GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Mariana Menjalani Hukuman


__ADS_3

Setelah nyonya Marco dan Mariana pergi, Ratu termenung sendiri. Cukup lama Ratu termenung hingga tak menyadari kehadiran Raja.


" Elena........ "


" Oh.... suamiku.... "


" Apa yang kau pikirkan ? "


Ratu menghela nafas panjang.


" Penyihir yang mengutuk nona Mariana adalah Putri Rey " Ratu berkata pelan.


" Apakah tidak bisa dibatalkan ? "


" Tidak, sebenarnya itu adalah hukuman yang diajukan Mariana untuk mempermalukan Putri Rey. Putri Rey hanya membalikkan padanya "


" Hmmm........ Dia sengaja agar Mariana berhati-hati menjaga mulutnya lain kali " Raja mengerti maksud Rey.


" Bagaimana pun juga, hukuman yang akan dijalani sangat memalukan. Saya rasa ke depannya, Mariana akan mengalami tekanan batin atas penghinaan banyak orang "


" Apa kau tidak bisa membantunya ? " Raja bukan ingin membela Mariana. Ia tahu anak muda selalu emosional dan ceroboh, tidak memikirkan efek belakang.


" Aku bisa membuatnya lupa akan kejadian itu, tapi itu berarti dia akan melupakan pelajarannya "


Raja menggeleng. Ia mencoba pikirkan cara lain.


" Bagaimana jika hukuman itu dilaksanakan pada tengah malam ? Aku akan mengirimkan 10 penjaga untuk mengawasinya. Dengan begitu ia tetap menjalankan hukumannya namun tidak banyak yang mengetahuinya " usul Raja.

__ADS_1


" Ah..... suamiku... ! Kau sungguh hebat... ! Aku akan berkunjung ke rumah bangsawan Marco dan mengatakannya sekarang " Ratu mencium pipi Raja kanan kiri dan segera melesat pergi. Dua pelayan menunduk malu melihat itu. Mereka segera undur diri.


Sementara sepanjang perjalanan pulang, Tuan Marco hanya diam menatap Mariana yang diam menunduk. Pikirannya dipenuhi banyak hal tentang bau busuk, rasa malu dan hukuman merangkak.


Begitupun, nyonya Marco juga memikirkan hal yang sama. Andai bisa, ia rela menggantikan Mariana menjalani hukuman itu. Mariana belum menikah. Pastilah para pemuda takkan mau menerima hinaan jika memperistri Mariana.


Ketika sampai di kediaman, Tuan Marco terkejut melihat Ratu sedang duduk di kursi teras.


" Yang Mulia Ratu.... ? S...selamat datang..... Mari, silahkan masuk " Tuan Marco segera menggiring Ratu ke ruang tamu. Ratu memasang perisai suara agar pembicaraan mereka tidak terdengar yang lain. Nyonya Marco memerintahkan pelayan menyediakan cemilan dan teh manis. Mariana duduk diam dengan wajah masih murung.


Setelah mereka bertiga duduk, Ratu tersenyum sebelum menjelaskan maksud kedatangannya.


" Aku kesini atas perintah Raja. Ini berkaitan dengan hukuman nona Mariana......


Karena hukuman tidak bisa dibatalkan, maka Raja mengusulkan agar Mariana menjalani hukuman saat tengah malam. Pada waktu itu mungkin tidak ada warga yang akan melihatnya. Dengan begitu ke depannya tidak akan menjadi beban penghinaan bagi Mariana " kata Ratu.


" Aaah... itu benar " seketika wajah ketiga orang itu gembira. Mereka bersyukur ada keringanan meski hukuman tidak terhindarkan.


" Raja akan mengirim 10 penjaga untuk menemanimu. Rahasiakan ini dari para pelayanmu supaya tidak diketahui warga "


" Baik Yang Mulia Ratu. Kami berterima kasih atas bantuannya " kata tuan Marco.


" Persiapkan fisikmu jangan sampai pingsan atau gagal. Jika itu terjadi, maka kau terpaksa mengulang lagi esok malamnya. Bawalah persediaan makanan kecil atau minuman. Jika sudah siap, hubungi aku atau Raja. Oh ya..... Pakailah baju pria untuk memudahkanmu merangkak. Jika memakai gaun, kau akan sangat kesulitan " pesan Ratu pada Mariana.


" Hamba mengerti, Ratu..... " jawab Mariana. Suaranya teredam sapu tangan yang menutupinya.


" Baiklah..... aku pergi " Ratu segera menghilang saat mereka bertiga menunduk hormat.

__ADS_1


Setelah Ratu pergi, Mariana memeluk ibunya dengan gembira. Ia ingin segera melaksanakan hukuman itu. Melihat Mariana bersemangat, mereka akan melaksanakannya malam ini juga. Ia memerintahkan Mariana agar beristirahat sepanjang siang sampai tengah malam. Dengan begitu ia tidak akan mengantuk saat menjalani hukuman. Lalu Mariana kembali ke kamarnya dengan hati riang dan berusaha tidur. Nyonya Marco terpaksa memberinya ramuan tidur.


Tuan Marco segera mengirim pesan kepada Ratu. Kemudian ia dan istrinya membicarakan siapa saja pengawal dan pelayan terpercaya yang akan ikut menemani Mariana nanti malam.


Ratu tersenyum membaca pesan bangsawan Marco. Ia akan datang ke lapangan kota tengah malam nanti untuk membantu Mariana. Ia yakin Mariana bersungguh-sungguh menjalani hukuman ini. Ratu memberitahukan hal ini kepada Raja. Setelahnya ia juga beristirahat seperti Mariana.


Menjelang tengah malam, Raja mengirim 10 orang prajurit ke lapangan kota. Ratu pergi dengan cara teleportasi. Ratu melarang prajurit menyusul ke rumah bangsawan Marco untuk menjemput Mariana. Ia ingin tahu apakah Mariana punya tekad yang kuat atau akan mengantuk. Jadi mereka duduk-duduk menunggu Mariana dan orang tuanya. Suasana terasa hening sepi.


Tak lama muncul rombongan Mariana. Mereka tuan dan nyonya Marco beserta 2 pengawal dan 2 pelayan. Pengawal menuntun 2 kuda untuk membawa Mariana dan nyonya Marco pulang saat selesai nanti. Sedang pelayan membawa cemilan dan teh hangat.


Mariana dan rombongannya memberi hormat pada Ratu Elena. Ratu Elena tersenyum melihat semangat Mariana. Ia mengenakan baju pria dengan tambahan balutan kain pada bagian lutut. Di tangannya ada kaos tangan tebal 2 lapis. Sungguh persiapan yang matang. Setidaknya itu akan mengurangi lecet-lecet pada tangan dan lututnya. Ratu mengangguk-angguk.


Tadinya Ratu akan ikut campur untuk memberi kekuatan dan perlindungan fisik pada Mariana. Tapi melihat persiapan Mariana, ia menundanya. Ratu menggambar garis awal di tanah dan menempatkan Mariana dibelakang garis itu. Ia berbisik beberapa kalimat pada Mariana. Mariana mengangguk mengerti.


" Aku, Mariana..... Bersedia menjalani hukuman merangkak, dari lapangan kota, hingga sampai istana..... " ucap Mariana teguh. Suaranya tidak keras dan tidak pelan.


Mariana menatap Ratu dan semua yang hadir. Lalu membungkuk dan mulai merangkak. Nyonya Marco menggigit bibirnya menahan tangis. Tuan Marco segera menepuk-nepuk punggungnya. Mereka semua berjalan mengiringi Mariana yang merangkak.



Kira-kira 100 langkah, Mariana berhenti sebentar untuk istirahat. Pelayan memberinya minum. Kemudian ia lanjut merangkak lagi. Begitu terus hingga mencapai setengah jarak ke istana.


Ratu menahannya agar beristirahat dulu agak lama. Ia mengobati tangan dan lutut Mariana agar pegalnya hilang. Kain pembalut lutut dan kaos tangannya sudah kotor. Mariana tak ingin berlama-lama. Ia segera melanjutkan merangkak.


Para prajurit menatapnya kasihan. Pengawal dan pelayan Marco juga merasa bersalah tak bisa menggantikan posisi Mariana. Sedang ayah dan ibunya diam-diam menangis di belakang.


Mariana mulai lelah. Nafasnya sedikit terengah. Tapi tekadnya untuk menghilangkan kutukan mulut busuk memberinya semangat.

__ADS_1


Ketika jarak sudah mencapai ⅔ bagian, Ratu menghentikan Mariana. Ia membaca mantra agar Mariana tidak merasa lelah dan sakit, lalu meniupkannya pada Mariana. Setelah minum, Mariana melanjutkan lagi.


Kali ini Mariana merangkak lebih cepat setelah diberi mantra Ratu. Ratu menatap langit. Sebentar lagi pagi menjelang. Menurut perkiraannya, Mariana akan sampai di istana tepat saat matahari di ufuk timur.


__ADS_2