GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
118. Memusnahkan Roh Racun


__ADS_3

Lalu bagaimana dengan Roh Racun ? apakah Roh Racun benar-benar mati atau menghilang..... ? tidak..... Dia adalah roh yang licik, ia berhasil pindah ke tubuh Zigaz dengan kekuatannya yang terakhir. Menggunakan racun pelumpuh . Dan ia mulai meracuni seluruh tubuh Zigaz untuk sumber hidupnya. Itulah sebabnya Zigaz ambruk tak berdaya.


Dan karena Roh Racun pindah ke tubuh Zigaz, maka bagaimana dengan Rey ?Tentu saja racun terakhir yang ada di tubuh Rey hilang karena ditarik sepenuhnya oleh Roh Racun. Ajaib ya ? itulah dunia cerita, apapun bisa jadi... Mengapa Zigaz tak mau memanggil Rey dengan telepati ? itu karena Zigaz melihat Rey masih belum sembuh. Ia tak ingin mengganggu proses pemulihan Nonanya.


Kita tinggalkan Zigaz yang dalam proses sekarat. Dalam danau air sedikit bergelombang. Cahaya di tubuh Rey semakin berpendar. Mata gadis cantik itu terbuka perlahan. Kemudian duduk mengingat apapun saat terakhir sebelum ambruk. Ia menengadah, melihat bola jiwanya yang bercahaya amat terang. Bibirnya tersenyum. Rey bangkit dan berenang ke atas. Kemudian melayang dengan gembira. Setelah puas, Rey menuju tepi danau.


Dilihatnya ada gaun berwarna ungu tergeletak di rumput. Ia hampir menyentuhnya ketika terdengar suara lirih Zigaz.


( " Jangan.......... ! itu...... ber...ra...cun....... " )


Rey melihat sekelilingnya. Tampak Zigaz terbaring tak berdaya di bawah pohon apel. Rey segera terbang mendekatinya.


( " Jangan.....me...nyen...tuhku....


Tetap...lah... me..la....yang..... " )


Zigaz menatap Rey dengan raut muka menahan sakit. Rey mengerutkan alisnya. Ia mendengar telepati Zigaz dan memikirkan kata-katanya.


Dipejamkannya matanya dan cahaya di dahinya menerangi seluruh tubuh Zigaz. Rey terbelalak mengetahui kondisi darah dan tubuh Zigaz yang sekarat karena tercemar racun. Dan ada sesuatu dalam jiwa Zigaz ? itu seperti roh atau iblis, entahlah.


Rey membuka matanya dan mengambil nafas. Mulutnya merapalkan mantra. Tangannya menunjuk ke tubuh Zigaz. Seketika tubuh Zigaz terangkat menuju ke danau. Rey tidak membiarkan tubuh Zigaz tenggelam ke dasar danau. Ia menahannya sejengkal dibawah permukaan air danau.


Segera terlihat air di sekitar tubuh Zigaz berwarna keunguan. Zigaz tersenyum tipis. Ia lega karena Nonanya selamat. Matanya terpejam. Sekarang ia bisa mati dengan tenang.


" Jangan berpikir untuk meninggalkanku sekarang Zigaz, aku tak kan membiarkanmu mati dengan tenang.... ! " ucap Rey pelan namun terdengar jelas di telinga Zigaz.


" ........ ? " Zigaz kembali membuka matanya, menatap Rey yang berdiri di udara.


" Ceritakan padaku apa yang terjadi selama aku tidak sadar " pinta Rey.

__ADS_1


Zigaz membuka mulutnya, air mengalir masuk ke tenggorokannya namun tidak membuatnya tersedak atau gelagapan. Itu meredakan tenggorokannya yang tadi amat sakit berduri.


Zigaz menceritakan tanpa suara, tapi Rey mengerti setiap gerak-gerik mulutnya. Rey mengangguk-angguk. Bibirnya tersenyum miring.


" Jadi ia adalah Roh Racun ? " tanya Rey tanpa suara.


" Ya " jawab Zigaz


" Tidak boleh disentuh.... Bisa berpindah tempat " Rey bergumam sambil berpikir.


Rey menatap air keunguan di sekitar Zigaz. Akan terlalu lama membiarkan Zigaz dalam pengobatan air danau. Harus menggunakan cara lain. Ia mengeluarkan bola api kecil di tangannya. Lalu tangan yang satunya mengambil setitik cahaya dari dahinya, menyatukannya dengan bola api kecil itu. Tampak cahaya keputihan membungkus api itu.


Rey memejamkan matanya dan melepaskan bola cahaya itu menuju mulut Zigaz.


" Buka mulutmu " perintah Rey.


Di kepalanya terdengar erangan dan raungan Roh Racun yang terusik. Bahkan teriakan caci-maki yang tidak pantas didengar. Tapi Zigaz tak perduli itu. Tubuhnya terasa semakin nyaman karena terobati. Ketika waktu berlalu 30 hitungan, Zigaz merasa sesuatu merayap keluar dari tenggorokannya.


" Buka mulutmu " perintah Rey.


Sebuah bola kecil kehitaman keluar dari mulut Zigaz. Zigaz terbelalak kaget dan ngeri. Merasa dirinya sudah sehat, Zigaz merubah dirinya menjadi burung kecil dan bertengger di bahu Rey. Bola hitam itu melayang diam di depan Rey. Rey dan Zigaz sama-sama menatapnya tajam.


Bola hitam itu adalah bola api yang dilapisi cahaya suci, yang tadi memasuki tubuh Zigaz . Itu fungsinya untuk menarik semua racun ditubuh Zigaz. Apinya berfungsi untuk membakar kering racun-racun yang terserap cahaya. Roh Racun juga secara otomatis tersedot masuk ke dalam bola itu.


Cahaya di dahi Rey bersinar terang lalu menyorot pada bola hitam itu. Lamat-lamat terdengar suara teriakan mengerikan. Dalam 5 hitungan bola hitam itu terkikis seperti abu dan tertiup angin. Rey menarik nafas lega.


" Nona, apa Roh Racun benar-benar sudah musnah ? Maksud saya, tidak pindah ke lain orang ? " Zigaz masih was-was.


" Ia akan terbentuk lagi jika ada orang yang menggabungkan seribu macam racun dalam ramuannya atau meminum racun yang berbeda setiap hari selama seribu hari. Untuk cara yang pertama resiko kematian karena tidak boleh minum penawar. Cara yang kedua lebih berhasil dengan catatan tidak satu hari pun terlewatkan. Jika terlewat, maka harus diulang dari awal lagi. Dan siapapun yang terkena cakar atau tetesan darah racunnya akan mati dalam hitungan ke seribu. Kecuali punya seribu penawarnya " jelas Rey.

__ADS_1


" Tapi Nona..... bisa melebihi batas waktunya ? " tanya Zigaz.


" Itu karena air danau melarutkan racunnya satu-persatu. Dan memulihkan kerusakan dalam tubuh. Seandainya kamu lebih cepat masuk danau, tak akan sekarat " Rey terbang ke tepi danau dengan Zigaz masih di pundaknya.


" Ia menyerang saya dengan menggunakan racun pelumpuh " jawab Zigaz.


" Mengapa kamu tidak memanggilku ? " Rey melirik Zigaz.


" Saya tidak ingin mengganggu pemulihan Nona. Lagipula saya khawatir Roh Racun akan melompat lagi pada Nona " kata Zigaz.


" Ya, ia lebih pantas disebut kutu loncat daripada Roh Racun. Aku menyesal tidak menyihirnya jadi katak buduk " Rey bersungut-sungut.


" Lebih baik jangan. Jika tidak ia akan menyebarkan racun kemana-mana sambil berkoar-koar " tegur Zigaz.


" He..he..he...... " Rey nyengir kuda.


Telunjuk Rey mengarah pada gaun ungu milik Roh Racun. Rey membakarnya di udara. Baunya sungguh busuk. Kemudian mengambil segumpal air dengan mangkok dari air dan menyiramkannya di rumput yang menghitam. Segera rumput itu perlahan kembali hijau segar. Zigaz turun dan berubah jadi orang tua.


" Bagaimana dengan kuda-kuda, apakah mereka baik-baik saja ? " tanya Rey.


" Roh Racun berusaha meracuni si putih, tapi si putih membuang apelnya ke danau " jelas Zigaz.


" Hmmm.... "


" Nona.... mengapa waktu Nona sakit, saya tidak merasakan sakit yang bersamaan ? " tanya Zigaz heran.


" Itulah yang kuinginkan. Kamu tidak terikat sepenuhnya denganku. Jika tidak, kita tidak bisa saling menolong saat mengalami suatu hal " kata Rey.


" Bagaimana jika ada yang menginginkan memiliki saya, Nona ? " Zigaz merasa khawatir.

__ADS_1


__ADS_2