
" Mengapa kau ingin tahu masa lalu Destraco " tanya Kendrick.
" Sepertinya ada yang mengendalikan hidup Destraco dari kecil " Rey berkata sambil melamun.
" Maksudmu....... pengasuh kami ? " tanya Kendrick tak percaya.
" Lebih tepatnya pengasuh Destraco " Rey menatap Kendrick dengan yakin.
" Aaaah....... aku sungguh tak bisa mengingatnya " ujar Kendrick sambil meremas rambutnya.
" Lebih tepat lagi jika ingatanmu sengaja dihapus seseorang itu " Rey tersenyum miring.
Kendrick melotot. Bibirnya bergerak-gerak namun tanpa kata.
" Kembalilah ke Astraco. Cari tahu dari para tetua tapi hati-hati. Jika perlu kau harus menyamar " Rey menepuk-nepuk tangannya.
Kendrick menghela nafas panjang. Ia bangkit berdiri dan mencium dahi Rey sebelum menghilang.
" Nona, ehm...... apakah Xenia boleh menginap di sini ? " tanya Zacko.
" Tentu saja. Zacko..... karena keadaan sudah aman, tolong carilah orang untuk urusan dapur 5 orang dan bersih-bersih 5 orang " jawab Rey.
" Baik Nona " Zacko segera pergi.
" Xenia, kau ikut aku "
Rey membawa Xenia ke toko pakaian. Lalu mereka cepat-cepat kembali ke markas karena hari hampir gelap. Di markas semua anggota sudah kembali. Beberapa orang masih keluar untuk membeli makanan dan minuman.
Setelah makan malam, Greg dan Zacko melaporkan tentang pembangunan istana. Rey meminta Greg untuk menunjuk salah satu anggota menjadi kepala pengurus markas, tugasnya untuk mengurus keperluan markas dan kebutuhan para anggota (makan, minum, pakaian, alat mandi).
Kemudian Asgar berbicara secara pribadi pada Rey tentang yang ia dengar dari tempat pembangunan istana.
" Biarkan warga HIGRESIA menentukan sendiri, semoga tidak terjadi pertentangan yang tidak diinginkan " kata Rey kemudian melamun.
" Apakah ada yang mengganggu pikiran anda Nona ? " tanya Asgar pelan.
" Ya, sampai sekarang kita belum tahu kapan gerhana matahari itu " kata Rey menatap mereka.
" Mungkin..... itu hanya angin lalu, Nona. Bisa jadi itu dikatakan untuk suatu maksud ? " tanya Zigaz.
__ADS_1
Mereka saling menatap.
" Apakah Nona jadi kembali ke Astraco ? " tanya Asgar.
" Tidak Asgar. Tadi Kendrick sudah berbicara denganku. Tak seorangpun warga Astraco yang tahu tentang kematian Destraco selain kita. Kendrick akan mencari tahu tentang masa lalu Kerajaan Cahaya ribuan tahun lalu. Jadi kita akan tetap berkelana diluar mencari seseorang dibalik Destraco...... " jawab Rey.
" Bagaimana jika kita pergi ke arah barat ? " usul Asgar.
" Maksudmu melewati hutan BLACKBURN ? " Rey bertanya ragu.
" Ya, Nona. Kemarin saya merasakan sesuatu disana ! " kata Zigaz.
" Apa kalian tidak takut dengan sesuatu itu ? " Rey menatap mereka.
" Saya anggap itu sebagai tantangan, Nona " kata Asgar mantap. Zigaz setuju.
Rey mengangguk-angguk " Baiklah, kita berangkat besok "
Saat menjelang pagi, terdengar dapur agak berisik. Seorang gadis bergaun putih memberi instruksi pada 2 koki dan 3 pelayan dapur. Kemudian ia membagi tugas pada 5 orang diluar dapur ( mengisi air, mencuci pakaian anggota, membersihkan semua ruangan atau halaman belakang ).
Ketika matahari sudah muncul, Rey dan Xenia bangun bersamaan. Mereka menuju kamar mandi namun berpapasan dengan Alice.
" Ouw... ouw...... Nonaku.......... " Alice menepuk-nepuk punggung Rey.
Xenia heran melihat keakraban mereka. Seorang calon Ratu berpelukan begitu akrab dengan seorang pelayan ? sungguh...... Xenia menggelengkan kepalanya tak bisa berkata-kata. Ia adalah seorang Putri. Tak pernah seorangpun memeluknya dengan tulus kecuali ayah dan ibunya.
" Hai....... " satu suara ceria menyapanya. Gadis pelayan itu mengulurkan tangan padanya sambil tersenyum manis.
" Siapa namamu " tanya gadis itu.
" Ah..... eh..... aku..... Xenia " jawab Xenia canggung.
" Aku akan buatkan teh herbal untukmu dan Nona. Segeralah mandi, sebentar lagi mereka semua akan bangun dan berebut mandi. Cepatlah " Alice menunjuk ke arah kamar mandi yang berjajar di sebelah kanan tempat cuci.
Rey dan Xenia segera mandi. Lalu mereka duduk bersama di halaman belakang untuk mengobrol.
Tak lama para penghuni markas mulai bangun. Seperti biasa mereka akan saling menindih yang lain supaya segera bangun. 3 pelayan dapur membawa nampan berisi teh manis hangat ke aula. Mereka berebut minum untuk menghangatkan badan.
Setelah makan pagi Asgar menemui Alice sebentar. Sementara Rey bicara tentang pengaturan keuangan dengan Yezhi, kepala pengurus markas yang ditunjuk Greg. Usaha expedisi terpaksa ditunda terkait pembangunan istana.
__ADS_1
Kemudian Greg dan anggota markas bersiap ke istana. 5 orang tetap di markas untuk berjaga. Xenia ikut Zacko ke istana. Rey dan Asgar berangkat naik kuda ke arah barat. Zigaz terbang mengikuti.
Sampai di pinggir kota Rey menyimpan kuda dan terbang rendah. Asgar menggunakan bantuan angin untuk terbang. Zigaz kembali berubah menjadi serigala dan berlari cepat.
Mereka tidak mampir dirumah nenek, langsung terus masuk hutan, melewati saung. Hutan dalam BLACKBURN sungguh seram. Pohon-pohon tumbuh amat rapat. Semak belukar saling berkaitan. Rey berhenti. Terlalu sulit untuk terbang di sela-selanya. Banyak berkeliaran roh-roh orang mati akibat mati dibunuh atau terbunuh.
Rey menunjuk ke arah Zigaz. Cahaya kecil melesat ke tubuhnya dan Zigaz berubah jadi elang. Kemudian mereka melayang naik melewati bagian atas pepohonan.
Keluar dari hutan tampak keramaian di desa kecil. Mereka turun sebelum masuk desa. Zigaz merentangkan sayapnya dan meliuk sedikit, berubah menjadi manusia. Rey mendekatinya dan memberikan kalung Serigala Cronos pada Zigaz. Zigaz tercengang melihat itu.
" I...ini..... darimana Nona mendapatkannya " tanya Zigaz gemetar. Matanya berkaca-kaca.
" Kendrick menemui leluhurmu di Gunung Cronos. Seharusnya aku berikan kalung itu tadi pagi. Maaf aku lupa.... " Rey meringis lucu.
Zigaz memandang lekat pada liontinnya. Ada banyak hal yang tak bisa diungkapkan dengan kata.
" Kamu bisa mengubah diri sesuai dengan keperluan dan tingkat tenagamu saat berubah. Namun sesuaikan dengan tempatnya. Kita akan masuk ke desa itu " ujar Rey mengambil kalung itu dari tangan Zigaz dan bermaksud mengalungkannya di leher Zigaz. Zigaz menunduk sedikit.
" Terima kasih Nona.... "
" Aaaah.... Zigaz..... bagaimana jika kau berubah menjadi ............ " Asgar menggodanya.
" Ggrrrrrrr....... " Zigaz menampakkan deretan giginya.
" He..he..he..he.... jangan marah kek..... " Asgar pura-pura takut. Lengannya menutupi mukanya. Zigaz dengan gemas mengacak-acak rambut Asgar.
" Eh.... Walah.... jangan begitu kek.... Nanti ketampananku hilang nih. Hiiiiissss......... " Asgar berusaha menjauhkan tangan Zigaz.
Rey menahan perutnya sambil tertawa.
" Zigaz, kemungkinan kita akan menginap disini, berubahlah jadi burung kecil saja " kata Rey.
" Tidak Nona, jadi tupai kecil saja, itu lebih lucu dan imuuuuttt...... " seketika mulut Asgar mengerucut karena dijepit jari-jari Zigaz.
Tentu saja Rey harus menahan perutnya sambil tertawa. Mereka terus bercanda sepanjang jalan setapak seolah tak mengkhawatirkan sesuatu.
Mendekati desa, terdengar alunan musik pengiring tarian. Namun ada penampakan yang janggal ditengah-tengah. Tampak seorang gadis muda yang terikat ditiang. Ia terlihat menangis tapi mulutnya terikat kain. Sementara para penari itu terus bergerak dan berputar sesuai irama.
__ADS_1