
Bau harum pie apel menyebar di udara. Nenek Wilma masuk ke gubuk untuk mengangkat pie yang sudah matang. Lalu memasukkan adonan yang satu lagi. Ia mengambil pisau dan keluar membawa pie ke tempat Rey duduk. Rey sedang bercanda dengan si tupai dan kelinci.
" Aaaah........... kue pie. Aku ingin irisan yang besar " pinta Rey gembira.
Nenek tertawa. Ia mengiriskan yang besar untuk Rey. Si tupai dan kelinci berdiri memohon juga. Nenek memberikan irisan kecil pada mereka. Kemudian mengiris untuk dirinya sendiri.
Mereka menikmati dengan tenang. Rusa kecil dan 2 kuda datang ikut bergabung. Tapi mereka tidak minta kue pie. Mereka makan apel yang berjatuhan di rumput.
Setelah satu hitungan jam pasir, Asgar dan Zigaz muncul. Mereka sudah tampak segar dan sehat. Meski bekas-bekas luka masih terlihat.
" Yooo.......... ! apakah kami masih kebagian kue pie ? " tanya Asgar.
" Duduklah...... nenek masih punya satu loyang lagi " jawab nenek Wilma bangkit berdiri.
Asgar dan Zigaz duduk dekat mereka. Asgar mulai usil pada tupai dan kelinci sehingga mereka bergelut di rerumputan. Zigaz membelai kepala kuda hitam. Rey yang agak lelah menyandarkan tubuhnya pada kuda putih. Ia tiduran sambil membelai rusa kecil.
Nenek Wilma datang membawa pie lalu mengiris menjadi beberapa potong. Asgar dan Zigaz segera berebut makan. Setelah kue pie habis, mereka semua ketiduran karena angin yang berhembus sepoi-sepoi. Nenek Wilma tersenyum. Ia mengumpulkan apel-apel yang berjatuhan untuk disimpan dikantongnya. Bisa dibuat minuman atau kue pie.
Di luar dimensi, hari sudah pagi. Sekarang mereka bangun. Bekas-bekas luka di tubuh Asgar dan Zigaz juga sudah hilang sepenuhnya. Itu karena masing-masing memakai kalung penyembuh.
" Kita akan meneruskan perjalanan ke kota atau desa berikutnya. Nenek Wilma ingin jadi tabib buat banyak orang "
" Baik Nona, ayo pergi " Asgar begitu bersemangat.
Mereka bertiga keluar dari ruang dimensi. Terbang melintasi hutan Porton sebelah selatan. Namun tiba-tiba Rey berhenti.
" E...e....e....e......e........ " Zigaz segera mengerem terbangnya.
" Ouughh......... !! " Asgar menabrak Zigaz. Ia membelai-belai hidungnya yang kejedot kepala batu Zigaz.
" Ada apa Nona ? " tanya Zigaz sambil membelai kepalanya.
" Kendrick meminta kita pergi ke wilayah Trexodia " jawab Rey.
" Haaah..... !? Ada apa di sana ? Apa terjadi sesuatu di kerajaan ? " tanya Asgar ingin tahu.
Rey menatap mereka berdua dengan pandangan bingung.
__ADS_1
" Kendrick bilang....... seorang keturunan penyihir yang ingin membunuhku ada di sana. Aku harus mencari dan melawannya. Jika tidak, ia akan mengacaukan Astraco dan seluruh semesta " kata Rey.
Asgar dan Zigaz tercengang mendengarnya.
" Siapa dia, Nona ? " tanya Asgar dan Zigaz berbarengan. Rey angkat bahu.
" Kita akan tahu nanti setelah di sana "
" Lalu bagaimana dengan nenek Wilma ? Apakah dia ikut kesana ? " tanya Zigaz.
Rey menghilang masuk ke ruang dimensi. Ia menemui nenek Wilma.
" Nek...... Lord Astraco meminta kami pergi ke Trexodia. Nenek akan tetap di wilayah Higresia atau ikut kami ke Trexodia ? " tanya Rey.
" Aaah........ Trexodia.... ? " mata nenek Wilma berbinar-binar. " Bawa nenek ke sana Nona. Nenek akan mencari saudara nenek yang katanya berdagang di ibukota Trexodia. Sudah sangat lama nenek ingin bertemu. Semoga dia masih hidup " kata nenek Wilma sendu.
" Baiklah..... "
Rey segera keluar menemui Asgar dan Zigaz. Ia mengangguk saat mereka berdua menunggu jawabannya.
" Jadi...... kita kesana dengan terbang...... atau apa...... ? " tanya Zigaz.
" Berubahlah jadi burung besar "
Zigaz tertegun namun segera melakukan perintah Rey.
" Buuzz..... " Zigaz mengepak-ngepakkan sayapnya agar tetap stabil di udara.
" Wooaaah.... ! " Asgar terkejut tapi senang karena ia terduduk di atas punggung Zigaz.
" Tunggu sebentar..... " Rey kembali ke ruang dimensi.
Ia menarik nenek Wilma keluar gubuk dan mengambil dua lembar daun apel beserta bunganya. Diucapkannya mantra dan ditiupkan ke arah daun + bunga. Cahaya menyelimuti daun + bunga itu dan merubahnya jadi baju hangat (sweater) berwarna hijau muda, dengan jajaran bunga-bunga merah muda. Sedang kancingnya dari biji apel yang masih muda.
" Ya ampuuuuunnnn............ bagus sekali Nona............ " Nenek Wilma menatap takjub pada baju hangat itu.
Rey Segera memakaikan baju hangat itu pada nenek Wilma dan membawanya keluar.
__ADS_1
" Ah..... E... eeh....... Aaaaaaaahhh......... ! "
Nenek Wilma berteriak kencang melihat dirinya berada di udara. Lalu ia menunduk dan tercengang karena berada di atas badan burung besar. Rey menariknya perlahan agar duduk.
" Tenanglah....... Zigaz akan membawa kita terbang ke Trexodia. Nikmatilah pemandangan "
" Zi... Zigaz..... ? nak Zigaz..... ?! seekor burung ? " tanya nenek tergagap.
" He...he...he...he...he...... " Asgar tertawa menepuk-nepuk punggung Zigaz.
" Zigaz sebenarnya seekor naga besar. Tapi lebih sering terlihat sebagai serigala Cronos. Karena Trexodia jauh, sekalian nenek ikut terbang dalam perjalanan " Rey menjelaskan.
" Oooooh.......... " nenek Wilma menepuk-nepuk punggung Zigaz dengan lembut. Ia sudah tenang dan menikmati perjalanan dengan hati senang. Seumur hidupnya belum pernah naik burung besar atau terbang tinggi. Ia melihat pemandangan alam, desa, kota dan lembah. Orang-orang yang berjalan atau berkereta tampak kecil-kecil. Nenek Wilma terkekeh.
Sungguh........ pengalaman yang tak terlupakan........
Satu putaran jam waktu kemudian mereka melihat bangunan istana Trexodia. Nenek Wilma berteriak senang.
" Aaaah........ ! Lihaaat......... itu istana ! "
" Itu istana Trexodia, nek...... " kata Rey.
Zigaz sengaja berputar perlahan diatas istana agar nenek Wilma senang. Beberapa penjaga waspada dan segera melapor pada Raja.
Rey membawa nenek Wilma dan Asgar turun ( teleportasi ) di jalan sepi. Zigaz menyusul kemudian. Para penjaga yang ada di 4 menara pengawas terkejut melihat elang raksasa yang tadi mengitari istana tiba-tiba hilang begitu saja.
Raja dan panglima perang berlarian naik ke salah satu menara pengawas. Namun mereka tidak melihat elang raksasa. Para penjaga melaporkan bahwa elang raksasa itu tiba-tiba hilang begitu saja.
Raja mengerutkan alis dan saling menatap dengan panglima. Mereka merasa was-was, ada pertanda apakah tiba-tiba muncul elang raksasa mengitari istana dan menghilang ?
" Panggil seluruh penjaga yang berjaga di keempat menara dan para kepala pasukan, kita rapat di dalam markas " perintah Raja.
" Baik Yang Mulia " panglima tentara segera berlari turun melaksanakan perintah. Ia menyuruh beberapa prajurit melakukan perintah Raja. Kemudian ia pergi ke ruang rapat dalam markas untuk mempersiapkan segalanya. Ia juga memanggil menteri militer dan penasihat Raja.
Para pelayan istana mulai membicarakan tentang elang raksasa itu sambil beraktivitas. Mereka mengira kerajaan ini akan mengalami sesuatu kesialan. Tapi ada juga yang bilang itu keberuntungan atau diberkati.
Pelayan Ratu juga menyampaikan apa yang terjadi pagi ini di atas istana. Ratu terkejut. Ia segera berlari naik ke salah satu menara dan melihat ke langit.
__ADS_1