
Seekor serigala berwarna putih keabuan mendekat dengan santai. Ia tidak terlihat agresif. Namun matanya menatap tajam pada Rey. Pada jarak 10 langkah, serigala itu berhenti dan duduk dengan tenangnya. Asgar tetap siaga. Bagaimanapun, melawan serigala butuh kecepatan dan kecerdikan. Untungnya Asgar sudah punya elemen sihir, setidaknya itu membantunya bertarung.
Cukup lama serigala itu memandangi Rey. Ia sama sekali tak perduli pada Asgar yang siaga. Kelihatannya memang ia tidak berniat menyerang.
Rey yang menunggu akhirnya sadar bahwa serigala ini punya maksud yang lain. Ia maju dengan tetap berpegangan pada lengan Asgar.
" Ehm..... Apakah ada yang ingin kau bicarakan denganku ? " tanya Rey agak merasa lucu karena tak yakin serigala itu bisa bicara.
Serigala itu mengangkat kedua tangannya dan menunduk. Lalu dari tangannya keluar bola cahaya kecil berwarna kebiruan. Bola itu melayang perlahan ke arah Rey. Rey mengulurkan tangan menerimanya.
Diperhatikannya dengan seksama seperti ada gambaran didalamnya. Itu adalah bola waktu. Rey mengerahkan tenaganya untuk memperbesar bola itu seukuran bola ramalan. Tampak didalam suatu rekaman kejadian dimasa lampau. Seorang gadis berbaju pengantin sedang berhadapan dengan seorang pria berjubah putih. Pria itu mengulurkan tangannya menyentuh pipi gadis itu, namun tangannya seketika berasap seperti terbakar. Lalu dicobanya lagi dan tetap seperti itu. Pria itu dengan marah mengambil pisau dan menusuk jantung pengantin perempuan itu. Pengantin itu menggenggam erat tangan pria itu sambil mengucapkan sesuatu. Tangan pria itu berasap hitam dan mulai terurai hingga seluruh tubuhnya musnah. Lalu asap hitam itu pergi menghilang. Seorang tua-tua mencoba menolong sang pengantin. Namun cahaya putih kebiruan keluar dari tubuh gadis itu dan melesat pergi.
Rey terpana melihat kenangan itu. Ia sadar siapa dirinya yang dulu. Ia adalah Rey Solana ( Putri Cahaya ). Sedang pria berbaju putih itu adalah Destraco yang menyamar menjadi kekasihnya, Astraco. Ia sempat mengutuk Destraco sebelum tubuhnya terurai menjadi cahaya.
Rey mengembalikan bola waktu itu pada serigala.
" Senang bertemu kembali Putri Rey " suaranya seperti desau angin namun terdengar jelas ditelinga Rey dan Asgar.
" Kau siapa ? " tanya Rey.
" Hamba hanyalah salah satu dari Serigala Cronos. Kami sudah turun-temurun menjaga keluarga Cronos. Hanya saja Putri Cronos saat itu melarang hamba mengikutinya "
" Oh...... namamu siapa ? "
" Zigaz, Tuan Putri "
" Ehm.... jangan memanggilku " Putri ", Rey saja " kata Rey.
Zigaz tak bereaksi.
Asgar menggaruk kepalanya.
__ADS_1
" Bagaimana kalau kau memanggilnya " Nona " saran Asgar.
" Bukankah itu melanggar aturan ? " tanya Zigaz.
" Kalau begitu pergilah saja " jawab Rey cemberut.
Zigaz menghela nafas " Hhhmmm...... "
Asgar terkekeh tanpa suara.
Mereka berjalan kaki masuk lebih dalam. Rey melihat pepohonan mulai rapat. Ia sejenak berpikir, jika bertarung di dalam hutan seperti ini ia akan kesulitan.
" Ada apa Nona ? " tanya Asgar.
" Anu..... bagaimana bisa kita melawan Destraco jika banyak pohon seperti ini. Bukankah gerakan kita akan terbatas ? " jawab Rey.
" Anda bisa bertarung di udara, Nona " sahut Zigaz.
Rey dan Asgar menoleh dengan mulut terbuka.
" Tentu saja dia tidak mau. Mungkin dia akan bertahan dan menyerang dari bawah saja. Karena kelemahannya adalah cahaya. Tapi kelebihannya adalah ia bisa menguasai pikiran seseorang. Hanya orang-orang berhati teguh saja yang selamat. Berhati-hatilah saat menatap matanya "
Rey terdiam.
" Kita bisa menebang beberapa pohon untuk membuat lapangan yang luas ? Kayunya bisa dipakai untuk membuat rumah " ujar Asgar sambil lalu.
" Plaaakkk.... !! kau benar Asgar, kau pintar " Rey terlalu semangat memukul bahu Asgar hingga Asgar sedikit terhuyung-huyung.
Zigaz menggelengkan kepalanya. ( Dua anak muda ini benar-benar......) bathin Zigaz.
Mereka terus masuk hutan tanpa takut. Tidak ada binatang apapun dalam hutan ini. Kehadiran Destraco membuat penghuni hutan mengungsi ke tempat lain.
Rey menyuruh Asgar memotong pohon menggunakan elemen angin. Zigaz menendang pohon jatuh ke arah lain agar tidak mengenai Rey atau Asgar. Rey sendiri membantu memindahkan jatuhnya pohon ke tepian.
__ADS_1
Setelah tercipta tanah lapang. Rey memilih beberapa cabang untuk dijadikan obor. Zigaz menjejakkan kaki depannya sehingga tercipta lubang untuk menancapkan tiang obor. Rey memberikan api pada tiap obor.
Kemudian mereka duduk diatas potongan kayu besar setinggi lutut ( Asgar yang memotongnya ). Rey mengeluarkan 2 kue pie pemberian nenek dan daging rusa bakar sisa waktu perjalanan di desa Zebbel.
Mereka makan dengan santai sambil menunggu Destraco. Mereka bersikap seperti layaknya pengelana. Setelah makan, Zigaz berdiri melakukan gerakan peregangan. Lalu ia berubah menjadi seorang laki-laki setengah tua. Rey dan Asgar terpana.
" Waspadalah..... Dia mendekat " katanya pelan. Rey saling menatap dengan Asgar, lalu Zigaz.
" Dengarkan aku Zigaz. Biarkan aku bertarung melawannya. Kau harus melindungi Asgar. Asgar akan berusaha menguraikan tubuh Destraco. Asgar, lakukan hanya pada saat terakhir, lebih mudah. Aku ingin bermain dulu "
" Tapi Nona....... " Zigaz menolak.
" Percayalah padaku, lindungi Asgar. Aku akan membuat kalian tak terlihat "
Zigaz mengangguk dan menarik nafas. Tugasnya adalah melindungi Keluarga Cronos. Namun Nonanya malah menyuruhnya menjaga orang lain. Ia menatap Asgar dengan aneh. Asgar hanya menyeringai lucu.
Rey membaca mantra tak terlihat dan melambaikan tangannya pada Asgar dan Zigaz.
" Jangan bersuara apapun " bisik Rey.
Terdengar suara geraman mendekat. Ya, Destraco marah melihat ada obor di tengah hutan. Ia baru saja kembali dari sisi lain hutan, membunuh salah satu penebang kayu desa Denvil, negeri tetangga. Sekarang kekuatannya sudah kembali 90%.
Dilihatnya seorang perempuan duduk memunggunginya diatas balok kayu pendek. Ia tidak merasakan aura apapun dari perempuan ini. Namun jubahnya berkilauan tertimpa cahaya api karena disekelilingnya banyak tiang obor. Ia menyeringai. Baginya api itu tidak bisa melukainya. Ia meliuk menghindari api dan berhasil masuk ke dalam.
Sebenarnya tujuan Rey menyalakan obor adalah untuk menyuplai energi cahaya yang dibutuhkannya saat bertarung. Dengan begitu ia tidak khawatir kehabisan energi.
Destraco memutari Rey ingin tahu wajahnya. Namun ia tertegun menatap wajah yang diselimuti cahaya penuh. Ia mendesis sambil mundur.
" Gadis Takdir "
Rey tetap diam seolah tidak perduli. Diam-diam ia membaca mantra cahaya untuk mengurung sekitar tempat itu. Sebuah lapisan cahaya tak terlihat. Destraco tidak akan bisa keluar. Jika ia nekat, maka tubuhnya akan benar-benar hancur.
Destraco tidak tahu tentang lapisan itu. Ia hanya melihat Rey yang duduk diam saja dari tadi. Destraco tidak dapat membaca pikiran tanpa melihat mata orang yang bersangkutan. Rey tahu itu. Ia ingin bermain-main dengan Destraco.
__ADS_1
Rey menutup matanya. Ia menggunakan mata bathin. Setelah itu cahaya diwajahnya meredup, hanya tinggal satu cahaya di dahinya. Mulutnya tersenyum indah.