
Thalia tercengang melihat tanda tangan merah di pipi Axel.
" Apa yang terjadi dengan pipimu ? siapa yang menamparmu ? "
Axel mengerutkan alisnya mendengar kata-kata Thalia.
" Ini pasti karena dia kan ? Apa yang telah kau lakukan sampai dia berani menamparmu ? " tanya Thalia.
Axel menatap Thalia, namun pikirannya tertuju pada Rey. Bukankah tadi pagi ia sudah mengucapkan mantra penyembuhan ?
" Hei sayangku...... mengapa kau sibuk mengurus laki-laki ini. Tidakkah kau lihat dia adalah pria hidung belang ? Jika ia sopan tentu tidak akan ditampar wanita ! " ujar laki-laki itu.
" Kau juga tidak sopan padaku, apa kau juga ingin ku tampar..... ?! " Thalia melotot padanya.
" Eh..... he...he...he...he..... Aku kan tidak menciummu ? biasanya wanita akan menampar pria yang berani menciumnya sementara ia tidak suka kan ? " pria itu membelai dagunya sambil terkekeh.
Thalia tertegun sejenak, lalu menatap Axel dengan rasa cemburu.
" Kau........ menciumnya ?! " tanya Thalia tak percaya. Dada Thalia naik turun karena cemburu dan emosi.
" Apa urusanmu..... ? Aku berhak mencium siapa saja yang aku suka. Memangnya kau siapa bagiku ? " jawab Axel mencibir.
" Kau....... ! "
" Nona....... wanita itu lebih baik dicintai daripada mencintai. Kau hanya akan terus sakit hati jika bersama orang yang tidak mencintaimu. Tapi kau akan jadi RATUku jika mau menjadi istriku " ujar pria itu sambil memainkan alisnya.
" Omong kosong..... kamu sama saja dengan pria hidung belang. Pandai berpuisi ( menggombal ) " sindir Thalia.
" Aaah............. matamu ternyata sipit seperti orang timur. Lihat baik-baik, hidungku tidak belang...... " jawab pria itu sambil menunjukkan hidungnya dan menoleh ke kiri dan ke kanan di depan wajah Thalia. Thalia terpaksa mundur selangkah.
" Ha...ha...ha...ha............ "
Orang-orang tertawa. Ternyata sudah banyak orang yang menyaksikan pertikaian mereka dari tadi. Mereka juga membicarakan bekas tamparan di pipi Axel.
" Huuhhh........ ! " Axel berbalik pergi. Ia merasa sudah membuang waktu meladeni Thalia.
" Eeh........ Axel tunggu..... ! " Thalia kembali mengejar Axel. Axel yang kesal segera terbang.
" Axeeeeeelll....... ! " Thalia menghentakkan kakinya dengan sangat kesal.
Pria tadi berjalan ke arah Asgar dan Rey yang menonton pertikaian dari seberang jalan. Zigaz menyikut Asgar.
__ADS_1
" Ternyata itu Nona ! "
" Hah...... ?! " Asgar menatap tak percaya. Ia memicingkan sebelah matanya. Namun tetap tak bisa melihat aslinya.
" Kenapa saya tidak bisa melihat penyamaran anda, Nona.... ? " tanya Asgar bingung.
" Aku memakai 2 mantra supaya Axel tak tahu "
" Lalu kenapa Zigaz tahu ? "
" Zigaz adalah serigala atau naga. Ia bisa mengenali orang yang sudah dikenal dengan penciumannya. Tapi matanya sama sepertimu, tidak dapat melihatku secara langsung " jelas Rey.
" Oooo................ "
Sementara Axel cepat kembali ke istana. Ia penasaran kenapa Thalia dan orang-orang masih melihat bekas tamparan dipipinya ? Bukankah ia sudah menghilangkannya tadi pagi. Apa ia salah mengucap mantra ?
Axel langsung masuk ke kamarnya lewat jendela. Ia berdiri menatap wajahnya di cermin.
" Aah..... ! kenapa ada lagi ? "
Axel menatap lebih dekat ke pipinya. Bekas itu masih sama kok..... tidak ada hal lain. Sekali lagi Axel mengucapkan mantra penyembuhan dan mengusap pipinya. Seketika bekas tamparan itu menghilang.
Kali ini ia menunggu sampai 10 hitungan. Ia lega karena sudah tidak muncul lagi. Berarti mungkin tadi pagi ia sedikit salah ucap.... Axel segera duduk di kursi dekat jendela memejamkan mata. Bagaimana pun ia malu telah pamer tamparan ke mana-mana.
" Tok... Tok... Tok.......... Pangeran, Yang Mulia Raja menunggu anda di ruang perpustakaan " terdengar suara pengawal.
Axel segera bangkit berdiri dan keluar menuju ruang perpustakaan. Ia masuk dan menemui Raja yang sedang duduk di dekat jendela.
" Ayah...... ada apa memanggilku ? " tanya Axel tak berbasa-basi.
Raja menatapnya dan mengerutkan alisnya. Ia tidak jadi mengutarakan maksudnya.
" Mengapa kau tidak mengoles salep ke wajahmu. Apa kau tak malu pamer pipi bekas tamparan kemana-mana ? ........ setidaknya tunggulah sampai hilang atau tutuplah dengan cadar..... " tegur Raja.
" ........ ! maksud ayah.... ? "
" Bekas tamparan diwajahmu itu terlihat jelaaaas......... Apa kau tak berkaca ?! " Raja menunjuk pipi Axel.
" Apa...... ?! tapi tadi sudah hilang.... Aku lihat sendiri di kaca..... " Axel meraba pipinya.
" Apa itu sakit..... ? " tanya Raja khawatir.
" Tidak........ tapi........ aku tadi sudah mengucapkan mantra penyembuhan. Tiga kali "
__ADS_1
" ............... ! " Raja tertegun mendengarnya. Tiga kali berarti tidak mempan.
" Pergilah temui ibumu..... mungkin ia tahu cara mengatasinya " perintah Raja.
" Tapi..... ayah tadi ada perlu apa memanggilku ? " Axel ingin tahu.
" Ah, lupakan saja. Aku tidak bisa menyuruhmu jika pipimu masih merah " ujar Raja.
Axel segera keluar mencari Ratu. Sebenarnya ia enggan menemui ibunya. Akan ada banyak pertanyaan yang menghakimi terkait masalah yang dialaminya. Tapi bagaimana lagi ? Ia jengah karena jadi pembicaraan orang tentang bekas tamparannya. Mantra penyembuhannya hanya bertahan 10 sampai 15 hitungan saja.
Biasanya ibunya berada di sekitar taman saat pagi sampai agak siang. Axel pergi ke sana dan melihatnya sedang merajut di gazebo.
" Ibu....... " Axel duduk di depannya.
" Hmmm.......... " Ratu hanya bergumam tapi tetap meneruskan rajutnya. Ia sudah tahu tujuan kedatangan Axel dan sengaja menunggu Axel mengatakannya lebih dulu.
" Bu......... bisakah ibu menghilangkan bekas tamparan di pipiku ? "
" Bukankah kamu sudah tahu mantra penyembuhan ? " tanya Ratu tapi masih tetap merajut.
" Aku sudah mencobanya tiga kali. Tapi muncul lagi setelah 10 hitungan "
Ratu mengangkat pandangannya ke arah Axel, menatap pipinya dengan teliti. Lalu menatap tajam mata Axel. Axel sedikit gentar.
" Kesalahan apa yang sudah kau lakukan pada seseorang ? " tanya Ratu tenang ( tapi menakutkan bagi Axel ).
" Ehm.................... Aku................ " Axel melipat bibirnya. Ia berusaha mengumpulkan keberaniannya. Ratu masih menunggu jawabannya.
" Aku menciumnya........ " katanya sambil menunduk.
Ratu mengerutkan alisnya. Mencium kekasih adalah wajar, tapi........
" Apa dia bukan kekasihmu...... ? Atau tidak mencintaimu...... ? " Ratu menelisik wajah Axel. Axel diam saja. Ia tak berani menyebutkan nama Rey.
" Yang kau dapatkan adalah tamparan sihir. Tidak akan bisa hilang kecuali memenuhi syarat yang disebutkan dalam mantranya. Itu dilakukan oleh wanita penyihir yang tidak menyukai sentuhan dari siapapun yang bukan pasangannya atau yang tidak disukainya............ " kata Ratu.
Axel tertegun. Ia tak mengerti hal itu karena memang tak pernah menyukai wanita. Dan ternyata Rey seorang penyihir ? Axel mengira ia hanya gadis biasa yang terpilih sebagai pasangan Lord Astraco.
" Siapa gadis itu ? " tanya Ratu. Axel menelan ludahnya. Pertanyaan itu terdengar menakutkan bagi Axel.
" Axel......... ?! " Ratu merasa gemas karena Axel tak segera menjawab.
Ratu mencoba bersabar sambil menghitung dalam hati ( " Satu..... Dua...... Tiga....... Empat......... Li......... " )
__ADS_1
" Putri Rey "
Ratu terkejut tapi sempat menutup mulutnya dengan tangan. Jawaban Axel terdengar bagai suara petir di siang bolong...... Ratu menggeleng-geleng tak percaya.