GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
68. Senjata Dari Perak


__ADS_3

" Nona, saya tidak mengerti dengan asap hitam itu. Bukankah ia seharusnya musnah terpapar sinar matahari saat datang mencari mangsa ? Sedangkan pedang saya hanya memantulkan sinar matahari, bukankah itu tidak masuk akal ? "


Asgar bertanya bingung.


" Sinar matahari tidak terlalu berbahaya karena sifatnya menyebar. Lain halnya jika dikumpulkan. Dan pantulan matahari di pedang dan perisai adalah sinar matahari yang terkumpul, sifatnya lebih terang dan panas, menimbulkan api. Ia datang kesini karena bau darah. Iblis itu sedikit lebih kuat dari yang biasa. Namun wujudnya tetap tidak dapat terbentuk karena terkena sinar matahari. Manusia penyihir punya tubuh yang tahan terhadap matahari. Tapi iblis tidak punya wujud, itu sebabnya mereka butuh darah atau menguasai tubuh seseorang. Bisa juga masuk ke tubuh hewan, tapi hewan susah dikendalikan. " jelas Rey.


Asgar mengangguk-angguk mengerti. Ia melihat sekeliling.


" Nona, saya akan mencari tahu keadaan istana melalui pembicaraan orang-orang " kata Asgar.


" Hati-hati. Kembalilah sebelum gelap " jawab Rey.


Rey berjalan mencari toko senjata. Kejadian tadi membuatnya mengerti satu hal kecil. Ia harus punya sesuatu yang diperlukan saat sihirnya tak bisa dipakai. Ia masuk dan berbicara dengan pemilik toko.


" Bisakah kau panggilkan pekerjamu yang biasa menempa senjata ? Aku ingin memesan sesuatu yang harus selesai hari ini juga " tanya Rey dengan mata mempesona.


Pemilik toko itu tersenyum. Ia tak bisa menolak permintaan Rey.


" Aku tak bisa berjanji, nona. Tapi lebih baik kita tanyakan langsung pada Brandon " jawabnya. Ia menyuruh pekerja lain memanggil Brandon. Tak lama muncul seorang pria agak tua. Ia menemui pemilik toko senjata.


" Ada apa tuan ? " tanyanya.


" Nona muda ini ingin memesan langsung padamu " jawab pemilik toko. Pak tua Brandon menatap Rey, Rey tersenyum.


" Bisakah anda membuatkan saya kipas dari perak, tuan ? " tanya Rey.


" Apakah ada alasan untuk itu ? " tanya pak tua Brandon.


" Ya. Perak dapat dipakai sebagai senjata untuk melawan iblis atau penyihir. Karena saya seorang perempuan, maka pantaslah jika saya menggunakan kipas untuk menghalaunya " Rey menjelaskan.


Sejenak pemilik toko dan pak tua Brandon saling menatap. Mereka juga mendengar apa yang baru saja terjadi tadi. Mata mereka terbelalak menyadari perkataan Rey. Mereka langsung menyetujuinya.

__ADS_1


" Aku akan membuatkan kipas perak tercantik untukmu nona " kata pak tua Brandon.


" Ya, setelah itu kami akan membuat banyak senjata dari perak untuk dijual " sahut pemilik toko senang.


" Kita tak perlu takut lagi melawan iblis. Tapi bagaimanapun, sebaiknya kita melawan mereka saat siang. Karena mereka sungguh jahat dan licik " kata pak tua Brandon.


" Baiklah, aku akan kembali lagi kesini sebelum gelap, apakah bisa ? " tanya Rey.


" Itu mudah, akan segera kukerjakan " jawab pak tua.


Waktu cepat berlalu. Rey meminta Asgar mengambilkan kipas di toko senjata.


" Permisi, saya kesini diutus nona untuk mengambil pesanannya " Asgar menemui pemilik toko.


" Ah.... tunggu sebentar " ujar pemilik toko menyuruh pelayan memanggil Brandon. Tak lama pak tua Brandon datang membawa sebuah kipas perak yang berukir.



" Ini sangat bagus, nona pasti sangat menyukainya " Asgar menimbang-nimbang di tangannya.


" Bukankah kamu anak muda yang melawan iblis tadi siang ? " tanya pak tua Brandon.


" Ya.... tapi nona juga membantuku " ujar Asgar.


" Kalian hebat, kalian memberi kami ide. Kami akan membuat bermacam-macam senjata dari perak dan menjual murah pada penduduk kota " pemilik toko berkata penuh semangat.


" Itu bagus. Jangan lupa berikan gratis untuk yang tidak mampu. Jika masih kurang, temui aku di penginapan BIGGO " Asgar menaruh 100 keping emas di meja dan segera pergi. Pemilik toko dan pak tua Brandon terperangah senang.


" Terima kasih, tuan ..... terima kasih..... " teriak mereka berdua.


Malam itu pak tua Brandon dan pemilik toko bekerjasama merancang beberapa gambar senjata dari yang sederhana sampai yang berat. Uang yang diberi Asgar sangat berlebih untuk pembiayaan senjata dan upah pekerja. Jadi takkan rugi memberi senjata ringan secara gratis pada keluarga yang tak mampu.

__ADS_1


* * * * *


Rey menimang kipas itu dengan senang. Ia mengipasi dirinya sendiri sambil tiduran. Asgar sudah menceritakan tentang pemilik toko senjata yang berniat membuat banyak macam senjata dari perak. Ditujukan untuk semua laki-laki atau perempuan.


Asgar juga memberi kabar ini kepada penghuni penginapan. Tentu saja mereka menyambut gembira. Mereka berniat akan mengunjungi toko senjata tersebut untuk memesan senjata yang sesuai dengan keinginan mereka. Jika benar orang-orang mau membeli senjata perak, itu berarti mereka akan mulai bangkit melawan. Jadi Rey dan Asgar tak perlu repot-repot membasmi iblis atau penyihir rendahan. Fokus mereka adalah Destraco.


Seperti biasa , malam ini banyak iblis dan penyihir berseliweran di sekitar kota. Namun orang-orang sudah terbiasa diam di dalam rumah dengan lilin atau obor yang tetap menyala. Tak banyak lagi gelandangan yang terlihat karena kebanyakan mereka tewas menjadi korban serangan iblis pada awal keruntuhan Higresia.


Keadaan istana sekarang suram dan gelap. Semua yang bekerja di istana sekarang menggunakan jubah hitam, kebanyakan mereka adalah penyihir atau separuh iblis ( prajurit yang dikuasai iblis ) . Tidak ada lagi pelayan dapur atau lain-lainnya karena tidak diperlukan. Lagipula mereka sudah banyak yang tewas. Sisanya pulang ke rumah masing-masing karena takut.


Seseorang yang bertudung hitam itu melewati lorong-lorong istana. Ia masuk ke salah satu ruangan yang gelap.


" Tuan...... siang tadi ada sepasang suami-istri melawan iblis rendahan. Tapi tampaknya mereka tidak punya sihir. Mereka hanya memakai pedang dan perisai dari perak " lapornya.


" ................ "


Tak ada suara apapun, namun orang itu tetap diam menunduk.


" Dimana gadis takdir itu. Apa tidak ada orang yang mengetahuinya ? " terdengar suara parau.


" Saya sudah berusaha mencuri dengar pembicaraan orang-orang di pasar dan warung makan, tapi tidak ada satupun tentang gadis takdir " jawabnya takut.


" Bagaimana dengan tempat bordil ? " sosok itu mulai gusar.


" Mereka tutup, tuan. Karena tidak ada lagi pengunjung yang kesana belakangan ini " jawabnya


" Hmmph.... pergilah... ! " suara parau itu mengusirnya. Cepat-cepat ia keluar dari ruangan. Diluar pintu ia mengambil nafas lega sebelum pergi.


Sementara di dalam ruangan gelap itu ada sosok bercampur kabut hitam. Ia menggeram pelan seperti bergumam.


" Dimana gadis takdir itu. Aku harus menemukannya sebelum didahului siapapun. Darahnya akan membuatku abadi Dan tubuh ini sudah tidak layak lagi, ia terlalu lemah. Aku harus merebut tubuh orang yang istimewa. Sayang sekali pengemban takdir adalah seorang gadis. Kalau saja ia laki-laki, pasti aku tidak ada tandingannya. Ha..ha..ha.... " tawanya terdengar seram menggema di istana. Siapapun yang mendengarnya gemetar ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2