GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
98. Desa DARKVEN


__ADS_3

Rey dan Asgar berjalan tenang mendekati kerumunan dan berdiri diantara orang-orang. Zigaz dengan terpaksa harus berubah jadi tupai kecil dan naik ke bahu Asgar. Sesekali ia menggumam kecil.


Ada seorang berbadan besar memakai topeng seram. Ia berdiri di samping gadis yang terikat. Tangannya memegang golok. Rey dan Asgar berdiri diam menunggu sambil mengamati.


Tak lama tarian dan musik berhenti. Seorang tua maju ke depan. Ia memegang pisau kecil. Rey dan Asgar saling melirik. Sepertinya orang tua ini adalah pemimpin desa. Atau bisa juga pemimpin upacara ritual. Rey mengangkat Zigaz dan membisikkan sesuatu sebelum menurunkannya. Zigaz mengangguk kemudian menyelinap diantara orang-orang.


" Hari ini kita akan mengorbankan darah suci untuk mendapatkan kemakmuran dan kebahagiaan. Hasil ladang akan berbuah banyak. Dan banyak hewan buruan akan kita dapatkan " kata orang tua itu.


Tiba-tiba seorang wanita maju dan berlutut dihadapannya.


" Ketua...... Tolong bebaskan putriku. Aku sudah tidak punya siapa-siapa. Hanya dia yang aku punya. Suamiku sudah meninggal. Aku mohoooonnn......... " wanita itu menangis sambil memohon.


Namun ketua menendang dadanya sehingga wanita itu terjengkang. Asgar hampir saja maju untuk menolong. Tapi Rey menahan lengannya sambil menggeleng.


Wanita itu bangkit lagi dan berkata-kata.


" Apa alasanmu mengorbankan putriku. Bukankah ketua juga mempunyai putri yang seumuran dengannya. Kenapa ketua tidak mau berkorban ? Atau jangan-jangan putrimu sudah kotor dan ternoda sehingga tidak layak menjadi korban ? " tanya wanita itu berapi-api.


" Kurang ajar.... ! " ketua menampar pipi wanita itu dengan keras sampai terpelanting.


Ketua merasa malu mendengar kata-kata wanita itu. Memang benar putrinya berkelakuan sangat buruk, ia sering bermain (tidur) dengan banyak laki-laki. Tapi ketua tidak menyangka wanita ini berani mengatakannya di depan semua warga. Giginya gemeratak menahan marah dan malu.


" Itu benar.... ! mengapa ketua tidak pernah menghukum Zenaya, sedangkan Yohim saja harus dipotong-potong waktu ketahuan bersama Deric di kamar ? Apa karena kedudukanmu sebagai ketua bisa mengadili kami sesuka hati ? " seorang laki-laki berbicara lantang.


" Ya, benar. Ketua tidak adil. Ketua tidak pantas jadi pemimpin.... ! "


" Ganti yang lain saja.... ! "


" Bunuh Zenaya.... ! ia seorang ******.... ! "


" Ya, bunuh.... ! "


Orang-orang mulai ribut. Ketua memegang pisau dengan gemetar. Ia mengacung-acungkan pisau kesana-kemari.


" Jangan mendekat ..... ! "


" Bunuh.... ! "


" Bunuh.... ! "

__ADS_1


Rey cepat membantu wanita itu bangun dan menariknya menjauh.


" Tunggu.... putriku.... ! " ia bermaksud menolong putrinya, namun disana sudah ada Asgar yang bertarung dengan pria penjaga korban (kaki tangan ketua).


Sementara Zigaz menggigit tali pengikat tubuh gadis itu. Setelah lepas, ia mengikuti tupai itu lari ke arah ibunya.


" Ibu..... ! "


" Sayangku "


Mereka saling bertangisan.


Rey mengamati huru-hara itu. Asgar kembali setelah berhasil membunuh kaki tangan ketua. Zigaz segera merayap naik ke bahu Asgar. Rey membiarkan orang-orang mengadili ketua dan putrinya. Ia tak menghalanginya karena pada akhirnya toh keadilan harus ditegakkan, dan hukuman harus dijalankan.



" Tuan dan Nona, terima kasih sudah menyelamatkan kami " kata ibu gadis itu.


" Sejak kapan hal ini dilakukan ? " tanya Rey menunjuk altar


" Sejak kematian suamiku. Ia mengangkat dirinya menjadi pemimpin. Jika kami melawan Tuan Jimbo, pengawalnya akan melukai atau menyiksa kami.


" Mereka sudah mengadilinya, kami akan meneruskan perjalanan " kata Rey.


Rey melihat ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh wanita itu.


" Baiklah..... apa nama desa ini ? "


" DARKVEN, Nona "


Mereka mengobrol sambil berjalan ke rumah wanita itu. Setelah sampai, ia mempersilahkan duduk. Lalu wanita itu dan anaknya pamit membersihkan diri terlebih dahulu. Kemudian dia menyediakan teh dan cemilan.


Lewat 5 hitungan, wanita itu meraih tangan Rey.


" Nona.... bisakah kita bicara di dalam kamar ? " tanyanya penuh harap.


Rey mengangguk dan bangkit mengikutinya ke kamar. Ia menutup pintunya.


" Nona.... bisakah aku menitipkan putriku padamu ? Tolong antarkan dia ke rumah saudaraku di kota BENMARD "

__ADS_1


" Mengapa.... ? apa ada masalah dengannya ? "


" Bukan dia, tapi saya, Nona. Saat ini saya sedang hamil 2 bulan. Tapi Tuan Jimbo sudah terlanjur membunuh suamiku sebulan lalu. Jika warga mengetahui saya hamil tapi tidak ada suami, maka mereka akan menuduh saya macam-macam tanpa memperdulikan kebenarannya. Dan hukum adatnya adalah mereka akan mencincang saya didepan semua warga. Saya tidak ingin Putri saya ikut menanggung masalah ini "


Rey menatap ke arah perut wanita itu. Memang belum terlihat karena masih 2 bulan.


" Apakah di desa ini ada seorang wanita yang sudah menikah lama tapi belum punya anak ? "


Wanita itu berpikir sebentar.


" Ada, Nona. Namanya Winnie. Ia sudah 10 tahun tak punya anak "


" Aku akan memindahkan bayi itu ke rahimnya. Namun syaratnya, kau tidak boleh mengungkit tentang anak itu dimasa depan. Jika tidak, mereka bisa saja mengusirmu karena menganggapmu gila " Rey memperingatkan.


Wanita itu bersujud dan mengangkat sebelah tangannya tinggi.


" Aku bersumpah akan mati busuk jika aku membuka rahasia tentang bayi ini " katanya lalu menyentuh perutnya.


Lalu Rey meminta wanita itu duduk bersila dihadapannya. Ia membaca mantra sebelum meletakkan tangan kirinya pada perut wanita itu dan tangan kanan pada mata wanita itu.


" Bimbing aku melalui mata hatimu mencari Winnie "


Dengan memejamkan mata, mereka berdua melangkah bersama dalam pikiran (seolah nyata) melewati pintu depan. Terus melewati beberapa rumah hingga berhenti di depan pagar sebuah rumah dengan halaman penuh bunga.


Wanita itu membuka pintu pagar dan mencari Winnie. Ia masuk ke sebuah kamar dan melihat Winnie sedang menangis. Rey mengusap punggungnya dan membelai kepalanya. Winnie segera berbaring dan memejamkan matanya.


Rey menumpangkan tangannya kanannya ke atas perut Winnie sementara tangan kirinya masih di atas perut wanita itu. Lalu tampaklah cahaya keluar dari perut wanita itu, merambat melalui tangan Rey. Terus menuju ke tangan kanannya dan perlahan masuk ke dalam perut Winnie.


Kemudian Rey mengusap perut Winnie dengan mantra agar bayi itu terlindungi. Lalu Rey dan wanita itu bergandengan tangan kembali ke rumah.


" Bukalah matamu " ucap Rey.


Wanita itu membuka mata dan meraba perutnya. Ia merasa ringan. Namun air matanya mengalir karena kehilangan. Rey menempelkan telunjuknya ke dahi wanita itu (ia terpaksa menghilangkan ingatannya tentang kehamilannya dan hal yang baru saja terjadi).


Wanita itu bingung mengapa mereka ada dikamarnya.


" Apakah perutmu sudah tidak sakit lagi ? " tanya Rey memastikan.


" Oh...eh....aku tidak apa-apa " jawabnya agak linglung.

__ADS_1


" Baiklah, aku harus pergi sekarang " Rey segera keluar dari kamar.


Ia kembali ke ruang tamu dan melihat putri wanita itu sedang bermain dengan Zigaz. Dicabutnya beberapa bulu ekor Zigaz. Zigaz menjerit. ia mengomel dalam bahasa tupai. Asgar tertawa keras.


__ADS_2