu. Rey segera membayar makanannya dan berlalu. Tepat ketika melewati meja mereka, Rey menggerakkan angin membuat cadar di wajah pemuda itu terlepas melayang tercelup ke mangkuk sop.
__ADS_1
" Aaah........ sialan.... ! "
Pemuda itu mengangkat cadarnya yang kotor. Ia tak mungkin lagi memakainya. Terdengar beberapa ******* terkejut dari pengunjung yang melihatnya. Tampak jelas ada bekas tamparan tangan di pipi kiri pemuda itu. Mereka mulai berbisik-bisik.
Pemuda itu segera bangkit setengah berlari masuk ke kereta keluarganya. Ibunya mendengus pada orang-orang sebelum menyusul putranya. Sementara ayahnya menghela nafas menuju ke kasir untuk membayar makanan.
Tuan Tomson menyempatkan bertanya tentang penginapan di kota ini.
Setelah itu ia menyuruh kusir menuju penginapan HEXSON. Rey juga sama menuju kesana namun berjalan kaki. Rey masuk dan memesan 2 kamar. Ia melirik mereka bertiga yang duduk diruang tamu seperti menunggu sseorang. Rey masuk ke kamar dan beristirahat. Ia sudah memberitahu Zigaz.
Zigaz masih mengikuti orang tua itu. Ia menemui seorang temannya dan berbisik-bisik serius. Lalu mereka pergi ke toko obat untuk membeli salep pereda bengkak. Dan menuju penginapan Hexson.
" Aaah......... akhirnya anda datang juga "
" Tuan, maafkan saya membawa teman yang mengerti tentang pengobatan. Namanya Tuan Medison. Ia akan membantu saya menangani putra anda. Dimana kita akan melakukannya ? "
" Sebaiknya di dalam saja " kata nyonya Tomson.
Tuan Tomson meminta ijin pada petugas penginapan. Lalu mereka berlima masuk ke kamar putranya. Kebetulan kamar mereka bersebelahan dengan kamar Rey karena datang berurutan.
Zigaz tetap menunggu di ruang tamu. Ia hanya melaporkan pada Rey lewat telepati.
Sementara di dalam kamar, Tomaz ( putra Tomson ) melepas cadarnya. Pak tua itu menatap terbelalak pada pipi Tomaz.
" Astaga Tuan Muda........... siapa yang melakukan ini ? "
" Aku tidak tahu siapa namanya, tapi ia seorang penyihir perempuan " jawabnya kesal.
Medison mendekat dan menatap bekas tamparan itu dengan serius. Ia mengambil salep dari kantong jubahnya dan memberikannya pada Pak Tua.
" Ini...... kau harus memantrai salep ini untuk menghilangkan bekas tamparan sihir ini "
Lalu Pak Tua itu duduk bersila di lantai. Ia memejamkan mata sambil berkomat-kamit selama 10 hitungan waktu. Setelah itu memberikannya pada putra Tomson.
" Tuan muda, kau harus mengoleskan salep ini sebelum tidur dan saat pagi. Kau juga tidak boleh keluar atau terkena sinar matahari selama satu minggu "
__ADS_1
" Apa....... ?! Satu minggu ?! "
" Benar....... "