
Pagi ini hampir semua penghuni penginapan bangun kesiangan. Mereka semalam tidak bisa tidur tenang karena ketakutan. Para pelayan banyak yang bekerja sambil menguap.
Penjaga penginapan kedapatan tertidur di kolong meja. Para pelayan merubung untuk mendengarkan ceritanya. Pemilik penginapan datang mengucapkan terima kasih. Ia juga menanyakan keadaan yang lain-lain.
Nenek bahkan belum membuka jendelanya. Ia hanya duduk diam termenung di ranjang. Asgar masih tertidur di kursi. Posisinya terlihat sangat tidak nyaman.
Seseorang hadir disamping Rey , memeluk dan menciumi leher Rey.
" Engggh ...... Kendriiiiick ........... " suara Rey terdengar berat. Matanya masih rapat.
" Bangunlah sayang..... ini sudah siang... "
Kendrick menyelipkan tangannya ke depan dada Rey yang hangat. Dan menyusupkan mukanya di tengkuk Rey. Tapi Rey tak bereaksi, sepertinya ia benar-benar masih mengantuk. Akhirnya Kendrick pun membiarkannya.
__ADS_1
Di luar orang sudah banyak yang beraktivitas. Tapi ada beberapa orang yang masih membicarakan kejadian semalam.
Asgar mengerang bangun. Ia merasa pinggangnya sedikit pegal. Dipegangnya kalungnya, tampak pendar bercahaya, Asgar merasa lebih baik sekarang. Segera ia mencuci muka dan keluar. Ia ingin mengetahui apa yang terjadi tadi malam.
Kakinya melangkah menuju halaman samping penginapan. Ada beberapa petugas pemerintah serta orang-orang dari penginapan. Mereka sedang mengusut kejadian semalam.
Asgar memperhatikan bekas kejadian. Ada beberapa tetes darah yang sudah kering. Asgar mengikutinya. Melewati beberapa rumah, tampak kerumunan orang. Asgar mendekat dan melihat mayat laki-laki gelandangan. Tubuhnya keriput, ada banyak luka robekan ditubuhnya. Tapi tidak tampak darahnya menetes, seolah kering. Asgar mengerutkan keningnya lalu kembali ke penginapan.
Matahari sudah mulai naik dan menyebarkan panasnya di seluruh bumi. Raja Higo menggeliat bangun. Tulang-tulangnya terasa ngilu. Punggung di bagian dalam bekas tusukan juga terasa menyengat, baunya sedikit tidak enak. Ketika sudah duduk bersandar, matanya terpaku menatap para menteri yang mengelilingi bola sihir. Tatapan mereka seperti merendahkannya.
Tiba-tiba Bruno masuk sambil menyeret pedang besar. Ia naik dan duduk di singgasana. Sontak ruangan menjadi ricuh.
" Hei , kau siapa beraninya duduk di atas sana "
__ADS_1
" Aku Raja kalian yang baru "
" Ha..ha...ha....ha....... " para menteri tertawa.
" Prajurit... ! usir orang gila ini.... ! jika melawan, bunuh saja... ! "
Segera saja ruangan itu menjadi ajang keributan. Penasihat Bidoff dan beberapa menteri yang sudah tua langsung menepi.
Bruno terlihat beringas. Ia mengamuk, pedangnya menebas ke segala arah. Banyak prajurit yang terluka karenanya. Tapi apalah artinya punya kekuatan jika tidak punya otak ? Seorang diri melawan prajurit istana sama saja bunuh diri.
Para prajurit terus berdatangan mengurung Bruno. Bruno mulai kewalahan. Tubuhnya sudah banyak luka terkena sabetan pedang para prajurit. Ia tak mungkin bisa melarikan diri. Hanya ada satu pintu keluar, itupun tertutup para prajurit istana.
Dalam hati Bruno menyesali kebodohannya. Sekarang yang bisa dilakukannya hanyalah terus melawan sampai mati, atau menyerah tapi disiksa juga sampai mati.
__ADS_1