GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
149. Menyelamatkan Gerard


__ADS_3

Orang-orang Gerard duduk berlutut di belakang Rey menunggu untuk disucikan. Sementara para warga melihat Asgar yang sedang mengurus anjing-anjing yang terluka. Ada 4 ekor anjing yang sudah baik-baik saja. Mereka menjilati tangan Asgar sebagai tanda terima kasih.


Asgar menggotong satu anjing yang dikiranya sudah mati ke dekat Rey. Anjing-anjing lain duduk berbaris disamping Gerard. Warga ikut duduk berlutut di belakang walikota.


Rey masih berlutut menangkup tangan Gerard. Terlihat cahaya berpendar di sekitar tangannya dan Gerard. Warga yang menyaksikan itu takjub dan bersyukur dalam hati telah ditolong Gadis Takdir.


Tak berapa lama Gerard membuka matanya. Ia memandang sekeliling dan mendapati walikota disamping seorang gadis cantik. Walikota amat senang karena Gerard baik-baik saja. Rey melepaskan tangannya.


" Gerard......... " walikota meraih tangan Gerard. Gerard tersenyum. Ia merasa tubuhnya segar seperti habis tidur. Walikota membantunya duduk.


Rey menengok anjing yang ditaruh Asgar di sampingnya. Ia mendongak ke atas dan mengulurkan tangannya lalu seperti menggenggam sesuatu. Sesuatu itu bercahaya redup. Rey menggenggam dengan 2 tangan. Sekarang cahayanya terlihat terang agak kebiruan.


" Asgar.... buka mulutnya " perintah Rey.


Asgar membuka mulut anjing yang sudah mati itu, lalu Rey memasukkan cahaya itu perlaha. Tampak tubuh anjing itu bercahaya selama 5 hitungan waktu dan redup. Anjing itu mulai bernafas, lalu membuka matanya. Ia bangkit dan mengulurkan kaki depannya pada Rey. Rey tersenyum menerimanya. Kemudian anjing itu menciumi Gerard yang duduk bersandar pada walikota. Semua yang melihat itu bergumam gembira.


" Nona Takdir..... bagaimana dengan kami ? apakah kami baik-baik saja ? " tanya orang-orang Gerard.


Rey menatap mereka. Ia mengucap mantra untuk membuat bola cahaya yang berisi energi penyembuh. Lalu melepaskan bola cahaya itu ke arah mereka.


" Letakkan kedua tangan kalian di bola itu secara bergiliran "


Masing-masing mengamati teman-temannya yang memegang bola itu secara bergiliran. Ada terasa sejuk saat memegangnya.


Ayah Zoya mendekati orang-orang Gerard.


" B... bolehkah aku meminjamnya untuk menyembuhkan istriku yang sakit di rumah ? " tanyanya takut-takut. Orang-orang Gerard menoleh pada Rey seolah meminta ijin.


Rey berdiri dan memandang bola cahaya itu.


" Kamu tidak boleh membawanya. Nanti akan banyak orang memperebutkannya dan menyalahgunakan. Istrimu akan sembuh jika dia meminum air jeruk nipis setiap hari (mengobati radang tenggorokan) " kata Rey.

__ADS_1


" Mengenai anak-anak yang hilang. Seseorang memang telah menculik dan menyembunyikan mereka di ruang dimensi. Ia adalah seorang penyihir. Aku tidak bisa mengambilnya, kecuali ia sendiri yang mengeluarkannya dari ruang itu terlebih dahulu. Jujur saja, aku tidak bisa menjamin keselamatan masing-masing anak yang ditawan. Kemungkinan, ia akan mempersembahkan anak-anak itu pada malam bulan purnama entah dimana. Yang ku harap dari kalian adalah tetap berdoa dan menunggu. Jangan mencoba berhadapan secara langsung dengannya karena sudah jelas kekuatannya di atas kalian semua. Bisa jadi kalian akan ikut tertangkap dan jadi korban persembahan. Aku dan Asgar akan berusaha mencari dan menolong. Tolong lain kali lebih berhati-hati menjaga anak-anak " lalu Rey dan Asgar menghilang.


Warga yang mendengar itu diam merenung. Mereka menyadari kesalahan masing-masing yang teledor menjaga anak-anak. Bahkan karena mereka, Gerard hampir mati. Bola cahaya yang ada diantara orang-orang Gerard mulai meredup, lama-lama menghilang.


Walikota membantu Gerard bangun. Mereka semua terpaksa pulang dengan tangan kosong. Rasa sedih dan takut meliputi orang tua yang kehilangan anak-anak. Mereka berjalan gontai, tidak berani membayangkan nasib buruk yang akan menimpa anak-anak mereka.


Sementara di ruang dimensi milik seseorang penuh dengan suara tangisan anak-anak. Namun pemiliknya masih tampak tidur nyenyak. Lagipula, suara itu tidak terdengar karena gucinya (ruang dimensi) ia letakkan di meja. Ia dengan nyenyak tidur sampai matahari meninggi.


Pelayan penginapan mengetuk setiap pintu.


" Tuan.... Saatnya makan siang..... "


" Hmmmm........... "


Ada beberapa pintu yang segera terbuka. Penghuninya menuju ruang makan. Untuk yang lain mungkin sudah keluar dari pagi.


Odex bangun dari tidurnya. Ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu meraih gucinya. Mulutnya komat-kamit membaca mantra. Lalu mengeluarkan seorang anak kecil. Anak kecil itu menangis. Matanya sedikit bengkak.


Odex meregangkan otot-ototnya. Ia merasa segar setelah meminum darah anak kecil.


" Aaah..... ternyata lebih enak dari anggur merah " katanya mendesah. Lalu beranjak bangkit untuk makan siang.


Rey dan Asgar pergi ke rumah makan. Tadi pagi mereka belum sempat sarapan karena ada panggilan. Pelayan segera ke dapur menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka. Mereka duduk di dekat jendela samping.


Rey melihat ada seorang anak laki-laki kecil berpenampilan lusuh bersandar di samping sebuah rumah. Anak itu sedang bermain lempar bola tanah. Rey merasakan aura sihir darinya.


" Sssstt..... ! "


Rey melempar serangan balon udara padanya. Anak kecil itu membuat pedang tanah untuk menusuk balon itu.


" Ssssssttt...... ! "

__ADS_1


Rey melempar lebih banyak balon udara. Anak itu membuat perisai tanah. Rey bertepuk-tangan tanpa suara. Asgar tercengang melihat itu semua. Ia tak menyangka anak itu pandai sihir.


Rey melambai padanya. Anak itu mendekat ke jendela. Rey membaca mantra dan menunjuk padanya. Seketika pakaian anak itu berubah bagus. Rey meraih pundaknya dan tiba-tiba sudah berpindah tepat di dalam. Asgar segera menarik kursi duduk untuknya.


" Siapa namamu ? " tanya Rey.


" Martin " jawabnya


" Dimana orang tuamu ? "


Martin hanya menggeleng. Rey segera mengusap punggungnya.


" Tak apa, maukah kau kubawa ke negeri cahaya ? Disana banyak teman-temanmu yang bisa sihir. Kau akan belajar disana lebih baik " ajak Rey.


Martin mengangguk.


Pelayan datang membawa makanan, minuman dan kue. Asgar meminta satu porsi lagi pada pelayan. Rey mengambilkan beberapa makanan ke piring Martin dan menyuruhnya makan lebih dulu. Setelah pelayan membawakan pesanan Asgar, barulah Rey menyusul makan bersama.


Kadang-kadang mereka saling bertanya di sela makan.


" Nona, apakah anda berasal dari negeri cahaya ? " tanya Martin.


" ....... Tidak, tapi aku sering kesana berkunjung " jawab Rey


" Oh.... Bagaimana dengan tuan ? " tanyanya melihat Asgar.


" Sama.... Aku juga harus sering berkunjung kesana. Aku punya kekasih disana "


" Aah... ? pasti cantik ya. Kekasih Nona apakah tampan ? " tanya Martin.


Rey hanya mengangguk karena sedang minum.

__ADS_1


Selesai makan mereka berjalan keluar. Rey bermaksud membelikan baju-baju untuknya. Ketika mereka hampir sampai di toko baju, tiba-tiba Martin memeluk erat Asgar. Wajahnya di sembunyikan di paha Asgar (Asgar berpostur tinggi).


__ADS_2