
Asgar memegang kalungnya dan bertelepati pada Rey.
( " Nona, saya ingin berbicara " )
( " Ya, tunggu sebentar " )
Tak lama Rey masuk ke ruang kerja Asgar.
" Ada apa Asgar ? " tanya Rey.
" Itu.... tadi warga kota datang kemari. Mereka mempertanyakan tentang masa depan kerajaan Higresia. Mereka meminta raja baru " jelas Asgar.
" Lalu apa jawabmu pada mereka "
" Saya menyarankan mereka untuk membenahi dulu istana yang hancur dan membangun lagi. Baru setelah itu memilih raja yang baru "
" Dimana Zacko ? "
" Ia pergi bersama seluruh anak buahnya ke sana "
" Lalu anak buahmu ? "
" Mereka ada di aula. Mereka takkan pergi jika saya tidak menyuruhnya "
" Mmm..... anak buahmu adalah tipe prajurit atau pejuang yang tangguh. Mereka nantinya akan bekerja sebagai pemimpin prajurit atau pengawal kerajaan. Zacko adalah seorang pemimpin, tapi ia kurang berpikir. Selama ini ia terbiasa dilayani anak buahnya. Ia lebih cocok belajar menjadi Ksatria lebih dulu. Greg lebih pemikir dan bijaksana, tapi kurang tangguh. Aku tidak bisa menentukan siapa yang akan menjadi raja baru. Tapi warga kota akan menilai sendiri nanti selama pembangunan istana "
" Saya mengerti, Nona. Bagaimana dengan Penguasa Kegelapan ? Bukankah ia lolos kemarin saat pembakaran ? "
" Ya ia cerdik dan licik. Entah bagaimana caranya melewati api kemarin. Di masa depan, ia hanya bisa dikalahkan dengan kekuatan jiwa dan cahaya. Namun kekuatan anginmu juga bisa menguraikan tubuhnya saat berbentuk asap atau kabut hitam ( unsur udara ). Kau harus lebih banyak bertapa, Asgar. Jangan terlalu fokus dengan kekuatan fisik saja "
" Saya mengerti... "
Satu sosok hadir di ruangan itu. Asgar segera membungkuk
" My Lord.... "
" Aku kesini untuk menjemput Alice, ia tidak boleh terlalu lama di sini. Nanti ia teringat masa lalunya yang menakutkan " kata Kendrick.
__ADS_1
" Saya akan memanggilnya, My Lord " Asgar segera berlalu.
Kendrick meraih tangan Rey, lalu memeluknya.
" Berhati-hatilah saat berhadapan dengannya. Ia mengincar jiwamu. Dalam dirimu ada dua elemen kekuatan yang besar. Satu cahaya ( penolong, sabar, pengasih, dll... ), dan yang satunya adalah kegelapan ( marah, dendam, iri hati, dll ) . Jika kamu tidak bisa mengendalikan hati dan pikiranmu, maka ia pasti akan menang.
Ingatlah, aku dahulu kalah karena mengasihi dia, sehingga rela tubuhku diambilnya. Namun jiwaku selamat karena aku tidak bisa membiarkannya mencelakai yang lainnya.
Jadi jangan mengulang kesalahanku lagi.... " ujar Kendrick sendu. Rey menepuk-nepuk punggung Kendrick.
Mereka keluar dan bertemu dengan Alice yang bersama Cleo. Cleo terpesona melihat Kendrick yang berwajah sangat tampan...
" Haiiish..... lap dulu air liurmu itu, menjijikkan " ujar Alice sambil berpura-pura mengelap Cleo.
" Eh....he..he..he..he........ semoga anakku nanti tampan seperti dia "
Sebuah tangan besar menutup mata Cleo. Itu tangan Jezko. Mereka semua tertawa.
" Tuan dan Nona, saya mengucapkan terima kasih sudah menolong kami berdua. Sekarang kami mau pamit akan pergi ke rumah orang tua istri saya " ujar Jezko.
" Suruhlah dia menelan ini, nanti pasti sembuh "
" Terima kasih, My Lord.... " ucap Jezko setengah membungkuk. Lalu menggandeng Cleo berlalu.
" Nona, jaga diri baik-baik. Asgar, hati-hati yah ....? " Alice juga berpamitan sebelum Kendrick memegang bahunya untuk kembali ke Astraco.
Diluar gerbang, Cleo penasaran dengan pemberian pria tampan itu pada Jezko. Ia memegang tangan Jezko untuk memeriksa. Namun Cleo tak menemukan apapun. Jezko hanya tertawa. Ia mengacak-acak rambut Cleo sedikit.
" Suamiku, apa yang diberikan tuan tampan tadi ? "
" Itu energi penyembuh. Dia adalah Penguasa Abadi. Lord Astraco "
" Apa..... ? Lord Astraco ? Negeri Cahaya ? "
Cleo membelalakkan matanya. Ia setengah tak percaya. Jezko mengangguk-angguk.
" Be... benarkah ? " Cleo menutup mulutnya. Ia telah melakukan kesalahan besar, menggoda seorang penguasa kerajaan tertinggi....
__ADS_1
Ya ampun....
* * * * *
Jauh didalam hutan perbatasan, suatu asap hitam bergerak perlahan menimbulkan ketakutan seluruh hewan yang merasakannya. Terdengar suara geraman dan keluhan. Ya.... itu Destraco.
Ia mengalami luka dalam juga. Pecahan perisai cahaya Rey banyak yang mengenai tubuhnya. Saat itu ia bergerak cepat sekali sehingga tak terlihat mata biasa. Ia tak menyangka perisai itu terbuat dari cahaya. Begitu menabraknya, pecahan cahaya langsung mengenai tubuhnya tanpa sempat menghindar lagi, membuatnya kehilangan separuh tenaga serangan.
Ia segera pergi ketika pengawal Gadis Takdir itu membentuk perisai lagi ( Destraco mengira Asgar juga membuat perisai cahaya ). Jadi ia tidak ingin semakin kalah, memilih melarikan diri. Ia akan menunggu saat yang tepat untuk mengalahkan dan merebut jiwa Gadis Takdir itu. Entah kapan gerhana matahari tiba.
Saat ini ia sendirian. Penyihir dan iblis di istana semua terbakar. Ia harus mengumpulkan pengikut lagi... Itu berarti, ia terpaksa berkelana.
Seekor rusa muda sedang tertidur didekat pohon apel.ia tak menyadari bahaya mendekat. Mata Destraco berkilat merah menemukan mangsa. Namun tiba-tiba burung gagak berkoak.
" Koaaakk.......! "
Rusa muda terperanjat bangun. Merasa bahaya, ia segera melesat pergi. Destraco dengan marah mengejarnya. Kekuatannya belum pulih setelah pertarungan kemarin. Ia meraung keras, membuat semua hewan yang mendengarnya lari ketakutan. Burung-burung terbang dengan panik.
Seorang nenek pencari kayu bakar mendengar raungan itu dan terkejut. Ia menoleh ke kanan ke kiri. Hatinya mulai berdegup kencang. Segera diturunkannya cabang-ranting dari punggungnya. Nenek itu berjongkok mengeluarkan batu pemantik api. Secepatnya ia membakar cabang ranting yang agak besar dan memegangnya di tangan. Ia hampir saja menjerit saat dilihatnya asap hitam berdiri tak jauh darinya. Dengan gemetar ia juga menyulut satu ranting lagi. Lalu duduk diam sambil memegang dua obor kecil. Ia berharap selamat dari iblis.
Nyatanya asap hitam itu diam disana seolah menunggu. Nenek itu menggigit bibirnya. Ia memandang langit, berharap ada pertolongan. Mereka sama-sama menunggu.
Terdengar derap kuda. Tampak dari jauh penunggangnya menggunakan mantel perak. Segera orang tersebut menarik tali kekang kudanya melihat seorang nenek duduk ditanah memegang obor kecil.
Namun ia lebih terkejut melihat ke depannya ada asap hitam berdiri. Sadar itu adalah sosok iblis, ia menarik pedang peraknya dan mengarahkan cahaya matahari agar terpantul. Tentu saja Destraco memilih pergi. Ia sedang kalah kekuatan.
Nenek itu menarik nafas lega. Ia berdiri dan berterima kasih pada si pemburu.
" Terima kasih, nak. Kau telah menolongku "
" Mengapa nenek ada di hutan ? "
" Aku sedang mencari kayu bakar "
" Oh.... aku yakin iblis itu masih ada di dalam hutan. Lebih baik kita kembali bersama-sama. Naiklah ke atas kudaku. Jangan padamkan obornya, biar ku pegang satu " kata si pemburu.
Akhirnya mereka kembali ke kota. Mereka menceritakan apa yang terjadi di hutan. Para warga waspada dan saling memperingatkan.
__ADS_1